Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
86


__ADS_3

Fidira duduk termenung dengan terus mengaduk aduk es jeruknya. Bosan sekali pikirnya! Hiisss! Ian benar benar mempengaruhi hidupnya. Buktinya baru sehari ian nggak masuk kantor, sudah menghancurkan moodnya. Iaan andai lo tau perasaan gue, batin fidira menggerutu.


Tapi tiba tiba pikiran fidira berganti pada kejadian tadi pagi. Sebelum berangkat ke kantor, tiba tiba saja afkan mengajaknya untuk dinner nanti malam. Katanya sih bosen sama masakan rumah, tapi bi inah kan baru balik kemarin. Dan 1 minggu yang lalu mamanya yang masak, dan please! Itu masakannya enak semua. Tapi ya udah lah ya? Rejeki nggak boleh di tolak.


"Emm.. "


Fidira tersentak saat sahila sudah duduk di hadapannya. Sahila hanya nyengir saat fidira menatapnya heran.


"Sendiri aja bu bos? " Tanyanya sembari menyeruput es teh manisnya. Baru saja fidira membuka mulut, namun sahila sudah lebih dulu melontarkan kalimat berikutnya. "Nggak di temenin ayang nya?"


"Maksud kamu? " Fidira sedikit sinis. Ia tau yang di maksud sahila 'ayang' bukanlah afkan,melainkan ian. Pedes juga mulutnya, kayak dulu sebelum fidira nikah sama afkan. Pedesnya kayak sekarung cabe.


"Enggak ada" Sahila kembali nyengir. "Oiya bos! Perusahaan reymoni bener bener sah jadi klien kita? "


Fidira mengangguk "yaiyalah, siapa juga yang mau nolak good ide gitu"


"Perusahaan ini emang best ya. Beruntung banget lo bu bos, bisa dapetin bos afkan yang tajir, pinter, dan pastinya ganteng" Sahila berdecak kagum.


Fidira tersenyum kecut "biasa aja! Yaudah gue cabut dulu" Fidira bangkit dan berlalu dari pandangan sahila.


"Istri CEO nggak ada anggun anggun nya. Emang bener gak pantes dia jadi pendamping bos afkan. Ckckck kasian fidira... " Sahila tersenyum menyeringahi.


***


Fidira mondar mandir nggak karuan saat mengetahui dokumen yang hari ini di minta afkan menghilang. Ia sudah mengobrak abrik semua dokumen di mejanya, lemarinya, juga laci mejanya. Padahal sebelum makan siang fidira menaruhnya sendiri di atas meja. Yaampun pasti ngomel lagi tu bos!


"Kamu cari ini? " Tanya afkan dengan mengangkat sebuah map berwarna kuning. Fidira menghela nafas lega,mengetahui jika dokumennya sudah berada di tangan bosnya.


"Aduuhh! Pak bos.. Kenapa nggak bilang kalo udah di ambil? " Fidira mengomel. Yang benar saja fidira langsung diam saat semua terselesaikan, ini kan bukan salahnya. Jadi kesempatan untuk ngomel.


"Saya tunggu kamu dari tadi nggak balik balik. Dan sebelum pulang nanti harus segera saya cek, jadi saya ambil sendiri" Afkan mengangkat kedua bahunya. "Lagian kenapa panik banget sih? "


"Ya pak bos kan bawel" Ucap fidira lirih.


"Apa? " Afkan sepertinya tidak mendengar. Denger sih tapi lebih di perjelas aja.


"Nggak jadi deh" Fidira menjawab asal dengan mendudukkan dirinya ke kursi kerjanya. Karena merasa di kacangin afkan memilih berlalu ke ruangannya.


"Hiisss! Dasar! " Fidira terus saja mengomel sendiri, apalagi saat melihat afkan sudah duduk rapi di mejanya. Kaca tembus pandang itu tidak menunjukkan ekspresi penyesalan, atau sekedar maaf kek dari wajah pria dingin itu. Arrggghhh! Lebih gak jelas lagi, kenapa fidira mengharap itu dari afkan.


