Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
85


__ADS_3

Di kafe


Fidira dan ian tak henti hentinya berkeliling dari meja satu ke meja yang lain, sedangkan yang lain sibuk di dapur untuk membuat pesanan pelanggan yang memang pada hari minggu ini benar benar sangat ramai. "Kayak nya dulu gak serame ini? " Keluh fidira pada semuanya saat jam makan siang tiba.


Mereka semua menanggapi pertanyaan fidira hanya dengan mengangkat kedua bahu. "Mungkin lagi seneng kali ni hari? " Ucap rafa menyeruput ekspressonya.


Tak!


Elma menaruh gelas es teh manisnya di atas meja "ya alhamdullillah donk. Rezeki hari ini, minggu berkah. Eeeaaa" Semua hanya mengangguk angguk paham."eitss! Ada keanehan yang lebih penting dari itu?" Semua menatap elma serius.


"Nungguin ya..? " Ucap elma dengan nyengir,seketika merubah semua ekspresi teman temannya. "Enggak enggak ini gue serius. Kalian nggak sadarkan? Kalo.... TOPI FIDIRA BARU!! " Ucapnya heboh. Semua melongo, lalu menatap fidira dengan intens.


Rafa dengan cepat mengambil topi fidira, sesaat ia terdiam lalu tersenyum "uuuuuhhh dari siapa ni? Liat deh! Tulisannya 'MINE'.." Rafa menunjukan pada semua. Mereka semua dengan senyum mencurigakan menatap fidira, lalu melontarkan godaan godaan sesad,apalagi setelah mendengar penjelasan fidira bahwa itu milik afkan. Semakin semangat saja dalam menggoda.


Tak lama terdengar nada dering telepon di sekitar mereka. "Bentar" Fidira sedikit menjauh dari teman temannya yg suaranya sungguh tak bisa di kontrol.


"Btw nada dering fidira bukannya opening naruto yg bluebird itu ya? " Tanya jojo polos, namun masih dengan kekehan.


"Wibu banget parah! " Elma menanggapi sambil sesaat melirik fidira yg sedang melakukan telpon, semua hanya terkekeh kecil. Sampai akhirnya fidira kembali berkumpul dengan mereka.


Bukannya di tanya ada apa? Malah hal yang gak penting di tanya in " Nada dering lo.. ? " Tanya jojo menatap fidira


"Iya, belum nemu sound yg bagus gue" Fidira nyengir kuda. "Gesss sorry ni ya sebelumnya,setelah makan siang gue cabut ya? Tapi gue usahain malem bisa bantu sampai selesai dah? Oke? " Fidira mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V. Peace.


"Lo akhir akhir ini lancar foto nya? " Tanya rafa memasangkan topi fidira dengan benar. "Pakek topi tu gini! Jangan di balik balik. Kalo gini kan manis" Rafa mewanti wanti fidira agar tidak membalik topinya seperti tadi sebelum ia ambil. Ya... Sepanjang pelayanan ke pelanggan tadi, fidira memang membalik topinya ke belakang. Keren katanya.


Fidira nyengir kuda "iya iya...ini udah manis kan? Udah gue cabut!" Fidira bangkit.


"Gue bantu ya?" Rafa ikut bangkit


"Haiiss bilang aja lo pengen jalan jalan? " Elma berkacak pinggang.


"Gue gak kerja rafaaa, ini tadi pak bos tel-" Ucapan fidira terhenti saat melihat perubahan ekspresi jahat dari teman temannya. "Sial" Gumamnya lirih.


"Ooohhhh! Ayang suami yg nyariin" Goda jojo merangkul nando manja.


"Isss apaan?" Nando menepis tangan jojo "cieeee di cariin" Nando malah ikut ikutan.


"Sama aja kalian! " Fidira meneguk air mineral nya.


"Alhamdullillah setidaknya... Mereka udah saling sukaaaaaaaa" Ian iku ikutan menggoda dengan tertawa jahat.


"Udah di beliin topi, di cariin! Gue tebak pasti tadi di pasangin kan topinya? " Tebak rafa dan itu berhasil membuat fidira terdiam.


"Cieee benerr lagi" Imbuh ian benar benar membuat wajah fidira merah menahan amarah plus malu.


"KALIAAAANNNN!! "


***


Pukul 14.00 siang


Fidira baru saja memarkirkan motornya di garasi, ia segera masuk ke dalam rumah. Sepi? Bukannya langsung menemui afkan, fidira malah mampir ke kamarnya. Fidira melepas topi dan sepatunya, lalu merebahkan diri ke kasur empuk kesayangannya.


