
Senja telah menenggelamkan diri dan langit berubah menjadi hitam legam. Angin berembus, dingin menusuk hingga ke tulang-tulang. Jalanan semakin ramai. Banyak motor, mobil, bus, hingga truk yang berlalu lalang memadati jalan raya.
Pasang kaki itu masih setia melangkah, menyusuri tiap trotoar membelah keramaian kota. Meski letih dan raganya mulai lemas, namun ia memaksakan diri untuk terus berjalan. Matanya melirik kanan-kiri, mencari-cari seseorang yang sekiranya dapat dimintai bantuan. Sayangnya, Tuhan masih ingin menguji kesabarannya.
"Ke mana lagi gue mau pergi? Dingin banget." Anggi terus saja bermonolog dengan kata-kata seperti itu. Bahkan, kini ia melepas sepatu ketsnya dan berjalan tanpa alas kaki.
Hatinya sedikit lega saat melihat bangku kosong di depan sebuah kafe yang cukup ramai malam ini. Ia pun segera duduk di sana untuk singgah sementara waktu. Anggi menoleh ke samping. Banyak cowok seusianya sedang berkumpul di satu meja di sebelahnya. Pasang mata cowok-cowok itu lantas menatap Anggi dengan tatapan aneh. Cewek itu segera memalingkan pandang saat melihat ekspresi ngeri dari mereka.
"Cewek. Ikut sama Om sini." Boom! Salah satu dari sekumpulan cowok itu akhirnya bersuara yang secara langsung membuat Anggi semakin ketakutan di tempat.
Sementara, salah satu cowok baru saja datang dan hendak nimbrung bersama sekelompok cowok di meja sebelah Anggi duduk. "Udahlah, Guys. Jangan digodain," tegurnya. Ia lalu melirik cewek yang sedang dijadikan bahan godaan teman-temannya.
"Anggi?"
Cewek yang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terpancing pun akhirnya menoleh juga. "Bima?" sapanya sambil mengulas senyum lebarnya. Rasanya lega karena ternyata ada orang yang dikenalinya di sana. Apalagi orang itu merupakan cowok baik.
"Kita pergi dari sini aja ya," tawarnya sembari menarik pergelangan tangan Anggi sehingga cewek itu menurut. Daripada harus meladeni dan berhadapan dengan cowok-cowok jahil tadi, lebih baik ikut dengan Bima, kan?
Bima terus menggandeng tangan Anggi hingga mereka berhenti di sisi paling ujung depan kafe tersebut. Cowok itu pun mempersilakan Anggi untuk duduk sehingga posisi mereka sekarang berhadapan.
"Kamu kok malam-malam keluar sendirian?" tanyanya sedikit canggung.
"By the way, maaf buat yang dulu." Kini, raut wajah Bima berubah. Terlihat jelas di wajahnya bahwa cowok itu benar-benar merasa bersalah dan menyesal.
"Nggak apa, Bim. Lagian yang dulu biarin aja terjadi. Kamu nggak salah kok. Aku paham banget kenapa kamu mutusin aku waktu itu," ujar Anggi yang disambut anggukan samar oleh Bima.
Ya, Bima merupakan satu-satunya mantan Anggi. Mereka pernah berpacaran selama satu tahun di akhir semester kelas X sampai menjelang akhir semester kelas XI. Bima memutuskan Anggi dengan alasan kuat, yakni ia ingin fokus mengurus ibunya yang sedang sakit keras waktu itu. Jadi, Anggi memang tidak bisa menyalahkan Bima. Cewek itu paham betul bagaimana kondisinya.
Bima melirik tangan kanan Anggi dan langsung mengerutkan dahi. "Tangan kamu kenapa, Nggi?" tanyanya khawatir.
"Tadi kena begal waktu di jalan. Terus jadi gini deh," jelasnya dengan senyuman miris di akhir kalimat.
__ADS_1
Mendadak tangan Bima bergerak mengambil tangan kanan Anggi dan mengeceknya. Bima merupakan seorang yang amat peka dan perhatian memang. Sifatnya itulah yang membuat Anggi selalu bisa jatuh cinta padanya. Akan tetapi, itu dulu waktu Anggi belum menaruh hati pada Prana. Kini cewek itu amat mencintai suaminya.
"Pasti perih banget, ya?" tanya Bima sambil meringis seperti Anggi.
"Kita obati luka kamu, ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Anggi dan tak mau membuang waktu, Bima segera mengajak Anggi menuju supermarket terdekat dan membonceng cewek itu di motornya.
***
"Lain kali langsung minta bantuan orang terdekat waktu di tempat kejadian, ya."
Bima terus saja mengoceh sembari mengobati luka di tangan Anggi dengan telaten. Kedua matanya belum lepas dari sana sedari tadi, terlihat sekali bahwa cowok itu fokus pada pekerjaannya. Anggi selalu suka kata-kata dari Bima yang tidak pernah menyalahkan dirinya dalam hal apa pun, termasuk hal-hal seperti itu. Bima lebih suka memberikan nasehat tanpa memojokkan korban. Kalau saja Anggi tidak dipersatukan dengan Prana, mungkin cewek itu bisa terus menaruh hati pada Bima. Namun, ternyata takdir berkata lain.
Anggi pun sudah menceritakan tentang kehidupannya kini yang serba berubah, termasuk pernikahannya dengan Prana. Anggi tidak pernah asal menceritakan kehidupan pribadinya pada siapa pun, kecuali dengan orang yang benar-benar bisa dipercayainya. Dan Bima salah satu orang terpercaya di kehidupan Anggi.
"Jadi, suami kamu belum tahu kalau kamu sampai kaya gini?" tanyanya di sela-sela membereskan sisa kain kasa yang ia gunakan untuk membalut luka di tangan Anggi.
Cewek itu menggeleng cepat. Bima pun menatap sendu Anggi. Cowok itu paham betul kalau mantannya sedang melewati masa-masa berat dalam hidupnya setelah mendengar semua cerita darinya.
"Makasih, Bim udah mau dengerin," ucapnya sambil mengulas senyuman khasnya.
Bima pun melebarkan senyumnya. "Santai aja, Nggi. Aku seneng banget kalau kamu mau cerita kaya gini. Lain kali kalau butuh teman curhat, aku bakal siap dengerin." Lagi, Bima selalu bisa membuat orang merasa nyaman dengannya.
Anggi mengangguk. Setelahnya, Bima menawarkan untuk mengantar pulang cewek itu. Meski sudah berkali-kali Anggi menolak, Bima tetap kukuh untuk mengantar ia pulang. Bukan apa-apa, cowok itu sama sekali tidak tega melihat Anggi sendirian malam-malam di jalan seperti ini. Terlebih, setelah ia tahu kalau Anggi baru saja mengalami kejadian yang tidak mengenakkan.
***
"Assalamu'alaikum."
Bima mengucap salam seraya mengetuk pintu utama rumah megah, kediaman Virgo dan Soraya itu.
__ADS_1
Sesekali ia menoleh pada Anggi di belakangnya. Bima langsung bisa membaca ekspresinya yang terlihat ketakutan itu. Seolah paham dengan apa yang ditakutkannya, Bima tersenyum pada Anggi yang menyiratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Prana membukakan pintu tak lama setelahnya. Sorotan matanya tajam menghunus kedua bola mata cowok di hadapannya dan setelah itu beralih pada istrinya yang bersembunyi di balik badan cowok itu.
"Lo jangan salah paham dulu. Gue cuma ngantar Anggi pulang tadi," jelas Bima sebelum Prana bicara yang tidak-tidak tentang mereka.
"Masuk!" gertak Prana yang langsung membuat Anggi tersentak.
Cewek itu sempat melirik Bima yang mengangguk samar padanya lalu cepat-cepat masuk ke dalam. Bersamaan dengan itu, Prana menatap Bima dengan sangat tajam dan segera menutup pintunya kasar. Bima pun hanya bisa geleng-geleng kepala lantas cepat-cepat meninggalkan rumah itu.
***
Prana membanting kasar pintu utama. Anggi sampai tersentak dan tidak berani menatap suaminya itu. Ia hanya bisa menunduk di hadapannya.
"Kenapa pulang sama mantan?" tanya Prana sinis.
Mendengar kalimat itu, Anggi tersinggung hingga akhirnya berani menatap wajah Prana. "Kok kamu gitu sih, Mas?" Anggi tidak percaya.
“Nggak bisa pakai ponsel lo buat telepon gue? Terus, lo udah cerita apa aja sama dia? Lo umbar, sebar sana-sini tentang pernikahan kita? Inget gak kalo kita masih pelajar? Tau nggak risikonya?” Prana tidak bisa menahan emosinya. Cowok itu benar-benar murka kali ini. Kedua bola matanya membulat dan urat lehernya sampai kentara.
Mata dan telinga Anggi panas. Cewek itu menatap intens manik mata suaminya. "Mas! Aku punya alasan kenapa aku pulang sama dia. Dan soal pernikahan kita, aku tahu ke mana aku harus cerita dan berbagi keluh kesah. Bima itu orang baik, dia bisa dipercaya." Anggi pun juga ikut meninggikan nadanya, tidak tahan lagi Prana memojokkannya seperti itu.
Prana berdecih dan memalingkan pandang dari istrinya. "Iya baik. Mantan, kan?" sindirnya sarkas sambil memelotot pada Anggi.
"Mas!"
Mata Prana melirik kain kasa yang melingkar di sekitar pergelangan tangan Anggi. Dan seketika itu juga air mukanya berubah. Tangan Prana lantas tergerak hendak mengambil tangan istrinya yang terluka itu. Namun, Anggi justru menjauhkan tangan kanannya dengan cepat dari jangkauan suaminya. Bahkan, rasanya ia malas sekali melihat wajah cowok yang dicintainya itu.
"Tangan kamu kenapa?" Nadanya melunak dan raut wajahnya menyiratkan kekhawatirannya.
"Aku capek, Mas. Mau istirahat."
__ADS_1
Deg! Prana mematung di tempat sambil menatap nanar kepergian istrinya. Hatinya mencelos saat mendengar nada dingin dari Anggi. Ini kali pertama cewek itu bersikap dingin dan sinis padanya. Dan rasanya, Prana tidak kuasa melihat sikap istrinya yang seperti itu.
"Bodoh kamu, Prana!" makinya pada dirinya sendiri.