Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
74


__ADS_3

Di toko fidira


"APA APAAN NI? " Fidira membaca selembar kertas yg tergeletak di lantai. "BRENGS*K" fidira meremas kertas yg telah di bacanya dengan sangat kuat.


"Udah udah fiii... Mending kita beresin aja.. Bentar lagi anak sekolah pada pulang... Nanti kecewa mereka" Ucap rafa merangkul bahu fidira.


"Iya fii... Udah ikhlas in aja" Imbuh elma menenangkan.


"Tapi kalo mereka balik lagi nii ? Pakek ngancem ngancem segala lagi" Fidira berdecak kesal pasalnya kertas yg diremasnya tadi berisi ancaman untuk segera pergi dari tempat itu.


"Udah lah... Kan ada fidira kita... Semua pasti beres" Goda jojo ikut merangkul fidira.


"Ihh gue ikut donkk" Elma merangkul jojo.


"Eh ndoo lo ikut enggak? " Ajak rafa kepada teman cuek nya itu.


"Kalian jangan alay deh" Nando berdecak kesal.


"Ututu cayang.. Sini sini" Fidira menarik nando untuk bergabung. Mereka saling berpelukan dalam suatu kebersamaan.


Tiba-tiba...


"Ekhem"


Semua menoleh...


"Gue gak di ajak nii" Ian bersedekap dada sembari memanyunkan bibir,seakan ngambek.


"Uppss! Sayangnya udah bubar" Fidira menutup mulutnya berlagak seperti semua telah usai.


"Hahahaha" Tawa mereka semua pecah dengan tingkah laku fidira dan ian seperti anak kecil.


Siang ini fidira telah kembali ke kantor, karena ada meeting yg memaksanya untuk kembali.


Fidira duduk di kursi kerjanya, melirik ke sebelah kiri mejanya sudah terdapat banyak tumpukan kertas yg harus di selesaikan.


"Huuhh" Fidira memijat kepalanya pelan dengan mata yg di pejamkan.


Ceklek..


Suara orang membuka pintu sedikit membuatnya kaget. Dilihatlah sesosok pria tinggi putih berpakaian seperti seorang dokter dengan sebuah kotak perlatan yg di tentengnya.


"Permisi.. Maaf apa direktur afkan nya ada? " Tanya nya pada fidira yg masih mengumpulkan nyawa.


Fidira masih bengong...


"Mbk maaf.. " Ucap nya lagi menyadarkan fidira.


"Eh iya.... Mas nya siapa? Dari mana? Mau apa? " Tanya fidira beruntun tanpa jeda.


"Hah? " Pria itu tidak mengerti, namun perlahan tersenyum "direktur afkan nya ada? " Tanyanya kembali.


"Ooh.. I-tu.. Anu.. " Fidira clingak clinguk tidak mendapati afkan di ruangan nya. "Gini deh mas... Masnya tunggu dulu disini... Saya telpon nin dulu ya? " Tawar fidira diangguki oleh pria itu.


"Silahkan" Fidira mempersilahkan si pria untuk duduk menunggu di sofa depan mejanya, lalu ia tinggal untuk membuat minuman sekalian menghubungi afkan.


Saat tiba di depan pintu dapur kantor fidira mulai memencet nomor afkan.


Drrttt drrrttt


Suara ponsel berbunyi di sekitar dapur, fidira segera masuk untuk membuat minum dengan menempelkan ponsel di telinganya.


"Hallo pak bos dimana sih? " Tanyanya to the point dengan nge gass.


"Di sini" Suara tak yg tak asing terdengar di dekatnya, fidira pun menoleh. Ekspresinya berubah 180° menjadi galak.

__ADS_1


"Dari mana aja sih? Biasanya ngurung diri kenapa hari ini keluar sarang... Tu di cari in orang" Omel fidira mendekat.


"Siapa? " Santai dengan menyruput secangkir kopi panas di tangannya.


