Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
50


__ADS_3

Biasa aja!" jawab afkan.


"Yaudah" ucap fidira santai.


"Ini den kopi nya!" ucap bi inah menyodorkan kopi hitam.


"Makasih bi" ucap afkan


"Hmm...baunyaa....aaakuu mauu" ucap manja fidira.


"Non mau? Bentar bibi buatin" jawab bi inah, fidira pun mengangguk.


"makasih..bii" senang fidira.


"Biasa aja kali!" kesal afkan


"Yee...sewot donkk!! Gak ngomong sama situ ye" ejek fidira


"Yg denger in ngeri" ucap afkan


"Bodo amat" jawab fidira menjulurkan lidahnya.


***


"Pagi bu bos" sapa sahila dari belakang.


"Pagi" jawab fidira.


"Bu bos...ini saya bawain sarapan. Dimakan ya terimakasih!" ucap sahila memberi sebuah kotak makan lalu pergi.


"Tap-" ucapan fidira terhenti karena sahila sudah jauh dari hadapannya.


"Hai fi" sapa ian menghampiri


Fidira tersenyum.


"Tumben bawa bekal?" tanya ian


"Enggak...tadi di kasih,lumayan buat makan siang" jelas fidira


"Di kasih? Dari?" tanya ian menyelidik


"Dari..itu tadi sahila" jelas nya.


Tanpa basa basi ian mengambil kotak nasi yg di genggam fidira lalu membuangnya ke tempat sampah yg tersedia di belakang fidira.


"Lololo...kok di buang...kan sayang yann" keluh fidira menengok nasi yg sudah tumpah di tempat sampah.


"Nanti gue beli in...tapi..lo gak boleh makan sembarangan apalagi yg di kasih orang yg gak di kenal" omel ian panjang lebar.


"Wah...lo tadi ngomel yan?...wah..daebak!!" ucap fidira tepuk tangan tidak percaya.


"Udah udah..gue ke ruangan dulu! Inget!! Gak boleh makan dari orng sembarangan. Deal..no debat!" ucap tegas ian lalu pergi meninggalkan fidira sendiri.


"Yah cuek ni...ditinggal lagi" keluh fidira.

__ADS_1


***


"Ni gue beli in...bokso" ucap ian memberi semangkok bakso.


"Hmm...baik banguet" senang fidira


"Dari pada lo makan yg tadi" gumam ian menyruput kuah baksonya.


"Eh..." fidira menepuk keras bahu ian.


Ukhuk..ukhuk..


"Aduhh...kenapa sih? Jadi keselek kan?" kesal ian menyruput es teh nya.


"Azab...gak doa dulu" ucap fidira cengengesan tanpa dosa.


"Hmm...iya" jawab ian manyun.


***


"Pak bosss!!! Pak bosss!!" teriak heboh fidira.


"Aduh non kenapa teriak?" tanya bi inah kaget mendengar teriakan fidira.


"Hehe..moon maap bi...pak bos kemana?" tanya fidira cengengesan.


"Mungkin den afkan di kamarnya" jawab bi inah.


"Ooo...oiya kamarnya yg mana sih?" tanya fidira menggaruk garuk rambutnya.


Fidira hanya menunjukan deretan gigi putihnya.


"Bentar deh...non duduk dulu!" ucap bi inah.


"Tap-"


"DUDUK!!!" bentak bi inah membuat fidira tersentak kaget.


"I-ya bi" jawab fidira agak heran namun menurut.


Terlihat bi inah menaiki tangga.


"Bi inah bisa galak gitu ya?" gumam fidira.


Beberapa saat kemudian bi inah turun di ikuti oleh afkan di belakang nya.


"Den duduk!" suruh bi inah yg terlihat sedikit berbeda.


Afkan pu duduk menatap fidira seakan menanyakan sesuatu fidira hanya mengangkat kedua bahunya.


"Den non... Bibi mau tanya?" ucap bi inah bersedekap dada.


Afkan dan fidira hanya menggangguk.


"kalian marahan?" tanya bi inah dengan nada rendah.

__ADS_1


"Enggak" jawab kompak fidira dan afkan.


Brakkk


Bi inah menggebrak meja membuat afkan dan fidira tersentak kaget.


"Astagfirullah" heboh fidira mengelus dadanya.


"Hah" afkan tersentak.


"Bibi ke-na-pa sih?" tanya fidira terbata.


"Bibi cuma ingin tau...kenapa kalian nggak kayak pasangan lainnya, adu mulut gak jelas,marah marahan gak jelas. Dan kamu fidira kamu udah punya suami kenapa masih sama cowok lain? Dan afkan kenapa aden nggak pernah perhatian sama istrinya?... Kenapa??" ucap bi inah panjang lebar membuat fidira takut sendiri.


Fidira dan afkan saling pandang...


"It-u..." ucap fidira terbata..


"Itu apa!!?" tanya bi inah bar bar.


Fidira hanya diam menutup matanya karena takut. Afkan yg paham akan hal itu berniat menjelaskan pada bi inah.


"Sebenarnya gini bi...." afkan dengan perlahan menjelaskan A-Z kejadian kejadian yg harus afkan fidira alami. Mulai dari pertemuan,kerja sama dan perjanjian mereka.


Mendengar penjelasan afkan perlahan tatapan bi inah terlihat sayu.


"Yaampun den non...kenapa kalian nglakuin hal yg salah?" tanya bi inah dengan nada rendah.


"Ya udah terlanjur bi mau gimana lagi" pasrah afkan.


"Hmm...sebenernya ini terjadi karena ide konyol fidira juga. Dasar bodoh!!" pasrah fidira memukul pelan kepalanya.


"Tpi...pernikahan nggak boleh di buat main main den non...kalian tau kan pernikahan itu satu kali seumur hidup kalo bisa" ucap bi inah sayu.


"Iya bi...kami tau kok, tpi kalo emang gak jodoh mana mungkin di pertahanin" jelas afkan.


"Yg namanya nikah itu sudah jodoh den non..." ucapan bi inah membuat afkan dan fidira tersentak dan saling melempar pandangan.


"Heh....Udah deh bi...kita gak usah mikirin ini...doa in aja yg terbaik" ucap fidira


"Dan please!! Bi inah jangan marah lagi kayak tadi ya...fidira beneran takut tau" keluh fidira membuat bi inah tersenyum.


"Iya...maaf ya non...tadi bibi kelewatan...sebeneranya bibi mau tanya dari dulu tpi kalian selalu gak ada waktu. Yg satu pulang yg satu pergi.." jelas bi inah


"Iyaa...maaf juga...kalo bibi mau tanya apapun sama fidira, fidira pasti jujur tapi rahasia kita berdua...okey?" ucap fidira memeluk bi inah.


"Iya non, non juga kalo mau curhat atau tanya sama bibi...bilang aja ya! Jangan di simpen sendiri!" jawab bi inah membalas pelukan fidira.


Afkan yg hanya menonton tersenyum tipis melihat kedua wanita yg berada di rumahnya begitu kompak.


"Tapi...kalian harus belajar saling mencintai satu sama lain ya! Jangan membiarkan hubungan ini musnah dalam setahun kedepan" ucap bi inah tegas.


Fidira dan afkan hanya melempar pandangan.


"Tapi bibi harus jaga rahasia ini...jangan kasih tau siapa siapa" peringatan afkan.

__ADS_1


"Iya den, yaudah ayo kita makan malam!" ajak bi inah di angguki oleh afkan dan fidira.


__ADS_2