Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
89


__ADS_3

"Fi kamu nggak ikut pulang? " Tanya bu tria menaruh tasnya di lantai.


Fidira menghela nafas dalam "buk, bentar lagi kan hari raya, sekalian aja ya"


"Yaudah ibuk pulang dulu ya.. Baik baik di sini, jadi istri yang baik. Jangan ngebantah mulu" Bu tria mewanti wanti sang putri dengan mencolek hidungnya. "Afkan ibuk pulang dulu ya" Afkan mencium punggung tangan bu tria disusul dengan fidira. "Jangan lupa nyapu fi" Ibu tria kembali berceloteh. Fidira menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. Benar juga. Kapan terakhir kali dirinya menyapu? Apakah dirinya pernah menyapu selama menjadi istri afkan? Fidira merasa sudah lama tak melihat benda itu. Arrgghh! Tebakan ibunya selalu benar.


"Mas, melati pulang dulu ya. Jangan kangen lohh" Goda melati sok kepedean.


"Jangan khawatir, selama kakak mu ini ada di samping mas. Itu tidak akan terjadi" Afkan merangkul bahu fidira mesra. Ahh, malu lagi kan? Salting lagi kan? Oke. Fidira hanya mampu menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"Ailah, jangan sok malu malu. Biasanya malu malu in" Melati mencibir seraya mencolek bahu fidira. Jangan lupa di sertai tawa jahatnya. Bu tria hanya tersenyum. Fidira hanya mampu menatap tajam sang adik, yang sedang nyengir kuda.


"Yaudah, ibuk Pulang dulu ya. Kalian hati hati" Bu tria mulai mengangkat tasnya, juga melati yang melakukan persiapan.


"Bye bye kakak ipar" Melati berjalan mengikuti ibunya seraya mengedipkan salah satu matanya.


"Kalo udah sampek kabarin ya" Fidira melambaikan tangan nya saat ibu dan adiknya berjalan ke arah check in dan berlalu di ruang tunggu. "Huuuhh. Punya adik gitu banget sih" Gumam fidira menatap punggung sang adik yang sudah mulai menghilang dari pandangannya.


"Kita pulang? " Tanya afkan yang langsung di angguki oleh fidira. Tiba tiba Afkan menggenggam jemari tangan fidira dengan mesra. Fidira menatap afkan intens "untuk sekali ini saja fidiraaaa" Afkan tersenyum melihat fidira yang sok cuek, tapi malah terkesan salting. Oke.. Fidira membiarkan tangan yang nggak ada halus halusnya itu di pegang oleh pria rapi ini. Hmm.. Wangi parfum afkan selalu menghampiri indra penciuman fidira. Entah parfum apa yang di pakai oleh afkan, yang pasti ini membuat fidira klepek klepek kayak ayam baru di sembelih. Eh.. Canda yahh ;)


"Fi.. Tutup kacanya ya? AC nya mau saya nyalain" Ucap afkan saat memasang sabuk pengaman. Mendengar hal itu, fidira langsung memasang wajah cemberut di tambahi tangan yang bersedekap di dada. "Sekali saja fi.. Hari ini panas banget? Ya? " Pinta afkan sedikit memohon. Tanpa berkata apapun, fidira merogoh tas selempang nya. Entah apa yang dia lakukan, afkan memilih menjalankan mobilnya tanpa menutup jendela.


"Gini aja gimana? " Fidira mengibaskan ngibaskan sebuah buku yang baru ia ambil dari tas selempang nya ke arah afkan. "Lumayan kan? " Fidira mengibas semakin kuat. Afkan mengangguk. Fidira tersenyum puas.


Sepanjang perjalanan tangan fidira tak henti hentinya mengibaskan ngibaskan buku. Bahkan tangannya sudah pegal untuk melakukannya, tapi demi melawan AC fidira tetap stay strong walau terpaksa. "Nggak capek? " Tanya afkan yang dari tadi sudah melihat gerak gerik kelelahan fidira.


