Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
81


__ADS_3

Pagi ini fidira bangun lebih awal dari biasanya. Tumben sekali? pikirnya sediri, bahkan alarm nya baru 2 kali berbunyi. Entah apa yg membuat tidurnya tak senyaman biasanya. Fidira segera beranjak karena sudah pukul 05.30 pagi.


Saat pergi ke kamar mandi, langkah nya terhenti melihat pemandangan di dapur yg berbeda pagi ini. Pandangannya menangkap sosok lelaki tampan sedang bergulat dengan beberapa bahan masakan, lengkap dengan clemek yg melekat di tubuhnya.


Fidira masih terpaku melihat kegiatan afkan yg dengan lihainya memotong bahan bahan dengan cepat. Seperti chef di tv tv saja, pikir fidira.


"Apa kamu akan tetap di sana? " Suara afkan berhasil mengejutkan fidira yg masih berada di depan pintu kamar mandi.


"Sa... Saya... Cumaa... "


"Apa saya se mempesona itu? Sampai kamu nggak berkedip dari tadi" Ucap afkan tanpa melihat fidira sedikitpun.


"Maybe.. " Jawab fidira asal dengan mengangkat kedua bahunya, sebelum masuk ke kamar mandi. Sebenernya males debat sih.


Mendengar jawaban fidira yg terdengar serius namun juga asal, membuat afkan menatap pintu kamar mandi yg sudah tertutup dengan tatapan yg susah di artikan.


Beberapa saat kemudian fidira keluar dari kamar mandi, namun pandangannya tak menangkap sosok afkan di dapur. Mungkin terlalu lama ia di kamar mandi. Ya memang tadi fidira juga setoran, jadi it's okey.


Fidira melihat sekilas meja makan yg sudah terisi beragam makanan. Gak jadi diet ni, pikir fidira menatap genit semua makanan, sebelum ia berlalu ke kamarnya.


Pagi ini sebelum pergi ke kantor, mereka menyempatkan untuk makan bersama.Entah kebetulan atau emang takdir, padahal biasanya fidira sarapan sendiri karena afkan sudah lebih dulu pergi ke kantor.


"Ekhmm...." Fidira berdehem lalu meminum air yg berada di dalam gelas. "Pak bos, masakan mu sangat enak" Puji fidira


Afkan hanya tersenyum dengan bolak balik memasukan sedok ke dalam mulutnya.


"Kenapa nggak jadi chef aja? Atau seenggaknya ikut kompetisi yg jurinya ada tiga itu. Lumayan bisa masuk tv" Ucap fidira dengan terus makan lahap.


"Hmm... Apa kamu pikir saya layak? " Nada bicara afkan sedikit merendah.


Fidira sedikit terkejut saat ucapan afkan sedikit mengandung kekecewaan. Apa mungkin cuma perasaan fidira saja? "Pak bos, menurut keyakinan saya ni ya... Di dunia nggak ada yg nggak mungkin. Kalo allah udah say yes pasti kejadian. Ya...walau itu gak mungkinnya banyak.... Tapi saya yakin pak bos layak bersaing sih" Ucap fidira dengan memakan sebuah apel besar di sana.


"Terima kasih" Afkan tersenyum tulus. "Kamu tau? Kamu adalah orang kedua yg memuji masakan saya" Ucapan afkan membuat fidira kaget tidak kepalang. Bahkan sangking kagetnya, apel yg di pegangnya sampai terjatuh. Untung jatoh nya di atas meja.


"Yang pertama?"


"Mama saya"ucap afkan meneguk air


Fidira tertawa kecil " Masak makanan seenak ini yg muji dua orang. Gak ngotak? "


"Serius" Ucapan afkan menghentikan tawa fidira.


"Seriusan? " Tanya fidira meyakinkan dan jawaban afkan benar benar membuat fidira terdiam. Anggukan afkan membuat fidira berpikir keras, why not? Ini makanan enak bangetzz lohhh. Where? Where? Lidah kalian. "Why? Ini bener bener enak pak bos. Masak lidahnya gak peka an sih"


Mendengar jawaban fidira, afkan malah tertawa dan itu benar benar membuat fidira tambah bingung. "Karena.... " Ucapan afkan terpotong.


