Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Ciuman Pertama


__ADS_3

Aroma mint yang tercium dari embusan napas suaminya membuat Anggi merinding dari ujung kaki sampai ujung kepala. Perlahan cewek itu memejamkan kedua matanya dan menyambut bibir Prana.


Cup!


Prana mengecup bibir istrinya selama sekian detik. Bahkan, dalam hal ciuman pun cowok itu tetap saja kaku.


"Aku kaku banget, ya?" tanya Prana dengan wajah polosnya membuat Anggi yang semula bengong karena ciuman itu jadi melepas tawanya.


"Lucu banget sih kamu, Mas. Namanya juga cowok kaku. Semuanya jadi ikut kaku deh." Anggi tidak bisa menahan gelak tawanya. Cewek itu dibuat gemas sendiri oleh suaminya.


"Itu tadi ciuman pertama aku," ujar Prana malu-malu. Tatapannya intens menerobos manik mata indah milik istrinya.


"Oh, ya? Sama dong," jawab Anggi tak tahu malu. Sepertinya cewek itu memang tipe orang yang super santai. Meski sama-sama canggung karena ciuman pertama mereka, namun hanya Anggilah yang bisa menyembunyikan rasa canggung itu untuk mencairkan suasana.


"Masa? Sama Bima? Nggak pernah emangnya?" Prana tahu Anggi memang cewek baik-baik dan selalu menjaga apa yang dia punya. Tapi, ia tidak mengenal Bima sepenuhnya. Mungkin saja cowok itu tidak sepolos wajahnya.


"Enggak pernah, Mas. Suwer deh," jawab Anggi sambil mengangkat jarinya membentuk tanda peace dengan cepat.


"Aku itu udah janji sama diri aku sendiri dari lama, kalau apa pun yang terjadi aku harus bisa jaga ciuman pertamaku buat suamiku nanti. Dan nggak nyangka, ya? Ternyata ciuman pertama dari suami aku itu kamu," terangnya membuat Prana kagum sendiri.


Prana pun segera memeluk erat istrinya, seolah tidak mau Anggi diambil oleh orang lain. Namun, dering telepon dari ponsel Prana mengacaukan suasana romantis dari pasangan suami-istri muda itu. Dengan sigap Prana mengangkat telepon dari Maman.


"Oke, gue ke sana."


Prana menutup teleponnya dan segera menatap Anggi kembali. Namun, tatapan itu berbeda dari tatapan Prana beberapa saat yang lalu.


"Kamu aku antar pulang sekarang," ujar Prana lalu melenggang cepat menuju parkir motor.


"Mas mau ke mana emang?" tanya Anggi sembari mengikuti langkah suaminya.


Bukannya menjawab, Prana justru menyuruh Anggi untuk cepat-cepat naik ke jok belakang dengan sikap dinginnya kembali. Anggi jadi bertambah bingung mengapa suaminya selalu tiba-tiba berubah begini.

__ADS_1


***


"Gue lihat Rena jalan sama cowok lain."


Seperti biasa, Maman menyampaikan informasi yang ia dapat dari kenalannya yang jadi mata-mata untuk membantunya mencari kabar mengenai Renata.


"Gue yakin kalau itu pasti pacar barunya. Mereka sempat pelukan juga," jelasnya pada Prana sembari menunjukkan foto-foto yang ia dapat dari mata-matanya.


"Anjing! Gue harus bener-bener ketemu Rena." Prana tak bisa menahan emosinya. Ia sudah mengepalkan kedua tangannya kuat dan membenturkannya pada kaki meja.


"Bro! Inget! Lo udah ada istri. Gue yakin kalau lo itu orang baik, Pra. Lo harus bisa pertahanin pernikahan lo. Jangan sampai lo kegoda setan-setan yang udah susah payah buat ngehancurin rumah tangga lo." Maman ikut emosi melihat respon temannya itu. Ia tak habis pikir, sebenarnya setan mana yang sudah membutakan hatinya?