Drrtttt drrtttt


"Hmm? " Sapa fidira dengan mata terpejam.


"Kamu di mana? "


"Di rumah"


"Di mana? Rumah? "


"Hek.eh" Fidira menjawab dengan masih merem merem. Ngantuk banget sampai ia tak kuasa menahannya. Tanpa di sadari ia terlelap dengan sambungan telepon yg masih terhubung.


"Hallo? Fi? Hallo? "


Tut


Karena tidak ada jawaban akhirnya sambungan telepon di putus secara sepihak.


Beberapa saat kemudian....


Tok tok tok


Tok tok tok


Ceklek


"Ya ampun.. Molor terus kerjaannya" Afkan mendekat kearah fidira . Afkan mendudukkan dirinya di pinggir ranjang tempat fidira tidur. "Nggak ada kerjaan lain apa selain tidur? " Afkan mulai menggerutu.


"Lama sih" Suara lembut tersebut membuat afkan sedikit kaget. Fidira membuka matanya perlahan, ia menyingkirkan tangan kekar afkan yang bertengger di kepalanya. Sebenarnya saat menggerutu tadi afkan berniat menyibakkan rambut fidira yg menutupi wajah.


Fidira mengubah posisinya menjadi duduk bersila sambil mengucek matanya juga menguap.


"Eitsss! Jangan di kucek! " Afkan mengehentikan tangan fidira.


"Tapi nggak enak" Fidira masih ingin berontak.


"Kalo gitu cuci muka,kalo bisa mandi sekalian. Jangan di kucek" Omel afkan masih dengan menahan tangan fidira.


"Sebenernya kita mau ke mana sih? " Fidira beralih bertanya.


Afkan terdiam sejenak. "Udah mandi aja dulu. Saya tunggu" Afkan bangkit.


"Harus sekarang? " Tanyanya lagi


"Cepatlah!! " Afkan keluar dari kamar.


Huuuuuhhh. Akhirnya fidira Dengan malas mengikuti perintah afkan.


Beberapa saat kemudian fidira keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Walaupun yang di ganti cuma kaos nya saja, fidira tetap terlihat keren saat memakainya.


"PAK BOSSS!!? " Teriak fidira tanpa dosa. Tiba tiba fidira teringat sesuatu, ia membekap mulutnya dan memekik keras dalam hati. Ia lupa di rumahnya bukan cuma ada afkan dan dirinya namun juga mertuanya.


Karena takut ketahuan, fidira memilih berlari menuju kamar afkan yang pintunya sedikit terbuka. Buru buru ia masuk dan menutup pintu dengan cepat. Seperti di kejar hantu saja.


Huuuhhh fidira bernapas lega. "Kyaaaaa!!! " Pekiknya kembali saat mendapati afkan berada di sampingnya bahkan sangat dekat. "Pak bos ming-gir! " Fidira terlihat gugup saat afkan malah mendekatkan dirinya dan mengunci pergerakan fidira. Fidira tidak berani menatap mata afkan yang terlihat berbeda dari biasanya.


*mau lari tapi tangannya di ngurung gini, whattt? Otak gue ngelag... Tenang fi.. Jangan panik* fidira terus mewanti wanti dirinya yg mulai panik saat hembusan nafas afkan mulai terasa di dekat wajahnya. Fidira hanya bisa memejamkan mata agar tidak takut dengan situasi yang benar benar tidak ia mengerti ini. Dan parahnya lagi afkan terlihat sangat menawan hari ini.arrgggghhh!


"Pa-k pak bos" Fidira berusaha berani memecah keheningan sesaat, agar segera lepas dari afkan yang aneh ini.


"Hm? " Suara afkan terdengar sangat berat, bahkan fidira belum pernah mendengar suara seperti ini.


"A-pa yang pak bos laku-kan? " Dengan masih menunduk fidira berani bertanya.


"Dirimu" Jawaban afkan benar benar membuat fidira melotot,tanpa ada rasa takut sedikitpun fidira akhirnya mendongak menatap afkan yang sedang menatapnya. Inginnya mengakhiri situasi yang aneh ini, ternyata fidira malah salah langkah. Bukannya menjauh,afkan malah mendekat hingga fidira terhimpit.


Fidira sudah tidak bisa mengelak, keberaniannya kali ini benar benar hilang. Ingin rasanya ia menampar afkan seperti biasanya, namun entah kenapa tangannya tidak mau melakukannya,seakan mendukung situasi yang paling di takuti fidira saat bersama seorang laki laki.


