
"Hei!" Afkan melambaikan tangannya di depan wajah fidira.
"Humm? " Fidira tersadar
"Why? " Afkan bertanya.
"Hmm? Gak ada" Fidira segera membuang muka "a-ayo kita makan" Ajak fidira mendahului berjalan ke meja makan. Di ikuti oleh afkan di belakang nya.
Fidira dan afkan pun duduk di meja makan dengan saling berhadapan. Fidira menatap sop ayamnya yg sangat menggoda iman dan takwa. Tanpa basa basi ia segera berdoa dan langsung gasakkk tu sopnya.
Berbeda dengan fidira, afkan hanya menatap sop anyam itu dengan sayu. Fidira yg menyadarinya memberanikan diri untuk bersuara.
"Keburu dingin nggak hangat lo pak bos! " Ucapan fidira membuyarkan lamunan afkan.
"Hm? " Afkan tersadar.
"Cepat makan dan istirahat lagi" Fidira mode perhatian.
"Dari mana kamu dapet resep sop ini? " Tanya afkan penasaran.
"Memang kenapa? Apa itu penting? " Fidira balik bertanya.
*untung gue inget! Kalo pak bos tau ni resep dari mama pasti gak jadi di makan* batin fidira
"Jika kamu tidak bilang, saya nggak mau makan" Ancam afkan
"Kayak bocil aja, terserah deh. Bodo amat, tapi jika pak bos sakit lagi, saya nggak mau ngurus ya? " Fidira mengancam balik.
"Yaudah" Afkan bangkit
"Yaudah terserah! " Fidira tak mau kalah
"Oke yaudah" Afkan menuju ke dalam kamar.
"Yaudah, bodo amat" Fidira kembali menikmati sop ayam yg masih setengah mangkuk. "Dasar egois! Sini capek capek masak, nggak di makan terserah lah gue mah bodo amat" Fidira dalam mode gak pedulinya.
Di dalam kamar.
Afkan merebahkan tubuhnya di kasur, menatap langit langit kamar fidira lalu memejamkan matanya. "Dari siapa dia tau resep sop itu? " Afkan berfikir
"Karena yang punya resep itu cuma mama dan.... Bibi nanda" Gumam afkan yg memiliki nada berbeda di akhir kalimat.
"Mama" Kalimat itu terucap begitu saja dari mulut afkan. "Aku merindukan mu" Ucapnya kembali dengan nada bergetar.
"Afkan" Panggil seseorang samar samar terdengar di telinganya.
"Mama? " Afkan dengan cepat bangkit, ia menebar pandangan ke seluruh penjuru kamar. Sampai Pandangannya menangkap sesosok wanita parubaya tengah berdiri di sudut kamar dengan gaun putih dan rambut yg tergerai sedang tersenyum lembut padanya.
Afkan tertegun.
"Mama" Satu kata terucap dari mulutnya.
"Hai afkan anakku apa kabar? " Tanya wanita itu dengan lembut. "Oh ya ku dengar anak laki-laki ku ini telah memiliki seorang istri. Benarkah?" Tanyanya dibarengi dengan kekehan kecil.
"Mama ak-aku... Ma-af" Afkan gugup
"Sudah lah afkan, jangan terus merasa bersalah atas kematian mama. Mama disini bahagia kok, melihat mu dari jauh, yg sekarang telah memiliki istri. Apa dia menjagamu dengan baik? Mama harap dia bisa membuat mu menjadi afkan yg dulu. Afkan mama yg baik dan sayang ke semua orang" Sarah berbicara dengan senyuman.
"Tapi maa... A-ku ingin ikut bersamamu" Afkan mulai meneteskan air matanya.
"Oh ya? Bagaimana dengan istrimu? Apa kah kau tega melihatnya sendirian menjadi janda. Dan siapa yg akan mengurus papamu dan juga mamamu? " Sarah bertanya bertubi tubi.
"Ak-ku tidak peduli dengan semua itu ma. Mereka semua nggak bisa ngerti in afkan. Mereka semua jahat dan mama ku hanya satu " Ucap afkan di selaan tangisnya.
"Apakah kau sudah benar benar menjadi orang baik afkan? Lihatlah dirimu, apakah kau sudah bisa menjadi suami yg baik, anak yang baik dan hamba yg baik?. Ingat! Afkan semua orang mempunyai kesalahan dan mama nanda... Dia juga mamamu sayang. Mama mohon sayangi dia, hormati dia dan... Maafkan dia sayang. Dia hanya ingin kau mendengarkan penjelasannya. Dan maafkan mama, karena mama kau harus menerima penderitaan ini semua. Mama harap kamu bisa bahagia dengan semua yg kau miliki sekarang. Jangan sia sia kan kesempatan yg mungkin tidak datang dua kali sayang. Mama menyayangi mu. Sampai jumpa"
"Oiya kau belum mengenalkan istri mu pada mama. Mama akan menunggunya." Ucap sarah dengan senyuman lembut.