"Haiss... Udah cepet cepet sana! Keburu pulang nanti tu orang" Fidira mendorong tubuh afkan untuk keluar dan menemui pria tersebut.


"Iya iya... JALAN NI" Afkan sedikit berteriak sesudah berada di luar dapur, pasalnya dia seperti di usir secara gercep oleh bawahannya.


Tap tap tap


Langkah cepat seorang pria dengan secangkir kopi di tangannya dan aura yg sangat menggoda para insan wanita, sedang berjalan menuju ruangannya.


Ceklek


Afkan masuk ke ruangan nya, terlihat seseorang yg menunggunya tadi sedang bermain ponsel.


"Ekhem... Mengapa kau kemari? " Tanya afkan dengan aura dingin. Pria itu menghentikan aktifitasnya dan beralih menoleh pada afkan.


"Lama tidak berjupa pak direktur" Pria itu beranjak menghadap afkan, sekarang mereka saling tatap.


"Langsung ke intinya saja, aku masih banyak pekerjaan, aku tak mau jika waktuku habis hanya karenamu" Afkan dingin.


"Begitukah? " Tanya si pria meyakinkan "bagaimana kalo kita cek kesehatanmu dulu" Nada bicara si pria berubah 180° menjadi keren dan terdengar merdu.


"Aiiss... Baiklah kita keruangan ku" Ajak afkan berjalan menuju ruangannya di ikuti dengan si pria.


Di tempat lain...


Seorang gadis dengan gaya yg berbeda dari gadis lain tengah menaruh secangkir teh di nampannya. Dengan langkah hati hati, ia menuju ruangannya kembali.


Tok tok tok


Pintu ruangan afkan terbuka, munculah sesosok gadis dengan senyum canggungnya dan juga nampan yg berisi secangkir teh.


Fidira hendak meninggalkan ruangan namun...


"Mbk maaf... " Panggil si pria membuat fidira menoleh dan menghentikan langkahnya.


*semoga aja gak kemanisan... Kayak senyum masnya* batin fidira tepok jidat.


"Iya mas ada yg bisa saya bantu? " Tanya fidira sopan.


"Bentar deh... Mbk nya kayak gak asing ya... Apa kita pernah ketemu? " Si pria mengingat ingat.


Fidira dan afkan saling pandang "ahh... Gak tau juga mas" Fidira canggung.


"Hmm... Eh... Iya.. Saya ingat... Kamu... Fotografer di pernikahan saya waktu itu kan" Tanyanya mantap "dan... Oooiyaa... Makanya waktu itu lo kenal mbk ini af... Emang sekertaris lo" Pria itu menepuk bahu afkan dengan tersenyum.


Glerrr


Fidira dan afkan terasa seperti di sambar gledek, mereka saling pandang entah apa yg harus mereka jawab nanti.


"Hehe... Ya begitulah" Afkan tertawa canggung, begitu pula dengan fidira yg hanya bisa tersenyum.


"Oiya af... Nanti malem gue sama ester ke rumah lo ya... Udah lama gak main ke sana. Sekalian ketemu sama istri lo" Ucap elo senang.


Afkan dan fidira saling pandang kembali *mati gue* batin mereka berdua.


"Oiya mbk.. Dulu pasti dateng ke married nya afkan ya? Gimana.. Istri nya cantik gak? " Tanya elo, berhasil membuat fidira dan afkan membelalakkan matanya.


"Eh... Anuu... Saya... Waktu itu gak dateng sih.. Kelewatan" Bohong fidira, karena bingung mau menjawab apa.


Jawaban fidira malah semakin membuat afkan pusing, bagaimana ia akan menghadapi kedua temannya nanti saat tau sekertaris nya adalah istrinya sendiri. Tambah rumitt pikirnya.


Pukul 16.00

__ADS_1


Jam kantor telah usai, fidira bergegas merapikan beberapa dokumen di mejanya, dan bersamaan dengan dokter elo dan afkan yg baru keluar ruangan.