Dan kali ini terjadi untuk pertama kalinya fidira merasa takut dengan laki laki yang sedang menyudutkannya. Detak jantungnya semakin kencang, bulu kuduknya ikut berdiri saat kening afkan menempel pada keningnya. Di tambah hidungnya kini bersentuhan dengan hidung afkan yang sangat mancung. Mata mereka terkunci satu sama lain.


Bola mata hitam pekat, bulu mata yang panjang, dan juga alis yang sedikit tebal terekam jelas di mata fidira. Fidira sudah tak bisa berpikir jernih, hanya perasaan takut yang kini sedang berkobar di dalam dirinya.


"P-ak bo-s. Saya mohon hentikan ini" Suara fidira terdengar gemetar.


"Kenapa? " Tanya afkan dengan suara yang masih sama beratnya.

__ADS_1


"Sa-ya saya.. Takut" Suara fidira agak melemah.


"Jadi ini yang membuat mu takut? " Tanya afkan dengan suara yang berbeda, suara seperti biasanya dengan nada mengejek dan yang selalu membuat fidira jengkel. Afkan akhirnya menjauh dengan tatapan yang masih terkunci ke arah fidira. Namun bukan tatapan menyeramkan seperti tadi,fidira bisa merasakan itu. Tatapan meremehkan, tawa afkan langsung pecah saat fidira telah sadar bahwa dirinya hanya menggodanya.


"AAAA AKU AKAN MEMBUNUH MU!! " Teriak fidira dengan mencubit keras pinggang afkan.


"AWWW! Maaf... Maafkan aku! Fidira maafkan aku hahahaha." Pekik afkan yang tidak kuat menahan cubitan keras fidira, yang pastinya akan memberi stempel gosong di pinggangnya.


"Kau sangat jahat pak bos! " Fidira beralih menggelitik afkan.


"Tolong! Tolong aku! Hahaha ampun fidira ampun" Afkan tak sanggup menahan rasa geli ini. Serasa puas fidira pun menghentikannya, menatap afkan yang sedang batuk batuk karena terlalu lama tertawa setidaknya bisa mengobati rasa takutnya.


Merasa dirinya sudah netral, afkan mendudukkan dirinya di tepi kasur. Fidira masih menatapnya seraya berkacak pinggang. Melihat itu afkan kembali tertawa, namun tidak berani sekeras yang tadi.


"Apa mau lagi? " Tangan fidira sudah ingin mencubit pipi afkan. Namun afkan menahannya.


"Maaf" Afkan menatap fidira dengan senyum tulus. Fidira hanya mampu bengong tidak paham. "Fidira... Maafkan saya" Afkan mencubit kedua pipi fidira.


"Huuuuhhhh" Fidira memanyunkan bibirnya dan itu membuat pipinya semakin gembul. "Sebenarnya kita mau kemana? Lihatlah pak bos, saya tadi sudah mandi dan sekarang berkeringat lagi. Kenapa pak bos tega melakukan itu? Sungguh sangat menakutkan" Fidira mengomel terus, afkan hanya menatap nya dengan senyum. "Kenapa pak bos tersenyum? " Fidira melirik afkan dengan bersedekap dada.


"Sudah ngomelnya?" Tanya afkan masih dengan senyum yang benar benar membuat fidira diabetes. Arrrgghhh kenapa bukan cuma ian yang punya itu?


Fidira hanya mengangguk. "Baiklah ayo ikut saya! " Afkan menggandeng tangan fidira keluar kamar. Entah mengapa fidira tidak menolaknya, ia malah menatap afkan dengan heran. "Kenapa? " Afkan melirik fidira yang menunduk malu.


*ini bisa di lepas? " Fidira melirik tangannya.


"Kalo saya nggak mau? " Afkan bertanya balik.


Huuuuuuhhhh why why fi? Why lo gak nolak? Why lo malah nyaman di gandeng ama bos lo ini? Huuuuuhhh gue bingung ama diri gue sendiri. Batin fidira menerka nerka.


Afkan membawa fidira ke ruang buku, fidira sedikit heran. Namun seketika senyum mengembang di wajah fidira setelah melihat banyaknya novel terpampang di sana.


Ruangan besar mempunyai 5 lemari besar nan tinggi, terisi berbagai banyak buku. Semua rak terisi penuh dengan jenis buku yang berbeda dalam setiap rak.Dengan nuansa warna coklat kayu, serta meja yang berada di depan jendela membuat suasana nyaman saat membaca.