"Gue kasih info gini ke lo supaya lo sadar, Pra kalau udah saatnya lo harus ngelupain Rena. Supaya lo bisa fokus belajar mencintai Anggi, istri lo," tutur Maman. Namun, Prana masih bergeming dan tetap dalam pendiriannya.


Prana merasakan ada sesuatu yang sangat mengganjal di relung hatinya dan ia tidak dapat memastikan apa itu. Pikirannya kini ada pada Renata dan juga Anggi, istrinya. Cowok itu mengacak rambutnya frustrasi.


"Tapi, gue masih cinta sama Rena, Man."


Prana mulai gelisah sendiri. Pikirannya amat kacau sekarang. "Thanks infonya, Man. Gue mau balik," ucap Prana sembari bangkit dari kursinya dan hendak pergi dari sana.


"Tunggu, Pra!" cegah Maman.


"Gue pengin pesan satu hal sama lo kali ini. Apa pun yang terjadi nanti, jangan sampai kalian pisah apalagi kalau lo sampai nyakitin hatinya Anggi."


Prana acuh merespon kalimat temannya itu. Ia hanya menunjukkan wajah datarnya lalu pergi begitu saja.


***


"Mas Prana udah pulang, ya."


Anggi yang baru saja turun dari tangga itu langsung berlari kecil dan berhambur menyambut suaminya.

__ADS_1


Cewek itu dengan cepat bisa membaca raut wajah Prana yang suntuk. "Ada apa, Mas? Mas tadi dari mana?" tanyanya penasaran. Anggi khawatir saat melihat air muka suaminya yang seperti itu.


"Bukan urusan kamu."


Lagi-lagi nadanya kembali kaku dan dingin. Cowok itu pun belum menampilkan senyumnya pada istrinya. Ia justru tidak mau menatap wajah Anggi dan berjalan menuju tangga.


"Selama ini aku udah sabar, Mas. Aku ini istri kamu. Kenapa aku nggak boleh tahu, sementara teman kamu di telepon itu boleh tahu? Se-nggak penting itukah aku buat kamu, Mas?" Anggi tidak kuasa menahan sesak di dadanya. Cewek itu akhirnya mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini.


Rupanya, kalimat istrinya itu berhasil memancing pertahanan Prana yang sudah susah payah menahan emosinya. Prana akhirnya berbalik dan berjalan menghampiri Anggi yang sudah memasang wajah kesalnya itu. Sama halnya seperti Anggi, Prana juga tak kalah menunjukkan air muka merah padamnya dan menatap istrinya dengan sinis dan amat tajam.


"Gue gak minta lo jadi istri gue, Anggi."


"Aku juga nggak pernah ada impian buat jadi istri Mas kok. Tapi, ternyata Allah nyatuin kita. Awalnya aku juga terpaksa menjalani pernikahan ini. Tapi, sekarang aku-"


Belum sempat Anggi merampungkan kata-katanya, Prana yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya segera memotong. "Oh! Jadi lo terpaksa sama pernikahan ini? Terus kenapa dulu lo terima? Lo tau kenapa kita bisa dijodohin gini?" Prana meninggikan nadanya, bahkan terdengar membentak hingga membuat Anggi tersentak di tempatnya.


"Kenapa, Mas?"


"Karena Ayah yang minta. Ayah lo yang minta gue buat nikahin lo, Anggi." Prana berdecih dan mengalihkan pandang dari Anggi.


Detik berikutnya, ia membulatkan kedua matanya saat menatap istri di hadapannya itu dan mencondongkan tubuhnya. Anggi yang memandang ngeri suaminya itu hanya bisa mematung dan terpaku di tempat.


"Dan betapa ayah lo secara nggak langsung memaksa gue, gue sama sekali nggak punya daya apa pun waktu itu. Gue terpaksa, Anggi. Sangat terpaksa dan bahkan tertekan."


"Ayah yang minta? