
"Tapi apa kamu berpikir? Berapa lama kamu terlambat? Dan karena kecerobohan kamu ini! Saya harus memberi uang ganti rugi untuk wanita licik itu" Afkan juga mulai tersulut emosi.
Fidira tersenyum kecut "okey! Fine! Ceroboh"
"Saya harap kalian tidak mengulangi ini lagi" Afkan meninggalkan fidira dan ian berdua di ruang meeting.
"Brengsekkk" Umpat fidira yg sudah menahan sakit di dadanya dari tadi.
"Kenapa lo gak jujur aja sih fi? " Ian mengelus punggung fidira yg mulai bergetar.
"Itu nggak akan berguna yan! Dia itu egois!" Fidira mengepalkan tangannya kuat
"Tapi seenggak nya lo jujur kan? Siapa tau pak bos bisa ngerti" Ian menasehati
"udah deh, Jangan bahas itu.Makasih udah nolongin gue hari ini" Fidira memegang tangan ian.
"Beneran gak mau nangis lo? " Tanya ian berusaha menghibur fidira.
"Iiihh apaan sih? Udah deh... Gue nanti nangis beneran" Ucap manja fidira yg berusaha menahan tangis nya dari tadi.
"Yaudah nanti ngantin bareng ya! Gue tunggu" Ucap ian mengacak kecil rambut fidira lembut,dibarengi dengan senyuman yg menghangatkan.
Fidira mengangguk senang, ia sangat bersyukur memiliki seseorang yg selalu ada untuknya. Walau perasaan nya sakit saat seseorang itu tak membalas rasa di hatinya, namun ia lebih bersyukur karena masih bisa melihat dan bahkan dekat dengan ian.
Fidira dengan cepat menyelesaikan tumpukan dokumen yg selama ini menjadi makanan wajibnya. Demi bisa menemui ian lebih awal, karena memang fidira biasa istirahat paling akhir.
Afkan terus memperhatikan fidira dari ruangannya yg hanya terhalang oleh kaca. Terlihat jelas bahwa gadis itu sedang terburu buru menyelesaikan pekerjaannya.
Afkan juga bingung kenapa ia tadi sangat kesal dan terbawa emosi saat fidira datang bersama dengan ian. Seperti ada perasaan tidak senang saat melihat mereka berjalan berdua. Karena alasan itulah afkan jadi ingin marah pada fidira tadi.
Saat mengamati fidira, tidak sengaja pandangan mereka bertemu untuk sekian detik. Pandangan mereka terkunci satu sama lain. Buru buru fidira membuang muka karena terkejut. Sedangkan afkan berlagak seperti tidak terjadi apapun. Padahal juga deg deg an sih.
Di kantin.
Terlihat kantin begitu ramai pengunjung kantor. Begitu pula dengan fidira dan ian yg berlomba menghabiskan makanan terlebih dahulu. Seporsi mie ayam sudah habis, fidira dengan senyum penuh kemenangan meneguk air mineral dari botol.
"Gimana? " Fidira berlagak sombong.
"Please! Gue beneran gak kuat" Keluh ian yg tidak kuat makan dengan cepat.
"Jadi fiks lo kalah. Emang kalah dari tadi kan" Ucap fidira terkekeh senang.
"Iya iya kalo soal makan gue selalu kalah" Ian pasrah karena memang itu kenyataannya. "Eh btw gak ada yg sakit kan? " Tanya ian teringat luka di lengan fidira yg sudah terbungkus perban.
"Enggak, percaya deh" Fidira tersenyum.
"Tapi kalo ngerasa sakit lo bilang gue ya! "
"Iya iaannn. Bawel banget sih" Fidira mencibir.
"Udah sana! Cepet masuk, biar cepet kelar dan bisa istirahat" Ia menasehati.
"Iiihh males banget balik kesana! Pasti ketemu pak bos. Badmood ahh" Rengek manja fidira.
"Eittss gak boleh gituu. Udah cepett! " Paksa ian.
"Iya iya, byee... Jangan lupa di bayar! " Ucap fidira dengan melenggang pergi.
