
“Dasar bodoh! Selalu lari dari masalah. Dewasa, Prana!”
“Maaf, Yah. Tapi, Prana punya alasan untuk semua ini. Prana nggak pernah berbuat sesuatu tanpa alasan yang jelas." Prana hanya bisa menunduk. Cowok itu sangat menghormati kedua orang tuanya. Meski pipinya terasa panas dan hatinya sesak, namun ia tahu batasannya sebagai seorang anak.
"Alasan apa, Pra? Ayah suruh kamu menikah bukan tanpa apa-apa. Ayah mau kamu segera dewasa. Tapi, ternyata ini hasilnya? Ayah kecewa sama kamu." Begitulah Bakri. Ayah Prana itu memang sangat keras dan tegas. Semua orang di keluarganya tunduk pada Bakri, takut.
Selama ini Prana terus berusaha memberikan yang terbaik untuk ayahnya. Ia bahkan sudah dewasa sebelum waktunya. Prana selalu memenuhi permintaan ini-itu dari ayahnya. Namun, ternyata Bakri belum puas juga.
"Yah, Prana minta maaf sekali lagi. Tapi, Prana tahu apa yang terbaik buat Prana dan juga Anggi," balasnya dengan nada lembut. Prana selalu berusaha tidak meninggikan suaranya di depan orang tuanya apalagi ayahnya.
“Ayah nggak mau tau. Kamu harus segera pulang dan kembali kepada istrimu.” Hanya 2 kalimat itulah yang ditinggalkan Bakri sebelum akhirnya pergi dari sana.
Sementara, Vina dan Ica masih tinggal bersama Prana. Ketiganya sama-sama bergeming dan saling tatap satu sama lain. "Masuk dulu, Ma, Mbak." Prana akhirnya mempersilakan. Cowok itu masuk terlebih dahulu lalu diikuti Vina dan Ica di belakangnya.
Vina segera meneteskan air matanya. “Sayang, anakku. Kali ini Mama setuju dengan ayah kamu, Nak. Tolong, jangan kabur dari masalah kamu.” Sambil terus menangis, tangan Vina menggenggam erat tangan anak laki-lakinya.
Hati Prana mencelos saat melihat bulir air mata itu jatuh dari pelupuk mata mamanya. “Tapi, Prana nggak lari dari masalah, Ma. Prana cuma butuh waktu," terangnya.
“Mama tahu itu. Tapi, apa kamu nggak pernah berpikir kalau istrimu sangat mengkhawatirkanmu di rumah, Nak?”
Prana lantas menghela napas. “Ma, aku justru kasih kesempatan buat dia untuk berpikir. Aku menawarkannya cerai,” kata cowok itu menjelaskan.
“Cerai?” Ica dan Vina kompak merespon. Keduanya sama-sama terkejut mendengar pengakuan dari Prana.
“Iya, Mbak, Ma. Aku gak mau buat dia menderita. Aku takut gak bisa bikin dia bahagia. Aku justru merepotkan dia nanti, Ma, Mbak.”
__ADS_1
“Sayang, Mama tahu masalah kalian memang sangat berat. Tapi, cerai gak bisa dijadikan satu-satunya cara untuk keluar dari masalah ini, Nak. Mama yakin kamu pasti bisa cari jalan keluarnya. Kamu sudah dewasa, Prana. Kamu harus bisa ambil keputusan sendiri," tutur Vina sambil mengusap lembut pipi anak laki-lakinya itu.
“Aku setuju sama Mama.” Ica ikut menimpali dengan penuh antusias. Ada secuil perasaan lega yang menyeruak dalam dadanya saat Vina melontarkan kata-kata tersebut.
***
Bima, Dion, dan Jesi beramai-ramai datang ke kediaman Anggi dan Prana untuk menanyakan kabar. Mereka sangat mengkhawatirkan kondisi keduanya semenjak insiden tempo hari. Anggi juga sudah menceritakan semua, termasuk Prana yang pergi dari rumah selama beberapa hari ini.
“Pak Brama bener-bener jahat. Udah g*la tuh kepala sekolah. Bukannya ngasih kesempatan murid-muridnya buat kasih penjelasan, malah main DO sepihak aja.” Dion benar-benar dibuat gemas oleh kepala sekolahnya itu.