"Ma-mama... Mau kemana? Mama....Jangan tinggalin afkan ma! Mama! " Afkan berteriak histeris saat bayangan sarah perlahan menghilang. Derai air mata yg sudah tak sanggup di bendung lagi, mengalir deras membasahi pipi mulusnya. Bagai di terpa ribuan bunga dapat bertemu dengan seseorang yg dari dulu sangat ia rindukan walau hanya sesaat. Afkan terduduk lemah di lantai saat bayangan sarah benar-benar menghilang. Ia bersimpuh di samping temat tidur dengan bibir yg terus berucap memanggil sarah.
"Mama" Panggilnya lirih
Ceklek
"Pak bos! Apa yg kau lakukan? " Fidira menaruh mangkuk berisi sop di atas nakas, lalu membantu afkan untuk duduk di kasur.
"Hei! Hei! Pak bos? Pak bos lihat saya! Hei ada apa? " Fidira mengusap air mata yg tengah membasahi pipi afkan.
Afkan menatap fidira yg terlihat sangat khawatir padanya. Tiba- tiba afkan memeluk fidira erat entah apa yg terjadi padanya, tapi fidira tidak dapat menolaknya saat ini fidira tidak cukup tega untuk melakukannya.
*sebenarnya aku tidak bisa bernafas*ucap fidira di dalam hatinya.
Cukup lama afkan memeluknya, hangat........perasaan itu yg tengah dirasa afkan saat ini.
*aku sudah tidak tahan* batin fidira berusaha bernafas.
"Emm.. Pak bos aku bisa mati" Ucap fidira menyadarkan afkan. Buru-buru ia melepas pelukannya.
"Maaf" Afkan membuang muka.
"Untung aku tidak mati" Fidira menghirup udara dalam. Fidira beralih menatap afkan yg berusaha menutupi kesedihannya. "Pak bos apa yg terjadi? " Tanya nya lembut.
"Tidak ada" Afkan memalingkan wajahnya.
Fidira tersenyum kecut "bercerita lah jika pak bos butuh pendengar. Lagi pula sudah ketauan juga"
__ADS_1
"Apa maksud mu? "
"Ya.... Saya sudah lihat semua kan. Pak bos lagi nang-..... Eh... Lagi sedih maksudnya" Fidira cengengesan. "Jadi apa yg terjadi? "
"Tidak ada" Jawab afkan singkat.
"Baiklah jika pak bos nggak mau cerita sekarang, tapi jika ingin curhat ngomong aja. Saya akan berusaha mendengarkan dan memberi solusi terbaik versi saya. " Ucap fidira panjang lebar. "Dan ya... Saya bawain sop tadi, dimakan ya! " Fidira menyerahkan sop kepada afkan.
"Nggak! Saya nggak laper" Tolak afkan mentah-mentah.
Fidira mengernyitkan dahinya "please! Makanlah pak bos, cepat sembuh lalu kembali ke kantor. Mereka butuh pak bos buat mimpin mereka. Okey? Please! " Fidira berusaha membujuk afkan.
Afkan tidak bergeming.
"Apa mau saya suapin? " Fidira menyodorkan sesendok sop tepat di depan bibir afkan. "Ayo lah! Saya mohon" Fidira mode manjanya. "Ayo! Ayo! Buka mulut..... Aaaaa" Fiks mode bocil.
Entah apa yg terjadi Sifat batu yg sering di deritanya, hari ini perlahan menghilang, afkan akhirnya dapat tersenyum. Entah apa yg membuatnya luluh seperti ini. Mungkin karena cara fidira membujuk yg seperti anak-anak. Ahhh entahlah.
Beberapa saat berselang, sop yg berada di tangan fidira kini tinggal mangkuknya. Fidira segera mengambilkan minum.
"Kenapa kau bersikap seperti ini? " Tanya afkan saat fidira membersihkan bibirnya dengan tisu.
"Apa pak bos tidak suka? " Tanya fidira balik. "Jika tidak suka, saya tidak akan melakukannya" Fidira menghentikan aktifitasnya lalu beranjak. Namun langkah nya terhenti saat tangan kekar afkan mencekal pergelangan tangannya.
