
Pukul 09.15 pagi
Afkan mengerjapkan mata beberapa kali. Pandangan nya sedikit buram, Kepalanya terasa pusing,Badannya terasa berat. Entah apa yang terjadi, dirinya tidak tahu.
Afkan masih terbaring di atas kasur. Melirik lirik kamar ini yang terkesan berantakan. Ralat, sangat berantakan. Banyak kertas berhamburan di mana mana, sepatu yang di taruh asal, juga pakaian yang banyak tergeletak di sofa. Huuuhhh! Afkan tau ini bukan kamarnya. Namun, ada sesuatu yang khas dari pemilik kamar ini. Sebuah Komputer terpajang di meja yang berantakan.
Afkan duduk bersandar di tempat tidur. Tangan kanannya terulur menyentuh bagian belakang kepalanya yang terasa nyeri. Afkan menatap lurus ke depan, Berusaha mengingat apa penyebab bau ini menempel pada tubuhnya. Bau yang selalu melekat setiap dirinya merasa bimbang dan kacau. Ahh ya! Minum. Afkan mengingat semua kejadian yang membuatnya seperti ini.
Sore itu,Selesai melakukan meeting afkan bergegas menuju parkiran kafe. Ingin rasanya cepat pulang dan bertemu dengan fidira. Upss!! Namun langkahnya terhenti,saat melihat seorang wanita bersandar di pintu mobilnya. Wanita itu terlihat sangat anggun dan feminim. Dengan dress pink selutut, juga hells yang berukuran 12centi melekat pas di kakinya,membuat kesan anggun tapi ****.
Menyadari kedatangan afkan, wanita itu tersenyum. Senyuman yang bisa membuat para pria keringetan. Wanita itu mendekat, Tiba tiba saja memeluknya "Aku sangat merindukan mu" Ucapnya dengan nada mesra. Tidak ingin terlarut, afkan dengan paksa menarik tangan anita untuk melepaskan pelukan. Anita tersenyum sinis "Biasa aja kali af. Kayak kita nggak pernah lakuin aja" Ucapnya mengejek.
Afkan menghembuskan nafas kasar. "Maaf permisi, saya harus pergi" Ucapnya datar.
"Apa istri norak mu itu sudah merengek menyuruh mu pulang?" Ejek nya dengan memainkan kuku jari tangannya yang cantik.
"Bukan urusan mu" Afkan membuka pintu mobilnya, namun dalam seperkian detik dirinya berbalik dan tidak bisa bergerak. Ya, anita telah menarik dan kini sedang memeluknya erat.
"Afkan aku mencintaimu" Ucapnya lembut. Afkan terdiam, memikirkan apa yang anita katakan. Hey! Kemana dia pergi saat afkan memohon untuk tidak mengakhiri hubungan mereka. Nyatanya anita memilih bersama kakak kelasnya, dan meninggalkan afkan. Dan sekarang ingin kembali. Upss! Sorry. "Aku tidak akan membiarkan mu pergi afkan" Tangan anita mulai berani memegang leher afkan. Dengan cepat dan keras afkan melepas pelukan anita. Tidak peduli itu melukainya atau tidak.
"Saya harus pergi" Afkan membuka pintu mobilnya namun lagi lagi anita menghalanginya.
"Aku yakin kamu masih cinta kan sama aku? Nggak usah munafik deh af. Aku tau dari dulu sampai sekarang,kamu nggak bisa lupain aku kan?" Ucap anita dengan percaya diri. Afkan hanya diam. Menurutnya tidak penting menanggapi wanita seperti ini. "Aku yakin kamu nggak cinta kan sama istri mu itu? Kamu terpaksa kan?"
"Siapa bilang?" Tanyanya dingin.
Anita tersenyum menyeringahi. "Karena di hati kamu cuma ada aku af" Anita menunjuk bagian dada afkan. "Dia nggak pantes buat kamu afkan!" Anita menatap afkan lekat lekat bahkan penuh harap. "Bisa kita mulai lagi?" Tanya nya tanpa rasa malu sedikit pun.
