
"Ti-tidak" Fidira sangat gugup saat berhadapan dengan afkan yg begitu dekat dengannya.
"Apa perlu saya panggilkan elo? " Tanya afkan semakin mendekatkan dirinya.
Fidira mundur sedikit "tidak perlu! "
"Apa kita ke rumah sakit saja? " Tanya afkan lagi.
Fidira benar benar sudah muak dengan dada nya yg sudah merasa sesak dan deg deg an. "Iihhh nggak usahh! " Fidira menghentakkan kaki nya lalu pergi menuju kamarnya.
"Eeehhhh" Fidira terkejut saat merasakan tubuhnya melayang. "Heii! Pak bos! Apa apaan ini! " Fidira meronta ronta saat tubuhnya melayang karena afkan menggendongnya tiba tiba.
"Husstt! Kita ke rumah sakit! " Ucap afkan berjalan keluar.
"Saya bilang nggak usah! Turun! Turuuun! Huaaa! Turuuuu! " Rengek fidira menendang nendangkan kakinya.
"Nggak bisa diem! Saya cium! " Tegas afkan tiba tiba.
Mendengar perkataan afkan, fidira tersentak, kaget, bin terkejut. Bisa bisanya afkan bilang seperti itu padanya. Fidira hanya bisa diam, mengunci rapat rapat mulutnya agar tidak bersuara.
Melihat perubahan pada fidira, afkan menyinggung senyum senang. Setidaknya afkan bisa tau sisi ketakutan atau pun cara menjinakkan singa betina yg sangat pemberani ini.
Saat berada di teras rumah, langkah afkan terhenti saat ada mobil mewah hitam masuk ke halaman rumahnya. Ekspresi wajah afkan seketika berubah, saat mengetahui siapa pemilik mobil tersebut.
"Pak bos! Turunin! " Fidira berbisik dengan menarik krah kemeja afkan.
Afkan tersentak, lalu menoleh pada fidira "apa mau mu?"
"Di panggil 3 kali nggak nyaut nyaut! Ini cepet turunin! " Fidira panik.
Afkan terdiam
"Iihhh lama!" Fidira berusaha turun sendiri. Namun afkan malah mencegahnya.
"What? " Fidira memelototi afkan, seakan protes dengan tindakan afkan. Namun afkan tak menghiraukannya, pandangannya kini terkunci pada sepasang suami istri yg baru keluar dari mobil.
Terlihat senyuman merekah di wajah mereka. Mereka menghampiri afkan dan fidira yg masih diam di teras depan pintu. Fidira hanya bisa pasrah, ia pasti akan kena goda dari papa dan mamanya yg menyaksikan posisinya sekarang. Menunduk? Pastilah.
"Assallammualaikum" Sapa sepasang suami istri itu.
"Waallaikumssalamm" Jawab fidira sopan sedangkan afkan dengan nada malas.
"Ini ceritanya kenapa kok gendong gendongan? " Tanya mama nanda yg sudah tak tahan untuk bertanya.
Fidira hanya mampu diam.
"Bukan urusan mu!" Jawab afkan cuek.
"Pak bos! " Bisik fidira
Mendengar jawaban afkan yg terkesan kasar, indra sudah mulai tersulut emosi. Namun nanda memegang bahunya lalu menggeleng pelan.
"Ahh maa paa maaf, ini sebenarnya afkan yg agak berlebihan jadi ya-"
"Berlebihan apa!? Kamu kan sakit" Ucap afkan tegas, fidira memelototinya dengan emosi yg sudah mulai on.
"Fidira sakit? " Tanya nanda sedikit khawatir.
"Enggak ma... Cuma masuk angin biasa! Afkan aja yg berlebihan mau di bawa ke RS segala" Fidira berusaha untuk turun, tapi ya gagal. "Ma... Paa... Silahkan masuk.. Bang asep! Bawa ke dalem aja! " Teriak fidira pada sopir yg tengah menurun kan beberapa koper.
"Iya neng" Ucap mang asep sambil mengangguk.
"Yaudah afkan,bawa fidira ke RS dulu! siapa tau fidira lagii... " Ucapan terhenti saat fidira menyelanya.