Fidira memasang kupingnya dengan benar, ia tidak akan membiarkan pendengarannya melewatkan alasan langka ini. Namun afkan malah terdiam.


"Because of what?...." Fidira mengulangi kalimat akhir afkan.


"Karena hanya orang special yg bisa merasakannya"


Fidira mendengus kesal karena afkan sangat bertele-tele dalam memberitahunya. Fidira memilih diam tidak mau bertanya kembali, karena dia belum sadar akan kata kata afkan.


"Nggak nanya siapa? " Afkan beralih bertanya.


"Siapa? " Fidira sedikit malas tapi ya kepo.


"Mama saya dan kamu! "


Glleeeerrrr


Mendengar Jawaban afkan yg tak terduga, membuat fidira terperanjak kaget kembali, kali ini sampek keselek apel. Fidira tak bisa berpikir jernih, fidira sedikit baper atas ucapan afkan yang terkesan gituu deh, dikiiittt kok :)


"Ya ya... Percaya deh" Fidira tersenyum malu, tapi tetep berlagak enggak. Oke? Paham kan?


Afkan tersenyum.


" Oiya Pak bos! tadi mama telpon, mama bilang kalo besok mereka akan tinggal di sini." Ucap fidira santai.


Afkan terkejut, sendok yg tadinya berada di tangannya kini ia letakkan begitu saja di piring yg masih berisi makanan yg belum habis. "Apa maksud mu? " Tanya afkan dingin.


Fidira sedikit takut dengan nada bicara afkan yg kembali seperti dulu. Namun fidira berusaha untuk bersikap biasa. "Mama bilang mereka akan tinggal disini untuk 1 minggu ke depan, karena rumah mereka mau di renovasi" Jelas fidira berusaha santai.


"Trus? Kamu iya in? " Afkan menyelidik.


"Ya iyalah. Masak nolak"


BRAKKK


Ukhuk ukhuk


Fidira segera meminum air dan berusaha menenangkan dirinya. Detak jantungnya tidak terkontrol dengan baik karena gebrakan yg sangat keras. Sedangkan afkan sudah di liputi emosi yg terlihat menggebu-gebu.


"APA HAK MU MENGIZINKAN MEREKA!? " tiba tiba afkan berteriak di hadapan fidira dengan emosi yg benar benar berkobar.


Fidira tersentak, ia tak percaya jika afkan akan tega membentaknya bahkan berteriak padanya. "Apa salah ku? " Fidira masih bisa menahan emosi.


"Kau memang bod*h atau pura-pura bod*h. Apa kau tidak bisa berfikir masalah apa yg akan timbul nanti! " Afkan masih saja mengamuk.


Fidira tersenyun menyeringahi"Yaa... Aku memang orang bod*h. Hanya kau yg pintar, aku bod*h karena aku memberi izin pada orang tua mu untuk tinggal di sini. Ya... Aku memang tidak punya hak, bahkan aku hanya menumpang disini. Di rumah CEO kaya, yg egois dan hanya mementingkan urusannya sendiri." Ucap fidira dengan suara bergetar menahan air mata yg ingin keluar. Walau terlihat kuat sebagai cewek tomboy, tapi ya teteplah namanya cewek bisa aja nangis."Ya.. Aku.... Aku orang bodoh afkan indra. Aku lah orang terbodoh yg pernah kau kenal kan? Kau tidak akan bisa menemukan orang sebodoh diriku ini" Ucap fidira emosi yg sudah meluap-luap, lalu melenggang pergi keluar begitu saja.


Afkan masih terpaku, menatap kepergian fidira yg sudah tak terlihat.


BREUMMM


Terdengar Suara motor berkecepatan tinggi meninggalkan halaman rumah afkan.


"AARRKKHH BRENGSEK" Umpat afkan dengan kesal mengacak-acak rambutnya yg tadinya sudah rapi.


Di tempat lain.


Terlihat seseorang berpakaian serba hitam dengan masker di wajahnya, mengendap-endap di depan ruang Kerja fidira. Ia menoleh kesana kemari, sudah merasa aman ia bergegas masuk. Ia segera mencari tempat di mana dokumen dokumen di simpan.