Dengan langkah cepat fidira menuju rak yang berisikan novel. Ia melihat satu persatu novel yang sangat menggoda imannya. Arrggghhh pikiran nya akan kotor lagi. "Apa ini sudah kau baca semua pak bos? " Tanya fidira yang pandangannya masih pada buku buku itu.


"Yang di rak paling atas belum" Jawabnya masih dengan membuka laci laci meja.


"Gilaa... Ini kalo di total berapa miliyar? " Fidira mengambil sebuah buku di rak nomer 4 yg sedikit tinggi darinya.


"Saya nggak tau pastinya"


"Tapi semua ini novel dewasa? Kenapa tidak ada yang remaja? " Tanya fidira masih membolak-balik buku.


"Saya lebih suka yang dewasa" Jawabnya seraya mengambil sesuatu dari dalam laci meja.


Fidira menoleh pada afkan,lalu menyinggung senyum menyeringgahi "wah wah wah... Otak mu sudah terlalu kotor pak bos" Fidira mendekat pada afkan dengan senyum mengejek. Afkan mendekat ke arah fidira, dan itu berhasil membuat fidira kaget.Afkan sedikit berjongkok hingga berhadapan tepat dengan wajah fidira.


Takkk


"Ini juga kotor" Afkan menjitak kecil kening fidira. Fidira mengusap keningnya dan mengaduh keras.


"Sakit tauu!" Fidira kembali cemberut. "Tapi otak ku stay halal" Fidira membela dirinya.


"Hmm...jika otak mu tidak kotor, kenapa kamu kaget saat saya mendekat tadi? " Afkan bersedekap dada.


"Hmm? Ya kaget aja.. Tiba tiba gitu? " Fidira tak mau kalah.


"Oh ya? Lalu apa yang kamu pikirkan? " Tanyanya lagi.


Fidira terdiam. Apa dia harus menjawabnya? Tapi malu kan kalo ngomong gitu... Nggak mungkin.


"Pasti kamu mikir saya bakal nyium kamu kan? " Tebak afkan benar benar mengenai sasaran.


"Haiss... Cepatlah kita mau kemana? " Fidira mengalihkan perhatian.


Afkan hanya tersenyum menanggapi. "Kalo enggak jadi saya balik ni? " Ancam fidira.


"Untuk apa? " Tanyanya


"Bukalah" Afkan menggenggam kan nya pada fidira.


Untuk menghormati afkan akhirnya fidira terpaksa membuka kotak tersebut. Kalung kecil emas berliontin kupu kupu mungil terlihat tersimpan di sana. Tidak ada ekspresi apapun dari fidira, dia menutup kembali kotak tersebut.


"Maaf pak bos, tapi... Saya nggak bisa pakek ginian. Jujur aja ya... Lebih ke nggak suka aja sama perhiasan. Gak tau kenapa.. Menurut saya perhiasan tu alay. Padahal ya enggak tapi saya tu kayak geli gitu lo. Liat deh cincin pernikahan aja nggak saya pakek. Apa lagi ini, pak bos terima kasih. Tapi-" Ucapan fidira terhenti saat afkan memotongnya.


"Itu dari mama" Ucapnya lirih. "Dia menyiapkan ini semua sejak dulu, walaupun dia tidak bisa bertemu dengan menantunya. Setidaknya dia bisa memberi hadiah kecil" Jelasnya membuat fidira tersentuh.


"Tapi... Saya bukan menantunya kan? Kenapa tidak untuk istri pak bos kelak.Ini hany-"


"Siapa bilang kamu bukan menantunya? Saya sudah menikahi kamu secara sah hukum dan agama. Jadi kamu sudah menjadi istri sah saya, dan itu artinya kamu menantunya. Menantu di keluarga ini, bahkan nama belakang mu terdapat nama saya. Walau ya.. Mungkin memang ini hanya formalitas. Dan jangan membahas masa depan, untuk saat ini. " Tegas afkan membuat fidira sedikit takut.


"Emm! Maaf untuk itu... Tapi... " Fidira menunduk pasrah, apa yang harus ia lakukan. Dia merasa tak pantas mendapatkan hadiah istimewa dari mendiang mama mertuanya. Ia merasa tak berhak untuk itu, karena dia tidak pernah melaksanakan tugas yang seharusnya di lakukan untuk afkan. Ini hanya formalitas setahun saja kan?


" Ini ada lagi untuk mu! " Afkan memberi sebuah amplop, yang bermotif sama dengan amplop dari sarah untuk afkan waktu itu. Fidira menerimanya. Tanpa mengatakan apapun afkan pergi meninggalkan fidira yg masih diam mematung di sana.