"Enggak maa kita nggak jadi ke... " Mungkin gara gra azab nyrobot omongan orang ya, kali ini fidira yg di srobot omongannya.
"Kita berangkat! " Ucap afkan cuek sambil berjalan menuju mobilnya.
"Maa paa masuk aja! " Teriak fidira dan diangguki oleh nanda.
Di perjalanan ke rumah sakit
Fidira tak henti hentinya mengomeli afkan. Dari omongannya yg nggak sopan,malu, berlebihan, gakjelass bahkan alay. Fidira terus berceramah tentang perlakuan afkan padanya hari ini.Menurutnya tindakan afkan terlalu alay dan berlebihan. Afkan hanya diam, ia lebih fokus ke jalanan yg tidak terlalu ramai hari ini.
"Pak bos! Ayo puter balik! Kita pulang... Nggak perlu ke rumah sakit" Fidira membujuk afkan.
"Pak boss! " Rengek fidira yg tidak di tanggapi afkan.
"Afkaaan... " Ucap lembut fidira.
Mendengar ucapan fidira yg terdengar soft banget di kuping, afkan menoleh menatap fidira yg sekarang beralih memperhatikan jalanan.
"Katakan lagi! " Fidira menoleh.
"Apa? " Fidira tidak mengerti
"Tadi"
"Apa? " Fidira mengkerut kan dahinya.
Afkan terdiam.
"Afkaann... " Fidira mengulang kalimatnya tadi dengan nada anak kecil yg sedang meminta permen. Tak lupa dengan senyum manis yg memperlihatkan deretan giginya. Mendengar hal itu afkan tersenyum balik ke arah fidira, sepertinya fidira tadi sedang menggoda dirinya dengan berpura pura tidak mengerti.
"Pak bos suka? " Tanya fidira manja
Afkan hanya tersenyum.
"Laahhh malah diem lagi..." Fidira cemberut "afkaannnn.... " Rengeknya kembali
"Apa!? " Jawab afkan cuek tapi seperti menahan senyuman.
"Terserah! " Fidira sudah mulai bodo amat.
"Mulai sekarang panggil dengan nama saya! " Ucapan afkan ini berhasil membuat fidira melotot.
"Apa!? " Fidira kaget. "Gimana? "
"Kuping kamu bermasalah? Nanti sekalian kita cek! " Afkan melirik fidira sekilas lalu fokus ke jalanan kembali.
Fidira terdiam, malah bingung sendiri jadinya. Afkan yg diam diam mencuri pandangan dari fidira hanya bisa tersenyum simpul.
Di rumah sakit.
"Apa parah? " Tanya afkan pada elo yg sedang mengganti perban lengan fidira.
"Tidak perlu khawatir! Untung saja goresannya tidak terlalu dalam, jadi aman. Dan ini kompres saja 2 kali sehari. Perlahan akan hilang. " Elo menjelaskan sambil menunjuk lebam yg berada di sekitar wajah fidira.
Afkan hanya mengangguk.
"Pak bos puas? Udah di bilangin saya gak papa" Cibir fidira.
Afkan menarik nafas dalam. Ya... Emang dia harus rela untuk menjadi sasaran omelan fidira sekarang.
"Nyonya afkan indra... Sebenarnya suamimu ini terlalu menghawatirkan mu. Karena dia tidak ingin anda terluka" Goda elo dengan memberi selembar resep obat. "Sebenarnya nyonya habis bergelut apa gimana sih? " Tanya elo heran
"Diamlah! " Afkan membungkam
"Baiklah terima kasih pak dokter! Kami pulang dulu. Mari!" Ucap fidira sopan
"Tidak perlu se formal itu! " Larang afkan.
"Hah? Terserah Dia lo af! " Elo terkekeh.
"Ayo! " Afkan berjalan keluar begitu saja dan meninggalkan fidira dan elo yg masih di dalam.
"Dia marah! " Tawa elo pecah saat melihat sahabatnya itu sangat ngambek.
"Kok di tinggal sih? " Gerutu fidira.
"Nyonya... Kau harus tahan dengannya. Dia itu sangat bucin tapi di tutup tutupin" Elo masih terbahak.
"Jangan panggil aku nyonya! Aku tidak setua itu pak dokter" Tegas fidira lalu keluar mengikuti afkan.