Fidira menoleh, afkan pun tersenyum "aku menyukainya" Ucap afkan lembut dan itu membuat fidira termenung sejenak, kaget? Ya pastilah.
*kenapa dia sangat mengerikan saat berbicara seperti itu* batin fidira ngeri sendiri.
"Hmm... Baiklah saya ke dapur dulu. Istirahatlah! " Fidira melepas tanganya dari genggaman afkan. Lalu dengan cepat ia berlalu dari kamar.
"Hmm aku benar benar menyukainya" Ucap afkan tanpa sadar.
Di luar kamar
"Huuhhh, untung gue gercep. Bisa gila gue kalo kayak gini terus" Fidira bergumam dengan berjalan ke arah dapur.
"Hei fi, kamu kenapa? " Tanya bu tria yg baru datang.
"Ehh" Fidira tersentak
"Kok kaget gitu sih? " Tanya bu tria kembali.
"Ibuk sih, tiba-tiba nongol gitu. Fidira kan kaget" Fidira sewot.
"Melati tau, pasti habis ada apa-apa kan sama kak afkan? " Goda melati terkekeh.
"Ihhh sok tau kan! " Fidira kesal.
"Ehhh kok udah ada sop ayam sih? Siapa yg masak? " Melati beralih kearah panci yg terpajang di atas kompor.
"Ini yg masak beneran kamu? " Tanya bu tria setelah mencicipi sop tersebut.
"Yaa... Gimana ya? " Fidira sedikit Sombong dengan memainkan kuku jarinya.
"Hilih gitu doank" Melati mencibir.
"Hee ini udah pro tau, masakan pertama sukses besar" Fidira tersenyum jahat.
"Iya iya, oke ayo kita makan! " Bu tria menengahi kedua putrinya yg sangat suka berdebat namun juga saling sayang.
"Kalian makan aja! Fidira tadi udah makan sama afkan" Jelas fidira berlalu dari dapur.
...........
Sudah hampir 1 minggu afkan dan fidira di sidoarjo, kini afkan juga sudah kembali sehat walau belum sepenuhnya. Besok siang mereka berencana untuk kembali ke jakarta.
Sore ini afkan berada di teras rumah, memandangi suasana sekitar rumah fidira. Ya.. Afkan memang belum tau betul tentang desa tempat lahir istrinya itu.
"Hei! Apa yg kau lakukan? " Tanya seorang laki-laki kepada gadis yg sangat di kenal afkan yaitu istrinya fidira.
"Biar gue yg ambil kali ini, lihat ya! " Fidira melepas sandal nya, entah apa yg akan dia lakukan saat ini.
"Sok pro dah" Cibir lelaki tersebut.
"Ojo ngremehne we! " Fidira mulai memanjat pohon.
"Apa yg di lakukan gadis itu? " Gumam afkan yg melihat dari kejauhan.
"Yang itu fi... Dikit lagi tu! " Teriak laki-laki itu dari bawah.
"Yang ini? " Tanya fidira memegang sebuah mangga yg masih tergantung.
"Nah tu bener"
"Tangkap ya? Satu, dua, tig-" Fidira melempar tiga buah mangga sekaligus.
"Aww!! "
"Ngono e kok raiso to yon! Sorry sorry" Fidira masih fokus memetik mangga.
"Gue gak papa fi tap-" Ucapan dion terpotong
"Syukur kalo gak papa" Fidira menyrobot penjelasan.
"Gak papa gimana? " Suara seseorang kali ini berhasil membuat fidira menoleh ke bawah.
__ADS_1
"Pak bos! " Fidira terkejut. Lalu perlahan menunjukan deretan gigi putihnya. Sampai-sampai ia tidak sadar bahwa mangga yg sedang ia petik sudah lepas dari genggamannya.
"Aww! Kau melakukannya lagi! "
***
Hari ini fidira dan afkan telah kembali ke jakarta, karena ian yg sudah tak sanggup mengurus pekerjaan fidira yg setiap hari bertumpuk-tumpuk, ian memintanya agar cepat kembali.
"Baiklah besok gue bakal kerja lagi kok"
.........
"Iya ian.... Makasih ya. Byee! "
Tut
Fidira menghela nafas kasar "semangat fidira! Mimpi utama mu belum terwujud" Ucap fidira menyemangati dirinya sendiri.
"Represing di kebun aja yukk!! " Gumam fidira memindahkan beberapa tanaman strawberry yg di beli nya saat perjalanan ke jakarta tadi. Ia memindahkan ke kereta dorong untuk di tanam di kebun kecil belakang rumahnya lebih tepatnya rumah afkan. Bukan kebun sih lebih ke taman gitu, tapi fidira nyebutnya gitu, biasalah.