Afkan menarik nafas dalam dalam sebelum menghembuskan nya. "Dengar anita,Kita sudah berakhir. Sekarang hanya ada aku dan fidira, bukan kamu. She is the only one i deserve to love and have me. Ngerti?" Dengan tenang afkan mendorong anita agar menyingkir dari pintu mobil,Lalu dengan cepat memacu mobilnya meninggalkan anita yang masih diam mematung di sana.
Disepanjang perjalanan, pikiran afkan terus berputar tentang kata kata anita. 'Aku mencintai mu' afkan menggeleng cepat. Bagaimana bisa dengan mudahnya anita mengatakan kata itu. Ya, semudah saat anita mengeluarkan kata 'putus' dari bibirnya. Afkan mengacak rambutnya kesal.frustasi? Tentu!. Kejadian hari ini membuatnya ingat hari itu.Luka yang perlahan mulai membaik, kini dengan mudahnya di buka kembali.
Tanpa berpikir panjang, afkan memarkirkan mobilnya di sebuah bar. Tempat ini lah yang bisa membuatnya tenang dari kisah cinta kelamnya. Dengan nada dingin afkan memesan dua botol minuman sekaligus. Dengan kesendirian,dirinya duduk di sofa. Memikirkan isi hatinya, apakah dirinya masih mencintai anita? Mengharapkan wanita itu kembali padanya? Tidak, tidak. Tidak bisa, di hati ini tidak ada rasa cinta lagi, melainkan rasa benci yang sangat besar. Bayangan bayangan masa lalunya kini berputar, menampilkan wajah anita yang cantik namun busuk. Dengan mudahnya Mengatakan bahwa afkan bukanlah laki laki idamannya,dan memilih pergi dengan kakak kelas mereka yang saat itu menjadi ketua geng sekolah.Afkan terus meneguk minumannya langsung dari botol. Aiss! Tiba tiba kepalanya terasa berat dan sangat pusing. Dengan keras afkan membanting botol minumannya, tidak peduli dengan orang orang yang mungkin saja terkena pecahannya. Ia mengacak acak rambutnya kesal. Banyak orang yang berteriak saat dirinya menendang meja yang terbuat dari kaca hingga pecah. Beruntung kakinya tidak terkena goresan sedikitpun. Orang orang berbadan besar berlari ke arahnya.Setelah itu Afkan tidak bisa melihat apapun dengan jelas, pandangannya kabur. Setelah kejadian itu afkan sudah tak mengingat apapun.
Afkan menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali sebelum melirik kearah meja kecil yang berada di samping tempat tidur. Terdapat segelas jus lemon dan ponsel yang tergeletak di sana. Afkan mengambil ponselnya terlebih dahulu untuk mengecek apa saja yang ia lewatkan hingga jam segini. Huuuhh! Afkan membuang nafas kasar. Ponselnya mati total, mungkin baterainya habis. Akhirnya afkan mengangkat segelas jus lemon itu, lumayan kan untuk menghilangkan rasa pusingnya. Namun niat nya terhenti saat melihat secarik kertas yang tadinya tertindih gelas. 'TERSERAH!!' hanya satu kata itu yang tertulis di sana. Afkan malah menyinggung senyum, ia yakin fidira pasti sangat kesal padanya.
Sembari menikmati jus lemon, ingatan afkan berputar pada kejadian semalam. Saat dirinya memeluk fidira, kehangatan kini masih terasa saat fidira membalas pelukannya, bahkan mengelus elus punggungnya. Semalam fidira juga mengusap usap rambutnya walau sambil mengomel. Afkan tidak tahu betul apa yang di lontarkan fidira semalam,namun dirinya tahu bahwa gadis itu sedang memarahinya. Dan juga segelas jus lemon di pagi hari.Ahhh! Dasar gadis baik.Afkan sangat menyukainya. Menyukai setiap perhatian kecil dan omelan omelan pedas istri kontraknya itu.Tapi bagaimanapun afkan belum yakin dengan perasaan nya terhadap fidira. Apa dirinya benar benar sedang jatuh cinta? Atau sekedar tertarik? Afkan tidak tahu,Biarlah berjalan sesuai takdir. Hanya itu yang bisa afkan lakukan saat ini.
