
Sekarang jadi fidira yg mengikuti afkan, ternyata afkan juga suka belanja di toko buku. Bahkan keranjang fidira yg sudah berisi 10 novel dan beberapa buku catatan, masih tersalip oleh keranjang afkan yg berisi banyak buku buku tentang bisnis yg sangat tebal tebal dan beberapa buku catatan. Fidira yg membayangkan untuk membaca pasti sudah bosan duluan.
"Udah? " Tanya afkan yg menyadari fidira yg hanya mengekorinya dari tadi.
Fidira mengangguk
"Bawa ke kasir! " Afkan melenggang pergi begitu saja. Fidira melongo karena afkan pergi tanpa membawa keranjangnya yg sudah penuh.
"Ini masudnya gimana ni? Jadi di beli apa enggak?" Pikirnya masih terpaku di tempat. " Eh bentar bentar... Ini kok mencurigakan... " Fidira masih berfikir keras "wah fiks... Parahh ini... Masa gue di suruh bawa punya dia... Mana berat lagi bawa dua keranjang" Fidira mengomel selama perjalanan ke kasir dengan kedua keranjang.
Dasar bos gila! Gak sopan! Gak ada adab! Galak! Mau enaknya sendiri batin fidira mengomel dalam hati dengan memancarkan ekspresi ekspresi marah yg sangat estetik.
Afkan yg sudah berada di antrian kasir menatap kearah fidira dengan terkekeh kecil,terlihat fidira yg kuwalahan membawa dua ranjang penuh di kedua tangannya. fidira mulai mendekat ke arah kasir dengan emosi yg sudah membara menatap tajam afkan.
Saat berada di depan afkan, fidira memanyunkan bibirnya.
"Udah gak usah cemberut gitu! " Afkan mencubit keras pipi fidira.
"Aww! " Fidira memukul lengan afkan dan segera mengelus pipinya yg merah.
"Sudah mas mbk? " Tanya penjaga kasir.
"Oiya mbk ini! " Afkan menyodorkan keranjang dan kartu debitnya, begitupun dengan fidira menyodorkan keranjangnya.
"Mau di satuin apa di pisah? " Tanya penjaga kasir
"Satuin " Ucap afkan
"Pisah" Fidira menyerobot.
Afkan dan fidira saling pandang sedangkan penjaga kasir menatap mereka bergantian.
"Jadi gimana ini mbk? Mas? " Tanya penjaga kasir menyadarkan afkan dan fidira.
"Aa...gini mbk plastiknya di pisahin tapi bayarnya pakek itu" Fidira menunjuk kartu debit afkan yg di pegang penjaga kasir dengan tersenyum bodoh.
"Oo baik mbk" Penjaga kasir tersenyum.
Afkan menatap fidira tajam, sedangkan fidira tersenyum bodoh kepada afkan.
"Ini mas" Penjaga kasir memberikan dua kantung besar dan kartu debit. "Terima kasih"
"Sama sama" Fidira tersenyum dan berlalu keluar dengan tangan kosong, karena afkan telah membawa barang barang mereka.
Afkan memasukan barang barang mereka di bagasi, fidira segera masuk ke dalam mobil dan langsung memakai sabuk pengaman. Setelah memasukan barang barang afkan juga langsung masuk mobil.
Fidira menatap afkan dengan tatapan manis. Afkan sedikit salting dengan suasana itu.
"Ngapain? " Tanya afkan berusaha memasang wajah datar.
"Sekarang kita mau ke mana? " Tanya fidira penuh harap.
"Balik ke kantor"
Tatapan fidira yg awalnya berbinar penuh harap seakan lenyap di bawa angin setelah mendengar jawaban afkan. Fidira memalingkan pandangan nya dan memasang wajah cemberut.
Afkan melirik sekilas fidira yg tengah cemberut menatap arah depan, seakan akan marah padanya. afkan sedikit menyinggung senyum dan melajukan mobilnya.
Di perjalanan tidak ada percakapan hanya suara suara kendaraan yg cukup ramai hari ini. Fidira yg biasanya nyerocos gak bisa diem, saat ini tutup mulut dan hanya memandang ke luar jendela. Afkan memilih diam seperti biasa tanpa ingin membuka pembicaraan,hanya sesekali melirik fidira.
Tapi tiba tiba fidira tersentak saat mobil afkan tidak kearah kantor, namun karena gengsi fidira memilih untuk pura pura tidak tau. Padahal afkan sudah tau bahwa fidira sedikit bingung, afkan hanya geleng geleng kepala melirik fidira.