Cowok itu berulang kali mengumpat karena keputusan drop out yang menurutnya tidak adil bagi Anggi dan Prana. Pasalnya, alasan yang dibeberkan oleh Pak Brama merupakan sebuah fitnah yang tidak benar adanya untuk kedua insan itu. Nama baik mereka jadi tercemar karenanya.
“Emang sering gitu kalau udah nyangkut masalah kaya ginian. Main tuduh aja, nggak tau kebenarannya juga.” Bima ikut geram.
Jesi menimpali, “Bener. Mereka malah sibuk jaga nama baik sekolah, tapi gak mau dengerin kata hati murid-muridnya. Kejam.”
Dion mendadak menegapkan tubuhnya. “Kita udah pasti ikut marah dong kalau urusannya menyangkut kesejahteraan murid gini. Sebagai pahlawan kemaleman, gue harus bisa menegakkan keadilan,” ujarnya sekenanya sambil menepuk dada kanannya, sudah seperti pahlawan yang hendak bertarung di medan tempur saja.
Jesi segera menoyor kepala Dion saat mendengar kalimat darinya. “Dih, apaan sih lo! Sok jago. Sama cecak aja takut lo. Apalagi mau ngadepin Pak Brama,” cibirnya gemas atas tingkah teman tengilnya itu.
“Tau tuh. Belom ketemu orangnya aja udah kabur duluan," Bima menambahi lalu tertawa renyah setelahnya.
Di sisi lain, Prana tiba-tiba datang dengan koper di tangannya. Seisi ruang tamu mendadak menjadi tegang kala pasang mata mereka menangkap sosok yang kini sudah berdiri di ambang pintu utama.
Anggi perlahan bangkit dari kursinya. “Mas pulang?” tanyanya dengan perasaan senang sekaligus terkejut.
__ADS_1
Namun, bukannya menanggapi kalimat Anggi, Prana justru menatap teman-teman Anggi bergantian secara tajam. “Ngapain arisan di sini?” tanyanya dengan nada sinis.
Dion yang melihat ekspresi Prana yang sudah seperti macan itu segera mendekatinya. “Santai dulu, Pra. Waduh, tatapannya ngeri banget lagi. Kita cuma pengin tahu kabar kalian aja,” jelasnya sambil meringis saat melihat tatapan setajam elang dari Prana.
“Ini bukan urusan kalian,” sangkal Prana dengan dingin dan kaku, membuat semua orang di ruangan tersebut jadi kikuk dan juga takut.
Anggi lantas ikut-ikutan mendekati suaminya. Cewek itu berusaha mengalihkan perhatian Prana supaya emosinya tidak terpancing. “Sini, biar aku bawa barang-barang Mas ke kamar," ujarnya sambil hendak mengambil alih barang bawaan suaminya ke lantai atas.
Akan tetapi, Prana segera mencegah. “Keluar kalian dari sini! Terutama buat lo, Bim. Jangan sampai gue emosi lagi gara-gara lihat muka lo itu lama-lama,” katanya sarkas membuat Bima sedikit tersentak.
“Tapi, Pra-“
Belum sempat Jesi selesai bicara, Prana sudah terlebih dahulu memotong, “Keluar atau nyawa Bima yang jadi taruhan.”
Raut wajah Anggi seketika berubah cemas. Ia takut kalau suaminya berbuat yang tidak-tidak nanti. “Mas, udah,” tegurnya sembari mengusap lembut punggungnya.
“Ya udah, Pra, Nggi. Kita pulang dulu. Assalamu’alaikum.” Dion akhirnya memulai untuk pamit dan undur diri lalu diikuti oleh Bima dan Jesi setelahnya.
"Wa’alaikumussalam," balas Anggi dan Prana secara serentak.
Anggi lalu mengantar teman-temannya ke depan. Cewek itu jadi merasa tidak enak hati karena perlakuan suaminya pada teman-teman mereka tadi.
“Makasih, ya. Hati-hati kalian," ucapnya pada teman-temannya.
“Sama-sama, Nggi. Lo yang sabar ngadepin suami lo. Ngeri juga tuh anak, udah kayak macan garong," balas Dion lagi-lagi memancing. Namun, beruntung Prana sedang tidak di sini. Kalau cowok itu tahu, Dion bisa-bisa habis di tangannya.
__ADS_1
“Udah-udah. Yuk pulang!” Jesi segera melerai dan undur diri bersama yang lain.