
Sesampainya di rumah.
Fidira bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian juga menghapus make up.Begitu pula dengan afkan ia juga langsung masuk ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian, fidira keluar dengan pakaian santai. Ia berjalan menuju dapur dan membuka kulkas.
"Ahhh aku lupa tidak membeli roti tadi" Gumam fidira beralih membuka laci-laci dapur. "Untung, ini menyelamatkan ku" Fidira senang saat mendapati sebuah mie instan yg masih tersisa di sana.
Ia bergegas mengambil panci dan mengisinya dengan air lalu ia menyalakan kompor. Ya emang mau masak mie kan ya?. Tidak butuh waktu lama, mie instan kuah itu sudah matang. Namanya bukan fidira kalo nggak aneh, ia tidak menaruh mie itu ke mangkuk melainkan panci tersebut yg di jadikan wadah untuk dia makan.
"Nikmat mana yg kau dustakan" Ucap fidira setelah selesai berdoa untuk makan. Setelah itu fidira langsung menggasak mie nya.
"Ekhem" Deheman seseorang tidak membuat fidira bergeming karena ia tahu siapa yg berdehem di dekatnya itu.
"Boleh aku minta?" Bisik afkan tepat di telinga fidira.
Ukhuk ukhuk
Dengan cepat afkan mengambilkan fidira air minum "pelan pelan donk! " Ucapnya lembut sambil menepuk nepuk pelan punggung fidira.
"Astagfirullah" Ucap fidira dengan meletakkan gelas yg sudah kosong. "Bisa nggak pak bos nggak ngagetin? " Fidira tampak kesal.
"Maaf" Afkan duduk di samping fidira.
"Bolehkah aku minta sedikit? " Tanyanya pelan, fidira menatap afkan sekilas lalu membuang muka.
*sejak kapan dia menyebut dirinya 'aku'? * batin fidira sedikit bingung.
"Makan saja" Fidira acuh
"Kamu masih marah?" Tanya afkan lagi
"Menurut pak bos? " Tanya fidira balik
"Menurutku kamu hanya kesal bukannya marah" Ucap afkan sembari menyeruput kuah mie instan fidira tanpa dosa.
"Baiklah terserah" Fidira beranjak.
"Tunggu! " Afkan menahan tangan fidira.
"Hmm? "
"Bi inah akan datang minggu depan. Jadi seminggu ke depan kita hanya berdua" Jelas afkan.
"Lalu? " Fidira datar
"Bahan stok habis, jadi besok kita harus belanja" Jelas afkan kembali.
"Pak bos sendiri aja! " Tolak fidira.
"Kamu tega? "
"Banget" Fidira blak balakan "sekarang lepasin! " Ucapan fidira membuat afkan sadar bahwa tangan nya masih menahan fidira.
"Nggak akan saya lepasin sebelum kamu bilang iya" Ancam afkan.
"Jangan sampai pak bos nyesel" Fidira memperingatkan.
"Apa? " Afkan bingung "aww!! " Teriak afkan saat fidira menggigit tangannya. Akhirnya fidira bisa lepas dengan mudah. "Sakit juga" Gumam afkan mengelus tangannya.
Di dalam kamar fidira.
"Asem!! Mau nikmatin mie gitu aja susah banget sih? " Fidira merebahkan tubuhnya ke kasur dengan kasar. "Gue lapar" Gumam fidira dengan mata terpejam.
TOK TOK TOK
"Apa? " Fidira sedikit berteriak.
"Ayo makan!" Ucap afkan dari balik pintu.
"Tau banget kalo gue laper" Gumam fidira tg masih tengkurap di atas kasur.
"Fii? " Panggil afkan kembali.
"Nggak usah saya udah kenyang" Teriak fidira yg malas beranjak.
Tapii. . . .
"Apa kamu ingin saya gendong? " suara lembut yg terdengar tepat di telinga, membuat telinga fidira seakan di gelitiki semut.
"Brengsekkkk"
"Aduuuhhh!!" Afkan tersungkur di lantai "bisakah kau tidak main tangan? " Afkan mengelus pipinya yg kena tonjok.
"Siapa suruh pak bos gitu? " Fidira emosi
"Hei! Aku hanya ingin mengajak makan" Afkan sedikit berteriak.
"Kan tadi saya udah bilang nggak usah pak bos, kenapa maksa banget sih? " Fidira yg tak habis pikir pun duduk di tepi ranjang dengan mengusap wajahnya kasar.