***
Sedari pagi fidira tidak ada hentinya mondar mandir entah kemana. Hari ini adalah hari tersibuk yang pernah ia jalani. Bayangkan saja, semua dokumen yang belum terperiksa sudah menumpuk di meja afkan. Fidira jadi sadar dan tahu alasan suami nya itu selalu pulang larut.
Fidira menyesap kopinya yang tadi masih ia diamkan. Sang bos yang buawel nya gak ketulungan, yaitu Ian, sudah mengoceh memaksanya untuk beristirahat. "Makan siang dulu napa sih?" Omelnya sembari berkacak pinggang.
Fidira hanya menampilkan cengiran khasnya. "Capek banget" Keluhnya, sambil memakan sandwich yang di bawakan ian. Perhatian banget!
"Makanya kalo pak bos pulang tu di sayang. Jangan di omelin." Fidira kesal mendengar ceramah ian yang sokkk tau itu. Ya emang ada benernya juga sih. "Jadi tau kan sibuknya CEO tu?" Ian mencibir lagi.
"Iya" Fidira menjawab dengan singkat bin cuek banget. Ian tersenyum dan mengacak kecil rambut fidira.
"Gue yakin lo bisa jadi istri baiknya pak bos" Setelah mengatakan itu, ian mengangkat satu tangannya ke atas tanda berpamitan.
Fidira menatap punggung ian yang hilang di balik pintu. "Gimana gue bisa jadi istri yang baik, kalo sikap lo ke gue masih gini yan?" fidira mengeluh dengan mengusap kasar matanya.
***
Pukul empat kurang lima menit. Semua karyawan sudah mulai merapikan barang barang mereka. Namun tidak dengan fidira dan tiga karyawan yang masih berkutat dengan dokumen dokumen mengesalkan ini. Lebih kesal lagi saat ian memberitahu fidira, bahwa dirinya tidak bisa menunggunya karena merasa malas. Sumpah! Fidira benar benar ingin menerkamnya hidup hidup.
Fidira melirik ponselnya lalu menghembuskan nafas kasar. Dari pagi afkan tidak mengiriminya pesan, juga tidak datang ke kantor. Pikiran fidira sudah pusing tujuh keliling memikirkan berkas berkas brengsek ini. Astaga!
Tok Tok Tok
Fidira menghentikan aktifitasnya, dengan cepat beralih membuka pintu ruangannya. Fidira membangkitkan senyum di bibirnya dengan sedikit terpaksa. "Mama? Sama papa? " Fidira celingak celinguk, sambil mencium punggung tangan mertuanya.
"Mama di ater sopir tadi. Papa sibuk banget soalnya" Mama nanda tersenyum. Fidira segera mempersilahkan mertuanya untuk duduk, juga memesankan minuman. "Lembur?"
Fidira melirik tiga karyawan nya, lalu mengangguk. "Iya, mama kesini dalam rangka apa ni?" Mama nanda tidak menjawab, dirinya malah bingung celingak celinguk seperti mencari seseorang. Fidira yang paham, langsung memutar otak mencari alasan.
__ADS_1
"Afkan lagi meeting di luar ma. Hari ini sibuk banget, ini aja aku di suruh lembur" Bohongnya. Mama nanda hanya mengangguk angguk paham.
"Eemmm... Temenin mama yuk! Ke mall depan situ bentar aja. Ya?" Fidira tampak berpikir lalu menoleh pada rekan rekan nya yang masih stay dengan dokumen. "Mama izinin ke afkan deh nanti. Ya?" Fidira melongo, ternyata mertuanya juga bisa merengek. Astaga! Bukan dirinya saja yang alay.
Tak bisa menolak, fidira pun menyanggupinya. Setelah berpamitan kepada para karyawan setianya dan berjanji akan kembali secepatnya. Walau mustahil mungkin. Fidira segera mengambil ponselnya. "Naik motor fidira aja yuk ma" Tawar fidira sambil menaik turunkan alisnya.
Mama nanda terlihat bengong, namun sekejap mengangguk senang. Mereka pun pergi, setelah mama nanda memberitahu sopir bahwa dirinya naik motor bersama sang menantu. Alay ya?