Merasa ada yang terus memperhatikannya, afkan menatap fidira yang kini sedang menatapnya dengan tatapan kesal. Fidira sebenarnya kaget sih, tapi mau buang muka juga udah telat. Jadi terusin aja. Afkan menaikkan sebelah alisnya, seakan bertanya 'ada apa?' . Bukannya menjawab fidira malah melengos bangkit dari duduknya, lalu keluar ruangan begitu saja. Afkan hanya mampu diam, dalam diam nya dia juga heran. Ada apa dengan fidira?


Dengan langkah yang sedikit di hentak hentakkan, fidira menuju dapur kantor. Entah apa yang akan ia lakukan di sana? Dia juga nggak tau. "Hiiisss! Mood gue kenapa hancur banget sih hari ini?" Gumamnya dengan berkacak pinggang. Sambil mondar mandir gak jelas.Fidira juga heran, kenapa tiba tiba dirinya kesal saat afkan tidak memperhatikannya. Enggak sih lebih ke.. Merasa bersalah, kenapa fidira kesal saat afkan tidak merasa bersalah. Sebenarnya ini hanya hal kecil dan sepele, tapi fidira benar benar badmood bangetttt.


***


Fidira berada di depan cermin,Memandangi dirinya dengan intens. Ia mendekatkan wajahnya, memandangi benjolan yang cukup besar di dahinya. Pekikan lirih terdengar saat tangannya menyentuh benjolan itu. Namun fidira tidak terlalu ambil pusing tentang dahinya, ia lebih memilih menaburi wajahnya dengan sedikit bedak bayi kesayangannya. Yaa.. Jerawat di dahinya itu di biarkan saja, nanti juga kempis sendiri. Katanya.


Fidira sudah siap dengan kaos putih dibalut kemeja kotak kotak hitam dengan semua kancing yang di biarkan terbuka dan jeans hitam. Di tambah dengan sepatu sneakers hitam putih kesayangannya, juga ikatan rambut yang tak terlalu tinggi. Membuat penampilannya selalu terlihat sederhana namun terkesan sangar. Ia segera mengambil ponsel dan juga beberapa lembar uang yang random nominalnya untuk di masukkan ke saku celana belakang miliknya.


Baru saja membuka pintu kamar,fidira sudah di kejutkan dengan seorang pria tampan di hadapannya. Siapa lagi kalo bukan suaminya, Afkan. Fidira melongo, ingin hatinya berteriak kencang saat melihat penampilan afkan yang terbilang sangat modis. No no no goodlooking dah :)


Celana jeans dan kaos putih berbalut kemeja hitam yang kancingnya di biarkan terbuka.Sepatu sneakers persis seperti punya fidira.Rambut yang sudah disisir rapi. Membuat auranya benar benar... Uuuhhh menggoda.


Fidira mematung. Sampai afkan melambaikan tangannya di deoan fidira, baru fidira mau sadar. "Kenapa? " Tanyanya bingung.


"Gak papa" Fidira salting


"Sudah siap? "


"Sud-...tapi kok samaan " Fidira baru menyadari penampilan mereka sama. Terkesan couple gitu.


Afkan hanya mengangkat kedua bahunya " Mungkin cuma kebetulan. Kalo nggak gitu kamu yang nyamain"


"YA!! Gajelas banget saya nyamain pak bos. Yaudah saya ganti aja" Baru saja fidira akan membuka pintu, tangan afkan menahannya.


"Gak perlu, ayo cepat" Afkan menarik fidira menuju keluar rumah. "Assallamuallaikum Bii" Fidira sedikit berteriak saat melihat bi inah berada di dapur.


"Wallaikumssallam" Bi inah tersenyum.


***


"Kemana? " Tanya afkan memulai percakapan.


Fidira mengangkat bahunya " Kan pak bos yang ngajak"


Hening!

__ADS_1


Tiba tiba fidira teringat sesuatu "gimana kalo warung mie ayam depan? Enak lo! Saya rekomendasi in dah. Biasanya saya ama ian sering makan di situ. Sama anak anak juga. Tapi biasanya kita berangkat sore sih, soalnya antrenya uuuhhh banyak banget. Tapi rasanya nggak mungkin ngecewain dah. Saya jamin demi apapun! " Ucapan fidira bersemangat. Afkan hanya mangut mangut, sebenarnya dia tidak konek dengan apa yang di bicarakan fidira. Dia hanya fokus ke wajah fidira saat berbicara, sesekali memperhatikan jalanan. Beneran ini nggak kebalik, bukan fokus ke jalanan tapi fokus ke arah fidira yang sedang ngoceh.


