
Paginya
Elma, ester, melati dan bu tria memasak di dapur. Para cowok-cowok sedang berada di halaman, menikmati suasana desa yg jauh berbeda dengan kota. Sedangkan fidira masih sibuk mengurus afkan yg dari tadi malam muntah-muntah terus.
"Fi... Bagaimana keadaan afkan? " Tanya bu tria saat fidira membuat teh hangat.
"Ya gitu deh buk, masih lemes. Mungkin masuk angin kali ya" Jelas fidira sembari mengaduk teh.
"Mungkin gara gara ganti ban tadi malem fi... Jadi dia masuk angin" Sahut elma yg sedang mengupas bawang.
"Mungkin kali ya" Fidira mengangguk angguk.
"Eh tpi afkan tu dari kecil kayak gini" Tiba tiba ester bersuara.
"Maksudnya? " Tanya semua heran.
"Ya... Dia tu kalo main hujan hujanan pasti langsung sakit, dan... Lama sebuhnya" Jelas ester.
"Beneran? " Tanya kembali mereka bersamaan.
"Iya... Dulu tu pernah waktu kita SD pulang sekolah kan nunggu di jemput. Nahh kita sambil nunggu malah maen hujan hujanan. Elo, afkan sama gue, tapi besok nya gitu afkan langsung sakit dan sampek dirawat di RS" Jelas ester bercerita.
"Duhh kasian banget harus di suntik" Ucap melati.
"Sampek segitunya? " Elma tak habis pikir.
"Iya makanya sejak saat itu dia gak pernah maen hujan hujanan lagi. Trauma mungkin" Imbuh ester.
"Tpi kemarin kok dia mau sih? Gak ada penolakan lagi" Fidira sedikit kesal.
"Karena itu demi istrinya kan, dari pada ngambek." Ester terkekeh.
Fidira hanya tersenyum canggung menatap elma yg sedang menahan tawa.
"Udah cepet sana! Jangan gibah terus,Afkan pasti udah nungguin, nanti ibuk anter buburnya ya" Ucap bu tria membuat semua tertawa.
Ceklek
Seorang gadis sedang membawa secangkir teh hangat ditangannya, dengan rambut yg di cepol asal membuat tampilannya berbeda dari biasanya.
"Pak bos, ini saya buatin teh hangat. Ya mungkin pak bos nggak suka tpi minum aja deh! Buat ngebalikin energi" Fidira berbicara lembut dengan di akhiri senyum tulus.
"Hmm" Afkan beranjak ingin duduk, namun tenaganya tak cukup kuat, akhirnya tak mampulah ia duduk. Fidira yg melihatnya segera meletakkan teh di atas nakas lalu membantu afkan untuk bangun.
"Ini" Fidira menyerahkan teh tadi kepadanya, namun afkan diam memandang dengan tatapan aneh yg susah di artikan. Sikap itu membuat fidira mengerutkan dahinya, lalu ia duduk di samping afkan "ada apa? " Tanyanya
"Itu panas kan? " Tebak afkan
"Hmm? " Fidira dibuat heran untuk kedua kalinya, karena rasa penasarannya fidira pun menyeruput teh tersebut.
Tiba- tiba.........
"ehhh... Panas panas panas huhhh kok panas sih...huh haaaaahhhhh" Fidira mengkomat kamitkan bibirnya yg kapanasan, juga mengibas ngibaskan telapak tangannya.
Sedangkan afkan yg menonton malah tertawa senang akan hal itu. Fidira yg melihat ekspresi afkan pun menatapnya tajam.
TAK!!
Cangkir teh yg di pegangnya tadi di letakkan dengan keras di atas nakas, tanpa sepatah kata pun fidira keluar dari kamar. afkan juga mendapatkan bonus dari fidira berupa bantingan pintu yg amat keras.
"Apa dia marah? " Gumam afkan sedikit heran. Namun seketika afkan teringat bagaimana fidira semalam tidak tidur karena mengurusnya.