Ia mengobrak abrik seluruh dokumen yg ada di meja fidira "Dimana dokumen itu berada" Gumamnya dengan terus mencari di banyak nya tumpukan dokumen yg ada.


Ya... Orang misterius terlihat tampak tenang, karena sebelum aksinya di mulai ia sempat merusak beberapa cctv yg ia lintasi. Dan juga kondisi kantor yg sepi karena masih pagi, semakin mendukung aksinya.


Sementara itu


"BRENGSEK! "

__ADS_1


BREUUMMMMM


fidira memacu kuda besinya dengan kecepatan tinggi, dengan mulut yg terus mengeluarkan nama nama sayuran dengan kasar. Hingga tak ia sadari motor nya telah sampai di parkiran kantornya.


Fidira melepas helm dan menaruhnya asal. Mulutnya terus saja berkomat kamit, dengan kaki yg di hentak hetakkan ke lantai. Entah apa yg dia lakukan seperti anak kecil saja.


"Iiihhhh ngapain gue kesini sihhh! Masih pagi juga" Gerutunya menyesal karena melihat kantor yg masih sepi. Biasanya fidira selalu datang agak siang bahkan hampir telat, dan sekarang dia menyesal.


Dengan langkah yang Terus di hentak hentak kan, fidira terpaksa masuk kantor, karena 30 mnt lagi biasanya kantor sudah ramai.


Di sisi lain


Seorang misterius memegang sebuah map biru dengan mata berbinar. "Bonus besar" Gumam pencuri senang mengangkat map biru dengan bangga. Pencuri itu segera menata asal map yg sempat di obrak abrik tadi.


Dengan langkah mengendap endap tapi juga cepat, pencuri itu kembali ke arah pintu untuk keluar. Namun saat pencuri ingin menutup pintu ruangan, tiba tiba fidira muncul dari arah belakang.


Pencuri itu terkejut begitupun dengan fidira yg sedang menatap tajam padanya. Tatapan fidira beralih ke map biru yg pencuri itu sembunyikan di belakang badannya.


Pencuri itu panik saat fidira mendekatinya, karena sudah merasa tak aman, pencuri itu pun lari dengan map biru tersebut.


"WOOII! KEMANA LO! " Teriak fidira berlari mengejar pencuri itu.


Terjadilah aksi kejar kejaran. Pencuri itu berlari kearah manapun yg ia mau, fidira yg tak mau ketinggalan juga berlari sekuat tenaga mengikuti. mulutnya juga tak berhenti meneriaki pencuri itu agar berhenti. Namanya pencuri mana mau berhenti ye kan?. Mungkin maksud fidira meminta bantuan, tapi semua orang belum datang. Dan mereka ada di lantai 6,satpam mungkin juga tidak mendengar.


Sampai akhirnya pencuri itu berada di sudut lorong, ia sudah bingung mau berlari ke mana. Jalannya sudah buntu, hanya ada beberapa ruangan yg masih terkunci di sana.Dengan nafas ngos ngosan fidira mencapai tempat di mana pencuri itu berada. Fidira mendekati pencuri tersebut dengan tatapan tajam.


"Balikin!" Ucap fidira


Bukannya mengembalikan, pencuri itu malah menyelipkan map di ke dalam jaket nya.Tiba tiba pencuri itu berlari ke arah fidira dan menabraknya, fidira yang beberapa saat kehilangan keseimbangan namun dengan cepat menarik jaket pencuri tersebut.


Pencuri itu segera menendang perut fidira, namun fidira berhasil lebih dulu menghindar. Terpaksa fidira memukul wajah pencuri tersebut, pencuri itu juga membalasnya. Sempat terjadi baku hantam antara fidira dan pencuri tersebut.


Sampai akhirnya pencuri itu mengeluarkan pisau dari dalam jaketnya. Fidira yg tidak menyadarinya, sempat ingin memukul kembali pencuri tersebut.


SRIIINGGGG!!