"Hmm?? " Fidira sok ngebug. Afkan diam, tidak menanggapi respon fidira yang sok nggak denger itu. Dirinya lebih terfokus pada jalanan yang lumayan padat. Fidira mencebikkan bibirnya *sokk nanya!*ketusnya mendumel sendiri dalam hati.


Beberapa saat kemudian mobil afkan memasuki area parkir sebuah mall. Fidira yang malas bertanya hanya diam dan mengikuti kemana afkan pergi. Ya walau harus sedikit berlari mengejar afkan yang langkahnya secepat citah. Enggak lah canda :) intinya fidira ketinggalan gitu dah.


Afkan berjalan ke area super market, Ia mengambil beberapa barang kebutuhannya. Seperti, sabun, pasta gigi, sabun muka dan beberapa alat pribadinya. Begitu juga dengan fidira yang sedang menciumi kemasan sabun dan shampo. Fidira mengerenyitkan dahinya saat afkan mengembalikan semua barang yang telah di pilih olehnya. Why? Gue kan butuh!,Gumam fidira dalam hati setelah mendengar perkataan afkan "udah saya beliin" Kini fidira memilih menunggu afkan di luar area supermarket saat melakukan transaksi.


"Mau makan? " Tanya afkan menghampiri fidira yang masih berjongkok di samping tembok supermarket.


Fidira menggeleng "belum laper" Ia melirik ponselnya yang menunjukkan pukul sebelas kurang dua menit "mau main ituuu" Rengek fidira menunjuk ke arah area permainan.


Afkan melirik pergelangan tangannya " Tapi Sebentar aja ya?Setelah makan siang saya harus ke kantor"


Fidira dengan cepat merubah ekspresi wajahnya menjadi cemberut. Bukannya dari tadi udah cemberut ya? Nggak tau kenapa? Akhir akhir ini dirinya suka sekali berlagak sok imut di hadapan afkan. Aiss! Fidira kesal sendiri. "Yakali pak bos ke kantor lagi? " Fidira mengomel.


"Ada berkas yang belum saya cek hari ini" Jelas afkan sambil berjalan menjajari langkah fidira.


Fidira mengambil nafas dalam " Gini ya bosss! Ini tu cuti.. Yekan? Izin lah buat libur sehari. Nahh, kalo ada kesempatan libur.. Kita juga harus liburin otak kita. Jangan di ajak kerja terus. Kasihan lo" Ucap fidira yang soookkk tau banget.


Afkan mengangguk angguk pelan " Tapi ini nggak bisa fi... "


Fidira menghela nafas dalam " Sekali kali lah bos. Kita healing berdua. Jarang lo kita ngabisin waktu bareng" Sesaat Fidira menutup mulutnya, pikirannya sadar dengan ucapan yang keluar barusan. Buru buru ia membuang muka dengan menepuk nepuk pelan mulutnya. Astaga! Sekarang pasti afkan sedang ke GR an. "Enggak gini.. Maksudnya tuh.. " Fidira kembali memejamkan matanya saat afkan menatapnya dengan menahan senyum. "Yaudah terserah. Sana sana! Pulang. Saya mau di sini dulu" Fidira mendorong dorong afkan agar menjauh dari time zone. "Cepet pulang pulang sana! Iihhh" Fidira merengek bak anak kecil. Ya ampun! Fidira... Pasti dia akan menyesal karena membuat ekspresi alay di depan afkan. Image please! Pikirkan ituuuu.


Setelah puas mendorong afkan menjauh dari sana, fidira dengan cepat berbalik dengan sedikit berlari kecil memasuki timezone.Di sepanjang langkahnya, fidira terus saja merutuki dirinya yang terkesan...bodoh!ahhh! Fidira mengacak acak rambutnya.Afkan tersenyum, memandangi gadis yang sekarang tengah menyesal itu. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya mengikuti fidira yang sudah mulai tak terlihat.


