Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Mawar


__ADS_3

Sebelum baca, LIKE sama COMMENT dulu, boleh? Hehe terima kasih.


***


Anggi tersenyum hangat pada suaminya. Jelas terlihat kalau Prana pun sebenarnya juga sempat menatapnya. Namun, cowok itu justru menampakkan eskpresi datar.


Bukan. Lebih tepatnya kegelisahan yang seperti disembunyikan. Anggi memang tak bisa membaca pikiran orang lain. Tapi, kalau sudah menyangkut suaminya, ia selalu bisa merasakan apa yang dirasakannya saat itu juga.


"Mas?" panggilnya ragu.


Prana belum menoleh. Cowok itu fokus menyalakan mobil dan mulai tancap gas. Anggi semakin bingung. Ada apa dengan suaminya? Tunggu. Dan di mana map atau berkas-berkas yang suaminya maksud tadi?


"Mas?" panggilnya lagi. Kini ia lebih memberanikan diri.


"Hm?" Prana akhirnya menoleh. Masih dengan tatapan datarnya.


Anggi melirik peluh yang menetes dari ujung rambut suaminya. Mengapa Prana tiba-tiba berubah? Mengapa ia sampai berkeringat seperti itu jika hanya mengambil berkas saja? Bukankah gedung megah itu punya banyak lift?


"Map kamu? Bukannya kamu harusnya ngambil berkas-berkas penting itu, Mas? Yang aku lihat tadi, kamu kok nggak bawa apa-apa?" tanya istri Prana itu dengan beribu rasa kebingungannya.


Prana tertegun sejenak. Ah! Rena sudah membuat semuanya kacau. Bagaimana bisa ia melupakan berkas-berkas itu? Padahal, kan tujuannya ke kantor untuk mengambil map tersebut.


"Oh, anu. Tadi udah dipindahin ke flashdisk, Yang," katanya berbohong. Ia pun segera menghapus keringatnya.


Anggi melirik lagi pada suaminya. Ada yang aneh, pikirnya. Mengapa cewek itu merasa suaminya sedang menyembunyikan sesuatu darinya? Ah! Jangan. Tidak baik suudzon pada suami sendiri. Lebih baik memikirkan yang baik-baik saja.


"Oh, gitu ya, Mas," responnya sambil manggut-manggut paham meski dengan secuil rasa curiga.


Prana melirik pada Anggi. Apakah istrinya itu sedang menaruh rasa curiga? "Mau makan?" tawarnya.


"Di rumah aja, Mas."


***


Anggi berada di tengah-tengah padang pasir yang amat terik. Sinar mentari benar-benar menusuk kulitnya siang ini. Ia sedang mengenakan gaun hitam panjang. Bahkan, ujung gaun itu menyapu pasir-pasir berwarna merah kecokelatan.


Dilihatnya dari kejauhan sesosok laki-laki jangkung. Ia pun mengenakan setelan tuksedo yang senada dengan yang dikenakan oleh Anggi. Rambutnya tertata rapi. Setangkai bunga mawar putih diselipkan di saku jas bagian atas. Menambah kesan jantan pada dirinya.


Laki-laki itu menghampiri Anggi. Sontak perempuan itu mengembangkan senyum amat lebar. Memperlihatkan deretan gigi-gigi mungilnya. Pun dengan laki-laki tadi. Senyum yang ia lempar tak kalah lebar dengan senyum milik Anggi.

__ADS_1


Diambilnya tangkai bunga mawar putih anggun itu dari sakunya, lantas ia melanjutkan langkah mendekati Anggi. Anggi sudah bersemu di tempat. Semburat merah itu kini menjalar hingga kedua pipi-pipi tembamnya.


"Mas Prana!" teriaknya dengan amat lantang.


Seketika rasa berbunga menyerbak dan menyelimuti seluruh relung hatinya. Tak bisa ditutupi lagi kalau ia benar-benar bahagia menyambut laki-laki paling dicintainya itu.


Prana masih bungkam. Ia terus berjalan. Semakin mendekat pada Anggi. Senyumnya pun makin melebar. Membuat siapa saja pasti meleleh bila menatapnya seperti itu. Selangkah lagi ia sampai.


Namun, tiba-tiba Anggi terhenyak dan segera menoleh ke belakang. Ekor matanya mengikuti langkah Prana. Bukannya berhenti dan memberikan mawar itu pada Anggi, suaminya itu justru melanjutkan langkah lebih jauh. Seolah sama sekali tak melihat ada sosok istri yang sudah menunggunya dengan senyum lebar dan tulus. Bukan menghampirinya, tapi Prana berjalan menuju sesosok perempuan yang sebaya dengan Anggi. Perempuan itu mengenakan gaun putih panjang, lebih mewah dari milik Anggi.


Istri Prana itu segera menutup mulut dengan kedua tangan. Siapakah gerangan itu? Mengapa Prana lebih tertarik padanya dan bukan pada Anggi yang istri sahnya?


Anggi semakin membulatkan kedua matanya saat Prana menyerahkan mawar itu pada perempuan di hadapannya. Tunggu. Apa semua ini? Mengapa suami Anggi justru memberikan mawar itu padanya? Keduanya pun tampak amat bahagia. Sama sekali tak menghiraukan Anggi di sana.