Mulai dari saat dia muntah muntah, butuh minum, memijat tubuhnya dan juga menidurkan dirinya dengan cara mengusap lembut kepalanya, juga ia memegang tangan fidira erat bahkan sedikit pun tak mau melepaskannya. Manja sekali!,pikirnya malu sendiri saat mengingat sikapnya semalam.
Pantas saja fidira marah pagi ini, mungkin karena semalam ia tidak tidur dan kelelahan. Tiba - tiba afkan tersenyum, ia juga teringat saat fidira memaksanya untuk di kerokin dan ia menolak, karena pikirnya itu akan terasa sakit. Dan benar saja kerokan memang sakit untuk seseorang yg baru pertama kali mencoba. Namun kalo udah kebiasaan mah enak enak aja kok.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka membuat afkan sedikit tersentak. Terlihat bu tria masuk dengan semangkuk bubur dan senyum yg mengembang. Afkan menatap sembari tersenyum.
"Bagaimana afkan, masih sakit? " Tanyanya menaruh bubur di atas nakas lalu duduk di samping tempat tidur.
"Emm... Sudah lebih baik bu"
__ADS_1
"Ini ada bubur kamu makan ya! Bisa nggak makan sediri? Kalo enggak, nanti aja ya nunggu fidira." Jelas bu tria bangkit.
"Emang fidira kemana bu? " Pertanyaan afkan membuat bu tria menghentikan langkahnya.
"Kamu gak tau?"
Afkan menggeleng pelan.
"Dasar fidira! Masak nggak ngomong dulu sih" Gumam bu tria berdecak sebal.
*apa dia marah? Trus jalan jalan lagi, dan alesannya lain ke ibu* batin afkan menerka-nerka.
"Emm... Fidira tadi... Dia masih di kamar mandi. Mungkin agak lama, soalnya ya... Setoran dulu. Mungkin dia kebelet jad i gak sempet pamit" Bu tria terkekeh.
"Oohh setoran ya" Afkan mengangguk angguk cengo. *syukur deh dia gak marah*batin afkan senang.
"Yaudah ibuk ke dapur dulu ya... Semua udah mau sarapan" Pamit bu tria mendapat anggukan dari afkan.
Afkan kembali menyandarkan kepalanya, memejamkan matanya. Tiba - tiba bayangan akan sosok gadis yg sangat di kenalnya berputar di pikirannya, afkan tersentak ia membuka matanya lebar lebar.
"Kenapa tiba-tiba aku memikirkannya? " Gumamnya menerka-nerka.
........
Setelah memeriksa keadaan afkan, elo memberi resep obat untuk di beli di apotik.
Hari juga sudah semakin siang dan cukup panas, ester dan teman teman fidira berniat kembali ke jakarta terlebih dahulu, karena elo ada jadwal praktek, ian harus ke kantor, dan juga 4 serangkai yg harus segera membuka toko karena para peminat banyak yg sudah menanyakan kapan bukanya, padahal mungkin pingin di layani sama nando yg cakepnya mirip D.O. exo. Eaa canda😂
"Af gue balik dulu ya? Mobil lo biar gue yg bawa" Pamit elo menepuk bahu afkan.
"Iya af... Soalnya mereka juga harus cepet balik" Ester menoleh kepada sekumpulan orang yg tengah sibuk berdebat. "Istri lo suka banget debat ya? " Ester tersenyum.
"Mungkin setiap hari afkan yg harus ngalah" Imbuh elo terkekeh.
Afkan tersenyum simpul, perkataan elo tadi ada benarnya, memories bersama fidira seketika berputar di pikirannya. Ya afkan pasti selalu kalah jika harus berebut sesuatu dengan fidira, entah di rumah, di kantor, atau di manapun mereka berada, jika bersama pasti debat dulu. Bahkan mau beli air mineral doank itu harus debat dulu buat milih kualitas atau harga yg paling murah dari sekian air mineral yg ada di mini market. Akhirnya ya tetep yg ambil yg paling murah, siapa dulu kalo bukan fidira yg milih.