"Andai lo milik gue fi. Maaf banget" Gumam ian menatap sendu punggung fidira yg perlahan menghilang.
Di tempat lain.
"Apa maksud mu? Suruhan ku sudah berhasil mengambilnya"
"Tapi kenapa dia bisa mendapatkannya kembali? " Terdengar suara seorang wanita marah marah
"Bahkan dokumennya sekarang sedang bersama ku"
"Ahh terserah! Lain kali aku tidak mau ada kesalahan seperti ini lagi"
Tut
"Brengsekk! Jadi dia berhasil lolos dari masalah ini? Lihat saja! lain kali lo gak akan bisa lolos" Gumam seorang gadis dengan emosi yg sudah mengerubungi dirinya.
Fidira berjalan menuju ruangannya dengan terus memegangi lengannya yg mulai terasa perih. Sampai ia berada di depan pintu ruangannya, saat ingin membuka pintu ternyata pintu itu sudah terbuka terlebih dahulu. Terlihat afkan sedang berdiri di sana, seperti akan keluar ruangan.
Mereka berhadapan, saling tatap, pandangan keduanya terkunci. Hening! Tak bisa berkata kata. Mulut mereka tak bisa mengucapkan satu kata pun, hanya mata mereka yg menyorotkan isyarat satu sama lain.
Brakk
Sampai dokumen terjatuh dari tangan afkan yg membuat mereka tersadar dan langsung membuang muka. Untuk menghilangkan rasa gugupnya,afkan segera mengambil dokumen yg terjatuh. Sedangkan fidira memilih melengos masuk ke dalam ruangan begitu saja.
Dengan tangan yg masih mengumpulkan dokumen, afkan menyempatkan diri untuk menengok ke belakang. Melirik fidira yg sedang mengotak atik ponselnya. Serasa cukup afkan pergi dari sana.
"ihhh ngapain juga sih pas pas an gituu?" Gumam fidira saat afkan sudah pergi dari sana. "Please! Semoga wajah gue tadi kelihatan cool banget. Please! Semoga ekspresi peduli gue gak terlihat" Doa fidira saat mengingat kejadian barusan.
Pukul 16.00 sore
Jam kantor sudah usai, banyak para karyawan yg sudah pulang. Begitupun dengan fidira yg sudah lelah akan pekerjaannya hari ini. Rasa pusing,dan juga pegal pegal di seluruh tubuhnya mulai terasa akibat efek tadi pagi.
"Astagfirullah, pusing banget ya allah" Fidira beranjak dari duduknya, ia mengambil tas nya lalu berjalan keluar. Sebelum pulang ia mampir ke bagian keuangan kantor menemui sahila.
"Ahh...selamat sore! Ada apa bu bos? " Tanya sahila yg terlihat sudah berkemas.
" sore" Fidira tersenyum "Emm gini... Minta waktunya bentar boleh gak? " Fidira mendudukkan dirinya saat sahila mempersilahkan ia duduk.
"Jadi? " Tanya sahila saat melihat wajah fidira yg ingin mengatakan sesuatu.
"Gini... Apa ada tagihan ganti rugi dari perusahaan reymoni?" Tanya fidira to the point.
Sahila berpikir sejenak "mungkin ini yg di bilang citra tadi" Pikir sahila.
__ADS_1
"Ahh iya, ada sejumlah uang yg harus di kirimkan ke perusahaan reymoni untuk ganti rugi atas keterlambatan meeting" Ucap sahila saat melihat ke layar komputernya.
"Kira kira mereka minta berapa? "
"Disini tertulis 15jt untuk biaya keterlambatan dan juga layanan yg kurang berkenan" Ucap sahila enteng
"Apa!" Pekik fidira tidak percaya
"Ada apa bu bos? "
"Hah? Enggak maksud nya gini, itu di kasih bates waktu gak? "
"Enggak tertulis sih di sini" Sahila menatap fidira dengan senyum smrik.
"Yaudah gini aja! Uang ini biar saya yg ganti. Jadi dalam tagihan bulan ini gak usah di minta. Okey? " Fidira membuka sebuah aplikasi di ponsel pintarnya.
