
***
Fidira terburu buru keluar kamar...
"Non mau kemana?" tanya bi inah.
"Mau..ke pom depan bi" jawab cepat fidira langsung tancap gass.
"Fidira kemana bi?" tanya afkan yg baru turun.
"Gak tau den...baru pulang kerja udah pergi aja. Katanya sih tadi mau ke pom depan" jelas bi inah.
"Oo" dingin afkan.
*jadi selama ini masih mondar mandir* batin afkan.
Pukul 18.00 sore
Brueemmm
Suara motor fidira memasuki garasi rumahnya.
"Assalammuallaikum" tariak fidira masuk rumah.
"Waallaikumssalam" jawab bi inah dari dapur.
"Dari mana non?" tanya bi inah kepo
"Dari pom depan" jawab fidira duduk di meja makan.
"Beli bensin?" tanya bi inah kembali
"Iya juga, sama....."
"Sama apa?" bi inah penasaran.
"Sama...BAB" ucap fidira memamerkan deretan gigi putihnya.
"Hm? BAB?" ucap bi inah mengerutkan dahinya.
"Iya...soalnya disini kan wc nya duduk fidira gak enak...fidira nyamannya yg jongkok. Emang sih resiko rumah mewah ya kek gini", gerutu fidira panjang lebar memakan camilan yg berada di atas meja.
" kamu yg katrok" suara seseorang dari arah tangga.
"Eleh...ini tu soal tingkat kenyamanan seseorang dalam menjalani me time nya" jawab fidira kesal melempar keripik ke arah afkan.
"Itu mahal lo!" ucap afkan menunjuk camilan yg berada di depan fidira.
"Bodo amattt!! Peritungan banget" ucap fidira tanpa dosa.
"Kata kamu keadilan harus di perjuangain" sahut afkan duduk di meja makan.
"Kata pak bos...apapun kebutuhan saya ditanggungin...alah...bicit doank" gumam fidira masih terdengar.
"Wahhh kamu ya?" kesal afkan
"Apa!?" kesal fidira benggebrak meja
"Ekhem" suara deheman membuat afkan dan fidira menoleh.
"Masih ada orng lo...kalo mau pdkt jangan di depan bibi...iri nanti" goda bi inah menatap fidira dan afkan.
"Iihhh" ucap fidira dan afkan bersamaan sembari membuang muka.
"Biasanya kan gitu...mula benci jadi rindu...yakan?" goda bi inah kembali.
"Apaan sih bi?" gerutu fidira
"Tau tu bibi..." sahut afkan.
"Iya iya...mending kita makan sekarang" ucap bi inah.
Selesai makan...
"Alhamdullillah kenyang" ucap fidira bangkit dari duduknya.
"Biar bibi aja non yg beresin" ucap bi inah.
"Gak papa bi...fidira bisa kok cuma cuci piring aja. Lagian fidira gabut...enak nya tidur kali ya?" ucap fidira sembari mencuci piring.
"Gendut baru tau rasa" gumam afkan masih terdengar oleh fidira.
"Gak papa gendut...banyak yg suka juga" sindir fidira membuat afkan menoleh kearahnya.
"Siapa non?" tanya bi inah.
"Enggak bi masutnya tu...kalo orng makan langsung tidur kan gendut ya...tpi banyak yg suka nglakuin itu" jelas fidira melirik pada afkan yg masih menatapnya.
"Dari pada bosan...Mending nonton tv aja non" saran bi inah.
__ADS_1
"Hm..gak seru...lebih baik nonton drakor" mantap fidira
"Alay" sidir afkan
"Drakor? Apa itu non" tanya bi inah heran.
"Drakor itu...drama korea" jelas fidira
"Ooo...bagus ya non?" tanya bi inah.
"Aduuhhh...bangus nya pakek banget bi....apalagi cowok cowok nya uhhh...bikin dag dig dug jantungan tau gak....aaahhhh jadi kangen" ucap panjang lebar fidira menghayati.
"Alay tau gak? Suka banget sama cowok kayak gitu" sahut afkan yg masih menikmati makanannya.
"Gitu gimana? Heh!? Gimana apanya?...bilang aja iri...gak seganteng mereka" jawab fidira bar bar
"Gantengan juga saya....keren juga" songong afkan.
"Hueekkk...mual ni mual...asemm!! Sombong nyee" ejek fidira menghayati.
"Udah udah...kalian tu berantem mulu...nanti rindu tanggung sendiri lo" goda bi inah mengedipkan salah satu matanya pada fidira dan afkan.
"Apaan sih bi!?" gerutu fidira berjalan menuju sofa dan merebahkan tubuhnya.
"Gak jelas " gumam afkan
"Oiya den hari ini bibi nginep" ucap bi inah
"Iya bi" jawab afkan singkat
"Kenapa nggak nginep terus aja bi?" tanya fidira kembali duduk.
"Lho kalo bibi disini...yg nemenin suami bibi siapa? Kan perlu di sayang" ucap bi inah manja.
"Iiiihhh lama lama deket bibi ngeri tau" gerutu fidira merebahkan tubuhnya kembali.
"Lama lama makin aneh" gumam afkan.
"Itu pak bos makan apa berak sih dari taun lalu gak selesai selesai" sindir fidira tanpa dosa.
"Ngomong apa kamu tadi!?" kesal afkan
"Gak denger yaudah" jawab fidira santai.
"Udah udah dari pada bosen mending kalian nonton bareng aja!" saran bi inah.
"Dari pada nonton sama terompet.... gak kedengeran suaranya" sindir balik afkan bangkit dari duduknya.
"Udah deh..kalian nonton film horor aja!" saran bi inah.