***
Pukul delapan malam. Fidira baru saja menginjakkan kaki di rumahnya. Gila!!! mertuanya itu benar benar titisan emak emak yang doyan ngabisin duit. Lihat saja sekarang, sudah ada lima paper bag yang fidira bawa pulang. Dan entah besok apa lagi?
Fidira masuk ke dalam kamarnya, dengan cepat mengganti baju dengan kaos dan celana pendek. Dengan sedikit berlari kecil dirinya masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Kagak usah mandi, di kamus fidira gak ada. Lalu membuat kopi hitam dan duduk manis di depan tv besar yang sudah ia nyalakan sejak tadi.
Sambil menunggu kick off tim kebanggaannya, fidira memikirkan kata kata mama nanda sore tadi. "Kamu harus belajar jadi feminim sayang, apa kamu mau tetep jadi tomboy selamanya? Mama tau, kamu keren kok pakai baju seperti ini. Dan mama juga tau, sulit merubah kebiasaan. Makanya mulai sekarang kamu belajar ya? Suatu saat kalo kamu jadi ibu, kamu mau tetep gini?" Ucap mama nanda lembut tapi sungguh menusuk. Memang ada benarnya sih,fidira harus berubah. Tapi nggak sekarang juga kan? Apalagi ngomongin jadi ibu,Untuk sekarang kayak nya gak mungkin deh. Gak tau nantinya?
"Besok mama akan ke kantor,kamu harus pakek baju yang mama beli in. Seterusnya harus pakek baju feminim atau kalo enggak, mama bakal kirim lebih banyak lagi baju ke kamu. Kalo perlu mama baliin lemari baru.Gimana?" Ancaman mama nanda masih terngiang ngiang di pikiran fidira. Besok banget lagi? Pikirin deh gimana ekspresi para karyawan jika fidira tiba tiba berubah menjadi sangat girly. Iuhhh! Fidira gak bisa bayangin. Malu malu.
Tidak ingin memikirkan hal hal yang membuatnya pusing, fidira memilih menyesap kopinya dan menikmati televisi yang menampilkan pemain tampan idolanya. Biarlah itu menjadi masalah besok, yang terpenting sekarang fidira bisa bersantai tanpa memikirkan apapun.
Fidira melotot lotot kan matanya agar bertahan hingga pertandingan selesai. Namun apalah daya, sekuat apapun fidira bertahan untuk tetap terjaga, badan dan matanya seolah berkompromi menyuruh fidira untuk tidur. Fidira berusaha tidak berbaring saat berakhirnya babak pertama. Ia berdoa semoga iklan iklan ini membantunya untuk terus melek. "Please! Dikit lagi jangan dulu" Fidira mengerjapkan matanya beberapa kali. Penglihatannya sudah mulai buram dan berat. Akhirnya fidira pun mengaku kalah dan terlelap dengan posisi duduk bersandar dengan kaki bersila di atas sofa Tanpa mematikan televisi dulu. Seolah dirinya mengijinkan para idolanya melihat dirinya tertidur dengan mulut terbuka.Aneh kan?
Setelah tidur beberapa jam, pikiran fidira tiba tiba teringat tentang televisi yang belum ia matikan. Perlahan ia membuka matanya, walau berat misi menemukan remote harus terselesaikan, dengan begitu tidurnya akan lebih nyenyak. Tangan kirinya meraba raba untuk menemukan letak meja, namun tak kunjung terasa,kosong. Hanya hamparan dingin AC yang dirasanya. Fidira terpaksa membuka matanya lebar lebar, benda pertama yang terlihat adalah sofa abu abu yang tak asing baginya. Fidira sekilas mengucek matanya yang agak buram. Tersadar ada sesuatu yang aneh melingkar di atas perutnya. Seketika itu fidira beranjak bangun, belum sampai terduduk dirinya kembali terbaring karena ada yang menariknya.