"Jadi.. Ini pakek uang nya bu bos gitu? Gak pakek uang perusahaan? " Tanya sahila sedikit bingung.
"Iya. Jadi nggak usah ambil uang perusahaan ya! Ini berapa no rek nya?"
Akhirnya fidira mentransfer uang ke perusahaan untuk mengganti rugi biaya yg ia timbulkan hari ini. "Yaudah makasih ya hil" Ucap fidira beranjak dari duduknya.
"Iya bu bos, tapi ini.. " Ucapan sahila terhenti membuat fidira mengerut kan dahinya.
Fidira lalu tersenyum "ini rahasia" Fidira menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, lalu melenggang pergi begitu saja.
"Kau sangat baik, tapi kau memilih untuk menjadi masalah. Maaf fidira! Mungkin jalan mu akan sedikit sulit kedepannya" Sahila tersenyum menyeringahi dengan terus menatap fidira yg semakin lama menghilang.
Sesampainya di rumah, fidira segera membersihkan dirinya lalu mengurung diri di kamar. Dirinya benar benar badmood hari ini. Udah pusing, capek, kesel sama bosnya, dan harus ngikhlasin uang 15jt nya secara cuma cuma hanya buat orang yg merusak harinya.
Namun saat menjelang malam perutnya mulai meminta jatah makan. Untung saja dia membeli roti sebelum pulang tadi. Jadi gak perlu keluar kamar cuma buat makan aja, dan juga kemungkinan ada afkan di meja makan males banget pikir fidira.
Setelah makan cukup banyak roti, fidira pun tertidur dengan roti yg masih berada di tangannya. Jorok! Ya emang gitu sifat gadis satu ini, gak bisa banget jadi cewek dikit aja.
Disisi lain afkan berada di meja makan sendiri, pandangannya terus terarah ke pintu kamar fidira yg tak jauh dari sana. Berharap gadis itu muncul dan ikut bergabung bersamanya.
Entah mengapa hati afkan menjadi ingin sekali melihat gadis itu tersenyum seperti biasa. Padahal biasanya afkan sangat kesal dengan kekonyolan fidira, tapi tidak berlaku untuk sekarang.
Afkan bangkit dari duduk nya, entah sadar atau tidak langkahnya membawa dirinya menuju kamar fidira. Afkan sempat menarik nafas dalam sebelum mengetuk pintu kamar fidira.
Tok Tok Tok
Afkan menunggu respons dari sang penghuni kamar, namun tidak ada sahutan. Afkan mengetuknya sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras dari yg tadi. Namun juga zonk! Tidak ada respons.
Afkan memberanikan diri untuk membuka perlahan pintu fidira yg memang tidak pernah di kunci. Afkan mengintip dari balik pintu, terlihat gadis yg ia cari sedang tidur pulas dengan kamar yg berantakan.
Afkan tersenyum lega, setidaknya hatinya bisa terobati walau hanya dengan melihat wajah fidira yg sedang tertidur. Afkan memberanikan diri untuk mendekat, senyumnya semakin lebar saat mengetahui fidira tertidur dengan tangan yg masih memegang roti. Hampir saja afkan tertawa akan hal itu.
Afkan mengambil roti tersebut dan mengembalikan di wadahnya, ia juga membersihkan sisa sisa roti yg berada di tempat tidur fidira. Lalu afkan mematikan ponsel yg masih menyala dan menaruhnya di atas nakas.
Afkan menarik selimut yg di tiduri fidira, entah bagaimana tidur gadis ini?selimut pun di jadikan sprei ke dua untuknya. Setelah selesai menyelimuti fidira, afkan duduk di tepi tempat tidur. Ia memandangi wajah polos gadis itu sewaktu tidur.
Sangat puas rasanya jika bisa memandang lebih dekat dan lebih lama, walau fidira sedang tertidur aura cantiknya tidak luntur sedikit pun. Afkan menyibakkan rambut fidira yg menutupi wajahnya, sampai tangan afkan berhenti di sudut bibir fidira
Afkan merasa kesal saat mengetahui lebam di beberapa titik wajah fidira. Karena ia sudah sering mengingatkan fidira untuk tidak membuat masalah yg akan membahayakan dirinya sendiri, namun fidira selalu menjawab *tenang bos, i am fine percaya deh!* kata kata itu terus terngiang ngiang di kepala afkan.