"Ekhmmm... Pak bos kami pamit balik duluan ya? Maaf kalo merepotkan" Ucap ian sopan.
Ucapan ian membuat afkan tersadar.
"Fi! Lo harus jaga pak bos baik baik ya? Jangan lo kasih teh panas kayak gue dulu" Ucapan rafa membuat semua tertawa, sedangkan afkan dan fidira saling melempar pandangan. Padahal tadi pagi fidira sudah melakukannya padanya. Afkan hanya ikut terkekeh kecil dan itu membuat fidira sangat kesal.
"Tpi saya akuin teh buatan fidira... Euhhhh!! Manisss banget. Beresa langsung diabet gue" Imbuh jojo yg ikut membeberkan aib sahabatnya itu. Semua tertawa kembali.
"Udah deh kalian tu diem aja bisa gak sih!" Suara fidira sudah mulai mengomel, semua pun tertawa lagi.
"Oiya yan... Sementara ini lo ambil alih tugas gue di kantor ya. Di meja gue mungkin udah banyak tumpukan nya, jadi semua harus selesai besok. Nanti kalo ada yg kurang phm lo bisa telpon gue. Truss gue tadi udah bilang ke sahila buat bantu lo-" Ucapannya terhenti saat menyadari bahwa ian berekspresi tidak suka.
"Kenapa harus sahila sih? " Omel ian benar benar tak suka.
"Ayolah yan... Kali ini aja... Please!! Ya ya ya? " Paksa Nya sok imut. Akhirnya dengan terpaksa ian mengangguk malas.
"Nahh gitu donkk!.... Dan satu lagi, nanti kalo udah selesai, lapor ke pak ibnu. Soalnya dia yg mengambil alih sementara ini. Dan juga ada berkas yg harus selesai hari ini,tadi sahila udah gue kasih tau buat urus,tapi lo cek lagi ya nanti! Kalo udah, kasih ke bagian distribusi. Okey?" Ucap fidira panjang lebar sampai semua orang melongo.
"Iya fi... Iyaaaa" Ian memutar bola matanya jengah, sedangkan fidira tersenyum senang.
"Ekhem... Emang Pantes bener jadi bu CEO" Goda ester memancing gelak tawa. Sedangkan fidira malu sendiri karena sok sok mengatur aktifitas kantor afkan.
"Yaa.. Memang seharusnya begitu, istri CEO juga harus bisa pimpin perusahaan kan? " Sahut afkan datar.
*istri? * batin fidira bingung sendiri.
"Iya iya af, istri lo emang pantes dampingin lo!" Elo terkekeh.
"Iya... Gue kan cuma seorang pendesain, jadi pantesnya sama dokter ganteng ini. Ya gak? " Ester dan elo mulai dengan sifat bucinnya.
"Iya iya kalian cocok pakek banget lagi... Kita yg jomblo cuma bisa-"
"Nyimakk" Seru ke-4 serangkai dengan ekspresi malas. Membuat semua tertawa.
fidira hanya bisa tertawa canggung dan masih berpikir tentang maksud perkataan afkan tadi. Yang seakan memiliki arti lain.
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan bu tria dan melati mereka kembali ke jakarta. Rumah yg kemarin sangat heboh dan ramai, kini menjadi sepi.
Huuuffff
Fidira menghela nafas kasar saat benda pipih yg di pegangnya mengeluarkan suara yg sangat di bencinya 'DEAFEAT' ya yg pernah maen pasti tau kan rasanya? Apalagi pas solo rank. Muakkk!!☹️
Karena kesal dan sudah terlanjur ngambek fidira pun menghentikan permainannya. Ia berganti menatap afkan yg masih terbaring lemah di atas kasur.
Fidira meletakkan ponselnya di atas meja, lalu beralih mendekati afkan. "Pak bos... Mau makan? " Tanyanya riang.