"Upss!" Lihat! Tangan kekar yang masih melingkar di perut fidira kini lebih posesif dalam memeluknya. Jantung fidira berdegup kencang, bahkan kenceng banget saat suara berat itu berbisik di telinganya. "Diam lah" Afkan membalikkan tubuh fidira agar menghadapnya. Dengan mata yang masih terpejam, afkan menarik kepala fidira hingga tenggelam di dada bidangnya. Sedangkan tangannya kembali turun ke pinggang fidira untuk memeluknya. Jangan tanya apa yang di rasakan fidira saat ini, keringat dingin sudah bercucuran di dahinya. Jantung yang mungkin saja sudah ingin berhenti berdetak, masih di paksa buat disko. Fidira benar benar ingin berteriak. Namun semua pikiran buruknya terhenti saat tanpa sengaja tangannya bergesekan dengan tangan afkan yang terasa hangat. Bukan hangat lebih ke panas yang berbeda. Fidira mendongak, mengamati wajah tampan itu dari dekat. Terpancar kelelahan dan juga stres pikiran yang mungkin dialami afkan.
Tangan fidira terulur menyentuh dahi afkan. Astaga! Afkan demam. Ini alasan kenapa sikap afkan berubah menjadi posesif, ini kali kedua fidira melihat afkan yang jika sakit pasti sangat manja. Aneh sekali. Tangan fidira beralih menepuk nepuk pipi afkan pelan. "Pak bos, pak bos. Kau baik baik saja?" Tanyanya lembut. Afkan tidak bergeming, fidira kembali melakukan hal yang sama dan kali ini afkan mau membuka matanya perlahan tanpa melepas pelukannya. "Pak bos demam, biarkan saya mengambilkan air kompres" Fidira menunduk saat afkan memandang bola matanya. Canggung sekali.
"Tidak perlu besok saja" Tolaknya, malah mempererat pelukan. Fidira mengerutkan dahinya. Seakan tidak setuju dengan penolakan afkan.
"Tolong untuk sekali ini saja, jangan keras kepala pak bos" Fidira berusaha menyingkirkan tangan afkan dari pinggangnya. Namun afkan tetap saja bersikukuh menolaknya. "Pak bos, ayolah! Jika tidak kau pasti tambah sakit. Ya? Jangan seperti anak kecil" Omel fidira masih berusaha melepas pelukan. Akhirnya afkan menurut.
Saat fidira akan beranjak bangun, ia berhenti karena afkan menarik tangannya. " Jangan lama lama" Ucap afkan memelas, dan itu bener bener membuat fidira gemes pengen cubit. Untung fidira bisa nahan dengan cuma ngasih anggukan dan senyum begonya.
Sepuluh menit kemudian, fidira datang dengan baskom yang terisi air hangat dan sapu tangan. Fidira menaruhnya di meja kecil yang terletak di samping tempat tidur afkan. Terlihat afkan sedang menekuk wajahnya, dan memunggungi fidira yang sudah siap menempelkan sapu tangan basah ke dahinya. Fidira tahu apa yang terjadi saat ini, afkan merajuk. "Maaf lama, tadi harus masak airnya dulu bos" Ucapnya sambil mengusap usap kepala afkan yang masih memunggunginya. "Kalo pak bos marah, saya tidur di bawah aja deh" Ucapnya bermaksud mengancam. Akhirnya afkan mau berbalik dan membiarkan fidira mengompres dahinya.
"Sudah" Pinta afkan dengan menatap lekat manik mata fidira yang kini sudah tidak ada tanda tanda mengantuk.
Fidira mengangguk " Baiklah" Ia beranjak untuk mengembalikan baskom. Tapi lagi lagi afkan menahannya. "Saya mau balikin ini dulu pak bos, sama ngambil air anget" Jelasnya.
Afkan menggeleng "nggak usah besok aja. Sekarang tidur" Titahnya dengan memelas. Astaga! Pak bos aku ingin mencekik mu! Sadar sadar, fidira mengeluh dalam hati.
"Baiklah, sekarang tidur!" Fidira membenarkan posisi selimut afkan yang terbuka.
"Kamu juga" Afkan segera menarik fidira yang hampir terjengkang karena kehilangan keseimbangan dan langsung mendekapnya seperti guling.