Fidira selalu berhasil membuat afkan percaya padanya, dan apa sekarang yg dia lihat. Luka lebam di mana mana? Afkan merasa telah gagal untuk menjadi suaminya. Enggak! Ini lebih ke untuk melindungi fidira, setidaknya hanya saat fidira menjadi istrinya. Ia sudah beberapa kali di bohongi oleh gadis itu. Bilang gapapa ternyata habis baku hantam sama copet,kalo enggak! sama anak sekolahan yg mau tawuran lalu di hadang oleh fidira.
Its okey? Afkan masih memaklumi dunia fidira yg terlalu ekstrem untuk cewek umum menurutnya. Dan itu membuat afkan khawatir tapi rasa khawatir itu telah tertutup dengan adanya kekesalan yg berujung ketidak pedulian.
Keesokan harinya.
Afkan berangkat ke kantor pagi pagi sekali, terlihat ia sangat buru buru pagi ini. Sebelum pergi ia sempatkan untuk membuat sarapan untuk dirinya, dan juga fidira yg masih belum menampakkan wujudnya.
Ia menaruh sepiring nasi goreng di atas meja makan yg ditutup dengan tudung saji. Lalu afkan segera pergi ke kantor, karena ia melupakan dokumen kemarin yg harusnya selesai pagi ini.
Pukul 09.00 pagi
Fidira belum juga masuk ke kantor, padahal ini sudah lewat dari kata telat. Afkan geleng geleng kepala saat menatap kursi kosong di sebrang mejanya. Terserah! Pikir afkan yg kembali fokus pada komputernya. Seakan ia sudah lupa dengan perasaan tadi malam saat hatinya benar benar merindukan fidira.
Tok Tok Tok
"Masuk"
Sahila masuk ke ruangan afkan dengan beberapa dokumen di tangannya. "Ini pak laporan keuangan minggu ini"
"Ya taruh di situ! " Perintah afkan tanpa melirik sahila sedikit pun.
"Emm bapak nggak mau ngecek dulu? " Tanya sahila membuat afkan menghentikan aktifitas nya lalu beralih menatap sahila yg sedang tersenyum.
"Mana berkas dari perusahaan reymoni? " Tanyanya dengan nada dingin.
"Ini" Sahila memberikan map bewarna hijau. Afkan membaca nya dengan teliti, sampai matanya menyipit saat berada di lembar terakhir yg bertuliskan pengeluaran.
"Uang ganti rugi? " Tanya afkan menatap sahila seakan penasaran.
"Ya pak, kemarin perusahaan reymoni mengirim permintaan ganti rugi atas waktu yg terbuang sia sia pada saat meeting" Jelas sahila
"Lalu? Kamu kasih? Soalnya di sini sudah tertulis lunas" Tanya afkan menyelidik.
"Bapak nggak tau? " Sahila balik bertanya, sebenarnya ia tahu bahwa afkan tidak akan mengganti uang itu. Dan ia berniat memberitahu afkan tentang rahasia fidira.
"Apa!? " Tanya afkan acuh tak acuh
"Kemarin bu bos yg membayarnya, saya kira bu bos sudah izin ke bapak. Jadi saya clear kan" Jelas sahila sok polos.
"Apa maksud mu? Apa kamu tidak menghentikannya? Biasanya kamu selalu bertanya dulu sama saya. Ini uang yg tidak perlu diganti, seharusnya kamu jelaskan pada fidira. Kamu sudah lama kan bekerja sama saya? dan harusnya kamu tahu prosedur sebelum memberi sejumlah uang pada perusahaan lain" Ucap afkan marah marah.
"Maaf pak! " Sahila menunduk
*malah kena semprot gue,gak papa yg penting fidira bakal kena semprot juga* batinnya menghibur diri
__ADS_1
"Baiklah kamu boleh pergi! Jangan di ulangi lagi" Ucap afkan menaruh dokumennya lalu kembali fokus pada komputernya.
