
Maaf yaa author jadi jarang update soalnya lagi banyak banget urusan.
Sebelum baca, LIKE sama COMMENT dulu, boleh?
Sekaligus ajak semua kenalan kalian untuk baca cerita ini, ya?
Hehehe terima kasih banyak
***
Anggi memutar kepala cepat. Cewek itu baru saja tersentak saat mendengar nama Prana terlontar dari mulut Bima.
"Mas Prana?" pekik Anggi sedikit keras karena terbentur oleh derasnya suara hujan yang jatuh ke bumi.
Terlihat cowok itu mendekat. Dengan tatapan tajamnya ia memandang ke arah Bima tidak suka. Kemudian, menatap pada istrinya lagi.
"Jadi, ini alasan kamu pisah rumah sama aku? Supaya kamu bisa mesra-mesraan sama orang ini? Iya?" ujar Prana dengan nada meninggi. Anggi menatap pada Bima lalu pada suaminya lagi. Hatinya sudah seperti mencelos saat Prana melontarkan pertanyaan itu.
"Gak gitu, Mas. Kita obrolin ini pakai kepala dingin, ya. Mas Prana tahan emosi dulu supaya enggak salah tangkap," kata Anggi mencoba sebisa mungkin meredam emosi suaminya yang mulai tersulut.
Prana mengembuskan napas gusar. Cowok itu lantas meletakkan payungnya di ujung teras. Mengibas-ngibaskan kemejanya yang sedikit basah. Lantas ia kembali menghampiri Bima dan Anggi yang sempat saling tatap dengan raut wajah khawatir.
"Mas? Bima ke sini cuma pengin jenguk aku. Habis itu dia juga bilang kalau-" Anggi sengaja menggantung kalimatnya sembari menatap Bima. Cowok itu mengangguk seolah paham apa maksudnya.
"Kalau apa?" tanya Prana dengan nada datar.
"Kalau biang keladi semua masalah ini adalah Nita, Mas. Nita yang sudah mengompori Rena supaya mau balik lagi sama Mas Prana," jelas Anggi pada suaminya.
"Aku udah tahu," respon Prana dengan nada dingin.
Cyra segera menekuk kedua alis. Bingung sekaligus dibuat bertanya-tanya oleh pernyataan suaminya itu. Jadi, Prana sudah tahu?
"Ka-kamu udah tahu? Kapan? Terus?" Anggi mendadak dibuat bingung dengan kalimatnya sendiri. "Maksudku, jadi Mas ke sini mau ngapain?"
__ADS_1
"Dia mau jemput kamu, Nggi," ujar Bima pada Anggi yang sedang dilanda kebingungan.
Cowok itu mengulas senyum tulusnya. Tuhan, mengapa cowok seperti Bima harus tersakiti olehnya? Anggi jadi yakin kalau Bima ini merupakan raja drama. Ia sangat jago dan pandai menutupi luka di hatinya.
"Iya, Istriku. Aku mau jemput kamu untuk pulang ke rumah. Kamu mau, kan?" tanya Prana dengan ragu-ragu.
Tunggu. Anggi jadi bingung. Jadi, mereka sudah bersekongkol begitu sebelumnya? Bersekongkol untuk membujuk Anggi kembali kepada pelukan suaminya. Mengapa selalu Anggi yang tidak tahu apa-apa di sini? Ah, ia jadi kesal sendiri.
"Terus gimana sama Renata? Dia masih butuh kamu kan, Mas? Enggak. Aku gak mau cuma karena keegoisanku ini, Rena bakal kenapa-kenapa nanti," tolak Anggi tegas. Cewek itu masih saja bersikukuh dengan kemauannya sendiri. Seharusnya ia juga bisa memikirkan perasaan suaminya. Mahaprana Virgo.
"Kamu gak perlu khawatir, Nggi. Aku bakal baik-baik aja."
Suara itu. Anggi seperti pernah mendengarnya. Dengan cepat cewek itu berbalik badan. Pasang matanya langsung menangkap sosok bertubuh yang sepantaran dengan dirinya dengan dress panjang. Terkesan anggun dan rupawan. Ya, dia di sini juga. Renata.
"Rena? Kamu di sini?" ujar Anggi dengan polosnya. Cewek itu celingukan ke arah belakang badan Renata. Dengan siapa Rena datang kemari?
"Aku datang bareng Bima sama suami kamu, Nggi," ujar Rena sebelum Anggi bertanya padanya. Sepertinya cewek itu bisa membaca pikiran Anggi saat ini.
"Loh? Ini maksudnya gimana, sih? Anggi gak ngerti," rengek Anggi geregetan sendiri karena dia yang plonga-plongo sendiri di sini. Sifat kekanakannya mendadak muncul kembali.
"Renata? Aku tahu kalau Nita yang udah bujuk kamu buat balik sama Mas Prana. Aku tahu tindakannya sama sekali gak benar. Tapi, Ren. Kamu, kan? Maksudku, kamu butuh Mas Prana, kan? Aku paham itu kok, Ren. Kamu gak perlu khawatir ataupun cemas sama aku. Insya Allah aku bakal ikhlas kalau Mas Prana harus sama kamu. Aku tahu kamu orang baik, Ren. Aku gak bakal cegah Mas Prana untuk menikah denganmu," jelas Anggi beruntutan. Cewek itu menatap Rena dengan sorotan mata sendu. Seolah ia bisa merasakan perasaan cewek itu selama ini.