"Salah ngomong" Fidira mendudukkan dirinya di kursi baca dekat jendela. Dibukanya amplop tersebut, terlihat tulisan tangan yang sangat rapi berjejer di dalam kertas diary berwarna putih bersih.


*dear menantu ku sayang.


Walaupun mama tidak mengenalmu, bahkan tidak pernah melihat mu. Mama yakin kamu adalah gadis baik. Afkan tidak mungkin salah pilih, karena itu mama sangat percaya pada pilihannya.


Mama hanya mau mengucap terima kasih banyak karena sudah menerima afkan apa adanya.Terima kasih telah merelakan hidupmu untuk anak mama. Terima kasih telah mengurusnya. Terima kasih telah menutup kekosongan hatinya. Terimakasih telah mencintainya. Terima kasih telah mau menjadi ibu untuk anak anaknya. Terima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan untuknya.


Entah siapa kamu? Dari mana golonganmu? Mama tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting afkan senang, mama pun ikut senang. Dan yang pasti mama akan selalu merestui kalian. Andai saja mama mendapat kesempatan hidup lebih lama, kita mungkin bisa shopping bareng, masak bareng, travelling bareng, pokoknya semua bareng deh. Sayangnya mama tidak mendapatkan kesempatan itu. Tapi nggak papa, kamu bisa melakukannya dengan nanda.


Hussttt! Jangan kasih tau afkan ya!


Mama akan beri kamu tips untuk bisa menjadi istri yang baik di mata afkan. Yang pertama, bersikaplah manja kepadanya. Walau dia anak yang manja tapi dia lebih suka seseorang yang manja padanya. Yang kedua, jangan memotong ucapannya saat dia sedang marah. Dia sangat membenci hal itu. Yang ketiga, beri dia perhatian yang lebih. Bukan hanya suka orang orang yang manja, afkan juga suka bermanja-manja. Yang ke empat, bersikaplah lembut untuk meluluhkan hatinya. Dia tipe orang yang mudah luluh. Dan yang terakhir, beri dia ice cream vanilla dan juga kecupan hangat saat dia marah. Mama jamin dia akan langsung melemah.


Mungkin kamu sudah mengetahui banyak tentang nya, tapi ini yang teratas menurut mama, bi inah, dan juga nanda. Jadi ingat kelima tips itu ya? Hanya itu yang bisa mama bantu untuk kamu.


Oiya, pasti afkan sudah memberi sesuatu kan untuk kamu? Mama hanya bisa memberikan itu sayang. Mama minta maaf karena tidak bisa bertemu dengan mu. Tapi mama memberi kalung yang menurut mama sangat berharga untuk mama kepada kamu. Itu adalah kalung dimana papa nya afkan membeli hadiah untuk mama di saat mama akan melahirkan afkan. Itu sungguh kebahagiaan terindah untuk mama. Karena mama nggak mau kehilangan kenangan itu, jadi mama kasih buat kamu agar kenangan itu tidak hilang.


Mungkin hanya ini yang bisa mama tulis untuk mu. Kalo semua mama tulis pasti menghabiskan satu pak buku untuk menulis curahan hati mama. Jadi mama mohon jaga afkan untuk mama, cintai dia walau dia memang sedikit menjengkelkan karena sikap manjanya. Hiduplah bersamanya hingga hanya maut yang dapat memisahkan kalian. Berjanjilah pada mama untuk itu. Dan.. Titip papa indra, bantu mama nanda mu untuk menjaga mereka.


Terima kasih.


Sarah nirani*


Fidira meremas keras kertas tersebut, kenapa? Kenapa harus dia yang menanggung ini. Kenapa harus dia yang terjebak dalam pernikahan ini? Kenapa? Semua berfikir pernikahannya normal seperti kebanyakan pasangan lain. Tapi... Mereka berbeda.


Kenapa tuhan memberi jalan yang tidak jelas untuknya? Apa yang harus dia lakukan? Semua pesan dari mama sarah sangat bertolak belakang dengan sikapnya selama ini. Dia tidak pernah bersikap sopan pada afkan, sering memotong ucapannya. Tidak pernah peduli pada kehidupan pribadi afkan. Dan selalu bersikap kasar pada afkan. Semua itu sudah menjadi kebiasaannya. Dan untuk menjaga afkan selamanya? Itu tidak mungkin.