"Kenapa ke sini?" Ucap fidira sinis tanpa melirik afkan, ia tetap fokus pada seorang pria tinggi yang sedang mengulurkan powercard timezone padanya. Fidira merogoh saku celananya mengeluarkan beberapa lembar uang receh hijau lalu dengan santai menghitungnya di depan etalase timezone. Astaga! Norak bin aneh sekaliiii. Jangan tanyakan respon orang orang di sekitarnya.


"Terima kasih" Fidira tersentak mendengar ucapan sang penjaga kasir timezone. Padahal dia kan belum bayar?Pria tinggi itu tersenyum ramah. Bukan padanya, melainkan pada pria tampan yang berada di sampingnya. Huuuuhhh... Fidira yakin suaminya telah membayar powercard miliknya. Buktinya sekarang afkan sudah menyeretnya ke area permainan. Ahhh..... Lumayan! Fidira mencium uang recehnya sebelum ia sembunyikan ke dalam saku celana kembali.


"Kita bertanding? " Tawar afkan setelah sampai di area permainan.

__ADS_1


"Oke" Fidira menerima tantangan afkan dengan senang hati. "Yang kalah? " Tanya fidira menatap beberapa permainan di sana.


"Mengabulkan permintaan yang menang. Deal? "


"Selama itu logis dan murah ya" Afkan dan fidira bersalaman sebagai tanda kesepakatan,di iringi senyuman sinis di masing masing kubu. Enggak sih, lebih ke.....Fidira aja. Soalnya afkan senyumnya ramah dan manis sih, fidira kan tremor. Jadi gitu lahh ahhh. Bingung ni author nya.


Mereka memulai pertandingan dengan memainkan Dance Dance Revolution. Mereka dengan lincah dan antusias menari nari mengikuti alunan musik. Hingga saatnya mereka melihat score masing masing. Dan hasilnya... Ahhh! Senyum fidira mengembang sempurna menatap afkan yang sedang menatapnya. Oke.. Fidira berhasil menang dengan score tipis di atas afkan pada permainan pertama.


Kedua, mereka bermain Drop Extreme. Fidira terus berdoa dalam hati agar keberuntungan berada di pihaknya. Dan benar saja, fidira bisa mendapatkan 500 tiket, sedangkan afkan hanya 430 tiket. Tipis sih.. Tapi tetap saja fidira yang menang. Lagi lagi fidira tersenyum senang dengan menatap afkan. Senyum yang tulus terpancar dari bibir fidira, afkan merasakan ada yang tidak beres di bagian dadanya. Entah mengapa jantungnya kini terpompa lebih cepat dari biasanya. Afkan perlahan ikut tersenyum,Ada kesenangan tersendiri bagi afkan saat melihat senyum itu di tunjukan untuknya. Jika kemenangan yang akan membuat senyum itu terus mengembang, afkan rela kalah, bahkan mengalah, demi melihat senyuman tulus itu terus terpancar.


Dilanjutkan dengan permainan street basketball. Fidira dengan sekuat tenaga melempar lemparkan semua bola basket itu. Sedangkan afkan melemparkan bola bola itu asal, beberapa kali dirinya melirik lirik fidira yang terlihat begitu antusias memenangkan pertandingan ini.


"Yeaaaayyy" Suara itu terdengar sangat melengking di telinga afkan. Walau pun kalah, dirinya malah terlihat sangat senang. "So? Gimana? " Fidira bersedekap dada di iringi senyum songongnya.


Afkan mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu tersenyum "saya mengaku kalah" Tawa fidira pecah saat afkan berjongkok di depannya dengan kedua tangan di atas kepala. "Apa yang harus hamba lakukan tuan putri? " Fidira semakin terbahak dengan kata kata afkan yang menghayati. Tidak peduli banyak orang tengah melihat mereka dengan heran. Tapi yang lebih di heranin, afkan kok bisa manis ya?