Beberapa saat kemudian mobil afkan berhenti di sebuah taman di tengah kota. Hari ini taman cukup sepi karena bukan weekend, hanya beberapa orang tertentu yg berada di taman.
Fidira mengeluarkan kepalanya ke luar jendela, menghirup udara segar dari dalam mobil. Afkan menoleh pada fidira yg tengah melakukan hal konyol itu.
"Udah... Turun aja!! " Suara afkan mengagetkan fidira sehingga kepalanya terbentur bagian atas jendela mobil.
__ADS_1
"Aww!! " Pekiknya memasukan kepalanya kembali ke dalam dan menggosok area yg terbentur.
Afkan melirik fidira dengan sedikit tajam.
"Apa!? " Fidira menyolotkan diri.
"Terserah" Afkan melepas sabuk pengamannya lalu turun menuju salah satu bangku taman yg tak jauh dari mobilnya.
Fidira yg awalnya kesal, sekarang mengekori afkan dengan langkah pelan. Afkan mendudukkan dirinya di sebuah kursi taman di bawah pohon besar nan rindang. Menikmati udara sejuk dan asri.
Sedangkan fidira sudah dalam mode kepo. Ia berjalan melihat lihat berbagai macam tanaman dan bunga berwarna warni di sana. Dan tak lupa aktivitas wajibnya yaitu ber-selfie dan memotret para tanaman yg dilihatnya. Mungkin emang udah nalarnya fotografer kali ya!
Afkan hanya memandang fidira dari kejauhan. Ya walau gak jauh jauh banget.
Manis juga ternyata pikirnya menatap fidira yg tengah berjuang memotret para tanaman.
Beberapa saat kemudian fidira menghampiri dan ikut mendudukkan dirinya di samping afkan.
Afkan masih diam termenung menatap fidira yg mengibas ngibaskan tangannya karena kepanasan. Fidira yg tak sengaja juga melihat kearah afkan menatap afkan sedikit dalam. Beberapa detik tatapan mereka bertemu. keduanya saling memancarkan pandangan yg dalam.
Tiba tiba..
Hakksyingg
Fidira bersin... Membuyarkan padangan afkan. Merekapun saling membuang muka. Mereka diam beberapa saat.
Fidira berniat membuka pembicaraan. "Ekhem!"
Afkan menoleh ke arah fidira.
"Ekhm! Haus juga ya? " Fidira basa basi memegangi lehernya.
Afkan hanya diam tak menanggapi.
Rese! Nggak niat beli in kale bang batin fidira kesal.
"Pak bos mau es kelapa muda gak? " Tanya fidira menaik turunkan alisnya.
"Enggak" Singkat padat dan jelas.
Haisss
"Beneran gak mau? "
"Enggak! "
"Yaudah" Fidira bangkit menuju tukang es kelapa muda di sekitar taman.
Afkan menarik nafas dalam dan menghembuskanya. Afkan jadi teringat seatu hal yg membuatnya senyum senyum sendiri.
Cless
Sesuatu dingin telah menempel pada dahinya, membuat lamunannya buyar.
Afkan mendapati fidira yg tengah menempelkan satu cup es kelapa muda pada dahinya.
"Cengar cengir sendiri bisa di kira gila nanti bos! " Fidira memberi es kelapa muda.
Afkan menerimanya begitu saja.
Gratis mau pekik fidira mendudukkan dirinya kembali ke bangku taman.
"Keliatannya seneng banget bos sampek ngelamun sambil cengar-cengir ? " Fidira yg penasaran.
"Kayak orang gila ya? " Jawaban yg tak di duga duga dari afkan.
"Iya persis banget" Fidira masa bodo.
__ADS_1
Afkan melirik fidira yg tanpa dosa mengatainya.
Afkan menghela nafas dalam"Sebenernya saya keinget saat nyatain perasaan ke cinta pertama saya di sini dan juga tempat ini" Jelasnya tiba tiba membuat fidira serius mendengarkan.
"Nembak? Disini? Diterima gak? " Bertubi tubi dari fidira.
"Dulu waktu SMA dia cinta pertama saya, dia gadis yg pertama saya tembak. Butuh berhari hari saya berfikir buat nembak dia. Untung diterima... " Jelas afkan mengingat ingat kejadian dulu.
"Pasti tu cewek gak beruntung,kayak terpaksa gitu" Fidira menanggapi.
"Mungkin kamu benar... Dia gak beruntung punya pacar bawel kayak saya, terlalu posesif dan selalu khawatir... Dia mungkin gak nyaman dan akhirnya ngajak putus 2 bulan kemudian... " Afkan masih mengenang masa lalunya.
