Perjanjian Cinta

Perjanjian Cinta
72


__ADS_3

Sebuah Kue coklat melayang dan jatuh ke lantai. Kue yg tadinya terlihat imut dan manis itu.. Kini semua cream nya berceceran di lantai.


Semua orang terdiam, menatap kue yg sudah hancur dan beralih memandang pria yg sudah di penuhi dengan aura dingin.


"Siapa suruh kalian ngrayain ulang tahun saya? " Tanya afkan dengan nada menyeramkan. Fidira sampai bergidik ngeri.


PLAAKK


Tamparan keras mendarat di pipi mulus afkan. Derai air mata nanda mulai menetes, fidira diam terpaku.


Dua pasang mata saling menatap dengan tajam dan penuh amarah. Keadaan menjadi hening dan penuh tekanan.


"Apa yg kamu pikirkan afkan? Mama dan istri mu ingin memberi sesuatu yg baik padamu. Tapi kau... Sikap mu sungguh ke kanak_ kanakan" Indra berbicara dengan sangat tegas. "Ada apa dengan mu afkan? Kau sangat berbeda dari afkan kecil yg papa kenal"


Afkan tersenyum sinis "ya... Afkan kecilmu dulu telah berubah pak indra. Apa anda pernah tau bagaimana anak mu ini berkembang. Bagaimana anak mu di sekolah, anda selalu menuntut nilai baik dari ku dan tidak tau penderitaan ku selama ini." Afkan mulai membuka suara tentang semua yg ia simpan selama ini.


".... Anda membanggakan ku di depan semua rekan bisnis anda, karena saya bisa membangun perusahaan sendiri, saya selalu juara di kelas, selalu menjadi lulusan terbaik. Tapi... Apa anda pernah berpikir bagaimana tertekannya afkan kecilmu itu.... "


"... Anda akan menghukum saya jika sampai saya tidak mendapat peringkat pertama. Karena anda ingin menjadi yg terbaik kan di mata para teman bisnis anda. Kau tau...Itu sangat menyakitkan... " Afkan berbicara panjang lebar mengeluarkan semua rasa sakit yg ia pendam selama ini. Namun tak lepas dari sikap dinginnya.


"Dan juga....siapa yg tega merayakan hari ulang tahun nya yg bertepatan dengan hari kematian mamanya sendiri. Hmm? "


Fidira seakan tertusuk, ia tak tau bahwa hari ulang tahun afkan bertepatan dengan hari kematian mama kandung nya, yaitu sarah.


Begitu dengan Indra juga merasa tertusuk dengan perkataan anak tunggalnya itu, ternyata banyak kesalahan yg di perbuatnya untuk menjadikan afkan yg terbaik, tapi malah menyakitinya.


Fidira yg melihat kejadian menyesakkan ini merasa iba pada afkan. Sosok dingin yg terkenal tidak peduli itu ternyata memiliki rasa kesepian yg mendalam.


"Afkan kau... "


"Iya pa... Iya.. Aku sangat kesepian selama ini" Air mata afkan mulai meloloskan diri menuju pipi lembutnya itu. "Dan dia... " Menunjuk nanda dengan tatapan kebencian.


"Diaaa.... "


Happ

__ADS_1


Sebelum afkan mengeluarkan kebencianya kepada nanda, fidira sudah memeluk afkan dari depan.


"Stop!" Lirihnya memeluk erat afkan "stop please! " Tambah fidira kembali dengan sangat tulus, membuat afkan bungkam.


"Udah paa" Bisik mama nanda menenangkan suaminya.


Dengan tegas afkan menarik fidira untuk keluar rumah, fidira menoleh pada kedua mertuanya, nanda hanya mengangguk.


Tanpa penolakan fidira pasrah dengan tindakan afkan. Karena ia tau mood afkan pasti sedang anjlok. Fidira lebih memilih diam dan menurut, tidak berontak untuk saat ini. Dari pada kena semprott yekann? ☺


Sesampainya di halaman depan


Afkan segera membuka pintu mobil dan memasukan fidira, di ikuti dengan dirinya juga masuk ke dalam mobil.


