
"Iannn" Panggil fidira saat mendapati ian akan masuk ke kantor.
"Hai" Balas ian dengan senyum manis, yg selalu sukses membuat fidira terpesona.
*iannn lo tu bikin gue mau mati tau gak* batin fidira masih menatap ian.
"Fi! Hei! " Ian menyadarkan lamunan fidira.
"Ahh... Pagi" Fidira salting sendiri.
"Pagi juga, gimana suami lo udah sehat? "
"Ya gitulah, tu orang nya" Fidira menunjuk ke arah lift disana terlihat afkan tengah menaikinya.
"Kok gak lo temenin sih? " Ian iseng.
"Udah biarin. Gimana? Udah oke semua kan tugas gue? " Fidira mengkhawatirkan pekerjaannya yg mungkin ia sudah lupa.
"Udah tenang aja. Semua kalo sama ian mah... Beres" Ian sombong
"Iya iya... Lo penyelamat gue" Fidira memuji. Sedangkan ian terkekeh kecil.
"Pagi bu bos" Sapa sahila yg ternyata sudah di samping mereka.
"Pagi" Balas fidira dengan senyum.
"Pagi ian" Sahila beralih pada ian.
"Hmm" Ian cuek memutar bola matanya jengah.
"Sssstttt! Kok gitu sih? " Bisik fidira
"Hmm.... Bu bos saya duluan ya?" Pamit sahila mendapat anggukan dari fidira.
"Lo masih gitu yan sama sahila? " Fidira menatap ian yg terlihat malas.
"Please fi! Gue bilangin lo jangan terlalu percaya sama dia" Ian memegang kedua bahu fidira.
"Why? Iannnn kita nggak boleh berprasangka buruk sama orang" Fidira menasehati.
"Oke terserah lah.... Lo terlalu baik tau gak.Mending sekarang kita kerja. Okey nyonya bos? " Ajak ian
"Let's go bawahan" Mereka pun berpisah dan menuju ke ruangan masing-masing.
Di tempat lain.
"Ya aku berhasil membuat dia percaya denganku"
...........................
"Apa maksud mu? Kau akan kembali? Tapi kapan?"
....................................
"Baiklah aku akan menunggu"
Tut
"Oke... Mari kita mulai fidira seftiana" Ucap seorang gadis berambut panjang dengan senyum sinis menghiasi wajahnya yg cantik. Sedang memandang ke arah jendela kecil dengan meremas ponsel di tangannya.
***
Tok-tok-tok
"Masuk! "
"Pak bos, ada berkas yg harus di tanda tangani" Ucapnya menyodorkan sebuah dokumen map biru.
"Apa sudah kamu cek? " Tanya afkan sembari membuka lembar demi lembar kertas dokumen tersebut.
"Ya sudah saya cek. Tapi pak bos cek lagi deh" Ucap fidira yg masih berdiri di depan meja afkan.
"Baik. Berkas ini jangan sampai hilang karena ini proyek besar" Ucap afkan menyerahkan dokumen yg telah ia tandatangani.
"Apa masih lama mereka menunda meeting nya? " Tanya fidira sembari menerima dokumen tersebut.
"Emang kenapa? " Tanya afkan penasaran.
"Ya... Kalo saya kelamaan megang beginian resiko nya tambah besar" Ucap fidira sembari berjalan keluar.
"Sepertinya dia khawatir" Gumam afkan menatap punggung fidira yg perlahan menghilang dari pandangannya.
"Oiya" Tiba tiba afkan teringat sesuatu, ia langsung beranjak Menuju ruangan fidira.
"Ada apa? Kok kesini? Kangen ya? " Fidira meluncurkan pertanyaan dan candaan secara bersamaan, saat melihat afkan keluar ruangan dan menghampirinya.
"Iya" Jawaban afkan membuat fidira terdiam sesaat. "Gini nanti malem saya ada acara, kamu harus ikut" Ucap afkan membuyarkan lamunan fidira.
"Harus banget ya?" Afkan pun mengangguk. "Duhhh pak bos pasti nanti saya pakek baju ribet lagi kan? Gak mauuu" Rengek fidira membuat afkan tertawa kecil. "Malah ketawa" Fidira kesal.