Setelah sahila pergi, afkan malah menatap meja fidira yg masih kosong. Ingin rasanya ia memarahi sekretarisnya itu. Melakukan tindakan yg seharusnya tidak fidira lakukan hanya untuk menyelamatkan reputasi perusahaannya.
Walau fidira tidak bilang bahwa uang itu untuk menutupi kesalahannya dan reputasi perusahaan yg kurang profesional, tapi afkan bisa menebaknya hanya dari tindakan fidira yg diam diam seperti ini.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu terdengar kembali, afkan tersadar dari lamunannya yg sudah jauh.
"Masuk! "
Terlihat seorang pria paruh baya dengan baju putih dan celana biru dongker, juga pentungan yg selalu ada di samping kaki kirinya tak lupa topi yg bertuliskan "SECURITY" Melekat di kepalanya.
"Permisi pak? "
"Iya ada apa pak ? " Tanya afkan sopan.
"Ini rekaman CCTV kemarin, ada suatu kejanggalan di beberapa titik pak. Soalnya ada yg sengaja mematikan CCTV nya" Jelas satpam itu dengan memberi salinan rekaman.
"Kejanggalan apa? " Tanya afkan dengan menerima salinan rekaman lalu menyambungkannya di laptopnya.
"Hmm bapak liat sendiri aja! Saya permisi pak" Pamit satpam itu,diangguki oleh afkan.
Setelah kepergian satpam itu, afkan segera mengecek rekaman CCTV, dan benar saja ada beberapa titik CCTV yg mati. Padahal saat pukul 05.30 pagi CCTV masih hidup dan pukul 06.00 pagi CCTV pun mati.
Dan anehnya lagi CCTV yg mati hanyalah area kamar mandi dekat ruangan afkan, koridor depan ruangan afkan, ruangan fidira dan juga ruangan afkan.
Afkan beralih melihat ke titik CCTV lain, ia mempercepat tayangannya namun 45mnt setelahnya afkan menekan tanda pause dan vidio rekaman terhenti. "Fidira? " Gumam afkan saat mendapati gadis yg sangat ia kenali sedang berlari ke arah koridor buntu.
Dan ada sesuatu juga yg membuatnya tak kalah terkejut, yaitu seseorang misterius dengan pakaian serba hitam dengan map biru di tangannya. Terlihat sangat panik saat berhenti di koridor buntu. Lalu di ikuti dengan fidira yg berhasil mengikutinya.
Afkan menyaksikan bagaimana pertarungan baku hantam antara pencuri itu dengan fidira. Walau hanya melihat dari rekamannya tapi afkan bisa merasakan seberapa keras pukulan dan tendangan yg di lakukan pencuri itu kepada fidira.
Tangan afkan mengepal kuat saat melihat adegan fidira terkena pisau dan terhuyung ke tembok. Tiba tiba dadanya terasa sesak saat melihat fidira merintih sendiri di sana.
Tanpa berlama lama afkan menutup laptopnya lalu keluar dari ruangan. Dengan langkah cepat ia menuju parkiran dan menjalan kan mobilnya.
"Maaf" Hanya kata itu yg dapat terucap berulang kali dari mulut afkan sepanjang perjalanan. Hatinya sangat sakit, teringat saat ia membentak gadis itu. Bahkan gadis itu rela baku hantam, hanya karena dokumen perusahaan yg tidak penting menurut afkan di banding keselamatan seseorang.
SRREETTT
Mobil afkan terparkir di garasi rumahnya, ia bergegas masuk ke dalam rumah. Afkan menebar pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Namun tidak mendapati gadis yg ia cari. Mata afkan tertuju pada pintu kamar fidira yg masih tertutup.
Afkan mengetuk pintu perlahan, namun tidak ada jawaban. Afkan mengetuk pintu untuk ke dua kalinya. Tapi tetap tidak ada jawaban, akhirnya afkan memutuskan untuk membuka pintu cukup kencang.