__ADS_1
"Kenapa mereka sama saja" Elo terkekeh senang melihat tingkah pasangan aneh itu.
Di perjalanan pulang
Fidira dengan santainya mengunyah kripik kentang yg afkan belikan saat melintasi supermarket tadi. Bukan di belikan sih, tapi lebih ke...fidira yg memaksa. Afkan terlihat sedang berpikir keras sedari tadi. Entah apa yg di pikirkan nya, wajahnya seakan ingin mengatakan sesuatu. Terlihat bagaimana afkan yg beberapa kali melirik fidira yg terlihat santai.
"Fi... " Akhirnya afkan bersuara
"Hmm? " Sahut fidira dengan mulut penuh.
"Kenapa kamu bayar uang ganti rugi itu? " Tanya afkan to the poin.
Mendengar pertanyaan afkan, fidira langsung tersedak kripik yg sedang berada dalam mulutnya.
"Eh pelan pelan" Afkan menyodorkan sebotol air. "Keliatan banget kalo emang kamu yg bayar" Imbuh afkan . Dan bukannya selesai batuknya fidira malah memuncratkan air yg baru saja dia minum.
Dan akhirnya bagian depan kursi fidira pun basah semua. Afkan melirik fidira tajam, tersangka pun hanya mampu tersenyum pasrah.
"Janji tak bersihin deh. Beneran bos" Fidira mengangkat dua jarinya membentuk tanda V.
"Jadi bener kamu bayar perusahaan si remon?" Afkan terus menanyakan hal yg sama.
"Pasrah deh" Jawab fidira asal, sambil mengelap bagian depan mobil yg terkena air dengan tissu.
"Jadi bener? "
"Dasar si sahila gak bisa banget di percaya" Gumam fidira ngomel sendiri.
"Ooo jadi kamu suruh sahila tutup mulut? " Rupanya afkan mendengar gumaman fidira yg volume nya emang gak bisa di beda in antara bergumam apa ngomong biasa. "Kenapa kamu bayar mereka? Itu nggak perlu. Mereka hanya manfaatin kita. walau mereka batalin kontraknya, mereka yg rugi bukan kita.katanya kuliah di korea, tapi bisa aja kemakan omongan receh kayak gitu.Jadi please jangan di ulangi! Okey? " Celoteh afkan yg penjang lebar.
*panjang banget ngomongnya*
"Hmm" Fidira berdehem asal.
"Janji? " Afkan kembali menyakinkan
"Hmm" Fidira malas
"Jangan cuma hmm hmm gitu ah.. Nggak jelas itu jawabannya. Atara iya dan tidak" Afkan ceramah.Fidira hanya mengangguk perlahan.
"Ini" Afkan menyerahkan sesuatu saat mereka berhenti di lampu merah. Terlihat sebuah kartu berwarna biru keluar dari dompetnya.
"Apa? " Fidira hanya melirik
"Ini kartu ATM, kamu bisa gunain ini untuk kebutuhan kamu. Saya akan isi setiap bulan." Jelas afkan yg tidak mendapat tanggapan dari fidira. "Ini, ambilah"
"Nggak usah! Saya masih punya" Tolak fidira
*walau nipis sih. 15jt ilang gitu aja* batin fidira mendumel sendiri.
"Maaf karena baru sekarang saya memberi ini. Harusnya dari awal saya kasih ini ke kamu, anggep aja ini bentuk pertanggung jawaban saya ke kamu sebagai seorang suami" Jelas afkan yg terdengar alay di kuping fidira. Padahal sweet sih.
"Pak bos-.. "
"Please! Fidira... Jangan buat saya makin merasa bersalah" Afkan menatap fidira lekat begitu sebaliknya.
"Ba-baiklah.saya akan terima,tapi dengan satu syarat" Fidira menatap afkan serius.
"Terima kasih" Afkan tersenyum dengan mengacak kecil rambut fidira. Lalu menaruh kartu itu di genggaman tangan fidira.
"Tapi apa pak bos sudah tau syarat nya? " Fidira heran.
"Katakan! " Afkan mulai fokus ke jalanan lagi karena lampu sudah hijau.
"Saya pengen pak bos bersikap baik pada mama dan papa! minim saat mereka dirumah kita. Gimana? " Tawar fidira. Terlihat ada perubahan pada ekspresi wajah afkan.