"Mas Prana!" teriaknya lagi.


"Mas! Kamu ngapain?" Anggi semakin melantangkan suara.


Tak ada jawaban. Mereka bahkan sama sekali tak menoleh dan justru melanjutkan langkah ke arah yang berlawanan dari tempat berdiri Anggi.


"Mas! Mas Prana!"


"Mas! Ini aku! Istri kamu, Anggi!"


"Mas!"


"Hey, hey! Sayang? Istriku? Kamu kenapa?" Sudah kesekian kali Prana menepuk pipi istrinya. Mencoba membangunkannya.


Anggi mulai membuka mata. Ekor matanya langsung menangkap wajah suaminya di hadapannya. Dengan tempo sepersekian detik cewek itu segera menangis. Lantas memeluk erat tubuh suaminya itu.


"Hey! Anggia, Istriku? Kamu kenapa, Sayang?" tanya Prana sambil membelai lembut punggung istrinya.


"Mas Prana," jeda isakan keras, "jangan ninggalin aku. Ya?" pintanya sambil terisak dalam dekapan suaminya.


Prana semakin bingung. Mengapa Anggi terus mengigau sembari memanggil namanya tadi? Mengapa istrinya tiba-tiba menangis seperti ini?


"Ssttt. Tenangin dulu diri kamu. Subhanallah, kamu sampai keringetan, Sayang," kata Prana saat membelai rambut istrinya itu.


"Bilang dulu, jangan pernah ninggalin aku. Ayo, Mas. Ngomong," mohon istri Prana itu masih dengan isakan mendalamnya. Bahkan, napasnya sampai berderu dan Prana langsung bisa merasakannya.

__ADS_1


"Iya-iya. Udah, jangan mikir yang aneh-aneh," peringatnya sambil melepas perlahan pelukan istrinya.


Tangannya lantas terulur meraih gelas berisi air mineral di atas nakas lalu menyodorkannya pada cewek di hadapannya. "Ini. Kamu minum dulu," suruhnya.


Anggi segera menyambutnya dan suaminya itu membantunya meneguk segelas air mineral itu. Detik berikutnya, Anggi mulai tenang dan Prana mengembuskan napas panjang.


"Udah, ya. Kamu tidur lagi. Masih malem," katanya dengan begitu lembut. Namun, kelembutan suara suaminya tak dapat begitu saja menyapu segala rasa cemas, takut, dan gelisah yang sudah menguasai dirinya.


"Mas? Aku takut. Takut banget. Kamu nggak bakal ninggalin aku, kan?" tanya Anggi, memastikan kalau Prana akan selalu ada untuknya.


Prana mengerutkan kening, lantas segera tersenyum hangat. "Iya, Istriku. Aku, kan udah janji sama kamu. Apa pun yang terjadi nanti, aku nggak bakal ninggalin kamu. Aku janji bakal nemenin kamu sampai akhir hayatku," katanya. Jujur, Prana mengatakannya dengan tulus dan dari lubuk hatinya yang paling dalam.


"Bener, kan?"


"Iya. Udah tidur lagi. Sini, kamu tidur di lengan aku aja. Biar nyaman," tawarnya. Setidaknya supaya istrinya itu tak merasa takut lagi.


Dan dengan langsung Anggi kembali merebahkan diri, lantas menyandarkan kepalanya pada lengan suaminya itu. Perlahan ia mulai menutup kedua matanya. Belaian lembut di kepalanya dari suaminya itu berhasil membuatnya segera terlelap.


"Kamu kenapa sih, Istriku? Ya Allah, hindarkan istriku dari segala macam keburukan. Jangan sakiti hatinya dan jangan buat ia meneteskan air mata lagi. Beri ia kebahagiaan saja juga ketenangan setiap waktu. Bila saja nanti hamba tak bisa menemaninya, maka jagalah istri hamba selalu, Ya Allah."


Prana terus memohon pada Sang Maha Kuasa. Berharap supaya istrinya tidak merasa ketakutan lagi. Berharap supaya istrinya tidak merasa cemas dan gelisah lagi. Berharap bila ia tak ada di sisi istrinya lagi, maka akan ada Tuhan dan seseorang yang lebih baik darinya yang bisa menjaganya. Paling tidak itu saja yang ia minta saat ini.


Karena kebahagiaan Anggi merupakan kebahagiaan Prana dan kepedihan Anggi merupakan kepedihan Prana juga.


***


"Nit? Gue pengin ketemu sama lo. Please, ini urgen banget. Lo bisa, kan jemput gue di gedung kantor Prana?" Dengan isakan yang masih tersisa, Rena berbicara di telepon. Kedua matanya sembab dan wajahnya merah pucat.


"Lo kenapa, Ren? Lo udah ke kantor Prana? Lo ketemu sama Prana? Sendirian? Kenapa nggak bilang gue dulu, sih. Kan, bisa gue temenin, Renata."


"Nggak papa, Nit. Jemput gue, ya? Gue juga mau cerita," katanya lagi.


"Iya. Oke-oke. Gue ke sana secepatnya. Lo jangan ke mana-mana. Tetep di situ dan cari tempat ramai. Okay?"


"Iya, Nit. Makasih."


***


[Baca sampai akhir, ya]

__ADS_1


Satu kalimat buat bab ini?


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?


__ADS_2