Di sela sela demo tentang berbagai tempat mie ayam di jakarta. Tiba tiba ponsel fidira berdering. Segera saja ia merogoh saku celananya. Terlihat telepon itu atas nama seseorang yang selalu membuat harinya indah. Ian.


"Allo?"


.......


"Maksud lo?" Fidira mengrenyitkan dahinya.


.......


"Yan...ian..lo gak papa kan?" Fidira terlihat panik.


.......


"Iya.. Gue kesana sekarang.please!jangan tidur.oke?"


......


"Iya gue sekarang ke sana. Jangan tidur ya? " Fidira mematikan sambungan telepon dengan ekspresi cemas. Afkan meliriknya dengan heran. "Ada apa? " Tanya afkan saat fidira seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Pak bos, maaf... Tapi.. Bisakah pak bos anterin saya ke kos an ian? Atau kalo enggak, bisa turunin saya disini. Biar saya naik ojol. Saya mohon!ian.. Ian.. Butuh saya. Pak bos tolong! " Fidira terlihat sangat cemas,dengan suara yang bergetar fidira menyatukan kedua telapak tangannya dengan memelas.


"Hei! Fi! Tenanglah! Saya akan anterin kamu. Okey? Tenanglah! Kita putar balik ya? " Afkan menggenggam tangan fidira yang mulai terasa dingin. Baru kali ini afkan melihat fidira secemas ini, baru kali ini fidira terlihat sangat khawatir bahkan matanya sempat berkaca kaca. Biasanya fidira selalu menanggapi masalah dengan santai dan terkesan tidak peduli. Tapi satu nama ini yang benar benar bisa mengobrak abrik ketenangan fidira. Ian.


Di sepanjang perjalanan fidira tak henti hentinya mengucap doa untuk ian. Sempat matanya mengeluarkan air, namun ia segera menghapusnya. Fidira tidak ingin afkan melihat kelemahan dirinya. Afkan tetap fokus ke jalanan sesekali ia melirik fidira yang berusaha menahan tangisnya. Ahhh! kenapa hatinya sangat sakit saat fidira begitu mencemaskan seseorang.terlebih ian.


Mobil afkan berhenti di depan sebuah kos an yang sederhana. Terlihat sepi sekali. Fidira bergegas masuk ke dalam tanpa mempedulikan afkan yang masih diam menatapnya sendu dari dalam mobil.


"Yan ian? " Fidira menggoyang goyangkan badan ian yang sedang tertidur. Tidak ada sahutan dari ian. Fidira makin panik, di goyang lagi tubuh ian dengan sedikit lebih keras. "Yan bangun yan, jangan tidur!please! Jangan tidur dong. Yan" Fidira menepuk nepuk pipi ian. Fidira semakin panik saat melihat wajah ian pucat. Bahkan sempat ia tak kuasa menahan air mata yang tiba tiba lolos begitu saja.


"Ada apa fi? " Fidira menoleh saat suara afkan terdengar dari arah pintu. Fidira tidak menjawab hanya saja matanya menyiratkan rasa khawatir yg besar. Afkan mendekat "kita bawa ke rumah sakit" Mendengar ucapan afkan yang terkesan peduli, Fidira menoleh menatap lekat afkan dengan tatapan bingung campur kagum. Afkan memang bukan sosok yang dingin saja, tapi dingin dan peduli.


Di rumah sakit.


Fidira tidak bisa diam, terus saja dirinya mondar mandir di depan UGD. Dirinya terlihat sangat kacau karena sedari tadi berusaha mati matian untuk tidak menangis. Tapi gagal juga.


Langkah fidira terhenti saat afkan berada di hadapannya. Fidira menunduk, ahhh kelemahan ku sudah ketahuan.batinnya pasrah. "Minum lah!" Afkan menyodorkan sebotol air mineral. Fidira hanya menggeleng dengan posisi yang masih menunduk.


