
***
"Pagi bos...ini buat bu bos" sahila memberi paperbag lalu pergi.
"Lololo....eh...lah kenapa sih?" heran fidira menatap punggung sahila yg semakin menghilang.
Fidira membuka paperbag alangkah terkejutnya dia saat mendapati isi paperbag tersebut.
"Gila!!" heboh fidira menatap sekotak pizza yg terlihat sangat lezat.
"Alhamdullillah... Rezeki...bagi sama ian aahhh" ucapnya senang
Drrtttt.
Drrtttt.
"Hallo, yan makan siang ke ruangan gue ya gak usah ke kantin"
.....
"Hmm? Lo nggak masuk? Lo sakit? Sejak kapan? Kok nggak ngabarin?" tanyanya bertubi tubi.
.....
"Hmm...arasso...gue nanti ke situ deh...cepet baikan ya...bye" fidira menutup ponselnya dan memasang wajah cemberut.
"Huff...ian Lo sakit lagi" gumam fidira cemberut.
"Pagi pagi gak usah nekuk muka" suara seseorang mengagetkan fidira.
"Nggak usah ngajak warr...lagi bad mood" jawab fidira menenggelamkan wajahnya di meja.
"Tumben"
"Pak bos" panggilnya
"Hm?"
"Ni...buat pak bos...dimakan ya!" ucap lesu fidira memberi paperbag berisi Pizza.
"Enggak kamu aja"
"Yaudah tak buang e" fidira beranjak ke tempat sampah namun ditahan oleh afkan.
"Loh...kan sayang..biasanya soal makanan kamu suka?"
"Lagi bad mood" jelas fidira lesu.
"Mending kita makan bareng aja!" ajak afkan.
"Gak mau...gak selera saya"
"Yaudah buang aja!"
"Hm" akhirnya fidira membuang pizza tersebut ke tempat sampah.
*dia gitu banget...tumben* batin afkan heran.
***
Tok tok tok
"Iaaannnn......iaaaan"
Ceklek.
"Hai"
Fidira tersenyum.
"Masuk!"
"Hmm..lo sakit apa lagi sih? Lambung lo kumat lagi?" tanya fidira
__ADS_1
"Biasalah...makannya sembarangan" ucap ian cengengesan.
"Masih aja ketawa!!...di bilangin jangan makan yg pedes pedes...jadi gini kan" omel fidira
"Iya iya bu boss maaf in anak buahmu yg khilaf ini"
"Itu obat lo? ....kok banyak banget" tanya fidira menunjuk sekotak obat.
"Hmm...yaaa...ini kan obat beda beda" alasan ian agak panik, dan berhasil membuat fidira mengangguk percaya.
"Oke...sekarang kita makan..karena gue udah bawain rujak yg gak pedes buatan mang didik" ucap fidira semangat menunjukan sekantung kersek.
"Lo gak capek fi...baru pulang udah kesini aja?" tanya ian
"Gak..gue kan strong"
"Iya...bos gue emang seterong....terong hhh" ian terbahak bahak membuat fidira manyun.
"Eh tadi ada yg ngasih pizza tapi gue buang" cerita fidira melahap sesuap rujak.
"Lah..kan sayangg" ian protes
"Iya sih...gak ada elo gak mood gue"
"Ciee...perhatian banget bu bos kuuu..." dramatis ian..."eh tpi ngiming ngiming dari siapa?"
"Dari sahila"
"Em...fi lo inget kan pesen gue...jangan terima apapun dari si bendahara itu...ngerti?" serius ian
"Gue gak terima yannn dia yg maksa...lagian kenapa sih...? Itu kan rezeki"
"Pokok nggak boleh...demi elo ini fi...gue punya firasat buruk deh tentang dia...jadi lo harus jauh jauh dari dia...okey?"
"Hmm...iyaaa tpi dia baik yann"
"Tetep nggak boleh...fix no debat"
"Iyee"
***
"Alay lo yan"
"Pokok nya lo gak boleh deket sama dia...gue tu curiga ada yg gak beres"
"Udah deh jangan berprasangka buriq nanti hatinya ikutan buriq lo" ucap fidira menunjuk dada ian.