"Tapi saya akan mati" Fidira berusaha mengambil nafas yang sudah berat. Menyadari fidira kesulitan bernafas afkan pun merenggangkan pelukannya tanpa membiarkan fidira bergerak mengganti posisi. "Jangan gitu" Fidira mendumel sendiri.
"Tidur fi" Afkan malah menaruh tangan fidira di pinggangnya. Fidira terdiam juga termenung,saat merasakan usapan lembut di kepalanya, juga gesekan keras di bagian kepalanya. Sepertinya afkan menaruh dagunya di atas kepala fidira. Astaga! Fidira benar benar ingin berteriak!!! tapi tidak ia lakukan,gila apa teriak malem malem cuma gara gara di peluk suami sendiri. ia mengganti dengan meremas bagian belakang kaos afkan untuk melampiaskan kegugupannya. Sungguh ini pertama kalinya fidira di peluk makhluk yang berjenis laki laki. Gila, rasanya dag dig dug banget, tapi hangat. *jadi gini rasanya di peluk cowok ganteng. Walau cowok biasa juga belum pernah sih. Astaga! Gue nggak yakin kalo besok gue masih hidup. Yaallah, besok masih hidup gak ya?* entah apa aja yang sedang di bayangin fidira, lama kelamaan rasa hangat ini mulai membiusnya. Fidira yang tadinya gugup setengah mati, kini sudah lumayan rileks. sangat rileks malahan, kini tangannya mulai berani membalas pelukan afkan tanpa ragu. Sekali sekali,pikirnya terkikik. Dan matanya kini sayup sayup sudah mulai masuk ke alam mimpi.
Pukul setengah enam pagi. Fidira terbangun menatap tempat tidur afkan alias sampingnya itu telah kosong . Pak bos kemana? Fidira menggaruk garuk rambutnya. Terdengar suara aneh dari dalam kamar mandi. Seperti orang muntah muntah.Segera fidira menghampiri dengan tangan yang masih berusaha mengikat asal rambutnya. Terlihat afkan sedang berdiri di depan wastafel dengan memegangi perutnya dan berulang kali berkumur. Tanpa menghampiri afkan dulu, Fidira segera turun untuk mengambil air hangat, untung saja di termos masih ada sisa. Fidira segera membawa air hangat yang sebelumnya di tuangkan ke gelas, lalu mengantarkannya ke kamar afkan.
Fidira melihat afkan yang muntah muntah dengan tatapan miris. Begitu tersiksa,Fidira menghampiri afkan. "Udah?" Tanyanya sambil sedikit memijat punggung afkan. Afkan menggeleng, dirinya kembali memuntahkan angin yang di dorong oleh perutnya. Fidira dengan pelan memijat punggung juga bagian belakang leher Afkan untuk melegakan mual nya. Mungkin.
Setelah beberapa menit, fidira membantu afkan untuk kembali ke tempat tidur. Gila afkan berat banget, batin fidira yang pundaknya di rangkul afkan yang sedang lemas. Fidira menyodorkan air hangat tadi lalu afkan segera meminumnya. "Mau makan?" Tanya fidira setelah afkan menghabiskan air hangat itu. Afkan menggeleng dengan menyerahkan gelas kosong kepada fidira.
Sebenernya sih fidira juga bingung jika afkan minta makan. Soalnya kemarin bi inah mengiriminya pesan bahwa beliau tidak bisa datang hari ini karena suaminya sakit. Aduh! nggak tau kenapa di saat genting, khususnya afkan sakit dan urusan masak pasti cuma ada fidira. Mana afkan gak mau di tinggal dan fidira kan juga kagak bisa masak. Gila, fidira pusing parah ni.
Akhirnya fidira turun ke dapur untuk memasak, entah apa yang akan dia lakukan, seenggaknya dirinya sudah bisa sedikit melakukan aktivitas setelah perjuangan membujuk afkan yang nggak mau di tinggal walau cuma cuci muka. Bayangin, fidira pasti bosen banget kan di sana? Dan urusan rumah, fidira kan punya rasa lapar juga.