"Ya. Sepintar apapun saya sembunyikan, pasti ada saatnya pak bos tahu" Dengan masih menunduk fidira menyeka air matanya.


"Sebegitu kah cintamu padanya? "


Fidira mengangguk, lalu mendongak menatap afkan "ya saya sangat mencintainya" Entah apa yang terjadi tiba tiba hati afkan yang terdalam merasakan sakit. Apalagi saat melihat keyakinan fidira dalam mengucapkannya di barengi dengan senyum tulus yang menyejukkan.


Afkan terhenti dari lamunannya saat suara fidira terdengar. "Bagaimana keadaan teman saya dok? " Fidira menatap pria muda berseragam putih itu dengan harapan.


"Mbk nggak perlu khawatir. Asam lambung pasien naik. Jadi tidak perlu ada yang di khawatirkan" Jelas dokter itu menenangkan.


"Boleh saya jenguk dok? "


"Tentu! Kini keadaannya mulai membaik. Mungkin nanti malam pasien sudah bisa di pindah ke ruang rawat"


"Ohh.. Iya terima kasih dokter" Fidira tersenyum bersemangat.


Dokter itu tersenyum dan mengangguk pada fidira dan afkan lalu pergi dari sana. Sepeninggal dokter tersebut, fidira bergegas masuk. Lagi lagi afkan di tinggal sendiri di luar.


Fidira duduk termenung di sisi ranjang ian yang sudah di pindahkan ke ruang rawat. Fidira sangat bersyukur, setelah tadi ian telah sadar dan bisa bicara padanya. Dan walau kata katanya selalu tentang komedi, fidira tetap senang ian sudah bisa menghiburnya. Ian sudah tidur dari setengah jam yang lalu, dan fidira masih saja menjaga di sisi tempat tidurnya dengan terus memandangi ian dengan senyuman.


Afkan hanya bisa diam, melihat fidira dengan antusias menjaga ian. Bahkan sedari tadi afkan hanya jadi penonton di sana, hanya ada suara fidira dan ian yang berdebat dengan apa saja lah. Seru sekali. Afkan menghela nafas dalam, lalu ia bangkit mendekati fidira.


"Hmm? " Tanya fidira saat afkan mendekat padanya.


Afkan terdiam dan menatap lekat fidira yang sekarang sudah salting saja. Aduhh kenapa tatapan afkan selalu membuat fidira salting akhir akhir ini.


"P-ak bos maafkan saya, maaf karena saya membatalkan makan malam kita. Lain kali kita makan bareng lah, saya yang traktir. Okey? Tapi sungguh maaf untuk hari ini" Fidira menyatukan kedua telapak tangannya dengan nada memohon tanda bahwa dia sangat menyesal dan meminta maaf.


Afkan masih terdiam beberapa saat terdengar helaan nafas panjang darinya. "Makanlah!" Ucapnya lembut.


"Hah? " Fidira mode emot bingung plus ngelag.


Afkan menarik tangan fidira untuk berdiri dan duduk di sofa yang ada. "Makanlah! " Afkan membukakan sebuah pisang yang ukurannya lumayan jumbo. "Hanya ada ini. Tapi jika kamu mau yang lain, saya akan belikan" Afkan menyerahkan pisang yang sudah terbuka separuhnya.


"Ti-tidak perlu pak bos. Terima kasih untuk pisangnya" Fidira menerima pisang itu dengan senang hati, ya tidak bisa di pungkiri perutnya memang tertahan sejak tadi.


"Lagi? " Tanya afkan saat fidira sudah menghabiskan 3 buah pisang dengan nikmat. Fidira menggeleng, lalu diambilah sebuah pisang lalu membukanya. "Sekarang giliran pak bos yang makan" Fidira menyerahkan pisang tersebut.

__ADS_1


"Tidak perlu. Makanlah! Saya tau kamu masih lapar" Kata afkan menolak.