Fidira mendorong keretanya menuju halaman belakang, yg tidak terlalu luas tapi nyaman dan sejuk. "Tau gini, dari dulu gue ke sini kalo gabut" Ucap fidira berkacak pinggang sembari memandangi taman hijau itu.
Fidira mulai menurunkan satu persatu tanaman ke tanah, ia berencana menanamnya di pot yg lebih besar agar bisa berkembang lebih baik.
"Apa kau tidak memakai sarung tangan? " Ucap seseorang dari belakang membuat fidira menoleh.
"Nggak perlu pak bos. Ini lebih nyaman" Ucap fidira sembari menunjukan kedua tangannya yg sudah dipenuhi tanah.
"Ck. Apa kau tidak takut alergi? " Afkan mendekat lalu berjongkok di samping fidira.
"Jangan takut kotor pak bos, karena kotor lebih baik" Ucap fidira cengengesan.
"Sejak kapan kamu suka menanam? " Tanya afkan penasaran.
"Hmm.. Saya nggak tau pasti, tapi... Semasa sekolah saya udah suka. Mungkin termasuk hobi" Ucap fidira sembari menggeleng geleng kan kepalanya. "Hisss anginnya.... " Fidira bingung menyibakkan rambutnya yg sedikit berantakan ke matanya.
"Hah? " Fidira sedikit tersentak, saat tangan besar afkan menyentuh wajahnya untuk membantu menyibakkan rambutnya.
Termenung sesaat
Fidira dan afkan saling pandang, entah apa yg berputar di pikiran mereka masing-masing. fidira yg tersadar akan tatapan merasa afkan penuh arti padanya, perlahan ia menunduk malu. Afkan yg menyadarinya hanya tersenyum kecil.
"Apa kau akan terus menunduk seperti itu?" Tanya afkan membuat fidira mendongak.
"Ahh... Terima kasih" Fidira tersenyum canggung lalu segera meneruskan aktivitasnya.
"Kenapa kau tidak berani menatap ku? " Tanya afkan tiba-tiba membuat fidira sedikit salting.
"Hm... Aaaappa maksud mu pak bos? Aneh sekali" Jawab fidira tanpa menoleh kepada afkan sedikit pun.
"Apa jantung mu berdetak kencang saat menatap ku?" Tanya afkan kembali.
"Huuhhh..." Fidira beralih menatap afkan yg juga sedang menatap nya.
Deg deg
*eh beneran kok deg deg an gini ya?* batin fidira di sela sela tatapnya.
"Kenapa pak bos GR sekali? Sudah lah! Dari pada gabut mending bantu saya deh" Fidira mengalihkan pembicaraan.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! " Afkan tersenyum nakal.
"Kenapa? Hah? Apa pak bos berharap pada saya? " Fidira sudah mulai nyolot.
"Jika iya. Bagaimana? "
Fidira terdiam.
"Terserah padamu" Fidira yg sudah mulai kesal.
"Baiklah saya akan bantu kamu" Ucap afkan terkekeh sembari mengambil pot.
"Nah! Gitu kan guna" Gumam fidira dengan nada kesal.
"Maksud mu? " Tanya afkan yg mendengarnya.
"Bukan apa-apa" Fidira cuek.
"Eh kok marah?" Afkan mencolek pipi fidira dengan tangan kotornya.
"HEI! Jangan gitu" Fidira cemberut
"Cieee marah" Afkan menggoda. Fidira hanya memanyunkan bibirnya.
"Eh lihat ada cacing" Fidira menyentuh gundukan tanah tersebut. "Lucu sekali" Fidira menaruh seekor cacing di telapak tangannya. "Lihat pak bos! " Fidira menunjuk kan nya pada afkan.
"Hei! Singkirkan itu! Cepat! " Tegas afkan yg sedikit menjauh.
"Hei! Ada apa? Ini kan hanya cacing" Fidira masih bingung.
"Apa kau tidak merasa geli? Cepat buang" Afkan bergidik ngeri.
"Hmmm" Fidira tersenyum sinis, sudah terpasang mode balas dendam di otak nya. "Pak bos! " Tiba-tiba fidira melempar cacing tersebut ke arah afkan. Dan jelas afkan pun langsung lari menjauh dari sana sembari mengusap- usap pakaiannya. (Gatau apa bahasanya😞semoga ngerti ya gesss) sedangkan fidira tertawa terbahak -bahak.
"Pak bos! Lihat! " Teriak fidira sembari menunjukan cacing yg ternyata masih berada di genggamannya.
__ADS_1
"HEIII!! DASAR KAMU!"