Walau bingung, fidira tetap membuka kulkas, melihat lihat bahan apa yang bisa ia masak. Tapi, Matanya tetap tertuju pada pintu kulkas yang terisi banyaknya telur. Ya, hanya telur yang mungkin bisa menyelamatkannya dari rasa lapar. Tapi, afkan juga butuh makan kan? Fidira pun sedikit mengobrak abrik kulkasnya. Akhirnya... Fidira mengangkat sepaket sayur yang bahannya biasa ada di dalam sup. Seperti, kubis, wortel, daun bawang, dan daun kucai. Fidira mau tak mau memutuskan untuk membuat sup, gak papa lah yang penting makan.Dengan bantuan mbah google serta tutor tutor yang selalu jadi andalannya,fidira mulai melakukan misinya.
Memasak sup sederhana mungkin nggak buruk buat orang sakit. Kurang lebih satu jam,fidira berhasil membuat sup sederhana yang rasanya sedikit keasinan. Fidira menghembuskan nafas pelan, sudah lebih dari tiga kali dirinya berusaha membenarkan rasa sup keasinan itu. Dan akhirnya dia putus asa.
"Fi... " Suara berat itu terdengar jelas di telinga fidira. Dengan cengiran khas nya fidira menoleh ke belakang. Dan jelas saja afkan sudah memasang muka masam di sana. Fidira yakin afkan pasti marah karena ia melanggar janji untuk pergi ke dapur sebentar, alhasil malah sejam.
"Kok bisa ke sini sih? Katanya sakit" Fidira mendekat menatap afkan yang sedang menatapnya.
__ADS_1
Afkan mengusap wajahnya kasar "saya sakit bukan berarti nggak bisa jalan fidiraaaa..." Fidira lagi lagi hanya nyengir mendengar jawaban afkan yang menurutnya masuk akal sih. "Kamu ngapain aja? Lama banget"
"Emmm... " Fidira sedikit ragu. "Sup nya keasinan" Fidira melirik sup yang masih mengepul di belakangnya.
Afkan menyinggung sedikit senyuman. Senyuman yang meremehkan menurut fidira. Padahal afkan tersenyum karena merasa senang fidira berusaha mengurusnya. Afkan mendekat ke kompor, ia mengambil sendok dan mencicipi sup itu. Terlihat afkan menggeleng pelan lalu mengambil beberapa bumbu. Uuhhh fidira benar benar putus asa, dirinya merasa tidak memiliki bakat di dapur.
"Kamu ingin sarapan sekarang?" Tanya afkan yang membuat fidira tersentak. Aduhh.. Pikiran pikiran negatif pagi pagi sudah masuk ke otaknya. Fidira memukul pelan kepalanya, lalu mengangguk. "Cepatlah" Afkan beranjak mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi juga sup yang di buat fidira tadi.
"Pak bos nggak makan?" Tanya fidira saat afkan memberikan piring yang berisi makanan itu kepadanya.
Afkan menggeleng. "Saya nggak selera. saya mau istirahat dulu,Kepala saya pusing" Fidira hanya mengangguk, menatap afkan yang berjalan ke atas. Dan yang pasti tidak mengatakan apapun.
"Yeah.. Gue bisa beba-"
"Jika sudah selesai, cepat ke atas fi" Baru saja fidira menyatakan kebahagiaan nya. Ternyata afkan tidak lupa. "Lima belas menit. Kembali" Sambungnya yang hanya mendapat cebbikan bibir dari fidira.
Setelah membereskan peralatan makan dan mengambil makanan untuk afkan, fidira bergegas menaiki tangga menuju kamar afkan. Terlihat afkan terbaring di tempat tidurnya, memijat pelan pelipisnya dengan mata terpejam. Fidira menaruh mangkuk dan segelas air di meja.
"Masih pusing?" Afkan membuka matanya saat merasakan tangan kecil menyentuh keningnya. "Saya sudah telpon ester buat minta dokter elo meriksa" Jelas fidira membenarkan selimut afkan.
"Kenapa kamu memberitahunya? " Tanyanya sedikit kecewa. "Ester pasti akan mengadu ke mama"
"Maybe. But... Itu nggak penting. Sekarang ayo makan" Fidira mulai mengangkat mangkuk dan menyendok kan nasi.