Fidira cemberut "apa pak bos pengen buat saya gendut?" Fidira berkacak pinggang. "Ingat ya! Saya ini lagi dalam mode diet ketat. Maka dari itu cukup tiga buah pisang saja" Fidira terdiam sejenak, melirik sebuah jeruk segar di keranjang buah "emm... Tidak tidak, tiga buah pisang dan satu jeruk ini" Fidira mengambil jeruk segar yang ukurannya lumayan jumbo.


Afkan hanya bisa tertawa kecil saat fidira berceloteh tentang mode diet. Padahal Kan fidira tanpa henti mengunyah jika di rumah, kerjaannya ngemil mulu. Diet dari mana.


"Pokok nya saya nggak mau rawat pak bos kalo tu lambung kumat lagi" Fidira merajuk.


"Kamu tau dari mana kalo saya sakit lambung? " Afkan terheran bagaimana fidira tau? Dirinya kan tidak pernah bercerita apapun tentang masalah sakit. Atau apapun lah.


Fidira memutar bola matanya malas "asal tebak aja sih. Logika nya kan, pak bos jarang makan malem bareng. Suka lembur, pasti gak makan. Logika" Fidira menunjuk kepalanya. Lebih menunjuk ke otaknya sih. Afkan hanya mangut mangut mengerti.


"So? Makan! " Titah Fidira dengan sedikit melotot.


"Baiklah" Akhirnya afkan menurut juga,walau bau baunya terpaksa sih. fidira hanya bisa tertawa kecil, melihat afkan menggigit daging daging pisang itu dengan kesal. Namun di hati afkan ada sedikit ketenangan mengetahui fidira lumayan perhatian padanya. Lumayan yaaa😫


Pagi ini fidira dan afkan kembali pada aktifitas di kantor, sudah 3 hari ian dirawat di rumah sakit. Dan kemungkinan besar hari ini ia di perbolehkan pulang. Selama ian di rumah sakit, fidira, rafa, elma, jojo dan nando, secara bergiliran menjaga ian. Hanya saja fidira yang menjaga ian paling singkat, mungkin cuma sekedar mengantarkan makan siang dan menyuapi ian setelah itu fidira balik ke kantor lagi. Padahal fidira bersikeras untuk menjaga ian sepulang jam kerja, tapi elma dan rafa selalu melarangnya dan bilang 'urus aja suami lo fi, ian biar kita yang jagain. Lagian ian juga pasti nolak' dan benar saja, ian selalu mengusir fidira secara halus jika fidira masih stay menjaganya di sana saat malam.


Fidira dengan semangat segera menuntaskan pekerjaannya agar bisa pulang lebih awal. Bahkan ia rela melewatkan makan siangnya. Fokusnya saat ini hanyalah tugas yang harus cepat selesai agar bisa menjemput ian. Atau setidaknya cepat sampai ke kos ian untuk menyambutnya, sekedar bersihin kamar ian aja. Itu pun kalo bisa.


Done! Pukul 4 kurang 10 menit fidira berhasil menyelesaikan tugasnya. Fidira segera mengecek ponselnya yg sejak 30 menit lalu ia acuh kan karena pekerjaan. Perlahan senyum terbit di kedua sudut bibirnya ketika membaca pesan dari ian.


Ian gesrek 'fi gue udah balik ni. Kapan lo kesini? Gue kangen. ;)'


'Astagfirullah bini orang lupa:). Sebenernya gue kangen ama dawet nya depan kantor. Bawain ya! Makasihh.'


'Awas kalo lupa! :p '


Setelah membalas pesan ian dengan kata 'tapi ganti duit nya ya! :) ' fidira bergegas merapikan semua barang barang yang berserakan di meja kerjanya. Tak mau berlama lama fidira segera turun dan menghampiri tukang dawet langganan ian itu. Sambil menunggu pesanannya fidira bermain ponsel, seketika wajahnya menjadi masam saat membaca pesan ian yang bertulis...'anak anak juga pada di sini. Bawain mereka juga,Lo yang traktir ya! Lo kan baik :) ' fidira mencebikkan bibirnya. Tapi fidira juga sadar, selama ini kan dirinya selalu ogah rugi. Jadi its okey untuk kali ini.


