Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Terpaksa Menunda


__ADS_3

"Aku menyesal menjadi istri kamu."


Layaknya sebuah peluru yang berhasil menembus jantungnya, Prana jatuh ke lantai seketika. Seluruh tubuhnya mendadak lemas tak berdaya. Energinya hilang terenggut oleh kata-kata menohok dari istrinya.


Apa kesalahannya sampai-sampai kalimat itu berhasil keluar dari mulut seorang Anggia Soraya?


"Sayang? Tolong izinkan aku tahu apa kesalahanku kali ini. Jangan buat aku bingung sendiri." Prana lemah. Ia kalah dalam hal ini. Menghadapi diamnya Anggi ternyata lebih pusing daripada memikirkan sebuah perusahaan.


Anggi masih sesenggukan. Namun, cewek itu sudah mulai menenangkan diri. Rasanya cukup lega saat semua unek-uneknya berhasil ia sampaikan kali ini.


"Mas pergi aja dari sini. Aku masih pengin sendiri. Aku juga mau tidur sekarang."


Ya, cukup dengan kalimat itu saja sudah berhasil membuat pertahanan Prana runtuh. Seketika ia merasa payah sebagai seorang suami sekaligus kepala rumah tangga.


Apalah dayanya bila berhadapan dengan seorang wanita yang sedang terluka hatinya. Setiap pria kebanyakan memang terlalu lemah dalam hal seperti ini. Mereka hanya bisa menuruti kebungkaman pasangannya.


"Oke, aku pergi dari sini. Tapi, tolong besok pagi aku mau kita bicara. Jangan terus-terusan mendiamkan aku begini, ya?"


Cukup itu yang ingin Prana sampaikan saat ini dan itu pun tanpa jawaban sepatah kata pun dari istrinya. Cowok itu lantas bangkit dan perlahan berjalan dengan lemas menuju kamarnya.


***


"Sayang? Istriku?"


Prana menuju dapur setelah keluar dari kamarnya. Cowok itu masih membawa dua kertas di tangannya sejak semalam lalu memasukkan benda itu ke dalam sakunya. Semalam ia sungguh tidak bisa tidur. Pikiran-pikiran tentang Anggi setia menghampiri benaknya. Bahkan, lingkaran di kedua matanya mulai menghitam. Namun, selalu saja ketampanannya tak pernah memudar.


Anggi masih bungkam. Tentu saja telinganya masih normal dan bisa mendengar suara suaminya. Cewek itu hanya pura-pura sedang sibuk dengan bumbu-bumbu dapur.


"Sayang, tolong aku mau kita bicara." Prana memutar tubuh mungil istrinya itu supaya bisa menghadapnya.


Akan tetapi, rupanya Anggi sedang tidak selera menatap wajah suaminya itu. Semalam pun Anggi sama sekali tidak bisa tidur. Bagaimana bisa kalau kata-kata Nita terus bersarang di kepalanya?


Rasanya ia ingin hilang ingatan saja supaya ia bisa lupa segalanya, termasuk ucapan Nita dan statusnya sebagai istri seorang Mahaprana Virgo.


Prana menatap nanar istrinya. Ia mengembuskan napas beratnya. "Hey, Sayang. Tolong, kamu boleh menjelaskan semuanya dan aku nggak akan memotong satu kata pun dari kamu. Aku akan terus mendengarkan sampai kamu selesai bicara," ujarnya membuat Anggi perlahan menatap mata sayu itu.

__ADS_1


Anggi ikut menghela napas. "Aku lagi males ngomongin soal itu, Mas. Terlalu sakit kalau mengungkitnya lagi," balasnya malas. Cewek itu benar-benar kecewa saat ini.


"Tapi, aku juga bingung kalau kamu kaya gini, Sayang. Aku nggak masalah kalau kamu maki-maki aku segala macam. Aku nggak akan melarang apalagi membantah kalau memang itu kesalahanku," kata Prana dengan segenap hatinya seraya menangkup kedua pipi istrinya yang semakin kurus itu.


Anggi perlahan melepas kedua tangan Prana dari pipi-pipinya. "Selama ini aku percaya sama kamu, Mas. Oke, aku akan mulai." Anggi mundur sedikit ke belakang supaya lebih nyaman.


Cewek itu menatap intens wajah suaminya. Sebisa mungkin ia akan berusaha menahan air matanya supaya tak menetes lagi dan sejujurnya ia sudah merasa kalau mungkin air matanya sudah habis karena terus menangis semalaman.


"Tolong jelasin ke aku tentang kamu sama Nita." Anggi memulai dengan perasaan setegar mungkin. Membayangkannya saja langsung membuat hatinya hancur lebur.


"Aku sama Nita? Maksudnya? Yang mana?" tanya Prana kebingungan sambil mengerutkan keningnya, membuat kedua alis tebalnya terpaut.


Hati Anggi kembali berdenyut. Namun, lagi-lagi ia harus tegar mendengar apa pun jawaban suaminya nanti. "Kamu berani bilang 'yang mana', Mas? Coba kamu ingat lagi deh, memangnya mana saja atau apa saja yang udah kamu lakukan sama dia?" tanyanya menantang. Ia harus menahan emosinya dulu.


Prana semakin bingung dibuatnya. "Aku sama sekali nggak ngerti maksud kamu, Sayang. Tolong, jangan buat aku semakin bingung," jawabnya polos. Ia memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya itu.