"Gimana gak ketawa coba? Liat ekspresi kamu kayak gitu" Afkan menarik pipi fidira yg terlihat gembul.
"Aduuhhhh! Iiihhhh sejak kapan sih pak bos jadi banyak bicara gini? " Fidira kesal mengusap usap pipinya yg sempat memerah. "Pokok nya gak mau. Please ya pak bos" Fidira kembali merengek. Entah sejak kapan dia menjadi perengek seperti ini.
"Kenapa? Kamu cantik pakek baju seperti di pesta waktu itu" Afkan tiba tiba memuji, fidira sempat melongo tapi dia tidak boleh GR.
"Cantik kalo ribet ya ogah lah. Biarin deh gak papa saya jelek tapi pakek yg biasa aja ya" Fidira berdiri lalu menyatukan kedua tangannya tanda memohon.
"Siapa bilang kamu jelek? " Afkan kembali bertanya hal yg tak terduga.
"Hah? " Fidira tercengang.
"Kamu cantik memakai apapun" Bisik afkan tepat di telinga fidira.
PLAKK
"Aww!! "
"Waduhh, maap" Fidira mengelus pipi afkan yg memerah. Pasti taulah karena apa😂.
***
"Fidira! Cepatlah! " Teriak afkan yg beru turun dari kamarnya sudah siap dengan setelan jas putih yg membalut tubuhnya, ia terlihat sangat perfect malam ini.
"Hmm" Fidira keluar kamar dengan langkah letoy menuju dapur untuk meminum air.
"Jangan bilang kamu belum mandi? " Tebak afkan di angguki oleh fidira yg terlihat sangat santai. "Cepet mandi! Atau saya kesana sama kamu sekarang! "
"Iya bentar. 5 mnt doank" Fidira dengan langkah letoy menuju kamar mandi.
Dan benar ternyata 5 mnt kemudian fidira telah rapi dengan setelan jeans dan kaos andalannya.
"Ayo cepet! " Afkan menuju garasi rumahnya.
__ADS_1
Fidira terdiam sejenak memperhatikan tampilannya perlahan ia tersenyum "nice! Gak jadi ribet" Fidira menghampiri mobil afkan dengan perasaan senang.
Sepanjang perjalanan fidira terlihat sangat senang bahkan sesekali ia tersenyum. Afkan yg sempat melihatnya pun tersenyum menyeringahi. Namun tiba tiba senyuman fidira menghilang saat mobil afkan terparkir di sebuah butik yg tidak asing lagi baginya.
"Kenapa? " Tanya afkan saat menyadari perubahan ekspresi fidira.
"Aiiss pak bos gak asikk" Fidira dengan wajah di tekuk pun terpaksa keluar mobil.
"Hei! Saya salah apa coba? " Afkan mengangkat kedua bahunya seakan tidak terjadi apa apa.
"Haii" Sapa rani yg sudah berdiri di depan pintu.
Afkan hanya tersenyum sedangkan fidira tidak menjawab dan masih menekuk wajahnya. "Senyum donk! Nanti cantiknya ilang loh" Goda afkan mendapat cubitan keras dari fidira.
Rani pun tercengang melihat kejadian barusan yaitu afkan yg menggoda wanita dengan senyuman yg sangat jarang dia lakukan, juga perubahan afkan yg semakin banyak bicara. Kaget? Ya pastilah.
"Ran biasa ya yg cepet dan lo sesuai kan sama baju gue" Jelas afkan yg baru menghampiri rani dengan tangan yg masih menggandeng istrinya yg lagi ngambek itu.
"Oke... Kalian sweet banget sih" Goda rani dengan kekehan kecil..
"Tapi ada syaratnya mbk" Ucap fidira tiba tiba, membuat rani dan afkan menatapnya "saya pengen yg nggak terbuka, gak ribet dan kalo ada yg pakek celana"
Rani menatap afkan seakan meminta persetujuan "ya ya... Terserah" Jawab afkan seakan tidak peduli. "Waktunya cuma 30mnt" Ucap nya lagi sembari mendudukkan dirinya di sofa tunggu.