***


Weekend adalah hari paling nikmat yang di miliki oleh semua orang termasuk fidira. Sampai saat ini dirinya masih saja malas malasan di atas kasur. Uuhhh gagal kurus lagi ni, pikirnya. Tapi bodo amatlah yang terpenting sekarang adalah kenyamanan nya. Namun kenyamanan itu tak berlangsung lama, saat terdengar suara ketukan keras dari luar kamar fidira. Dengan berat hati fidira beranjak dan membukanya.


"Apa? " Tanya fidira dengan masih menguap.


"Ini sudah jam 9 lebih lo" Afkan menunjuk kearah jam diding yang terpasang di ruang tamu.


Fidira mengacak rambutnya yang berantakan. Sudah berantakan di acak lagi. Parah dah. "Terus? "


"Mama bilang kalian mau shoping bareng jam 10"


"Oh ya? " Fidira terdiam sejenak, dengan beralih menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebenarnya fidira malas sih, lupa juga kalo ada janji, tapi namanya mertua ye kan. Okelah.


"Fi.. " Panggil afkan saat fidira selesai mandi dan berganti pakaian menuju meja makan. Fidira menjawab dengan deheman.


"Nanti malam saya reunian. Kamu ikut! " Ucap afkan dengan meminum segelas air. Fidira tersedak roti yang baru saja ia darat kan di mulutnya. Afkan segera memberinya air dan menepuk nepuk punggung fidira dengan berkata 'pelan pelan'.


"Ngapain saya ikut? Nantinya saya bengong lo" Tolak fidira mentah mentah. Namun afkan tetap bersikeras memaksa fidira untuk ikut. "Kan ada ester ama dokter elo" Otak fidira ecer banget ni tumben.


"Kamu tega liat saya jomblo sendiri di sana? Pokok nya kamu harus ikut! " Fidira menarik napasnya panjang lalu membuangnya.


"Lama nggak? "


"Enggak kita sebentar aja" Jawaban afkan hanya di sahut dengan anggukan malas. Setelah merasa kenyang fidira bangkit dari duduknya. Memasukkan ponsel ke dalam saku celananya, namun juga merogoh rogoh saku yang lainnya.


"Belum gue masukin ya?" Gumam fidira menepuk nepuk celananya. Sampai perhatiannya teralihkan ketika afkan memanggilnya.


"Pakai atm yang saya kasih kemarin! " Titah afkan setelah fidira bertanya apa?


"Iya" Fidira menjawab dengan berlalu menuju kamarnya.


"Jangan iya iya aja. Nanti gak di pakek" Cibir afkan saat fidira keluar kamar. Huuuuhhh tau banget ni bos, batin fidira kesal.


"Baiklahhh.jangan kaget kalo abis ya" Ucap fidira tak sungguh sungguh. "Saya pergi dulu bos. Daaa" Fidira keluar rumah dengan melambaikan tangan. Tanpa sadar afkan membalas lambaian itu.


***


Dengan langkah gontai plus males banget, Fidira terpaksa mengikuti langkah ibu mertuanya juga teman barunya. Ester. Mereka sangat kompak sekali saat berbelanja. Ya allah ingin rasanya fidira menghilang saat itu juga. Bisa nggak sih teleportasi? Huuhh Semakin ngawur saja.


Fidira terus mengikuti mereka dengan ranjang kosong miliknya. Ya.. Dari tadi fidira hanya ikut ikut mereka saja, memilih baju pun tidak. Yaampun kenapa bukan ester saja yang menjadi istri afkan, lihat saja betapa akrabnya ester dan mama nanda sampai sampai fidira di kacangin sendiri.


"Fidira... " Panggilan lembut itu berhasil membuat fidira tersentak dari pikiran pikiran buruknya.


"Ya? " Fidira sedikit gelagapan. Mama nanda dan ester dengan berbarengan mengerutkan dahi mereka. Tuh kan! Kompak terus. Aisss fidira benar benar kesal,ingin secepatnya menghilang dari sini, bahkan kalo bisa dari kehidupan afkan sekaligus.


"Kamu nggak beli apa apa?" Mama nanda melirik keranjang fidira yang kosong oblong.

__ADS_1


__ADS_2