Fidira menaruh jari telunjuknya di dagu. Beberapa saat dirinya berfikir, lalu ia tersenyum. Fidira mengacak rambut afkan yang sangat rapi itu. Fidira gak peduli. "Tetaplah berbahagia pak bos" Bisik fidira tepat di telinga afkan, lalu ia pergi meninggalkan afkan yang masih berjongkok bengong di sana. Afkan termenung, berusaha mencerna kata kata fidira tadi. Beberapa saat kemudian ia tersenyum, ia berdiri dan berbalik. Gadis itu, gadis yang beberapa hari ini lebih dekat dengannya. Yang kadang membuat jantungnya berdegup kencang, juga membuatnya sering tersenyum. Dan hari ini, gadis itu memberinya semangat,Semangat untuk terus bahagia dengan apa yang tuhan berikan sekarang. Bahkan gadis itu rela menukarkan tiket kemenangannya hanya untuk meminta afkan untuk terus bahagia. Aiss! Afkan semakin tertarik padanya.


***


Fidira melirik jam dinding yang tergantung di atas televisi besar itu. Sudah jam 10 malam. Pandangan fidira beralih ke arah pintu rumahnya. Ia menarik napas dalam lalu menghembuskan nya. Ia beranjak dari sofa ruang tamu menuju kamarnya. Sudah berulang kali dirinya menguap, dan sekarang waktunya. Tapi saat dirinya berada di ambang pintu kamar,langkahnya terhenti. Sekali lagi ia melirik ke arah pintu rumah. 'Apa dia masih lama? ' gumamnya dalam hati. Lalu ia masuk dan menutup pintu kamarnya.


Drrttt Drrttt


Fidira meraba raba meja dekat tempat tidurnya. Aiss! Siapa sih malem malem nelpon gini?, fidira menggerutu dalam tidurnya. Ee? Gimana tuhh?


"Hemm.. Allo? " Fidira berucap dengan mata yang masih tertutup.


"Hallo, selamat malam, maaf mengganggu buk. Tapi apakah ibu mengenal orang yang memiliki nomor ini? " Terdengar suara laki laki dari seberang sana.


"Hallo? Anda masih di sana? " Suara itu kembali terdengar. Fidira langsung bangun dan duduk dengan tegak.


"Ya, ada apa? " Sahut fidira cepat.


"Begini,pria pemilik nomor ini sedang membuat kekacauan di bar kami. Lalu kami mencoba mencari informasi dari ponselnya. Dan nomor anda, menjadi nomor yang di sematkan. Jadi kami pikir, anda orang terdekatnya" Jelas laki laki itu panjang lebar. Fidira termenung, berusaha mencerna kata kata sang penelpon. 'Disematkan?' fidira bingung, dan 'orang terdekat?' apa itu benar?


"Jadi, bisakah anda menjemputnya?" Fidira segera menyanggupinya. Walau bagaimanapun afkan tetap suami nya. Dan semua yang menyangkut afkan, dia harus mengetahuinya. Mungkin.


Fidira menelpon teman genk nya. Jangan tanyakan saat rafa marah marah karena fidira mengganggu tidurnya. Tapi setelah mendengar cerita fidira, rafa pun tak tega harus membiarkan teman ceweknya itu masuk bar sendirian. Akhirnya semua bersama sama mengantarkan fidira. Kecuali ian, kali ini fidira tidak ingin merepotkan nya. Mengingat kondisinya, fidira tidak tega untuk itu.


***


"Maaf, apa yang terjadi? " Tanya fidira saat mendapati afkan yang meracau tentang banyak hal, fidira juga sempat mendengar nama anita di sebut sebut. Afkan terlihat kacau, banyak botol minuman yang sudah kosong, ada pecahan gelas yang mungkin ia banting tadi. Jas yang rapi kini menjadi lusuh tak karu karuan. Entah apa yang terjadi padanya, yang terpenting fidira harus pulang sekarang.