Fidira terdiam sejenak. Mungkinkah dia harus berubah? Setidaknya hanya sikapnya saja? Atau dia harus tetap teguh pada prinsipnya? Arrrggghhh dia tidak tau? Kenapa hari ini keyakinannya goyah, hatinya mulai tersentuh untuk melakukan semua itu. Dan untuk hadiah ini? Apa dia pantas menerimanya? Apa dia pantas untuk menerima kepercayaan? Tidak tidak dia tidak pantas.


Andai saja pernikahan ini benar benar seperti pernikahan yang di impikannya. Mungkin fidira akan melakukan itu semua dengan senang hati. Tapi... Ini berbeda, semua ini berbeda. Fidira mengusap air matanya yang sempat menetes dengan kasar. Kenapa dia menangis? Bukannya ini hanya surat yang tidak penting baginya. Harusnya dia tidak peduli? Tapi kenapa? Kenapa fidira merasa bersalah atas semua ini? Bersalah telah mempermainkan pernikahannya, bersalah telah tidak menjadi istri yang baik, dan yang paling di sesali nya dia telah membohongi semua keluarganya.


Fidira memejamkan matanya, bayangan senyum ibunya terus berputar di pikirannya. Senyum kebahagiaan saat mengetahui salah satu putrinya telah dipinang oleh seorang lelaki yang begitu mencintai sang putri. Tangis haru saat harus melepas putri kesayangannya pergi bersama suaminya. Senyum sang ibu... Yang selalu membuatnya tenang. Dan jika semua tahu tentang pernikahan yang sebenarnya, apa fidira kuat untuk menghadapinya? Yaa tuhan, bantulah hamba mu ini!


"Apa yang kamu pikirkan? " Tanya seseorang mengagetkan fidira, segera ia menghapus air mata yang tersisa di pelupuk matanya.


"Tidak ada" Jawab fidira dengan suara sumbang tanpa menatap afkan. Afkan mendudukkan dirinya di sebarang meja fidira, membuat mereka saling berhadapan.


"Kenapa kau menangis? " Tanyanya langsung


"Siapa yang menangis? " Fidira mengelak, ya walau itu nggak guna.


Afkan menyinggung senyum sinis "kau pembohong yang payah"

__ADS_1


Fidira beralih menatap afkan dengan dahi yang mengkerut. Afkan menatap fidira dengan tatapan yang susah di artikan.


"Lihatlah dirimu! Jelas jelas matamu tidak bisa berbohong. Kau memang gadis yang baik. Bahkan kau tidak tahu cara berbohong yang benar" Afkan masih menatap fidira serius.


Fidira tersenyum kecut "semua orang pasti berfikir seperti itu. Namun bukan saya yang baik, tapi allah telah berbaik hati untuk menutupi semua aib saya" Afkan terus menatap fidira dengan tatapan serius.


"Lihatlah diri saya! Pembohong besar dan munafik. Saya telah membohongi semua orang, keluarga saya keluarga pak bos. Dan terutama saya telah berbohong besar pada ibu saya. Ibu yang selalu percaya pada keputusan saya, yang selalu percaya dengan langkah saya. Sekarang saya membohonginya, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia tau semua tentang pernikahan putrinya yang hanya sebuah perjanjian. Saya nggak sanggup" Fidira terlihat menahan air matanya sekuat tenaga.


"Maafkan saya" Hanya itu yang mampu di ucapkan afkan saat fidira melontarkan keluh kesahnya.


"Ini bukan salah mu pak bos"


"Tapi karena saya, semua ini terjadi" Suara afkan melemah.


"Pak bos! Apakah menurutmu saya pantas mendapatkan hadiah ini? " Tanya fidira serius dengan menyodorkan kotak kecil berisi perhiasan itu.


"Tentu saja"


"Tapi... Semua harapan mamamu tidak sesuai dengan diri saya pak bos! Jadi... Berikan ini pada istrimu kelak yang mampu memenuhinya." Fidira menyodorkan kotak kecil itu agar lebih dekat dengan afkan.


Afkan melirik gumpalan kertas yang berada di samping fidira. Afkan mengambil dan membacanya. Afkan mengkerut kan dahinya. Namun beberapa saat kemudian tersenyum. Fidira sedikit heran dengan afkan, kenapa dia tersenyum?


"Haiss! Mama" Gumam afkan saat membaca tips tentangnya.


Afkan beralih menatap fidira yg menatapnya heran. "Baiklah jika itu mau mu! " Afkan mengambil kotak itu dengan senyuman.


"Serius? " Fidira tidak terlalu percaya.


Afkan hanya mengangguk dan itu berhasil mengembangkan senyum fidira. "Terima kasih atas pengertian mu pak bos"


"Tapi tidak seperti yang kamu bayangkan" Fidira kembali di buat bingung dengan ucapan afkan.