Kurang lebih 30 mnt fidira keluar dari ruang ganti dengan langkah malas, semalas malasnya dalam hidupnya. Karena gaun yg di pakainya kini benar benar tak nyaman di badannya dan ribet menurutnya. Semua pakaian yg berbau rok atau dress pasti di bilang ribet sama tu cewek.
Afkan yg tadinya fokus dengan ponselnya kini menoleh ke arah suara berisik yg sempat mengganggunya. Afkan terpaku saat melihat seorang gadis dengan rambut yg di sanggul rapi datang kearahnya dengan bibir yg terus berkomat kamit.
Hari ini gadis itu benar benar terlihat sangat anggun, dengan balutan dress panjang dengan lengan brokat pendek, senada dengan jas afkan yaitu berwarna putih bersih. Tak lupa make up tipis dan juga pita putih kecil yg terpasang di sudut kepalanya.
"Astaga! Yaallah ini baju nyrimpeti (merepotkan) banget sih" Fidira mengomel sembari memegangi dress nya yg tergerai panjang ke bawah dan juga membenarkan hells nya yg sangat tinggi bahkan ia berkali kali hampir jatuh karena kurang keseimbangan.
"Bisakah kau membantuku pak bos? " Tanya fidira membuyarkan lamunan afkan.
"Eh iya" Afkan tersadar langsung menghampiri fidira.
"Lihat! Semua ini karena pak bos. Ini ribet banget tau" Fidira masih mengomel sedangkan afkan kembali melamun sembari menatap gadis cantik di sampingnya. "Saya sampek nggak bisa bawa hp..... Eh iya hp.. Hp... Hp gue mana? " Fidira terlihat sangat panik karena benda pipih kesayangannya tidak ada di genggamannya.
"Ini" Afkan dengan santai mengeluarkan benda pipih berwarna biru dari saku jasnya.
"Alhamdullillah" Syukur fidira memeluk erat ponselnya.
"Kita berangkat sekarang? " Tanya afkan pun mendapat anggukan dari fidira.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di sebuah villa mewah yg memiliki halaman sangat luas. Terlihat banyak orang berdatangan di acara tersebut dengan pakaian senada dengan pakaian yg di kenakan fidira dan afkan.
Tanpa bertanya afkan segera menarik tangan fidira untuk menuju salah satu meja di halaman tersebut. Nuansa putih benar benar membuat malam ini begitu sangat indah di sana. Banyak juga bunga bunga yg di pajang di outdoor tersebut.
Fidira sedikit canggung dengan suasana malam ini, sebenarnya dia tidak terlalu PD dengan pakaian yg digunakannya sekarang. "Pak bos... Nanti sebentar aja ya" Ucap fidira saat mereka sudah menemukan tempat duduk.
"Kenapa? " Tanya afkan yg beralih menatapnya.
"Pokok nya bentar aja"
"Tapi kita kan baru sampek" Afkan masih penasaran dengan alasan fidira.
*masak gue bilang kalo gue kedinginan sih? Kan nggak ngeeh banget* batin fidira bingung sendiri.
"Udah deh... Pokok nya bentar. Okey? Fiks no debat" Fidira memaksa.
"Hmm" Afkan masih menatap fidira.
"Heyy! Kenapa? " Tanya Fidira yg sadar dengan sikap afkan yg aneh.
"What? " Fidira semakin tidak mengerti.
"Mau tau? " Tanya afkan diangguki oleh fidira yg serius menatapnya.
"Emm.... Kamu cantik" Puji afkan yg secara terang terangan. Fidira hanya bisa menelan susah silva nya mendengar kalimat yg biasanya berhasil membuat orang ke GR an.
Salting? Pasti donk. Fidira bukan orang yg pandai menyembunyikan salah tingkahnya di depan orang. "Ngawur kan? " Fidira membuang muka untuk menyembunyikan wajah merahnya.