"Kamu kenapa nggak mau makan? Nanti sakit lo" Afkan membenarkan posisi nya duduk di lantai menghadap fidira. Plus dengan suara lembuttt banget.
"Nggak pak bos saya gak papa" Jelas fidira kembali.
"Kenapa? Kamu masih marah sama saya? Gara gara mie tadi? " Pertanyaan afkan bertubi tubi
Fidira menggeleng.
"Lalu? "
"Sebenernya..... " Ucapan fidira terhenti.
"Kenapa? " Afkan melihat keresahan di wajah fidira.
Fidira terdiam.
"Hei! Apa ada masalah? " Afkan tiba tiba memegang tangan fidira.
Fidira pun mengangguk pasrah.
"Ada apa? " Tanya afkan lembut.
"Sebenernya......... Saya tu ngantukkk" Fidira melepas genggaman afkan lalu menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya.
Afkan terdiam. "Kau mengerjai ku?" Afkan beranjak dari duduk nya.
"Tidak" Ucap fidira di sela sela tidurnya.
"Lalu? "
"Sudahlah pak bos saya ngantuk, besok lagi ya debat nya" Ucap fidira santai.
Tidak ada sahutan dari afkan.
"Apa dia sudah pergi? " Gumam fidira mengira. "Alhamdullillah deh kalo udah per-" Ucapan fidira terhenti saat suara afkan terdengar jelas di dalam kamarnya.
Fidira segera bangkit.
"Apa hanya ini yg kau punya? " Tanya afkan sembari melihat- lihat lemari fidira.
"YAA! Apa yg pak bos lakukan? " Fidira berteriak.
__ADS_1
"Hanya memeriksa" Afkan dengan santai melihat lihat baju baju fidira yg masih berserakan di atas kursi kamarnya. "Kenapa kau sangat jorok? " Tanyanya membuat fidira jengkel.
"Terserah saya lah. Yang makai juga saya" Fidira bodo amat. "Bisakah pak bos pergi!" Usir fidira
"Kamu ngusir saya? " Tanya afkan yg masih berkeliling kamar fidira yg penuh barang - barang yg tak sesuai tempatnya.
"Ya. Tentu saja saya ngusir pak bos" Fidira santai. "Cepat pergilah" Fidira kembali merebahkan dirinya lalu memejamkan mata.
"Baiklah selamat malam" Afkan pun keluar.
"Tutup pintunya! " Teriak fidira sebelum afkan benar benar pergi dari sana.
Keesokan harinya.
Fidira mondar-mandir di dapur, menelusuri semua laci berharap ada makanan yg masih nyangkut di sana. Tapi harapan memang belum tentu jadi kenyataan, semua laci kosong hanya tersisa susu coklat kesukaannya di dalam kulkas.
"Biasanya ni kulkas banyak telur, kenapa hilang semua ya? " Fidira mengingat saat di mana kulkasnya penuh dengan telur.
Fidira pun terpaksa meminum susu tersebut untuk mengganjal perutnya. Ia mendudukkan dirinya di meja makan sambil membayangkan adanya makanan di atas meja setiap pagi jika bi inah bersama mereka.
"Huuuuhhh" Fidira menghela nafas kasar menatap kemasan susu kotak yg sudah habis itu dengan sendu. "Masih laper lagi. Tapi maless" Gumam fidira menenggelamkan kepalanya di meja.
"Fi ayo! " Ajak afkan yg sudah rapi turun dari kamarnya.
"Hmm? " Fidira bingung saat menatap afkan yg bahkan sudah mandi. "Kemana? " Tanyanya malas.
"Kita belanja, sekalian sarapan" Jelas afkan.
"Males" Fidira kembali menggeletak kan kepalanya di meja.
"Kamu gak laper? "
"Laper sih... Tapi maless" Jelas fidira
"Cepet mandi jangan males males an. Istri CEO kok gak ada anggun anggunnya" Cibir afkan
"Nggak papa" Jawab fidira santai.
"Cepet! Ini udah jam 9 lo.... Dari tadi saya tungguin kamu gak bangun-bangun saya laper" Jelas afkan semakin cerewet.
"Baiklah" Dengan langkah letoy fidira masuk ke kamar mandi.
"Kenapa saat melihatnya aku menjadi banyak bicara? " Gumam afkan yg juga bingung sendiri tentang dirinya akhir-akhir ini.
"Gasss" Fidira keluar dengan pakaian biasanya, namun langkahnya terhenti saat tidak mendapati afkan di ruang tamu, ruang makan, maupun dapur. Ya emang tu ruangan saling bersebelahan.