Kali ini afkan tanpa mengintip dulu, ia langsung masuk begitu saja. Terlihat fidira sedang berusaha untuk berdiri dari duduk nya. Mendengar suara pintu terbuka fidira pun menoleh.
Bruukk
"Hah? " Fidira sangat terkejut saat afkan tiba tiba memeluknya.
"Maaf" Ucap afkan dengan mata terpejam dan suara lirih.
Fidira semakin tidak mengerti tentang keadaan yg dialaminya saat ini. Fidira bisa merasakan ada rasa penyesalan di dalam diri afkan.
"Pak bos maaf" Fidira berusaha melepas pelukan afkan. Namun usaha nya gagal, afkan malah mengeratkan pelukan.
"Tidak sebelum kamu maafin saya" Ucap afkan tepat di samping telinga fidira.
"Tapi maaf untuk apa? " Fidira tidak mengerti
"Maaf karena saya udah bentak kamu" Ucap afkan semakin memperat pelukannya.
"Aw! Tapi jangan seperti ini! Saya bisa mati" Fidira meronta ronta.
"Apa maksud mu? " Tanya afkan melepas pelukannya beralih memandang wajah fidira dan memegang kedua bahunya. Afkan mendekatkan wajahnya, fidira yg salting, panik, dan bingung menyembunyikan rona merah yg sudah muncul di kedua pipinya. Fidira hanya mampu menunduk.
"Kenapa kamu menunduk? " Afkan mengangkat kapala fidira agar dapat menatapnya. "Apa ini sakit? " Tanya afkan menyentuh sudut bibir fidira.
"Ah.. Ti-tidak" Fidira memalingkan wajahnya.
"Hei! " Afkan kembali menghadapkan wajah fidira ke arahnya. "Maaf in saya, harusnya saya nggak bentak kamu pagi itu. Dan semua ini nggak akan terjadi" Ucap afkan menundukkan wajahnya.
Fidira melihat penyesalan mendalam di dalam diri afkan. Hati fidira tersentuh, melihat laki laki di depannya sedang menunduk penuh penyesalan. Ya! Ini lah fidira, yg selalu luluh saat melihat seseorang kesusahan ataupun merasa bersalah.
"Tapi jika pak bos nggak bentak saya waktu itu, mungkin kita malah berurusan dengan perusahaan reymoni yg lebih rumit" Ucapan fidira membuat afkan mengangkat kepalanya.
"Apa maksudmu? Saya bisa batalkan semua kontrak,asalkan semua baik baik saja. Dan terutama kamu! " Ucap afkan tegas.
"Tapi... Saya nggak ingin lihat pak bos jatuh di hadapan mereka. Apa pak bos akan menyerah kepada mereka begitu saja? " Tanya fidira balik.
"Ya! Saya akan menunduk kepada mereka, asal kamu baik baik saja" Ucap afkan menatap fidira lekat.
Mendengar perkataan afkan, sedikit membuat fidira salting. Apa mungkin? Seorang CEO tampan dan kaya raya seperti ini akan menunduk begitu saja, hanya demi dirinya? Fidira berpikir sejenak sebelum hatinya akan ke GR an.
"Ahh sudahlah terserah! " Fidira ingin pergi dari sana. Namun afkan menahannya, dan itu membuat fidira bingung.
"Apa kamu sudah maafin saya? " Tanyanya lagi.
"Iya" Fidira bersuara dengan malas.
"Oh ya? Maaf in atau enggak? " Tanya afkan lagi dengan nada menyakinkan.
"Iyaaaaa, ya ampun" Fidira berjalan keluar kamar
"Mau kemana kamu? " Tanya afkan mengikuti.
"Kamar mandi" Jawab fidira cuek bebek masuk ke kamar mandi.
"Duuhhh pusing banget" Gumam fidira saat berada di dalam kamar mandi. Bukan bergumam sih lebih ke ngomong sendiri dengan volume, yaa lumayan lah.
__ADS_1
Setelah beberapa saat fidira menampakkan dirinya kembali.
"Kamu sakit? " Fidira terkejut saat mendapati afkan yg sudah berada di hadapannya.