"Beneran saya nggak bohong. Kamu cantik " Afkan mengulangi kalimat nya kembali, fidira benar benar di buat baper bak burung yg di lepas dari sangkarnya. Namun fidira segera geleng gelang kepala, menyadarkannya bahwa itu hanya candaan biasa, rafa juga sering begitu kok ke fidira.
"Haiiss... Terserah lah... Yg penting kita cepet pulang. Soalnya gak PD banget saya pak bos. Lihat! Kulit saya keliatan item banget gara gara ni gaun putih" Fidira kembali menekuk wajahnya.
"Emang item dari sononya. Syukuri aja kalee" Afkan beralih mengejek. Fidira yg tak mau berdebat hanya diam dengan tatapan membunuh.
"Emm pak bos... Tumben gak salam salam ke sono? " Fidira yg bingung karena afkan sedari tadi duduk di sampingnya.
"Nanti saya tinggal kamu kangen lagi" Afkan kembali menggoda fidira yg melongo melihatnya yg jago nge gombal.
"Hiss! Ni saya nanya ya. Kenapa pak bos berubah banget? Dulu aja cuma hmm hmm terus. Nah sekarang kok malah banyak ngomongnya? " Fidira mengeluarkan semua unek unek nya yg sudah ia tahan selama beberapa hari ini.
"Hmm... Mungkin saya udah capek" Jawaban afkan semakin membuat fidira bingung. "Sebenernya saya dulu itu orang yg banyak ngomong. Tapi karena masalah keluarga dan yg lain. Saya memilih jadi pendiam" Jelas afkan membuat fidira mengangguk angguk kecil.
"Tapi emang bisa nahan kebiasaan selama itu? Coba deh pikirin... Dari SMA udah jadi pendiem sampek sekarang umur 28. Itu pasti kan udah nempel banget es balok nya" Fidira masih belum percaya.
"Ya mungkin ada yg mancing tiap hari. Jadi leleh tu es nya" Jawaban afkan seakan menuju pada fidira yg memang banyak ngomong. "Tapi kalo sama orang asing masih dingin kok saya, tenang aja! " Afkan terkekeh kecil.
"Yaelah... Ya terserah mau dingin kek mau panas sampek melepuh juga saya bodo amat" Fidira menjawab blak blakan tanpa ada yg di tutup tutupi.
Afkan hanya tersenyum menanggapi. gadis di sampingnya ini benar benar terlihat sangat kesal. Fidira yg menyadari afkan tersenyum sembari menatapnya, ia kembali angkat suara "seperti nya akhir akhir ini kau sangat bahagia pak bos" Sindir fidira.
"Tidak juga" Afkan santai.
"Tapi kau sering tersenyum sekarang" Fidira sedikit kesal.
"Apa kau cemburu jika aku menebar senyuman ke semua orang? " Goda afkan sembari menarik turunkan alis nya.
"Kenapa kau sangat PD" Fidira yg kesal pun menarik pipi afkan hingga memerah.
"Heii! Kau mulai berani sekarang" Afkan yg tak terima juga menarik hidung mungil fidira. Dan terjadilah aksi saling tarik menarik komponen wajah.
"Stop! " Fidira yg sudah tak tahan akhirnya menyerah. Untuk pertama kalinya fidira menyerah pada seorang afkan yg biasanya selalu mengalah pada nya. Afkan pun terkekeh senang, sedangkan fidira cemberut dengan melihatkan wajahnya ke kaca ponsel..
"Ayo! " Tiba-tiba afkan menarik tangan fidira.
"Kemana? "
"Ke yang punya pesta lah"
"Hmm pak bos aja lah sendiri ya? Saya di sini akan setia menanti mu" Bujuk fidira sok ngrayu.
"Tapi aku ingin membawamu agar kau tidak bosan menungguku kembali" Afkan malah memberi balasan rayuan fidira.
"Please! " Rengek fidira.
"Ayo! Bentar aja. Katanya mau pulang" Jelas afkan sedikit terkesan mengancam.
"Beneran pulang ni? " Tanya fidira meyakinkan.
Afkan mengangguk. Fidira dengan senang mengikuti arah afkan membawanya.
