Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
52


__ADS_3

Afkan pun ikut menoleh ke arah pandang fidira.


" apa jangan jangan..." ucapan fidira menggantung menatap afkan.


"Apa!?" ketus afkan.


"Jangan jangan pak boss...belum bayar listrik lagi" ucap fidira menunjuk wajah afkan dengan serius.


"Apaan? Saya tu selalu bayar tepat waktu"


"Masa..coba di cek itu meteran listriknya mungkin njeglek" ucap fidira.


"Hm" afkan bangkit namun tangan nya di tahan oleh fidira membuatnya menoleh.


"Ikutt" ucap fidira memelas.


"Hm"


Afkan dan fidira berjalan menuju depan rumah. Tanpa disadari fidira memegang erat lengan kiri afkan dan sedikit bersembunyi di belakangnya.


Afkan yg menyadarinya tidak menolak malah dia tersenyum menyerigahi.


"Ini kenapa sepi banget sih" gumam fidira ketakutan.


"Ya udah tidur lah orang nya"


Saat berada di depan kotak meteran listrik, afkan terdiam.


"Kenapa itunya? Beneran abis?" tanya fidira panik.


"Gimana mau ngecek...tangan nya aja di kawal terus" sindir afkan.


"Ooo" fidira segera melepas tangan afkan.


Saat afkan mengecek meteran listrik nya, terdengar suara lirih yg mengganggu telinga fidira.


"Pak bos...pak boss" ucapa lirih fidira memegang kaos afkan.


"Hm" jawab afkan yg masih fokus mengecek meteran.


"Pak boss denger suara gak?" tanyanya.


"Suara apa?" tanya afkan balik.


"Iiihhh serius boss...dengerin deh" kesal fidira memukul lengan afkan.


"Hiisss apa?"


"Dengerin dulu ahh" fidira menempelkan jari telunjukanya di bibir afkan.


Deg deg deg


Jantung afkan kembali berdetak.


*baru aja normal udah jantungan lagi* batinya.


Hiks...hiks


Suara tangisan lirih terdengar jelas di telinga fidira dan afkan. Mereka saling pandang.


"Pak boss...gimana?" bisik fidira memegang lengan afkan.


"Udah udah tenang...mungkin tetangga sebelah lagi nangis" ucap afkan menenangkan.


"Listrik nya belum bisa?" tanya fidira


"Lupa...bayar" singkat afkan memalingkan wajahnya.


"Heehh jelas!"


"Udah udah kita masuk aja!" ajak afkan


Saat mereka ingin kembali masuk tiba tiba...


Kresekkk

__ADS_1


Brakkk


"Aaaaaa" pekik fidira dan afkan masuk kedalam dengan berlari.


Brukkk


"Awww" teriak fidira tersungkur di lantai.


Afkan yg menyadari fidira terjatuh langsung berbalik menghampiri.


"Kamu gak papa?"


"pak bos saya takut...hiks hiks"lirih fidira meneteskan air mata sembari memegang kakinya.


" ayok!" afkan membantu fidira


"Aaa...nggak bisa hiks hiks" ucap fidira merasa tidak bisa berjalan karena lemas ketakutan.


Agar lebih cepat afkan segera menggendong fidira dan masuk ke dalam rumah, mendudukan fidira di sofa.


"Coba coba liat kakinya" ucap afkan berjongkok di bawah fidira.


"Kamu tadi kesleo?"


"Nggak tau...tadi tiba tiba jatuh" ucap fidira menghapus air matanya.


"Bentar saya cari lilin dulu" afkan beranjak mencari lilin namun tangan afkan ditahan oleh fidira.


"Jangan...gak usah...saya takut" ucap fidira merengek seperti anak kecil.


"Hmm"


Afkan kembali berjongkok di hadapan fidira. Memegang kaki fidira dan mulai memijat pelan pergelangan kaki fidira.


"Gak usah pak bos...ini gak papa kok" tolak fidira menjauhkan kakinya.


"Kalo gak papa kenapa tadi gak bisa jalan? Apa segaja pengen di gendong?" goda afkan membuat fidira mencebik.


Afkan mulai memijat pelan kaki fidira, fidira hanya melihat dan menonton dengan besedekap dada. Afkan yg melihatnya tiba tiba mengencangkan pijatan nya.


"Awww!!" pekik fidira meringis kesakitan. Afkan hanya tersenyum menyeringai.