"Saya nggak selera fiii" Tolak afkan menjauhkan wajahnya dari sendok. Fidira menggeleng plus cemberut. Tapi kalo nggak maksa bukan fidira namanya.Dengan sedikit memaksa akhirnya afkan mau makan walau nggak habis. Menurut fidira itu wajar buat orang sakit,pasti nggak mau makan.Yakin ni cuma sedikit maksa nya? Nggak ngancem juga? Haha.
"Sebenernya mama udah tau, nanti mau ke sini" Fidira memberi afkan segelas air.
"Kamu ngadu?" Afkan terlihat kesal.
Fidira mengangkat kedua bahunya "lagian saya nggak ngerti kalo pak bos sakit,apa aja yang di siapin. So... Kasih tau mama" Fidira mengedipkan salah satu matanya. Afkan memutar bola matanya jengah. "Oiya... Hari ini ada meeting. Haruskah saya tangani?"
Afkan menggeleng. "Batalkan"
"Tapi itu.. Proyek bes-"
"Saya masih sakit fidira. Dan kamu tega ninggalin saya? "
"Hanya satu jam" Fidira masih bersikeras.
Tidak ingin meladeni fidira, afkan beralih memainkan ponselnya. Jika terus berdebat,afkan yakin dirinya pasti kalah. Merasa di kacangin, fidira pun pergi untuk mengembalikan mangkuk. Beberapa saat kemudian, cukup lama sih, fidira kembali ke kamar afkan dengan pakaian yang berbeda. Rambut yang masih terikat cepol dan terlihat basah, menandakan dirinya baru saja mandi. Tapi cepet banget ya?
Afkan melirik fidira yang berjalan menuju sofa dan mulai membuka laptop. Pandangan fidira terfokus pada layar laptop, dirinya harus mengatur keadaan kantor yang sementara ini akan afkan tinggalkan. Dan Berkas kemarin juga belum jadi afkan tanda tangani. Harusnya hari ini sudah di tanda tangani, tapi afkan malah K.O ya begitulah. Jujur Fidira sangat benci keadaan ini,jika afkan sakit bisa di pastikan dirinya akan sangat repot dengan semuanya. Fidira terus mengotak ngatik laptopnya,jari jarinya menari nari di atas keyboard, kadang fidira terlihat sangat frustasi, dan momen inilah yang membuat afkan senang. Senang dalam kegiatan yang menurut author gak guna banget. Haha tapi nggak menutup kemungkinan author nggak ngelakuin ya. Memandang tanpa sepengetahuannya itu rasanya sungguh menyenangkan, seperti makan bakso. Eh?
Tuutt tuutt
"Hallo, selamat pagi pak ibnu"
"hehe, maaf ini pak afkan nggak bisa ke kantor soalnya sakit. Saya juga... Tau lah pak, jadi saya minta tolong bapak untuk mengambil alih pimpinan kantor buat sementara ini. Saya juga udah hubungi ian, sahila, juga rino buat bantu bapak"
"Iya pak terima kasih. Oiya, hari ini ada meeting tolong bapak atur ya? Setelah makan siang di kafe dep-"
.......
"Hah? Di batalin? Tap-i siapa?"
.......
Fidira melirik afkan yang pura pura tidak mendengar. "Ohh iya pak, tolong atur kantor ya pak. Terima kasih. Selamat pagi" Fidira mengakhiri sambungan telepon, lalu menatap afkan yang tidak peduli. "Kok di bataliiiiiin? " Fidira mengomel dengan berkacak pinggang.
"Sudahlah jangan di pikirkan fidiraaaa" Afkan tersenyum lalu kembali fokus pada ponselnya. Fidira mendengus kesal, ia juga kembali fokus pada laptopnya. Mau bagaimanapun semua sudah batalkan?
Ting Tung
Afkan dan fidira saling menatap saat bel rumah mereka berbunyi. Siapa pagi pagi sudah datang ke rumah? Fidira bangkit dari duduknya. Baru selangkah maju tapi...
"AFKAAAANNN!!"
__ADS_1