"BRENGSEKK! Aww!" Fidira meringis kesakitan saat darah mengalir dari lengannya. Namun fidira menarik jaket pencuri tersebut, saat pencuri itu ingin kabur. Fidira masih sempat meninju pipi pencuri tersebut, hingga akhirnya pencuri itu memukul dan mendorong tubuh fidira ke tembok dan kabur begitu saja.


Fidira terduduk bersandarkan tembok, ia sudah merasakan pusing serta perih, tak lagi dapat mengejar. Fidira termenung dengan tangan kanan memegangi lengan kirinya yg berdarah.


Fidira lalu bangkit dan menuju kamar mandi dengan wajah yg mulai terlihat memar dan rambut acak acakan. Ia membasuh lengannya yg berdarah, lalu mencuci wajahnya.


Ia lalu merogoh tas nya, mengambil benda pipih yg selalu di bawanya. Terlihat ia sedang menelpon seseorang.


"Hallo? "


"Yan lo bisa ke kantor sekarang gak?"


"Kenapa? Tiba tiba banget. Dan ini masih setengah tujuh lo" Tanya ian bingung.


"Please! Gue butuh bantuan lo" Ucap fidira dengan nada bergetar.


"Fi? Lo gka papa kan? " Tanya ian yg mulai khawatir mendengar suara fidira.


"Please! Cepet ke kantor" Jawab fidira.


"Iya_iya tunggu gue ya" Terdengar ian sudah bersiap siap.


"Iya ati ati, gue tunggu di ruangan"


Sambungan pun terputus, fidira segera mengambil tisu yg ada di kamar mandi. Ia mengelap darah yg masih keluar dari lengannya. Serasa cukup, fidira berjalan ke arah ruangannya. Ia segera mencari file yg mungkin masih ia simpan.


Cukup lama fidira memelototi komputernya, namun hasilnya nihil. Sepertinya pencuri itu bukan hanya mengambil map nya, tapi juga menghapus file nya.


"Yaallah bantu hamba mu ini" Teriak fidira dengan nada frustasi.


Ceklek


Fidira menoleh, terdapat ian yg sudah berada di depan pintu. Fidira berdiri, ian segera menghampiri dan memeluk fidira erat, begitu pun dengan fidira membalas pelukan ian.


"Lo gak papa kan? " Tanya ian setalah melihat kondisi fidira yg acak acakan.


Fidira mengangguk "udah gak penting, yg penting sekarang kita cari dokumen yg baru di hapus"


"Maksud lo? " Ian masih bingung.


Akhirnya fidira menceritakan secara singkat tentang kejadian tadi. Terjadi perubahan ekspresi pada ian. Tangan nya mengepal kuat, rahang nya mengeras. Fidira yg menyadari ada kemarahan di diri ian, segera menenangkannya.


"Tapi gue gak papa kok, percaya deh" Fidira berusaha tersenyum untuk meyakinkan ian.


"Gak papa gimana? Liat! Wajah lo memar dan lengan lo? " Ian melihat lengan fidira yg terdapat luka goresan. "Sekarang kita ke rumah sakit! " Ian mengajak fidira.


"Enggak! Yan! Gue gak papa! Ini lebih penting" Tolak fidira.


"Tapi lo juga penting fi! " Ian bersikeras.


"Yan, tatap gue" Fidira memegang wajah ian untuk menatap nya "gue gak papa, fidira masih kuat" Fidira menyakinkan ian.


Ian dengan berat mengangguk pasrah "tapi gue ambil kotak P3K dulu ya" Fidira pun mengangguk.


Ian segera mengambil kotak P3K dan mengobati memar dan luka fidira. "Lo terlalu baik fi" Ucap nya dengan menatap fidira dalam.


"Hmmm... Gue bakal terus berusaha berbuat baik yan, karena yg berbuat baik akan dapet yg baik juga" Fidira juga menatap ian dalam.


"Ya.. Terserah lo deh" Ian pun mengalah, karena ia tau fidira tak kan menyerah dengan mudah.


"Oke... Sekarang kita cari file nya, karena ini penting banget. Lo bisa pulihin lagi nggak? "


"Kita coba dulu" Ian meyakinkan fidira bahwa semua akan baik baik saja.