Afkan tanpa berbicara sedikit pun langsung menginjak gas, dengan cepat mobil meninggalkan pekarangan rumah papanya.


Hening...


Tidak ada percakapan selama di perjalanan, aura mencekam sangat dirasa oleh fidira. Afkan dengan ekspresi datarnya hanya diam dan fokus mengemudi. Sikap ini membuat fidira tertekan.


Sampai akhirnya...


"Arrrgghhh.... Pak bos bisa nggak jangan kayak tadi? Bikin orang jantungan tau gak?! Lagian tu kue tadi yg buat tu saya, susah susah buat... Ehh.. Malah melayang. Dan pak bos tau, saya buat tu kue percobaan yg ke_7 kalinya lo baru jadi tu tadi... "


"Mbok ya di hargain gitu. Walau mungkin emang gak enak. Apaa jangan jangan pak bos udah tau kalo itu gak enak!? Lalu di buang gitu. Aisss itu adalah kue terbaik yg pernah saya buat pak bos. " Omel fidira panjang kali lebar kali tinggi, dan tak lupa dengan berbagai ekspresi lebaynya. sedangkan Yg diomeli hanya diam, mendengarkan,mungkin nglirik sekilas aja.


"Au ahhh" Fidira cemberut membuang muka.


Tiba _ tiba mobil afkan menepi dan berhenti di depan sebuah gedung.


Fidira melirik afkan yg tengah menyandarkan kepalanya sembari menutup mata, seperti ingin menikmati ketenangan yang hakiki.


Clingg!!


Suatu ide mendarat di otak fidira, ia tersenyum sembari menoleh ke arah afkan.

__ADS_1


Afkan yg sadar akan hal itu membuka matanya, mengamati gadis dengan senyum manis menatap ke arahnya.


"Ada apa? " Dingin


"Keluar yuk" Ajaknya bersemangat.


"Kamu sendiri aja! " Tolaknya memtah mentah.


"Ayokk lah boss! " Menggoyang goyangkan lemgan afkan "kita hirup angin malam sekali sekali" Rengek nya.


Afkan yg merasa terganggu,akhirnya terpaksa mengikuti fidira. Mereka berjalan jalan santai di trotoar, fidira sangat senang dapat memghirup udara malam. Begitu juga dengan afkan yg mulai merasa nyaman dengan hembusan angin malam.


"Seru juga" Ucap fidira tersenyum senang.


"Hmm iya" Jawab afkan focus ke depan.


Mendengar jawaban afkan, fidira menoleh lalu mengernyitkan dahinya. "Gitu pak bos! Kan di lihatnya enak...."


"Pak bos jangan marah marah... Nanti pak bos cepet tuaa.... " Fidira melanunkan lagu yg sedang tren di kalangan anak muda itu dengan heboh.


Melihat tingkah fidira, afkan ingin sekali tertawa namun ia tahan. Afkan tidak mau kehilangan kewibawaan nya apalagi di hadapan fidira yg suka menggodanya.


Cukup jauh mereka berjalan, sampai fidira melihat bangunan yg tak asing baginya. Tanpa meminta persetujuan dari afkan, fidira menarik tangan afkan untuk mengikuti langkah nya.


Afkan terdiam. Entah mengapa hatinya tidak pernah menolak jika itu ajakan dari fidira.


Sampai akhirnya mereka sampai di sebuah atap gedung yg sangat tinggi. Afkan sedikit kaget dengan tindakan fidira yg terkesan ekstrim.


"Nga_ngapain kamu ajak saya kesini? " Tanya afkan sedikit gugup.


Fidira membalas dengan senyuman sinis bak psikopat yg siap menghabisi korbanya. Fidira dengan langkah pelan mendekati afkan, sedangkan afkan yg gugup reflek berjalan mundur.


"A-pa yg kau lakukan?" Tanya afkan yg sudah berada di sudut tembok.


Fidira tersenyum sinis .

__ADS_1


BAGGHH


__ADS_2