"Hemm" Jawab afkan singkat. Fidira sudah menduga dengan jawaban itu, dari pada resiko ia lebih memilih mengambilkan bubur yg tadi.
"Aaaa" Fidira memasukan sesendok bubur ke dalam mulut afkan. Ya... Sejak tadi pagi afkan meminta fidira menyuapinya. "Kenapa saat sakit kau jadi manja pak bos? " Sindir fidira blak-blakan. Namun tak membuat afkan bergeming, afkan malah menatap aktifitas yg dilakukan fidira padanya.
"Ini yang terakhir" Fidira menyuapkan sesendok bubur terakhir ke dalam mulut afkan. "Okey selesai" Fidira beranjak, namun seketika langkahnya terhenti saat afkan mengucapkan satu kata.
"Lagi! " Ucap afkan menatap fidira lekat.
"Apa pak bos serius? " Fidira sedikit tak yakin.
Afkan mengangguk mantap. "Ba-baiklah tak ambilkan lagi" Fidira segera pergi mengambil bubur.
Beberapa saat kemudian fidira telah kembali dengan semangkuk bubur dan segelas susu coklat. "Ini silahkan... " Ucap fidira dengan riang menaruh semangkuk bubur di atas nakas. Kemudian mendudukkan diri di kursi gaming nya.
"Apa maksudmu? " Pertanyaan afkan membuat fidira mengkerut kan dahi sembari meneguk susu.
"Apanya yg gimana? " Tanya fidira balik.
"Buburnya"
Fidira melirik semangkuk bubur di atas nakas "iya itu bubur yg tadi, tinggal di makan aja! Apa mau susu kayak gini juga? " Fidira mengangkat segelas susu yg berada dalam genggamannya.
"Ahh terserah lah" Afkan pun mulai memakan buburnya sendiri.
"Oke sih... Terserah" Fidira yg bodo amat melanjutkan aktifitasnya. Yaitu duduk menikmati segelas susu dengan memejamkan mata. "Kenapa aku sangat mengantuk? " Gumamnya dengan mata yg masih terpejam.
"Tidurlah! Kau mungkin kecapekan" Ucap afkan di sela sela makanya.
"Tumben kau perhatian sekali pak bos!? " Ucap fidira sembari meneguk habis susu di tangannya.
TAK!!
"Oke waktunya tidur" Fidira bangkit dari duduknya, saat akan membuka pintu kamar afkan menanyakan sesuatu.
"Mau kemana? " Tanyanya
"Tidur" Jawab fidira singkat
"Dimana? "
"Di depan tv"
"Tidak tidak tidak tidurlah di sini" Afkan menepuk nepukan tangannya di bagian kasur yg masih kosong.
"Apa pak bos waras? "Spontan Fidira menjawab sedikit bingung
"Apa maksudmu? " Afkan sadis
"Tidak, maksud saya jika saya tidur situ... Pak bos mau di mana? " Fidira menjelaskan.
"Apa kamu tidak melihat, ranjang ini cukup untuk 2 orang" Afkan memperjelas.
"Ya saya udah tau... Tapi.... " Fidira berpikir sejenak.
"Heh, kamu gak percaya sama saya? " Tanya afkan sinis.
"Ya iya lah" Fidira blak blakan.
"Sudahlah cepat tidur, saya juga gak bakal gigit kamu" Afkan menaruhkan mangkok buburnya fi atas nakas.
"Baiklah... Terima kasih pak bos sudah mau berbagi. Haha... Alay" Fidira cengengesan sembari merebahkan tubuhnya di samping afkan. "Huh... Nyaman sekali" Ucap fidira dengan memeluk guling.
__ADS_1
"Tapi kamu harus jaga sikap! Jangan biarkan kakimu menendang kesana kemari" Afkan memberi peringatan.
"Kalo soal itu pak bos... Saya kagak janji" Ucap fidira santai dengan membelakangi afkan.