Setelah meminta maaf dan membayar uang kekacauan. Fidira di bantu elma membopong afkan ke dalam mobilnya. Sedangkan rafa menyiapkan mobil yang afkan bawa tadi.


"Ini kunci gue" Fidira menyerahkan kunci motornya pada elma setelah mereka berhasil memasukkan afkan ke dalam mobil. Mobil afkan yang sedang di kendarai rafa sekarang berjalan lebih dulu. Sedangkan jojo, nando, dan elma mengikuti dari belakang.


"Aku sudah tak percaya lagi padamu!! " Fidira menahan tangan afkan yang ingin memukul kaca jendela mobil. Rafa meringis mendengar racauan afkan yang seperti patah hati. Menurutnya.


"Pak bos diam lah! " Fidira menangkup wajah afkan dengan kedua tangannya. Wajah yang tadi pagi masih tampan, sekarang sudah seperti gelandangan. Ya ampun! Apa yang sebenarnya terjadi? "Pak bos, apa yang terjadi? " Tanya fidira pelan.


Tiba tiba afkan memeluk fidira "aku membencinya" Kata kata itu terus terucap. Entah sudah berapa kali, fidira hanya menepuk nepuk punggung afkan untuk menenangkannya. Rafa melirik dari kaca spion, diam diam ia tertawa pelan.


"Jangan ketawa raf, gue tau lho" Fidira melirik balik rafa, yang dilirik cuma nyengir doank. Sementara afkan sudah mulai tertidur di bahu fidira.

__ADS_1


"Suami lo juga kuat minum fi" Rafa manaik turunkan alisnya. "Kalo suami aja di elus elus, coba kalo gue yang minum. Pasti udah bonyok karena lo gampar" Rafa terkekeh kecil, mau tak mau fidira juga ikut tersenyum. Lucu juga jika mengingat hal itu.


"Namanya minum tu nggak baik raf. Gue cuma mau sadarin lo aja" Jawab fidira menghela nafas kasar "ngrepotin juga tauu" Fidira menggerutu.


Rafa tersenyum "tapi kenapa pak bos sampek minum ya? Emang sering fi? " Rafa tampak heran.


Hmm.. Fidira mengingat ngingat kembali. Setahunya afkan bukan tipe orang yang suka minum. Bahkan di pesta dia menolak. Minus waktu di nikahannya ester dan elo. Fidira menggeleng "gue baru tau dua kali, tapi ini yang terparah. Minum sampek dua botol, dihabisin sendiri lagi" Fidira sedikit emosi.


"Jangan marah donk, mungkin pak bos lagi ada masalah deh. Dilihat dari kata katanya tu kayak lagi patah hati. Hayoo, lo lagi marahan ya?" Goda rafa di barengi kekehan kecil. Fidira tidak menyahut, ia mencoba menelaah kata kata rafa. Marahan? Sepertinya tidak. Patah hati? Sama siapa? Fidira menatap afkan yang sedang tertidur pulas. Ada kekecewaan yang terpancar dari wajah tampan itu.


"Fi, lo masih ngarepin ian? " Pertanyaan rafa membuat fidira kaget. Kenapa tiba tiba rafa tanya gitu sih?


"Maksud lo? " Fidira balik bertanya.


"Jangan bohong fi. Lo tau kan dari dulu lo nggak akan pernah bisa bohongin gue" Rafa melirik fidira yang juga melirik nya. "Menurut gue fi, sebaiknya lo pikirin deh, apa lo emang bener mau pisah sama pak bos? Dan lo nggak punya sedikit pun perasaan ke dia?"


Fidira hanya diam, ia tidak ingin merespon pertanyaan temannya itu. Tidak bisa di pungkiri, rafa memang selalu bisa membaca pikiran dan perasaannya.