Afkan bangkit dari duduk nya, fidira hanya melihat aktifitas laki laki itu yang sedang berjalan ke belakangnya. "Apa yang kau lakukan? " Tanya fidira menatap ke arah cermin depan dengan sorot mata yang terfokus pada lelaki di belakangnya itu.


"Diamlah! " Bisik afkan dengan suara beratnya membuat fidira kembali menegang. Fidira hanya diam, tidak berani protes. Pikiran negatif kembali datang padanya. Yaallah lindungi hamba mu selalu. Fidira menutup matanya erat erat, tidak ingin melihat afkan yang menyeramkan seperti tadi.Sampai suara afkan kembali terdengar.


"Selesai"


Fidira membuka matanya, alangkah kagetnya dia melihat kalung kecil itu sudah terpasang di lehernya. Fidira meraba lehernya memastikan apakah ini benar dan ternyata memang benar.


"Seburuk apapun dirimu, kamu tetap menantunya fidira. Jadi jangan pernah berfikir untuk tidak berhak mendapatkannya. Semua saat ini yang saya punya itu juga milik mu" Afkan memandang mata fidira dari cermin.


"Tapi... "


"Ssstttt! Sudahlah! Ayo cepat.. Ini sudah sore. Nanti keburu malam" Afkan menggandeng tangan fidira untuk keluar ruangan.


*apa yang harus aku lakukan?* fidira terus bertanya kepada dirinya sendiri di sepanjang jalan. Afkan melirik fidira sesaat.


"Sudahlah! Jangan terlalu di pikirkan. Ini hanya surat harapan mama saja. Harapan tidak harus terwujud kan? " Afkan berusaha menghibur fidira.


"Tapi saya berbohong pada semua" Jawab fidira dengan suara lirih.


"Lalu apa mau mu? "


Fidira menggeleng pelan. "Saya nggak tahu"


"Sudah jangan di pikirkan. Semua akan baik baik saja" Afkan meyakinkan fidira untuk tidak terlalu khawatir. Fidira hanya mengangguk kecil. Walaupun dia mengangguk pikiran dan perasaan nya tetap saja merasa bersalah.


Tidak terasa mobil afkan telah berhenti di depan sebuah toko bunga. Fidira menatap afkan dengan heran.


"Tunggulah di sini" Ucap afkan lalu keluar dari mobil. Fidira hanya menatap punggung afkan yang tenggelam ke dalam toko. Beberapa saat kemudian afkan kembali dengan 3 tangkai mawar merah dan bunga sekar.


"Pegang ini! " Afkan menyodorkan bunga yang di belinya tadi.


"Kan taruh situ bisa? " Fidira menunjuk kearah mobil belakang.


"Sudah bawalah" Afkan menaruhnya di atas paha fidira. Fidira yang sedang malas berdebat hanya mengikuti begitu saja.


Mobil afkan mulai berjalan kembali, di sepanjang perjalanan fidira terus menghirup dan memandangi mawar yang sangat wangi nan indah itu.


"Kau menyukainya?" Fidira hanya mengangguk kecil dengan terus menciumi bunga itu. "Sebenarnya itu bunga kesukaan mama saya. Kau tahu kenapa di pekarangan rumah kita banyak bunga mawar nya?"


"Karena ada orang yang menanam nya" Jawab fidira tanpa dosa. "Benarkan? " afkan memasang wajah datar sambil menatap fidira tajam. Fidira menerima tatapan itu sambil berusaha menahan tawa.


"Sial" Pekik afkan lirih namun fidira bisa mendengarnya. Mendengar hal itu tawa fidira kian pecah, bisa bisanya dia membuat lelucon dari perkataan afkan yang serius.


"Kau menyebalkan" Ucap afkan kesal


"Terima kasih" Fidira menjawabnya dengan masih terbahak.


Beberapa saat kemudian mobil afkan berhenti di sebuah pemakaman. Fidira ingin bertanya,Tapi bunga sekar yang sedang di pegangnya saat ini sudah cukup memberinya jawaban. Ya pasti mau berkunjung ke makam orang kan? Tapi gak tau siapa?


Fidira terus mengekor di belakang afkan, sampai langkah mereka terhenti di sebuah makam dengan nama 'sarah nirani'. Afkan berjongkok di samping batu nisan itu, di usapnya batu itu dengan lembut.