"Apa? Enggak ah...ngantuk aku" ucap fidira tersentak langsung duduk dan bangkit.
"Kerjaan numpuk" sahut afkan
"Jangan jangan kalian takut ya...nonton yg horor horor?" ejek bi inah.
"Apaan sih enggak...fidira mah lagi sibuk" alasan fidira.
"Iya siapa juga yg takut...horor mah kecil" sahut afkan.
"Yaudah kalian nonton aja! Puter kasetnya,matiin lampunya biar berasa di bioskop" jelas bi inah.
"Huaahhh ngantuk fidira bi" alasan fidira
"Kamu takut kan?" ejek afkan
"Hee...jangan pengenyekan yee...saya mah gak takut " songong fidira.
"Yaudah kalian nonton bareng bibi mau beres beres kamar. Baru jam 8 malem kok..masak udah ngantuk" ucap bi inah menahan tawa dan pergi dari situ.
"Heh...aneh aneh Deh bibi" gumam fidira beranjak pergi.
"Jadi....takut ni?" sindir afkan bersedekap dada.
"Oke...kita nonton! Saya gak takut kok...cepet nyalain dan mati in lampunya biar lebih seru. Saya tak ambil jajan dulu" ucap fidira pergi ke dapur.
"Gila lo fi...bisa hancur harga diri lo nanti" gumam fidira memukul pelan kepalanya.
Mereka berdua pun mulai duduk dan fidira sudah mengangkat snack yg di bawanya tadi.
"Ponsel harus mati ya?" ucap afkan
"Kenapa?"
"Biar fokus aja..gak ngalihin perhatian..fokus ke film nya" jelas afkan diangguki oleh fidira.
"Oke..."
Film mulai di putar,mereka duduk berdampingan seperti biasa. Sedari tadi fidira tidak berhenti mengunyah snack yg di bawanya.
__ADS_1
Fidira terlihat serius antara cemas dan takut. Sesekali fidira menutup matanya tanpa sepengetahuan afkan. Adegan adegan yg menyeramkan membuat fidira takut hingga melempar snack nya.
"Waaa" fidira menutup mata dengan kedua tanganya.
Afkan yg melihat hanya tersenyum miring.
Fidira menonton dengan banyak tingkah...kadang serius kadang juga ketakutan...sikap nya membuat afkan tersenyum tipis.
"Aaa...awas...disitu!!" pekik fidira menutup kembali matanya.
"Aduhhh serem banget lagi" gumam fidira sedangkan afkan hanya santai menonton.
3 jam sudah mereka menonton dan akhirnya film yg mereka putar telah habis.
"Hahhhh...akhirnya habis juga" ucap lega fidira.
"Dasar!! Penakut" ejek afkan menjitak kening fidira.
"Aww...dasar sombong...cepet nyalain lampunya" kesal fidira.
Afkan beranjak menyalakan lampu...
Byaarr..
Lampu menyala begitu terang, pandangan afkan pun menjadi susah diartikan saat memandang fidira.
"Kamu kenapa?" tanyanya
"Hm? Gak papa" jawab singkat fidira
Afkan mendekat membuat fidira semakin bingung.
"Sangking takut nya sampek keringetan gitu ya" ejek afkan tertawa terbahak bahak.
Fidira yg menyadari langsung mengusap kasar kening yg basah akibat keringat dingin yg membasahinya.
"Ihh..jangan sombong...ngerasain baru rasa kau nanti!" omel fidira beranjak dari duduk nya.
Tiba tiba...
Pettt
"Aaaaaa...pak boss...jangan becanda deh" teriak heboh fidira ketakutan.
"Mati listrik kayaknya" ucap dingin afkan.
"Aduhhh gelap lagi...ini kenapa gelap banget sihhh...nggak keliatan tauuu" omel fidira yg masih berdiri tanpa bergerak sedikitpun.
"Udah duduk aja!" ucap afkan menyalakan ponsel yg dimatikannya tadi.
"Tempat duduk nya mana sih?" gumam fidira bingung sendiri.
"Sini!" afkan menarik tangan fidira, fidira yg belum siap kehilangan keseimbangan.
Brukk
Fidira jatuh di pangkuan afkan.
Deg deg deg
Detak jantung afkan berpacu dengan cepat.
Fidira tidak dapat melihat dengan jelas karena gelap sekali....hanya sinar ponsel afkan yg baru menyala manyinari wajah mereka yg saling berdekatan.
Tatapan mereka bertemu cukup lama, afkan menatap bola mata fidira cukup dalam membuat jantungnya semakin sulit di kendalikan.
"Aduh!...maaf pak bos" ucap fidira menjauh dari afkan.
Afkan yg baru tersadar sedikit gelagapan keringat dingin pun keluar karena kegugupannya.
Afkan memegangi dadanya yg berpacu dengan cepat.
"Kenapa bos? Sakit ya? Aduh maaf tadi pasti kesikut" ucap fidira mendekat pada afkan membuat afkan menjauh.
"Udah gak papa...mending kamu nyalain senternya!" ucap afkan sedikit gugup.
"Tap-"
"Tapi apa?" tanya afkan Sadis
"Hp pak bos kan di pegang" ucap fidira menunjuk ke arah ponsel afkan.
"Huh!! Ini ini cepet nyalain!" afkan memberikan ponselnya.
Fidira segera mencari senter di ponsel afkan... Sementara itu afkan masih menenangkan jantungnya. Entah mengapa jantung afkan tidak mau kembali normal.
"Kenapa kau membuatku gugup" gumam afkan masih ngosngosan.
"Udah ni bos....tpi kok aneh ya...rumah depan sehat sehat aja lampunya" tanya fidira mentap keluar jendela.
__ADS_1