"Hmm...iya deh"
"Gitu donkk"
***
Tok tok tok
"Assalammuallaikum" seseorang mengetuk pintu.
"Waallaikumssalam" bi inah membuka pintu.
"Eh nyonya sama tuan....silahkan masuk!" ucap bi inah mempersilahkan.
"Iya bi makasih....afkan sama fidira?" tanya pak indra.
"Hm...mereka belum pulang pak"
"Jam berapa sekarang kok belum pulang" ucap pak indra sembari melihat arlogi nya.
"Udahlah pa...mungkin ada pekerjaan mendesak" ucap bu nanda.
"Mau minum apa nyonya tuan?"
"Kop-" ucapan papa indra terpotong bu nanda.
__ADS_1
"No no...teh aja bi.....sama ini tolong di simpen ya!" ucap bu nanda memberi beberapa paperbag besar.
"Siap bu" bi inah membungkuk kan badan lalu pergi.
Brreeuuummm
Suara mobil afkan terdengar memasuki garasi.
"Haisss papa" gumamnya melihat mobil hitam terparkir di halaman rumahnya yg cukup luas.
"Assalammuallaikum" ucap afkan masuk.
"Waallaikumssalam" papa indra dan mama nanda tersenyum.
"Hmm...dimana fidira?" tanya papa indra.
"Hm..masih ada urusan" jawab afkan singkat ikut duduk di sofa ruang tamu.
"Bi buatin teh buat afkan juga ya!" teriak lembut bu nanda.
"Kopi aja bi" susul afkan berteriak dingin.
Breuummm
Suara motor fidira memasuki garasi rumah.
"Assalammuallaikum" Teriak heboh fidira memasuki rumah seperti biasa.
"Waallaikumssalam" jawab semua orang dengan lembut dan menoleh ke arahnya.
"Eh" fidira tersentak sedikir tersenyum kikuk mendapati afkan, serta orang tuanya di ruang tamu.
"Baru pulang sayang?" tanya bu nanda menghampiri fidira yg masih terpaku di depan pintu.
"Hm? Hehe...tadi ada urusan dikit ma" jelasnya mencium punggung tangan mama nanda.
"Tumben mama sama papa ke sini?" tanya fidira basa basi menyalami papa indra.
"Iya tadi habis belanja sekalian mampir" jelas papa indra.
"Ooo" fidira ikut duduk disamping afkan sembari menatap afkan sekilas.
"Ini minumnya....hm...non fidira mau minum?" bi inah membawa beberapa gelas di nampan.
"Air putih aja bi" ucap fidira diangguki oleh bi inah.
"Kalian ke kantornya gk barengan? " Tanya papa indra membuat keduanya tersentak.
"Em- anu.... "
"Gini paa... Biasanya kita barengan tpi hari ini fidira ada keperluan jadi naik motor. Iya kan fi? " Jelas afkan menatap fidira.
"Iya... Gitu paa.... Hehe" Jawab fidira canggung.
"Ini non" Bi inah yg baru datang menaruh minuman di depan fidira sembari mencebikan mulutnya di hadapan fidira dan afkan membuat keduanya melotot.
"Mak-asih bi" Ucap fidira segera meneguk air dalam gelas hingga habis.
"Seger ya? " Ucap mama nanda.
"Heh? " Fidira tersentak melihat gelas nya yg sudah kosong.
"Haus ya fi... Gak papa lah... Kannyegerin" Sahut papa indra.
"Kalian kalo mau bersih bersih...silahkan...papa sama mama masih lama kok disininya" jelas papa indra.
"Iya pa, afkan tinggal ke atas dulu ya?" jelas nya bangkit dari duduknya.
"Fidira juga pa" pamit fidira mengekor di belakang afkan.
Sesampainya di depan pintu kamar afkan.
"Ngapain ngikut?" tanya afkan membuka kunci pintu.
__ADS_1
"Ooo...jadi saya disuruh masuk ke kamar saya...trus di tanya...kamu kok masuk ke kamar ini? Iya paa aku tidur di sini" omel fidira menghayati.Afkan pun ikut menoleh ke arah pandang fidira.