"Nggak jadi ni? " Gumam fidira "aduhhh udah mandi juga, tau gini gak mandi gue tadi" Fidira keluar rumah dengan menggerutu.
Tiinn tinnn
"Cepat!" Ucap afkan dari dalam mobil. "Jangan lupa kunci pintunya" Tambahnya kembali.
"Oke siap" Fidira menutup pintu lalu masuk ke dalam mobil.
Di perjalanan.
Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya suara kendaraan ramai yg sedang berlalu lalang karena weekend.
Kriuk kriuk
Fidira memegang perutnya yg baru saja mengeluarkan suara. Afkan yg tadinya fokus menyetir pun menoleh.
"Sabar ya sayang... Bentar lagi sampek" Ucap afkan seakan fidira Sedang berisi.
Mendengar penuturan afkan tentu fidira kaget bukan kepalang "YA!! Maksud pak bos apa?" Fidira sedikit berteriak.
"Ya maaf sayang" Afkan beralih mengelus kepala fidira.
"Becanda doank aja gak boleh apa" Ucap afkan sedikit menggerutu.
"Bisa nggak sih pak bos bersikap kayak dulu aja? Saya lebih nyaman sama yg dulu deh. Gak kebanyakan bicit" Fidira mengecilkan volumenya di akhir kalimat.
"Apa? " Afkan sedikit mendengar ucapan fidira yg terakhir.
"Maksudnya tu..... Pak bos lebih berwibawa kayak dulu gitulohhh" Fidira beralasan.
"Tapi saya suka yg sekarang. Jadi gimana nii?" Afkan bermode bocil.
"Tapi kalo di kantor. Kayak dulu... Gak alay alay banget" Fidira yg terus ingin tau.
"Ya kalo di kantor kan harus profesional jaga image juga" Jelas afkan santai.
"Huh.... Di luar kantor gak jaga image apa? " Fidira mencibir.
"Ya kalo nggak sama kamu saya biasa sih. Tapi kalo sama kamu kenapa harus jaga image ya kan? " Afkan tersenyum sembari mencolek hidung fidira.
"Jangan gituu" Omel fidira bersedekap dada
Tak terasa mobil afkan telah berada di parkiran salah satu mall besar di jakarta. Afkan bergegas menarik tangan fidira hingga hampir terjungkal. Untung saja afkan dengan sigap menahannya.
"Aduhh! Pak bos hampir aja bunuh saya" Omel fidira melepaskan genggaman afkan. "Kenapa narik narik sih? "
"Habisnya kamu selalu lama jalan nya" Jelas afkan
"Ya kan kita harus santai" Fidira menjelaskan, padahal emang dianya aja yg lemot, dari dulu emang.
Afkan yg tak mau berdebat memilih untuk pergi duluan. "Hilang awas ya! " Ucapnya sembari menjauh
"Haiss! Tapi ya gak di tinggal juga" Fidira berlari kecil menyusul afkan.
Di dalam mall mereka segera pergi ke pusat perbelanjaan bahan pokok. Dengan terus berjalan, tak terasa troli yg mereka dorong sudah lumayan penuh. Mulai dari kebutuhan dapur, kebutuhan pribadi, buah dan juga camilan semua sudah bersarang troli mereka.
"Astaga!" Pekik fidira tiba tiba.
"Ada apa? " Tanya afkan saat melihat fidira kebingungan.
"Lupa" Fidira mewek.
"Apanya? "
" Uang saya ketinggalan pak bos" Fidira meletakkan chocolat yg sempat di pegang nya tadi dengan wajah masam. "Padahal pengen" Gumamnya yg masih dapat di dengar afkan.
"Dimana-mana orang tu bilangnya dompet yg ketinggalan bukan uangnya. Dan juga kalo makan coklat pipi kamu tambah besar lo" Afkan mulai mencibir.
"Mulai ngajak debat kan" Fidira cemberut. Afkan menarik pipi gembul fidira "aww! Mulai kan" Fidira memukul lengan afkan.
"Udah cepet cepet kamu mau apa? " Tanya afkan tak mau ambil pusing.
"Gak jadi" Tolak fidira, namun pandangannya tetap tertuju pada jejeran coklat yg terpajang.
"Yang ini" Tanya afkan mengambil sebuah coklat yg berbungkus warna gold. "Apa yg ini? " Afkan mengambil kembali sebuah coklat berbeda dengan bungkus purple.