Pukul 07.00 pagi


Ian dan fidira masih belum bisa memulihkan datanya, fidira menatap layar ponselnya dengan perasaan cemas, sedangkan ian menghela nafas panjang.


"Gimana? " Fidira menatap ian penuh harap.


"Jalan satu satu nya kita harus bawa ke tukangnya"


"Tapi masak komputernya di bawa sih? " Fidira bingung.


"Gimana lagi? Coba kalo di laptop, mungkin mudah bawanya" Ian pasrah.

__ADS_1


Fidira termenung sejenak, beberapa saat kemudian ia tersenyum. "Gue inget! File nya juga gue simpen Di laptop, tapi laptop nya mati" Senyum yg tadinya sempat mengembang kini kembali menyusut saat ia teringat bahwa laptop nya kemarin rusak.


"No problem! Kita coba dulu. Ayookk" Ian bersemangat begitu pula dengan fidira, walau kurang yakin tapi ia tetap percaya bahwa semua akan baik baik aja.


Fidira segera meraih laptop yg ada di laci lalu bergegas turun dan menuju tempat servis terdekat.


Pukul 07.30 pagi


Afkan baru masuk ruangan nya, ia sempat melihat meja fidira yg kosong. "Kemana dia? " Gumamnya dengan masuk ke ruangan.


Afkan duduk di kursi besarnya, ia mulai menyalakan komputernya. Tapi pikirannya masih tertuju pada fidira, bahkan afkan beberapa kali melirik meja sebrang yg hanya terhalang kaca itu,masih belum berpenghuni.


"Apa dia marah? " Afkan memandang kosong ke arah meja fidira. Pikirannya terulang pada kejadian pagi tadi, pada saat ia melontarkan kata kata kasar pada fidira.


*jangan lupa meeting pagi* afkan mengirim pesan kepada fidira. Di hatinya cukup cemas, walaupun fidira terlihat tomboy. tapi ia tau yg namanya cewek sekuat apapun dia, kalo di bentak pasti merasa kecewa.


Pukul 09.00 pagi


Afkan sudah berada di ruang meeting dari 15 mnt yang lalu, sedangkan fidira belum juga terlihat batang hidungnya. Afkan sudah beberapa kali melirik jam yg ada di pergelangan tangannya. Ia beralih mengambil ponselnya, sudah 5 kali ia menelpon fidira sayangnya tidak ada jawaban dari sang pemilik nomor.


"Kemana sih kamu fii? " Dengan nada pasrah ia mengusap kasar wajahnya. Sampai terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Afkan termenung sejenak, ia berharap fidira yg sedang berdiri di depan sana.


"Masuk! " Perintahnya dengan sedikit berteriak.


Ceklek


"Selamat pagi tuan afkan" Sapa seorang wanita cantik dengan pakaian yg membentuk tubuh, sedang berdiri di depan pintu.


Huufff


Afkan menghela nafas kasar, lalu ia beranjak dari duduk nya dan menghampiri citra yg sedang memasang senyum semanis mungkin.


"Selamat pagi nona, silahkan duduk! " Ucap afkan berusaha bersikap profesional.


"Terima kasih" Dengan percaya diri citra duduk, di ikuti asisten pribadinya yg sebelumnya menunggu di luar ruangan. Afkan juga ikut duduk.


*kenapa dia yg harus datang? * afkan memutar bola mata jengah.


"Maaf, tuan remon tidak bisa datang karena dia masih di luar kota. Jadi saya yg mengambil alih tugasnya" Jelas citra dengan senyum sombongnya.


Afkan tersenyum kecut "tidak papa saya bisa mengerti"


"Baiklah bisa kita mulai? " Tawar citra sinis.


"Ehmmm... Maaf nona, tapi bisakan anda menunggu sebentar. Sekretaris saya masih ada urusan di luar jadi bisakah kita menunggunya" Afkan sedikit cemas namun ia tidak memperlihatkannya.


"Aaa.... Sepertinya sekretaris mu itu tidak seprofesional aku dulu.Dia tidak tahu mana yg penting dan tidak" Ucap citra mulai merendahkan.


"Tapi dia tak serendah dirimu" Afkan tersenyum kecut, dan itu berhasil membakar amarah citra.