__ADS_1
Mereka pun menghampiri satu persatu teman bisnis afkan. Banyak yg memuji mereka adalah pasangan serasi, dan itu membuat fidira tak nyaman apalagi sekarang tangan afkan malah melingkar di pinggangnya.
"Haii" Sapa seorang pria tampan sekelas afkan yg menghampiri mereka di dekat kolam renang.
Ekspresi afkan seketika berubah saat pria itu menghampirinya. Ekspresi yg tadinya senang kini menjadi masam dan dingin.
"Apa kabar teman baikku? " Ucap kembali pria itu dengan senyum menyeringahi.
"Baik" Jawab afkan dengan cepat.
*apa yg terjadi? * fidira bingung sendiri.
"Kau masih sama seperti dulu. Sombong dan angkuh" Ucap pria itu di serta i kekehan kecil. "Dan... Ini..? " Pria itu beralih menatap fidira yg hanya menjadi pendengar. "Oiya maaf aku lupa. Ku dengar kau sudah menikah. Dan ini pasti nyonya afkan indra bukan? " Tanya nya dengan nada menjengkelkan.
Afkan semakin mengeratkan rangkulan di pinggang fidira sampai sampai ia terkejut. "Ahh iya, maaf remon aku belun mengenalkan mu dengan istri ku ini" Ucap afkan sembari memandang fidira seakan penuh makna. Entah apa maknanya fidira juga nggak tau.
"Ini fidira, dia istri ku. Dan sayang.... Ini remon teman bermainku waktu SMA" Afkan mengenalkan mereka, pria yg dipanggil remon itu pun tersenyum menggoda pada fidira. Sedangkan fidira yg bingung juga tersenyum tapi senyum canggung.
"Hai nyo-"
"Sayang! " Belum sempat mengucapkan salam perkenalan, suara seorang gadis membuat mereka semua menoleh. Seorang gadis cantik dengan rambut terurai panjang, serta gaun yg terkesan terbuka dan ketat sedang berjalan menuju arah mereka.
Remon pun tersenyum dan langsung menghambur pelukan pada sang gadis. "Ada apa sayang? " Tanya remon kepada si gadis yg sudah tak asing bagi fidira dan afkan.
*berasa nonton sinetron gue* batin fidira agak risih.
"Ahh maaf" Ucap remon yg tadi sengaja memanas manasi afkan.
"Haii! " Sapa gadis itu. Ya tidak lain dan tidak bukan dia adalah citra mantan kekasih afkan yg membuat fidira jadi harus berakting seperti ini.
Afkan hanya membuang muka saat gadis itu menyapanya sedangkan fidira hanya tersenyum menanggapi. *dasarrr! Diee yg udah gaplok gue waktu itu* fidira bergumam kesal dalam hatinya.
"Oiya nyonya fidira... Kenalin ini citra tunangan saya. Dan kalo afkan udah kenal donk pastinya..? " Ucap remon tersenyum licik.
Afkan hanya terdiam seakan tak mau menanggapi.
"Ahh tentu, aku sudah mengenalnya. Bahkan aku juga sudah berkenalan dengan tangan nya" Jawab fidira seakan tak mempedulikan semua.
Mendengar jawaban fidira, citra terlihat begitu emosi namun ia menahannya. Remon hanya terdiam akan perkataan fidira yg seakan penuh arti.
"Maksudku... Aku juga sempat bersalaman dengannya waktu itu" Ucap fidira kembali dengan terkekeh kecil. "Iya kan nona citra? "
"Ahh iya aku mengingatnya" Citra sedikit canggung.
"Oiya afkan, bagaimana jika minggu depan kita meeting tentang proyek itu? " Ucap remon beralih membicarakan bisnis.
"Tentu, ku harap kau tidak akan terlambat" Ucap afkan sinis.
"Ya. Aku pasti akan datang tepat waktu. Dan ya... Jangan lupa untuk berkas penting itu" Ucap remon.
"Akan ku pastikan kau tidak akan kecewa" Jawab afkan.
*berkas? Mungkin itu bisa membantu ku* citra tersenyum sinis menatap fidira.
"Ya sudah kalo begitu kami duluan" Ucap afkan mengakhiri.
