
"Hai sayang disini ternyata" seseorang dari belakang.
Fidira tersentak dan menoleh lalu tersenyum.
"Udah ma?" tanya fidira
"Iya udah...kalian udah makan kan? Papa sama mama juga udah...kita balik ya?"
"Siap maa" fidira bangkit dengan bersemangat.
Sore harinya...
Fidira keluar kamar dengan pakaian khas tomboy nya dan juga kamera yg sudah tergantung di lehernya.
"Hampir magrib mau ke mana non?" tanya bi inah
"Nggak sih bi...habis magrib kok berangkatnya" jalas fidira duduk di meja makan.
"Nggak sholat dulu?"
"Lagi enggak ni...pas dapet jatah" cengiran fidira.
Afkan baru turun dari atas siap dengan pakaian berbeda dari biasanya,kali ini lebih ke arah nonformal.
"Den afkan juga mau keluar?" tanya bi inah berganti pada afkan.
"Iya bi"
"Bareng sama non fidira ya?"
"Iya" afkan ikut duduk di depan fidira.
"Yah jadi ikut ni?" fidira melotot
__ADS_1
"Nggak usah melotot gitu!! Mata kamu copot nanti!" ucap afkan membuat fidira mencebikan bibirnya.
" dipertahanin ya! Kompak nya" goda bi inah
"Bi inah tu mesti gitu!" fidira cemberut.
"Hm" afkan cuek hanya fokus dengan ponselnya.
"Den afkan nggak magriban dulu?" tanya bi inah saat mendengar adzan magrib berkumandang.
"Ooo iya tu...sholat dulu kali bang..." suruh fidira merebut ponsel afkan dengan cepat.
"Eh apaan sih?" afkan berusaha merebut ponsenya.
"Sholat dulu bang" fidira tak mau kalah.
"Sini...hei itu hp saya ya!! Balikin!" afkan merebut, terjadilah perang rebut rebutan antara fidira dan afkan.
Prekkkk
Sebuah benda pipih melayang ke atas lalu terjatuh di lantai.
"Hah" fidira terkejut menutup mulutnya.
"Yaallah" ucap bi inah
*mati gue* batin fidira
Brakkk
Afkan menggebrak meja dengan keras sampai fidira dan bi inah tersentak. Afkan menatap tajam kearah fidira, terlihat ekspresi ketakutan di wajah fidira.
"Huff" afkan menghela nafas dalam.
__ADS_1
"Pa-k p-ak bos" fidira terbata.
Fidira bangkit segera mengambil benda pipih yg sebagian layarnya retak tergeletak di samping karpet.
"In-i...aduhh retak lagi...hmm gini deh besok tak ganti yo? Oke? Ojo nesu oke? Yo? Pak bos..please!! Ojo marah yo? Saya minta maaf ni lo...yo? Tak ganti besok. Ojo marah lo? Ini masih nyala kok,ini bisa hidup ni lo..jangan marah yo?" pinta fidira panjang lebar sembari merengek dengan ponsel retak yg masih di gengamnya.
Tanpa berkata sepatah katapun afkan langsung menyaut poselnya yg berada di genggaman fidira dengan cepat lalu pergi ke luar.
"Aduhh... Mati sek akuu!!" gumam fidira tepok jidat.
"Sabar non ya....lain kali nggak usah gitu...resikonya tinggi" bi inah memegang bahu fidira.
"Tapi kalo pak bos marah piye bi?" tanya fidira dengan bahasa campur aduknya merasa cemas.
"Udah tenang aja! Den afkan marah nya nggak bisa lama lama kok. Biasa nya den afkan akan luluh kalo di rayu!" saran bi inah.
"Emang gitu?"
"Iya non dari kecil den afkan kalo lagi marah pasti bibi rayu sama ice cream rasa vanilla" jelas bi inah
"Yaudah fidira coba deh ya...makasih bi bocoran nya. Assalammuallaikum" fidira mencium punggung tangan bi inah.
"Waallaikumssalam.....semangat non" teriak bi inah.
Sesampainya di depan rumah fidira tidak mendapati sosok afkan disana.
"Fiks ditinggal" gumam fidira berjalan menuju garasi.
"Tapi mobilnya ada?" fidira memandang seisi garasi dan halaman depan rumah.
"Tapi gak ada.....yaudah lah bodo amat" fidira mulai memasang helm di kepalanya dan mulai memegang stir motornya.
Terdengar suara...
__ADS_1