*lihat saja! Semua ini akan batal* batin citra menyeringahi.


"Baiklah aku hanya memiliki waktu 30 menit untuk menunggu. Jadi suruh sekretaris mu itu untuk cepat datang! " Ucap citra percaya diri


Afkan tidak menanggapi ucapan citra, ia hanya fokus dengan ponsel dan juga laptop yg baru ia buka. Ada perasaan cemas yg sedang ia tutupi sekarang, bukan hanya karena file yg ada pada fidira namun juga rasa bersalahnya karena membentak fidira tadi pagi.


*aku yakin istri kesayangan mu itu akan mengecewakan mu hari ini* citra tersenyum puas, saat menyadari raut wajah cemas di wajah afkan.


30 menit berlalu senyuman citra semakin mengambang, tapi ia berpura pura menampakkan wajah kesal.


"Bagaimana afkan? Sekertaris Mu benar benar tidak profesional kan?" Citra tersenyum kecut melihat afkan yg menatapnya sinis.


Citra berdiri dari duduknya di ikuti dengan asistennya. "Karena sekretaris mu sudah membuang buang waktu ku, maka akan ku kirim tagihan ganti ruginya dan mungkin juga dengan surat pembatalan kontrak" Jelas citra dengan nada licik.


"Apa maksud mu? Apa remon memberimu hak untuk membatalkan nya? " Tanya afkan balik.


"Mungkin tidak, tapi itu mudah untukku. Baiklah aku per-"


TOK TOK TOK


"Masuk" Perintah afkan


Terlihat dua orang yg sudah di tunggu tunggu kehadirannya oleh afkan. Dengan wajah yg sudah sedikit fresh dari pada tadi, Fidira dan ian datang dengan membawa map biru juga masih dengan laptopnya.


"Maaf saya telat. Ini berkasnya" Fidira menyerahkan map tersebut pada afkan.


Afkan menerimanya lalu menatap citra yg sedikit terkejut "apa kau yakin akan membatalkannya? " Tanya afkan dengan mengangkat map tersebut.


Citra terdiam sejenak, bagaimana bisa? pikirnya keras. "Baiklah tapi aku tidak akan melayani kalian jika ini terulang lagi" Citra memberi peringatan.


"Terserah" Afkan duduk kembali


"Maaf nona atas ketidak nyamanan nya" Ucap fidira merasa bersalah, dan itu sempat membuat afkan, ian bahkan citra sendiri kaget.


*kenapa dia? * batin afkan sedikit jengkel.


*lo bener bener orang baik fi* batin ian iba


*tumben dia merendah* citra berbangga diri.


"Ya! Kau harus lebih mementingkan pekerjaan mu dari pada urusan pribadimu sendiri." Sindir citra sembari melirik ian.


"Ini sudah, cepat tanda tangani dan pergilah! " Usir afkan terang terangan.


"Kau mengusirku!? " Pekik citra yg mulai emosi.


"Jika kau ingin mengadu, terserah aku tidak peduli" Ucap afkan bodo amat


"Nona ayo! " Ajak asisten citra yg tau situasi citra yg mulai emosi.


BRAKK


citra menutup pintu dengan sangat keras. Fidira, ian dan afkan sampai terkejut, bahkan asistennya sediri tak kalah terkejutnya.


Setelah kepergian citra, mereka bertiga menghela nafas lega secara bersamaan. Fidira menatap afkan begitu juga sebaliknya. Namun dengan cepat fidira membuang pandangan ke arah ian dan tersenyum.


"Dari mana kalian? " Pertanyaan afkan yg sudah diduga oleh fidira.


"Sebenarnya kam-" Ucapan ian terhenti saat tangan fidira mencegahnya.


"Apa pak bos perlu tau? " Tanya balik fidira sinis, jujur fidira masih kesal pada afkan.

__ADS_1


"Tentu! Karena alasan kamu itu,kamu jadi nggak bertanggung jawab, perusahaan saya hampir mengalami kerugian besar" Jawab afkan menekankan kata katanya.


" Apa!? Jika saya nggak bertanggung jawab, nggak mungkin saya dateng ke sini" Fidira mulai ngegas.


__ADS_2