"Betah banget dari siang di situ" Gumam fidira kesal menatap afkan dan elo yg seenaknya menyuruhnya bolak balik membeli beberapa camilan dan makanan.


"Kalo gitu gue cabut ya af.. " Pamit elo


"Sorry gue gak bisa anterin" Afkan basa basi.


"Sans ajalah.. Mbk Saya permisi" Pamitnya tersenyum dan berlalu keluar,fidira membalasnya dengan senyum.


Setelah kepergian elo, fidira dan afkan saling pandang. Seperti menunggu penjelasan dari masing masing kubu.


Perang dingin pun di mulai, tatapan sinis satu sama lain mulai terpancar. Afkan perlahan mendekat, fidira tetap pada tempatnya namun dengan tatapan tajam.


"Maksud kamu ngomong gitu tadi apa? " Tanya afkan menatap mata fidira yg juga menatapnya.


"Yang mana? " Tak kalah sinis.


"Waktu kamu nganterin minum tadi"


Fidira tersenyum kecut "yang saya bilang gak tau tadi? Kalo nggak gitu mau pak bos gimana? Apa mau saya bilang kalo saya istri pak bos, yg nikah itu saya. Gitu? " Fidira bertanya dengan nada yg ngegass.


"Ya tapi.. Gak gitu juga" Afkan mulai sedikit mengalah.


"Ahh terserah.. Itu urusan mu" Fidira mengambil tasnya segera berlalu dari sana.


Pukul 18.00


Seorang gadis berlari dari kamarnya menuju dapur. Dengan melesat cepat fidira mengambil sepiring nasi berserta lauknya, juga camilan dan air putih sebotol 1,5 liter itu.


Fidira membawanya ke meja ruang tamu yg sudah tersedia tv besar yg telah menyala.


"Sampek segitunya ya non mau nonton bola?" Tanya bi inah dengan senyuman yg sedang menyiapkan makan malam.


"Iya donkk.. Bi... Kita harus mendukung walau cuma dari rumah" Jelas fidira dengan mulut penuh makanan.


"Tapi kalo lagi makan ya jangan ngomong non... Nanti gak enak" Nasehatnya.


"Iya sih bi hehe" Fidira segera meminum air putih "alhamdullillah" Teriaknya.


"Udah selesai? " Tanya bi inah bingung, fidira pun mengangguk "gercep banget non??"


"Ya biar cepet cuci piring nya truss bisa nonton dengan hikmat" Fidira beranjak pergi ke dapur mencuci piringnya.


"Oiya non bibi pulang cepet ya... Semua udah bibi siapin" Pamit bi inah pada fidira.


"Iya bi.. Makasih ya... Huummm udah di jemput kan?"Tanya fidira menoleh keluar rumah. " Soalnya... Hehehe... Tau sendiri kan" Fidira menunjuk televisi yg telah menyiarkan lapangan hijau di layarnya.


"Udah kok non, santai aja. Yaudah bibi pamit ya... Jangan lupa.. Den afkan suruh makan ya" Pesan bi inah menekan setiap kalimatnya.


"Siap bos" Fidira bersikap hormat lalu diakhiri tawa dari keduanya.


Dari setengah jam lalu fidira menonton bola dengan camilan yg tinggal toplesnya. Ia berdecak kesal karena dari kedua tim belum ada tanda tanda peluang yg berbahaya.


"Huh... SEMANGAT DONKK! " Teriaknya kepada televisi besar dihadapannya, seakan televisi itu dapat mendengarnya.


Afkan diam mematung di lantai atas, memandangi fidira yg berteriak berteriak kesal kepada televisinya. senyum simpul pun terukir di bibirnya tanpa dirasa.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuatnya beralih memandang pintu "pak bos buka in donk... Jangan cengar cengir di situ" Ucap fidira yg sedari tadi melihat afkan disana.


CEKLEK


GOOOLLLLL

__ADS_1


__ADS_2