Rena maju selangkah dan mengambil kedua tangan cewek di hadapannya. Lantas menatap pasang manik mata itu dengan iba. "Kenapa kamu ngomong gitu, Nggi? Gak baik, dosa, pamali. Suami kamu ya bakal jadi suami kamu. Sampai kapanpun. Kamu gak boleh membaginya kepada siapa pun, termasuk aku," jeda helaan napas, "Kenapa, Nggi? Kenapa kamu gak pernah mau dengar apa kata hati kamu? Kamu gak kasihan sama diri kamu sendiri juga Prana? Apa kamu gak pernah mikir perasaannya sesakit apa mendengar permintaanmu yang gila itu? Aku saja sampai geleng kepala mendengarnya."
Rena menatap Bima dan Prana secara bergantian, lalu menatap pada Anggi lagi dengan seulas senyum.
"Nggi? Aku tahu kamu itu punya hati yang baik, baik banget. Kamu itu tulus dan apa adanya. Wajar banget kalau Prana sangat cinta sama kamu. Aku tahu betul dari sorotan mata suami kamu, dia sangat sayang sama kamu. Prana gak mau jauh dari kamu, Anggia. Yang diinginkan Prana cuma kamu seorang. Ia gak akan lagi membagi hatinya untuk siapa pun." Rena mencoba memberi penjelasan untuk Anggi supaya cewek itu mau mengerti. Bukan ini yang Prana mau. Prana ingin ia bisa kembali seperti dulu lagi bersama istrinya.
"Anggi. Tolong, kamu juga gak boleh bohongi hati sama perasaan kamu. Aku tahu sebenarnya kamu juga sangat sayang sama suami kamu, kan? Sebenarnya kamu gak mau suami kamu pergi sama cewek lain. Iya, kan?" desak Rena membuat Anggi diam seketika. Semua kata-kata itu memang dibenarkan oleh Anggi. Namun, cewek itu tak berani menjawab.
"Jangan egois, Nggi. Jangan egois karena kamu terlalu baik sama orang lain. Aku tahu maksud kamu baik. Tapi, kamu malah berbuat buruk sama diri kamu sendiri. Gak ada yang suka sama sikapmu yang satu itu, Anggi. Kamu harus bisa memikirkan diri kamu terlebih dahulu dari orang lain. Kamu ya harus menjadi yang nomor satu yang kamu cemaskan. Bukan orang lain." Rena masih belum berhenti. Cewek itu sangat ingin Anggi bisa mencerna kalimatnya dengan baik-baik.
"Tapi, Ren. Kamu sendiri gimana? Aku gak mau kamu kenapa-kenapa cuma karena keegoisanku," ujar Anggi masih berat menerima kalimat Renata.
__ADS_1
"Tuh, kan! Baru aku bilang. Jangan khawatirkan aku. Aku sangat baik-baik saja," jawab Rena. "Setelah ini, aku janji aku bakal pergi dari kehidupan kalian."
"M-maksudnya? Dengan kondisimu yang seperti itu. Kamu mau ke mana, Ren?" tanya Anggi langsung khawatir mendengarnya.
Rena tersenyum pada Anggi. "Aku mau menjalani pengobatan di luar kota, Nggi. Memangnya kamu mau melarang aku mencari kesembuhan?" tanyanya lalu terkekeh kecil.
"Luar kota? Sama siapa?"
"Aku punya saudara di sana. Kamu gak usah cemas. Sekarang, kamu harus pikirin nasib kamu sama Prana. Ayo, cepat kembali pada suami kamu," suruh Rena sambil mendorong tubuh cewek itu supaya mendekat pada Prana.
"Jadi, gimana?" tanya Prana sambil mengulas senyum ragu-ragu.
"Nggi. Udah dengar, kan apa kata Rena tadi? Kita semua berharap penuh kalau kamu mau kembali sama Prana," seru Bima supaya Anggi juga menjadi terdorong.
Anggi menatap mata cowok di depannya dengan mata berkaca-kaca. Dengan samar-samar ia mengangguk. "Aku mau, Mas," ucapnya kemudian.
Membuat Prana segera bersyukur pada Yang Di Atas. Cowok itu bahagia bukan main. Tak menyangka bila Anggi bisa kembali lagi di hidupnya sebagai istrinya. Dengan segera cowok itu memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat. Seolah tak mau orang lain mengambilnya.
"Mas! Hati-hati! Ada Dede Bayi," bisik Anggi pada Prana. Membuat cowok itu meringis karenanya.
Tangan Prana lantas terulur mengusap perut istrinya yang mulai membuncit. Air mata pun segera terjun dari ujung matanya. Rasa bahagia itu menjadi bertambah berkali-kali lipat. Sampai ia bingung bagaimana cara mengekspresikannya.
"Ini anak kita? Masya Allah. Kamu yang baik-baik di dalam sana ya, Dede Bayi. Ayah gak sabar nyambut kamu," ujar Prana masih dengan mata yang berkaca-kaca.
"Makasih, Anggia. Makasih, Istriku atas semuanya."
Anggi menatap wajah suaminya dengan intens. Terlihat jelas ada rona kebahagiaan di sana. Hingga cewek itu juga tak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh dari muaranya. Untuk yang kesekian kali Anggi bersyukur pada Tuhan. Karena kesabaran yang dianugerahkan-Nya selama ini padanya, cewek itu bisa menjadi istri yang tangguh.
Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu, Mas. Kamu sudah mengajariku banyak hal selama ini. Semoga kita bisa terus bersama sampai ke surga Allah. Aamiin.
***
[Baca sampai akhir, ya]
__ADS_1
Satu kalimat buat bab ini?
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kisah-kisah yang lain. Setuju?