Fidira menatap kedua coklat tersebut, ia sedikit bingung untuk memilih, karena dia suka dua duanya. melihat fidira yg sedikit bingung, afkan pun mengambil semua merk coklat yg berukuran jumbo lalu memasukkannya ke troli.
Fidira tercengang, bahkan tak sanggup berkata kata. Troli mereka seakan berisi coklat semua.
"Apa kamu tidak lapar? " Tanya afkan mengambil beberapa roti tawar dan memasukannya ke troli.
Suara afkan membuyarkan lamunan fidira."Pak bos, ini... Coklatnya mau di beli? "
"Enggak cuma di pinjem" Jawab afkan asal.
__ADS_1
"Eng-gak maksudnya buat apa? "
"Buat main" Jawab afkan asal mulai berjalan menuju tempat minuman. Fidira yg tersadar pun mengikutinya.
"Kamu mau susu? " Tanya afkan tanpa menoleh saat fidira di sampingnya.
"Hmm" Fidira mulai ikut memilih. "Mungkin yg ini" Fidira mengambil sebuah susu berkemasan.
"Baiklah" Afkan mengambil semua sisa merk susu yg sama dengan punya fidira dan juga beberapa susu berkemasan besar.
Fidira di buat tercengang kembali dengan sikap afkan. "Apa yg akan kau lakukan dengan semua susu ini pak bos? " Tanya fidira heran.
"Untuk stok" Jawabnya singkat.
"Tapi tidak sebanyak ini kan? "
"Kamu mau yg mana? " Tanya afkan kembali saat berada di bagian mie. Tanpa menghiraukan pertanyaan fidira.
"Hmm terserah" Fidira yg tidak ingin afkan bersikap seperti tadi memilih untuk ngikut saja.
"Ini aja ya?" Afkan memperlihatkan sebuah mie korea pedas yg langka untuk di dapat. Fidira melihat mie tersebut dengan seksama.
"Ini kayak..... " Ucapan fidira berhenti "ahh iya saya mau" Ucap fidira mengambil lima bungkus mie tersebut.
"Kenapa cuma lima? " Tanya afkan.
"Ini mahal" Jawab fidira.
"Tidak papa kamu bisa beli semuanya, lagian kamu suka kan? " Afkan mengambil semua merk mie tersebut yg terpajang di rak.
Fidira di buat tercengang untuk ketiga kalinya. Bukan hanya karena afkan memborong semuanya, melainkan bagaimana afkan bisa tau kalo mie ini kesukaannya.
"Jangan jangan.... " Fidira menatap afkan menelusuk.
"Iya. Saya yg makan punya kamu waktu itu" Jujur afkan. "Maaf" Ucapan terkahir afkan membuat fidira tercengang kembali.
"Sudah semua. Ayo cepat saya sudah lapar" Afkan mendorong trolinya menuju kasir, sementara fidira masih sibuk dengan pikirannya.
"Jadi mie guee waktu itu... " Fidira menghela nafas kasar. Lalu menyusul afkan yg terlihat sudah melakukan transaksi.
"Nihh bawa" Afkan menyerahkan beberapa paper bag besar kepada fidira.
"Yaa! Pak bos udah makan mie saya. Kok nyuruh nyuruh sih" Sindir fidira.
"Tapi di sini juga ada coklat kamu kan? "
"Tapi kan nggak semua"
Debat di mulai kembali, penjaga kasir hanya bisa geleng geleng kepala dengan senyuman. "Apa mau pakai jasa antar pak? "
Suara penjaga kasir membuat mereka berdua berhenti. "Ekmm... " Afkan melirik pada fidira yg sedang membuang muka.
"Tidak perlu" Afkan melenggang pergi begitu saja. Dengan membawa semua paper bag.
"Huhh" Dengus fidira menghentakkan kakinya ke lantai, lalu segera menyusul afkan.
Tidak ada pembicaraan diantara mereka. Fidira yg sibuk melihat lihat suasana mall yg sudah cukup ramai itu. Sedangkan afkan tampak bingung dengan beberapa paper bag di tangannya.
"Makanya belanja secukupnya aja! " Ucap fidira sambil menyerobot dua paper bag dari tangan afkan, dan berjalan mendahului. "Pumpung baik hati" Ucap fidira dengan membalikkan badannya pada afkan, lalu berjalan kembali.
Afkan tersenyum dengan terus menatap punggung fidira yg berada di depannya. "Kenapa aku sangat suka berbicara dengan mu? " Gumam afkan segera menyusul fidira.