***


Pukul 04.00 pagi bi inah keluar dari kamarnya bersiap menuju dapur.


"Masih mati ya lampunya" gumam bi inah membawa senter dan mulai menuju dapur.


Saat melewati ruang tamu alangkah terkejutnya bi inah saat mendapati afkan dan fidira yg tengah tertidur pulas di sofa.


Bi inah juga senyum senyum sendiri karena melihat pemandangan so sweet di sofa ruang tamu.


Terlihat fidira dan afkan yg tengan tidur dalam posisi duduk, fidira memegang lengan afkan dan menyenderkan kepalanya di bahu afkan. Sedangkan afkan menyenderkan kepalanya di kepala fidira dengan tangan yg masih menggenggam ponsel dengan senter yg menyala.


"Semoga ada cinta diantara kalian....amiin" gumam bi inah tersenyum berlalu ke dapur.


Pukul 06.00 pagi


Ting ting ting


Alarm ponsel afkan berdering membuat nya terusik.


Afkan mulai mengerjapkan matanya,sinar mentari pagi telah menyambutnya lewat kaca jendela rumahnya.


Afkan merasa berat saat ingin mengangkat bahu kirinya,betapa terkejutnya afkan saat melihat manusia mungil yg sedang tertidur pulas di bahunya.


Deg deg deg


Jantung afkan mulai terpompa kembali dengan cepat.


"Bisa mati gue" gumam nya menatap fidira dengan menyinggung senyuman di bibirnya.


Ekhem


Afkan tersentak

__ADS_1


"Matanya di kondisikan den" goda bi inah berlalu ke atas dengan menyinggung seyum.


"Apaan sih bi!?" ketus afkan.


"Fi...bangun! Tangan saya pegel ni"


"Fii...fidira...udah jam 6 ni,saya mau ke kantor" afkan menggoyangkan bahunya.


"Hm" fidira malah membenarkan posisi nyamannya.


"Fi..nanti saya telat!"


"5 menit lagi" gumam fidira mempererat pelukannya.


"Fidira..." bisik afkan tepat di telinga fidira membuat fidira seketika bangun.


Afkan tersentak begitu pun dengan fidira yg baru membuka matanya melihat wajah afkan sedekat itu dengannya.


"Hah?"


"Hufff" afkan gelagapan.


"Hmmm....aduh...maaf pak bos" ucap fidira mencucek matanya dan suara khas bangun tidur.


"Hm"


"Udah bangun non den?" tanya bi inah dari atas tersenyum penuh arti.


"Hehe...pagi bi" sapa fidira yg masih mengumpulkan nyawa.


"Pagi juga non"


"Hmm...oiya bi...tadi malem bibi denger suara gak?" tanya fidira heran.


"Suara apa non?"


"Suara kayak orang nangis gitu" bisik fidira


"Gak usah jadi penakut" sahut afkan


"Diem dulu!"


"Oo..tadi malem non" tanya bi inah diangguki oleh fidira.


"Sebenernya tadi malem yg nangis bibi sekitar jam 11 an kan?" jelas bi inah tidak enak.


"Hah? Jadi bi inah" kompak afkan dan fidira tidak percaya.


"Heehe iya maaf non den...sebenernya bibi tu kangen sama ibu bibi yg udah nggak ada...jadi sedih deh" jelas bi inah.


"Yaallah bi...kalo sedih boleh tpi jangan sampek buat orng jantungan tau" ucap fidira bernafas lega.


"Maaf non..." ucap bi inah tersenyum


"Fidira kira hantu tau bi" manyun fidira


"Iyaa...bi inah minta maap ni"


"Emang bi inah belum takziah?" tanya afkan.


"Belum den...harus pulang kampung soalnya makam nya di kampung"


"Ooo...yaudah kalo bibi mau cuti...cuti aja gak papa kok" jelas fidira seenaknya sendiri.


"Hah?" afkan menatap fidira. Fidira yg juga menatap afkan mengedipkan salah satu matanya.


"Gak usah non...kpn kpn bibi pasti minta jatah cuti kok"


"Terserah bibi deh...yg penting bibi jangan sungkan kalo ada masalah bilang aja ya!" jelas fidira diangguki oleh bi inah.


"Kayak bos nya aja kamu" gumam afkan


"Kan istrinya" ucap fidira tersenyum dan pergi ke kamarnya.


Deg

__ADS_1


Afkan memegangi dadanya


"Dia tadi bilang....istri?" gumam nya.


__ADS_2