Afkan terdiam.
"Deal? " Fidira mengulurkan tangannya
"Kalo itu mungkin saya nggak bisa" Jawab afkan cuek.
" Okey! Nggak deal, no card" Fidira meletakkan kartu ATM itu di wadah tisu mobil afkan. Dan mengangkat kedua tangannya.
Fidira hanya diam, memandang keluar jendela. Melihat lihat jalanan di cuaca yg cukup panas siang ini.
"Huufff. Baiklah, akan saya coba! " Afkan pasrah, mengalah, bin resah.
"Kalo nggak ikhlas no problem, its okey! " Fidira sok jual mahal. Pura pura ngambek
"Baiklah fidira seftiana afkan indra. Suamimu ini akan mencobanya" Afkan berbicara dengan hormat kepada fidira.
Fidira yg termasuk tipe orang yg blak blakan tak bisa menahan tawa plus senyum malunya dengan pipi yg merona. Afkan tersenyum melihat fidira yg tertawa,dan tidak marah lagi dengannya. Entah sudah berapa kali afkan tersenyum hari ini
"Terima kasih" Fidira tersenyum malu.
"Pak bos, Maafkan mereka, seenggaknya beri mereka kesempatan kedua! Pak bos nggak capek apa? Pura pura no care padahal hati pak bos sakit. Masih mau nggak deket sama mereka? Sudah terlalu lama pak bos menjauh dari mereka. Mungkin pak bos merasa yg paling tersakiti, padahal mereka tak kalah sakitnya ketika harus dijauhi putranya sendiri. Jadi please! Ya? " Celoteh panjang lebar fidira Tiba tiba menasehati.
Afkan terdiam.
"Afkan... " Fidira kembali memanggil nama afkan seperti saat mereka berangkat tadi.Dengan nada sok imut,emang imut sih tapi.
Mendengar itu afkan pun tak sanggup untuk tidak menoleh pada gadis menggemaskan di sampingnya itu.
"Akhiri semua masa lalu dan awali masa depan yg jauh lebih indah. Semangat afkan. Yeeaayyy! " Fidira mengangkat kedua tangannya di hadapan afkan, seperti memberi pesan bahwa afkan tak sendirian. Ada fidira di sampingnya, yg selalu ada. Tapi apakah mungkin untuk selamanya. don't know?
Mobil afkan terlihat memasuki garasi rumahnya. Sebelum turun dari mobil, fidira telah mewanti wanti afkan tentang syarat yg harus di penuhi untuk seminggu ke depan.
Mereka masuk ke dalam rumah bersama. Terlihat papa mama mereka sedang berbincang di ruang tamu.
"Assallamualiakum" Salam fidira menghentikan perbincangan keduanya.
"Waallikumssalam" Fidira segera masuk dan menyalami mereka, fidira melirik afkan yg masih diam mematung di depan pintu.
Akhirnya afkan yg sudah terikat janji pun hanya bisa mengikuti kemauan istrinya itu. Afkan mendudukkan dirinya di sofa dekat fidira duduk. Eittsss! Tanpa bersalaman ya!
"Gimana? Ada yg serius? " Tanya mama nanda terlihat khawatir
"Enggak kok ma, cuma masuk angin biasa aja. Mama sama papa udah minum? Mang asep tadi mana? " Fidira mengalihkan pembicaraan.
"Udah,tadi mama udah buatin minum semua. Dan mang asep nya udah pulang" Jelas mama nanda.
"Ohh...Mama sama papa pasti laper kan? Tapi bi inah nggak ada. Dan fidira nggak bisa.. " Ucap fidira dengan nada merendah.
"Udah nggak papa! Biar mama nanti yg masak. Tapi kalo nggak ada bi inah kalian makannya gimana? " Tanya mama nanda penasaran.
"Kemarin yg mas-"
"Kita pesen delivery " Sahut afkan dingin, dan itu berhasil membuat fidira melotot.
"Udah maaa jangan tanya tanya terus! Fidira tadi masuk angin kan? Biar dia istirahat" Papa Indra yg sedari tadi diam sekarang ikut bicara.
"Enggak paa, fidira nggak papa. Beneran! " Fidira mengacungkan kedua jarinya.