" Kenapa kok putus? "
" Katanya sih dia udah gak betah sama saya, dan dia selingkuh.. " Afkan beralih menatap fidira.
"Kenapa harus selingkuh gitu... Gak putus dulu baru pacaran sama yg baru!? " Tiba tiba fidira ikut kesal.
"Ternyata dia nggak sebaik yg saya kira! Karena hal itu saya pernah terpuruk dan hampir nggak ngenal cinta lagi. Tapi beberapa bulan kemudian saya udah mendapatkan cinta itu lagi.. "
Fidira berubah ekspresi manyun "ya kalee pak boss... Gitu aja baperr!! Move on itu perlu"
"Ya tapi sekarang nggak lagi, saya akan mencintai wanita dari hatinya, sikapnya kepada saya, dan tulus sih. Gak bakal mandang fisik lagi!! " Mantap afkan
Fidira pun ikut mantap " Gitu donkk!! Fisik udah gak jaman! Yg penting tu hati" Fidira tertawa.
Afkan beralih memandang fidira "kalo kisah cinta kamu? "
Fidira sedikit tersentak "emm... Dulu juga sama... Saya pacaran waktu SMK, dulu saya suka sama kakak kelas saya, karena ya gitu lah semua itu yg pertama fisik. Tapi saya sadar kalo saya nggak selevel sama dia. Dia kaya, ganteng, barang barangnya bagus, dan banyak yg suka. Saya berusaha menghapus cinta itu. Tapi takdir berkata lain... Ternyata dia dekatin saya, hati saya jadi susah move on. Dan ternyata dia juga suka sama saya.... Aaaa jadi malu guee! " Cerita fidira panjang lebar dan diakhiri dengan ekspresi alaynya.
Afkan hanya mengangguk angguk mengerti. Namun juga sedikit tersenyum melihat gadis yg berada di samping nya terlihat sangat alay.
"Tapi saya juga pernah ngerasain rasa cinta yg nggak semanis cinta pertama saya.... " Fidira meneruskan ceritanya membuat afkan menyimak lebih serius.
"Kau tau silva yg teman ku di kampung itu? Pacarnya sekarang adalah mantan saya dulu. Verrel dia pacar saya waktu SMK juga... Tapi dia beda sekolah,sebelum SMK dia temen saya waktu SMP... Dia tu maniss banget! Tapi suatu hari dia tiba tiba mutusin saya! Saya sebenernya gk terima... Tapi dia bilang sudah punya yg lain, dan ternyata pacar barunya adalah temen saya.It's oke! Gue ikhlasin dia...walau sakittt banget! " Mata fidira sedikit berkaca kaca dalam mengenang cerita masalalunya.
Afkan sedikit iba dengan kisah cinta fidira yg hampir sama dengan dirinya. Namun mereka bisa bangkit dan kembali ke masa depan, ternyata masih banyak sosok sosok yg mencintai mereka di masa depan.
Drrttt
Ponsel fidira berdering, fidira dengan sigap menggeser tanda hijau ke atas.
"Hallo? "
"Loe! Dimana sih? Laperrr ni! " Suara dari sebrang telepon.
Fidira melirik ke arah afkan yg sedang menikmati pemandangan "hmm... Hari ini gue ada urusan di luar kantor. Sorry ya..! " Fidira berbicara lembut.
"Oo.. Yaudah, jangan lupa makan lho! Byee! "
"Siap bos! Bye! " Fidira menutup panggilan dengan senyum-senyum sendiri.
Afkan yg melihatnya tersenyum miring "dari ian? " Tanyanya menatap fidira.
Fidira tersentak "emm.. Iya" Sembari memasukan ponselnya ke saku celananya.
"Kamu suka sama dia? " Tanya afkan tiba tiba membuat fidira gelagapan.
"Emm siapa? "
"Kamu suka kan sama ian? " Afkan menebak
"Hah? Em.. Eng-gak enggak kok" Ucap Fidira gagap dan memancarkan pipi yg sudah merah merona.
"Nggak usah bohong sama! Dari mata kamu aja udah keliatan" Afkan terkekeh kecil
"Yah keliatan ya? Aaa.... Jadi malu deh... " Fidira memegangi pipi dan wajahnya. "Ssstttt.... Ini rahasia pak boss? Oke? Janji? Deal! Fiks no debat! " Fidira menempelkan jarinya ke bibir afkan. Sontak afkan pun terdiam.
__ADS_1
Afkan memindahkan tangan fidira dan membuang muka.