"Hebat ya, kamu pura-pura lupa, pura-pura nggak tau. Jangan sok polos, Mas. Nita udah cerita ke aku kok, jadi gak perlu ditutup-tutupin lagi." Anggi membuang muka. Rasanya sakit sekali melihat ekspresi suaminya yang pura-pura tidak tahu itu.


"Aku gak nutupin apa-apa, istriku. Apa yang diceritain Nita? Aku nggak tahu apa-apa," jawab Prana lagi-lagi dengan bingung. Apa sebenarnya yang semalam terjadi antara Anggi, Nita, dan Bima?


"Hotel? Nita?" Prana mencoba mengingat-ingat lagi tentang dua kata itu. Apa ini? Apa maksud dari perkataan Nita semalam itu ini?


Anggi segera tersenyum miris. "Aku kira kamu cowok baik-baik, Mas. Aku kira kamu suami idaman selama ini. Aku kira kamu bisa menjaga hati kamu di luar sana. Tapi, ternyata sekarang kamu malah membuktikan kalau opini aku tentang kamu selama ini salah," terangnya sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Seolah menantang, tapi sebenarnya hatinya amat terluka.


"Aku selalu jaga hati aku buat kamu, Sayang. Kamu cuma salah paham. Yang dibilang Nita semua omong kosong," jelas Prana sambil mengguncang kedua bahu istrinya, mengisyaratkan ketegasannya.


"Aku gak peduli omong kosong semacamnya. Aku cuma mau denger kamu bilang 'enggak' soal pernyataannya Nita itu, Mas." Anggi lagi-lagi tersenyum miris.


"Kamu aja gak pernah ngasih aku nafkah batin, Mas. Ternyata alasan kamu pisah kamar sama aku selama ini cuma alibi buat nutupin kelakuan kamu itu, iya?" ujarnya dengan intonasi yang mulai meninggi dan berhasil membuat Prana tersentak.


Istrinya itu sudah benar-benar tak mau tahu kalau cowok di depannya saat ini merupakan suaminya. Seorang yang harus dihormatinya.


"Aku memang udah salah soal itu, Anggi dan aku minta maaf. Tapi, aku benar-benar cinta dan sayang sama kamu sekarang ini. Aku-"


"Mas! Aku cuma mau kamu jawab 'iya' atau 'enggak'. Udah, itu aja." Anggi mulai lepas kendali. Bahkan, kedua matanya kini merah dan membulat.

__ADS_1


Prana menatap istrinya dengan heran. Setan mana yang kini merasuki tubuh seorang Anggia Soraya sampai membuatnya berubah menjadi orang yang sangat berbeda?


Prana mengembuskan napas. Cowok itu berjalan menuju kursi di sebelah meja makan lalu duduk di sana. Ia mengacak rambutnya frustrasi.


"Benar, aku memang pernah sekamar sama dia. Tapi-"


"Tapi apa?"


"Tapi, aku punya alasan kuat soal itu. Dan asal kamu tahu aja, Anggia. Aku gak pernah berbuat apa-apa sama dia. Lagipula kita berempat di sana. Ada aku, Nita, dan dua teman cowok aku. Kejadiannya memang udah lama, sewaktu kita belum menikah. Ada satu hal yang memaksa kita berempat buat menginap di hotel waktu itu. Aku berani bersumpah, Anggia Soraya. Aku gak pernah main cewek di luar sana," ikrarnya, berhasil membuat jantung Anggi berdebar kencang.


Bagaimana tidak? Suaminya sudah berani bersumpah dan ia yakin Prana bukan tipe orang yang asal mengucap sumpah bila tidak bisa mempertanggungjawabkannya.


Anggi ikut ambruk ke kursi. Ia mengusap wajahnya gusar. "Oke, mungkin aku bisa percaya sama kamu," ujarnya lalu menatap wajah lesu suaminya.


Ia lantas kembali berdiri dan diikuti pula oleh Prana. Mereka kini saling berhadapan satu sama lain.


"Tapi, tolong aku ingin kita berjarak untuk sementara waktu supaya aku bisa menenangkan diri dulu. Jangan ganggu aku dulu, Mas. Aku benar-benar ingin sendiri dan semoga aku masih bisa menerima kamu sebagai suamiku," jelasnya lalu melenggang begitu saja tanpa menghiraukan suaminya yang terus memanggil namanya.


Prana kembali menjatuhkan badannya ke lantai. Ia mengacak rambutnya frustrasi. Cowok itu jadi teringat benda di kantong celananya. Dengan cepat Prana mengambil dua benda tipis itu dan menatapnya sejenak.


Suami Anggi itu lantas berjalan menuju tempat sampah. "Mungkin, memang belum waktunya," katanya sesaat sebelum membuang dua kertas yang tak lain merupakan tiket honeymoon ke Bali ke dalam tong sampah di depannya.


***


[Baca sampai akhir, ya]


Hai! Semoga hari kalian menyenangkan.


Kasihan Prana, ya? Padahal sudah berekspetasi tinggi, tapi ternyata takdirnya demikian.


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?


COMMENT pendapat dan saran kalian buat bab ini. Biar gak sider aja hehehe.


TERIMA KASIH BANYAK.

__ADS_1


__ADS_2