"Fi, lo pikirin deh. Gimana perasaan semua orang kalo lo dan pak bos tiba tiba bercerai tanpa alasan yang jelas. Nggak ada angin,gak ada hujan tiba tiba aja pisah,Kan aneh. Jadi, gue saranin lo buka hati deh untuk pak bos" Rafa ngoceh panjang lebar.


"Yakali raf, apa menurut lo pak bos mau apa sama gue? Selera dia tu tinggi raf, nggak kayak gue yang receh" Fidira menegaskan.


Rafa tersenyum "Fidira.. Fidira.. Sifat insecure lo bisa nggak sih nggak usah di pelihara. Semua itu di coba dulu fi... Lo yang ngomong gitu kan? "


Fidira menarik nafas dalam. " Dan gimana sama lo? Apa lo bisa ngelupain cinta lo yang bertepuk sebelah tangan? " Fidira balik bertanya.


Rafa mengangguk angguk. "Sampai sekarang belum ada yang nggantiin posisi dia di hati gue fi. Masih rapi kok, tenang aja"


Fidira memasang muka bete "tuh kan, lo aja nggak bisa lupain. Gimana gue juga bisa lupain raf, apalagi dirinya selalu ada buat gue. Pasti ngarep donk" Fidira memutar bola matanya jengah.


"Gue nggak ngarep kok, walau dia ada di dekat gue" Fidira terkejut lalu segera menyinggung senyum


"Hayo siapa? Jangan bilang lo suka sama elma raf" Fidira terbahak. Rafa menggeleng. "Terus? Lo deket ama cewek lain di belakang kita? Wah tega lo raf, tega benerrr" Fidira geleng geleng kepala.


"Udah diem. Kita udah sampek" Fidira menengok ke arah jendela. Benar saja, mereka sudah memasuki pekarangan rumahnya.


"Aduuhh, perut gue mual raf" Fidira memegangi perutnya saat rafa membuka pintu mobil. Rafa Membantu membopong afkan, tentunya dengan mengejek fidira yang gampang mabuk perjalanan.


***


Fidira melirik jam dinding di dalam kamarnya. Pukul satu dini hari. Fidira menatap suaminya yang sedang tidur pulas tanpa dosa di tempat tidurnya. Kacau! Afkan benar benar mengacaukan tidurnya. Padahal fidira tadi baru mimpi bertemu pemain sepak bola idolanya. Ingin rasanya ia menendang afkan sekarang juga.


Fidira keluar kamar, menatap sofa panjang yang sudah terisi para penghuni. Rafa dan jojo sudah tepar duluan. Sedangkan elma dan nando malah pergi ke dapur mencari cari isian perut.


"Maaf, maling ya? " Fidira mengagetkan elma dan nando yang sedang asik mengunyah coklat miliknya. Elma dan nando tersenyum jahat."canda canda" Menyadari dirinya dalam bahaya, fidira segera mengalihkan maksud nya.


"Fi coklat lo banyak banget sih? Nggak laper tu dompet? " Elma mengunyah coklat dengan lahap.Nando menjitak kening elma. Sampai sang teman memekik keras.


"Lo lupa el, yakali fidira beli sendiri. Pasti ngrogoh kantong suaminya donk" Mendengar ucapan nando, mau tak mau fidira tersenyum. "Udah malem, sana tidur fi. Temenin suami lo. Jangan ganggu kita" Ucapan nando di angguki mantap oleh elma.


"Bau nya, nggak kuat gue" Fidira mengibas ngibaskan tangannya.


"Suami sendiri lo fi" Elma memperingatkan.


Fidira memasang muka masam."Udah larut kayak gini, masih aja makan kalian" Fidira geleng geleng kepala lalu akhirnya masuk ke dalam kamar juga. Membiarkan dua mahkluk itu melakukan apa yang mereka mau. Selama gak grusak aja. Elma dan nando malah terkikik geli yang melihat fidira merajuk.

__ADS_1


__ADS_2