Di perjalanan pulang
Perut fidira berbunyi kembali, ia menyesal telah menolak ajakan afkan untuk makan di mall tadi. Ia lebih memilih pulang dan makan di rumah, entah apa yg akan di makannya nanti, fidira juga gak tau.
"Makanlah roti yg kita beli tadi! " Fidira sedikit bingung bagaimana afkan mengetahuinya. "Cepatlah! Kasian lambung kamu" Imbuh nya lagi.
"Hmm" Gumam fidira sembari membuka satu paperbag yg hanya berisi camilan.
"Saya suruh nya roti ya! " Tiba tiba afkan bersuara saat fidira mengeluarkan coklat besar dari paperbag tersebut.
"Hehe. Sekali aja ya bos? Please! " Fidira memohon.
"Makan rotinya dulu! " Ucap afkan kembali
"Please!" Fidira sok imut.
"Atau saya buang semua coklat nya" Afkan sedikit meninggikan suaranya. Fidira terdiam, lalu ia mengganti coklat tersebut dengan roti tawar.
Fidira makan dengan diam. Tidak mwngatakan sepatah kata pun pada afkan, biar keliatan agak ngambek gitu kale.
*marah* batin afkan menebak.
*iihh, gue tau. Mungkin ini fungsi dari omongan ibuk dulu, selalu bilang kalo cewek harus bisa cari duit sendiri. Ya gini ni, kalo di beliin cowok, dikit dikit ngancem. Coba aja gue tadi bawa uang, pasti gak bakal kena anceman. biasanya di celana nyelip kok ini gak ada sama sekali sih. Au ahh bad mood* batin fidira dengan meremas roti yg berada di tangannya sembari terus menatap jendela.
Kruuukkk krukkk
Suara tersebut berhasil membuat fidira menoleh pada afkan, yg di toleh hanya menatap fokus jalanan. "Dasar! " Gumam fidira mengambil roti lagi yg masih tersisa. Kali ini memang bukan perutnya yg bersuara.
Afkan terkejut saat ada tangan kecil dengan sepotong roti berada di depan mulutnya. Afkan menoleh pada fidira yg terlihat kesal.
"Mau apa nggak? " Tanya fidira to the poin. "Tangan saya pegel ni. Kalo mau.....makan! Jangan di liatin aja" Fidira berbicara dengan nada kasar.
Afkan dengan cepat menggigit roti tersebut dan menghabiskan nya. "Lagi? " Tanya fidira kembali.
Afkan menggeleng pelan. "Baiklah" Fidira kembali membuang muka, ke arah jalanan yg ramai.
Tidak terasa di sepanjang perjalanan pulang, fidira telah menghabiskan 1 pack roti dan 1 botol air mineral. Afkan hanya menyinggung senyum saat melihatnya.
"Kenapa? " Fidira ngegas.
"Gak papa" Afkan memalingkan wajahnya.
Beberapa saat kemudian mobil afkan telah memasuki garasi rumahnya. Fidira dan afkan segera keluar, afkan mengambil beberapa paper bag dari dalam bagasi mobil. Sedangkan fidira sudah lebih dulu masuk ke rumah dengan dua paperbag di tanganya.
"Huuuhhhh capek bangettt!! " Teriak fidira, begitu sampai di dalam rumah. Ia buru buru meletakkan paper bag nya di atas meja makan lalu meminum segelas air. Tak lama kemudian afkan datang dengan paperbag di kedua tangannya. Lalu menaruhnya di atas meja makan.
"Mau apa? " Tanya afkan sembari mengeluarkan bahan bahan yg di belinya tadi.
"Apa nya yg apa? " Tanya fidira bingung.
"Mau makan apa hari ini? "
"Oohh... Terserah sih! Apa aja asal enak" Fidira mengambil sebuah apel dan memakannya.
"Gimana kalo sop ayam? " Tanya afkan yg terus mondar mandir menata bahan bahan.
"Jangan deh. Yg lain" Fidira masih stay duduk dengan santainya menikmati apel.
"Kalo tumis kangkung" Tawar afkan kembali
"Jangan. Lagi gak selera"
"Truss apa? "
"Terserah" Ucap fidira tanpa dosa.
"Sebenernya kamu mau makan apa sihh? " Afkan yg mulai geram.
"Terserah pak boss. Yg penting bisa di makan" Ucap fidira sembari mengeluarkan squad camilan dari paperbag nya.
__ADS_1
Afkan sudah emosi dengan jawaban fidira yg tak ada kepastiannya. Namun ia tahan, atau kalo meledak malah dia balik yg di marahi.