"Hai maa, afkan mama dateng. Maaf!,afkan belakangan ini jarang nengok mama. Karena afkan banyak kerjaan. Afkan kangen banget sama mama. Di sini afkan baik baik aja, jadi mama jangan khawatir ya di sana.oiya... Seperti biasa afkan bawain mama hadiah" Afkan menoleh pada fidira yang ikut jongkok di belakangnya. Fidira memberi semua bunga tadi kepada afkan. "Bunga mawar merah kesukaan mama. Semoga mama tetep tenang ya di sana! Aku menyayangi mu" Afkan menaruh 2 tangkai mawar di atas batu nisan. Lalu menaburkan bunga sekar ke tanah kuburan.


Setelah menaburkan bunga, afkan kini diam termenung memandangi batu nisan itu. Terdengar helaan nafas berat darinya. Fidira menepuk bahu afkan seakan menyuruhnya untuk bersabar. Fidira tahu betul rasa sakit saat di tinggalkan seseorang yang amat penting baginya untuk selamanya.


Afkan menoleh pada fidira, lalu ia tersenyum. Fidira bingung sih? Tapi yaudah deh. "Maa.. Afkan sudah memenuhi keinginan mama.Diaaa... " Afkan menoleh pada fidira.


"Istrinya, saya istri anak tante" Fidira menjawab dengan menatap lurus ke batu nisan. Ia tak menghiraukan padangan bingung afkan yang ditujukan padanya. "Terima kasih telah memberi hadiah untuk saya, boleh kah saya memanggil tante dengan mama? Saya harap boleh, hehehe. Afkan sudah bercerita banyak tentang mama, maaf fidira baru kesini sekarang. Oiya...Nama saya fidira seftiana,anak kedua dari bu tria dari tiga bersaudara. Dan saya dari sidoarjo. " Jelasnya dengan tersenyum.


"Bukan fidira seftiana.. " Potong afkan cuek. Fidira menatapnya bingung, itukan namanya. Ada yang salah? "Tapi fidira seftiana afkan indra" Jelas afkan beralih menatap fidira dengan senyuman. Ya tuhan.. Ini senyum nya.. Manisss bangettzzz...di tambah kaca mata hitam itu,Bisa nggak di jauhkan dari kacamata hitam? Fidira salting parah.


Setelah banyak bercerita lalu mereka membacakan doa,dan mereka berjalan meninggalkan pemakaman karena hari sudah mulai petang. Tiba tiba afkan menghentikan langkahnya lalu menghadap fidira.


"Why? " Tanya fidira bingung.


"Ini buat kamu" Afkan memberi setangkai mawar merah yang tersisa tadi.


"Hmm? Untuk? "


"Tanda terima kasih saja" Afkan meraih tangan fidira, lalu menyelipkan tangkai bunga itu ke dalam genggaman fidira.


"Emm... Baiklah terima kasih" Fidira sedikit tersipu. "Oiya akhir akhir ini kau bersikap sangat manis pak bos" Fidira kembali berjalan di ikuti afkan di sampingnya. Afkan hanya menanggapinya dengan senyuman.


Entah mengapa mata fidira dari saat keluar mobil tadi,hingga saat ini terus saja ingin memandang afkan yang berjalan di sampingnya. Apa lagi dengan prosesi pemberian bunga barusan.arrgghhh!lemessss,leleh,sweet.Berulang kali fidira menggeleng gelengkan kepalanya untuk segera sadar.


"Kamu sakit? " Tanya afkan yang bingung melihat fidira yang terus geleng geleng kepala. Fidira hanya menggeleng.


"Kamu kenapa sih? " Kali ini afkan menghentikan langkahnya dan menghadap fidira.


"Emmm...gak papa sih...cuma...Harus banget ya pakek kacamata hitam? " Afkan mengkerut kan keningnya.


"Kenapa?"


"Kau tahu aktor thailand yang bernama bright pak bos?"


"Siapa? "


"Aiisss kau memang tidak pernah menonton drama. Gak seru ah"


"Memang kenapa dengan dia? "


" Kau tahu Dia itu sangat tampan, apalagi kalo pakek kacamata hitam. Ouuuhhh! Bikin leleh" Ucap fidira sambil membayangkan aktor thailand yang di sebutnya itu.


Afkan tersenyum kecut. "Bilang aja kalo saya mirip dia! " Songong nya.


"Emang iya" Fidira tanpa malu senyum senyum sendiri. Tidak sadar dengan kata yang baru saja ia ucap kan. Sedangkan afkan sudah songong, dengan berlagak sok membenarkan kacamata hitam yang sedang di pakainya.

__ADS_1


"Eiitttss! Wait! APA? " Fidira tersadar.


__ADS_2