"Siapa bilang? Tadi kata elo kamu harus istirahat kan? " Afkan perhatian
*brengsek! * umpat fidira dalam hati dengan menatap tajam afkan,yg sedang menyinggung senyum sinis.
"Iya sayang sana! Istirahat ya biar cepet sembuh" Ucap mama nanda
"Ayo! Sayang! " Ajak afkan menggandeng tangan fidira untuk berdiri.
Fidira mau tak mau harus mengikuti afkan. "Fidira ke kamar dulu ya pa ma.. Maaf" Fidira merasa tidak enak.
Nanda dan indra pun mengangguk. Afkan segera menggandeng fidira untuk menaiki tangga, saat langkah fidira menuju kamarnya.
"Bukannya-" Fidira bingung
"Huusstt" Afkan merangkul fidira dan membekap mulutnya. Fidira hanya menurut tanpa protes.
Sesampainya di kamar afkan.
Afkan melepas rangkulannya, fidira berusaha menetralkan nafas nya yg sedikit kekurangan oksigen.
__ADS_1
"Istirahatlah" Suruh afkan melepas sepatu kerjanya.
"Di mana? " Tanya fidira asal,malah berjalan jalan melihat kamar afkan yg luas.Pernah lihat sih dulu, tapi kurang puas aja.
"Diam dan tidurlah" Perintah afkan kembali
"Tapi saya nggak ngantuk" Jawab fidira malah memegang gitar akustik berwarna coklat yg terpampang di dinding pojok kamar.
"Ehhh! Jatoohhh! " Pekik fidira saat merasakan tubuhnya melayang."Apa apaan sih? " Fidira meronta ronta.
"Diam lah atau kita akan jat-" Ucapan afkan terpotong saat keseimbangannya hilang.
Brukk
"Aaakhhh" Pikik keduanya saat tubuh mereka jatuh ke lantai.
"Untung gak sakit" Gumam fidira membuka matanya perlahan yg tadinya sempat di tutup rapat.
"Akhhh" Fidira terperanjak kaget saat mendengar rintihan afkan yg ternyata berada di bawahnya.
"Pak bos!"
***
Tok tok tok
"Sayang! Makan malam sudah siap" Teriak mama nanda di luar kamar afkan.
"Sayang! Mama sama papa tunggu di bawah ya! " Ucap mama nanda turun ke bawah.
Dari dalam kamar terdengar suara samar samar. Fidira mengerjapkan matanya perlahan, fidira merasa sulit untuk bergerak. Fidira membuka matanya lebar lebar, terlihat seorang pria sedang tertidur pulas di hadapannya.
Fidira melotot, whattt? Afkan ganteng banget kalo pas tidur, batin fidira. Ingin rasanya fidira berteriak sekencang kencangnya, saat tangan kekar afkan melingkar di pinggangnya.
Jarak mereka begitu dekat, bahkan fidira dapat merasakan hembusan nafas lelah dari afkan. Fidira termenung sesaat ia berpikir apakah dia harus membiarkan afkan tertidur atau membangunkan afkan karena mama dan papa nya pasti sudah menunggu.
"Pak bos" Fidira memanggil afkan dengan pelan.
Afkan tidak bergeming.
"Pak bos! " Panggilnya lagi dengan suara lebih keras dari sebelumnya.
Afkan masih pulas tertidur. Fidira menghela nafas dalam, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yg masih deg deg an.
"Pak bos! " Fidira memberanikan diri menepuk pipi afkan pelan.
"Hmm" Sahut afkan dengan mata yang masih terpejam.
"Afkaaaannn...." Mendengar suara fidira seketika afkan membuka matanya. Fidira saja sampek kaget, dan bingung mau membuang muka ke mana.
"Ada apa? " Tanya afkan dengan suara khas bangun tidur. Dengan mengeratkan pelukannya.
Deg deg deg
*asem! Jantung gue mau copot* fidira memejamkan matanya untuk menetralkan jantungnya.
"Hei!" Afkan mengangkat dagu fidira yg tadinya tenggelam, agar dapat dilihatnya. Fidira mebuka matanya perlahan, terlihat mata besar afkan yg sedang menatapnya.
