
Beberapa waktu berselang akhirnya perusahaan afkan berhasil mendapatkan kontrak dengan investor lagi. Setelah menandatangani surat kontrak para investor pamit untuk pergi.
Seusai para investor pergi afkan menatap fidira yg begitu Berkeringat seperti orang yg baru lari lari.
"Apa!? " Ketus fidira tiba tiba menyadari afkan sedang menatapnya.
"Kenapa telat? " Pertanyaan yg sudah diduga oleh fidira.
"Gak tau deh" Jawab fidira keluar ruang meeting, meninggalkan afkan sendiri di sana.
Fidira bergegas pergi ke ruangannya, saat masuk ke ruangan nya betapa kagetnya ia mendapati seorang ibu parubaya yg tengah duduk di sofa ruangan.
Mama nanda tersenyum melihat fidira yg terkejut. " Hai sayang" Mama nanda melambaikan tangan nya.
"Hai maa" Fidira tersenyum kikuk. "Hmm... Mama udah lama? " Tanya nya basa basi mendudukkan dirinya di samping mama nanda.
"Enggak.. Mama baru sampek" Mama nanda menoleh kekanan dan kekiri "afkan mana? " Tanyanya.
__ADS_1
"Masih di ruang rapat sih maa... Masih ngurus hal hal lain. Mau di panggilin ma? " Tawar fidira
"Enggak.. Nggak usah nanti mama ganggu lagi. Mama nunggu aja" Tolak lembut mama nanda.
Cklek
Tiba-tiba pintu terbuka, fidira dan mama nanda menoleh ke arah pintu. Mama nanda berdiri dan tersenyum.
"Hai sayang.. Udah selesai? " Tanya nya lembut.
"Huff" Afkan menghela nafas dalam, melirik fidira sesaat dan akan berlalu, namun di tahan oleh mama nanda.
"STOP!!" Bentak afkan yg memancarkan aura aura emosi pada mama nanda. Fidira sampai tersentak kaget begitu pula dengan mama nanda.
"Sudah lah! Tante tidak perlu repot repot untuk itu. Tidak usah memberi perhatian kepadaku. Berikan saja perhatian busuk mu cukup pada papa saya, tante tidak akan bisa mempengaruhi saya seperti kau mempengaruhi papa saya. Jauhi saya dari sekarang! MENGERTI!? " Afkan menekankan kata kata terakhirnya. Emosi afkan sungguh meluap luap, fidira sampai bergidik ngeri melihat emosi afkan yg begitu menyeramkan.
Mama nanda hanya bisa menatap afkan dengan mata berkaca kaca. Fidira pun merasa iba pada mertuanya itu.
__ADS_1
Afkan dengan kesal pergi keluar dari ruangan. Fidira merangkul mama mertuanya yg sudah meneteskan air mata.
"Mama gak usah khawatir ya? Fidira pasti bantu mama buat jelasin ke afkan soal wasiat itu. Jadi untuk saat ini mama cukup diam aja! Okey? " Fidira menenangkan mama mertuanya itu.
"Kamu susul afkan sayang! " Menghapus air mata
"Tap-"
"Enggak sayang mama gak papa, kamu jaga afkan jangan biarkan dia kesepian lagi" Pesannya mengelus lembut rambut fidira.
Fidira mengangguk "Yaudah,Fidira nyusul afkan dulu ya ma? mama tenang ya..! Fidira pamit dulu" Pamit fidira diangguki mama nanda yg masih duduk di sofa dengan menatap rantang makanan yg di bawanya.
"Jaga afkan sayang" Ucap nya lirih menatap fidira yg berlari menyusul afkan.
Di parkiran.
Fidira mencari mobil afkan, mengingat ingat ciri ciri mobil afkan. Fidira sempat kesusahan mecari mobil afkan karena ia tidak terlalu memperhatikannya. Karena kesal fidira memberanikan diri untuk menengok satu persatu kaca mobil yg terparkir di sana.
__ADS_1
Fidira sempat kesal karena tidak ada tanda tanda bos nya itu. Yang terakhir ni, gak ada terserah deh batinnya kesal dan putus asa.
Fidira tersenyum lebar saat mendapati afkan tengah duduk termenung di kursi kemudinya, pada mobil terakhir itu. Fidira beberapa detik menatap afkan dengan tatapan sayu, baru kali ini ia melihat sisi rapuh afkan yg sebenarnya.