"Kenapa terburu-buru? Pesta dansanya belum di mulai, bahkan kau belum minum" Ucap remon sembari memberi segelas minuman beralkohol kepada afkan.
Fidira hanya menatap gelas tersebut, ia ingin tau apakah afkan juga suka minum. Afkan berbalik menatap fidira yg sedari tadi hanya diam.
"Tidak perlu, aku harus pulang" Afkan segera menarik fidira dari sana.
"Dasar pecundang" Gumam remon sembari meneguk minuman tersebut.
*aku akan menghancurkan mu fidira* batin citra menyeringahi.
Di dalam mobil.
Sejak meninggalkan pesta tadi, tidak ada percakapan di antara mereka.
Hening!
Tapi anehnya dari tadi mobil afkan tidak keluar parkiran pesta. Entah apa yg dia pikirkan, fidira memilih untuk diam.
"Sampai kapan kita akan disini? " Akhirnya fidira pun angkat suara karena rasa bosan sudah melandanya. Kurang lebih 15mnt mereka berdiam diri di parkiran.
"Ahh maaf" Afkan gelagapan.
"Apa kau masih mencintainya? " Ucapan fidira membuat afkan menoleh.
"Apa maksudmu? " Afkan menyembunyikan kesedihannya.
"Ya... Terlihat sekali di matamu pak bos, jika kau masih sedih saat bertemu dengannya" Jelas fidira sempat membuat afkan terkejut.
"Ya bagaimana lagi, melihat mereka membuat saya kembali mengingat kejadian itu" Afkan menyandarkan kepala di kursi kemudinya.
" maksudmu....si siapa tadi... Lemon itu yg ngrebut tu nenek lampir? " Ucap fidira kesal saat mengingat wajah citra, apalagi waktu pipi nya kena tampar.
Bukannya menjawab, afkan malah terkekeh mendengar penuturan fidira.
"Malah ketawa? " Fidira semakin kesal.
"Karena kau sangat lucu" Afkan terkekeh sembari mendekatkan wajahnya ke wajah fidira.
"Apa kau ingin aku tampar lagi? " Fidira menyikapi afkan dengan tenang. Padahal di dalam hatinya ia sudah dag dig dug. Namun ia berusaha menahannya, agar image nya tak jatuh di hadapan afkan.
"Aku berharap kau menamparku dengan ini" Afkan menunjuk bibir fidira. Fidira terkejut tidak kepalang, jantung nya makin mondar mandir ke ginjal, usus, kerongkongan semua di maratonin.
"Brengseeeekkkkk" Fidira menarik pipi afkan dengan sangat kuat. Sampai afkan berteriak kencang di dalam mobil. "Apa kau tidak mengerti jika dari tadi aku kedinginan? " Fidira mengeluarkan unek uneknya yg sedari tadi ia tahan, dan pastinya dengan tangan yg masih menarik pipi putih afkan yg sudah mulai memerah.
"Aww! Lepaskan! " Afkan berteriak meronta-ronta, akhirnya fidira pun melepasnya dengan kasar. "Kenapa kau kasar sekali" Afkan menggerutu seperti anak kecil.
"Iiihhh cepet jalan bisa gak sih!? " Fidira benar benar sangat kesal.
"Baiklah-baiklah, tapi sebelum itu... " Ucapan afkan terhenti, ia melepas jasnya dan menyodorkannya pada fidira. "Pakailah ini dulu"
"Tidak perlu, yg penting cepat jalan" Fidira masih cemberut.
*dia masih marah* batin afkan tersenyum menatap fidira.
"Apa kau akan tetap cengar-cengir saja? " Fidira mulai berkata kasar.
Afkan malah semakin menatapnya lekat "apa kau ingin ku peluk? " Tanyanya membuat fidira terkejut untuk kedua kalinya.
*dia benar benar gila* batin fidira ngeri.
"Jika pak bos nggak jalan sekarang! Saya keluar ni!" Fidira mulai mengancam.
"Baiklah"
Brukk
"PAK BOSS!! " fidira berteriak kencang saat afkan melempar jas nya ke wajah fidira.
__ADS_1