Wajah fidira memanas, mungkin jika terlihat sudah seperti tomat matang.
PLAKK
***
Di meja makan
"Mereka ngapain sih maa? Lama banget" Papa indra yg sudah tidak sabar menunggu untuk makan.
"Sabar donk paa... Mungkin tadi mereka ketiduran jadi mereka bersih bersih dulu" Mama nanda berpikir positif.
"Yaa... Mungkin" Papa indra fokus kembali pada laptop yg masih menyala di meja ruang tamu.
"Sudahlah ini nyaman... "
"Tapi lihatlah dirimu..!! "
"No problem.. I like it"
"Badan mu hilang ini.. "
Terdengar suara ribut ribut dari lantai atas, yang pasti dari kamar afkan. Papa indra dan mama nanda pun menoleh ke arah sumber suara. Terlihat sepasang pasurti sedang menuruni tangga dibalut dengan perdebatan kecil diantara mereka.
Mama nanda dan papa indra bergegas bangkit setelah mereka selesai turun dari atas.
"Ada apa ini? " Tanya papa indra menghentikan perdebatan antara fidira dan afkan.
"Kenapa ribut ribut? " Tanya mama nanda lembut.
"Nggak papa" Jawab afkan dan fidira kompak.
Mereka semua melongo, bahkan afkan juga fidira tak kalah terkejutnya. Kok bisa kompak ya? Pikir mereka sendiri.
"Baiklah kita makan sekarang aja! Papa udah laper berat" Ucap papa indra menuju meja makan.
"Ayo sayang! " Mama nanda pun mengikuti papa indra.
"Kamu seperti orang gila" Cibir afkan melewati fidira begitu saja menuju meja makan.
"Bodo amat"Fidira menghentakkan kakinya ke lantai.
Di meja makan.
"Sebenarnya apa sih yg kalian ributkan? " Tanya papa indra setelah selesai makan.
afkan melirik fidira sekilas, yg di lirik hanya diam fokus pada makanannya.
"Tidak penting" Jawab afkan singkat
"Tidak baik sering bertengkar, itu akan mengurangi keharmonisan keluarga kalian. Itu sangat tidak baik" Papa indra menasehati.
"Tapi sedikit pertengkaran juga di perlukan lo pa" Mama nanda menyaut.
"Ya.. Mama emang suka bertengkar kan? " Cibir papa indra.
"Tentu.. Karena papa salah" Mama nanda tak mau kalah.
"Tapi papa sudah minta maaf kan" Jelas papa indra lagi.
"Iya.. Tapi papa terus mengulanginya" Mama nanda sedikit menaikan nada bicaranya.
Fidira dan afkan hanya mampu melongo melihat perdebatan antara papa dan mama mereka yg dinilai cukup sengit. Fidira dan afkan saling pandang, namun akhirnya masing masing membuang muka.
"Emm" Fidira tidak sengaja berdehem, dan itu berhasil membuat papa dan mama mereka berhenti berdebat.
"Ahh maaf sayang, udah selesai? " Mama nanda mengalihkan perhatian.
"Su-dah" Jawab fidira polos
"Yaudah sini mama beresin" Mama nanda mengabil piring kotor fidira dan afkan lalu melenggang pergi begitu saja. Menyisakan piring papa indra di meja makan.
"Lihat mama mu itu! Kalo sudah marah papa hanya bisa pasrah" Curhat papa indra.
Fidira tertawa kecil mendengar keluh kesah papa mertuanya itu. "Sabar ya pa... Sini fidira yg beresin" Fidira pun mengambil piring papa indra dan berlalu menuju dapur.
"Sama saja" Afkan bergumam sendiri.
"Apa!? Apakah fidira juga seperti mama mu itu? " Papa indra langsung bertanya setelah mendengar keluhan lirih putranya itu.
Afkan menatap papa indra serius, ia menghela nafas kasar" Dia lebih parah"
Papa indra terbahak melihat putranya yg sama tidak berdaya seperti dirinya. "Papa pikir kau orang yg tegas afkan? " Papa indra terbahak kembali.
"Diam lah! Mengatasi fidira sangat sulit dari pada kontrak yg di batalkan" Afkan menuangkan air putih ke dalam gelas lalu meneguknya.
__ADS_1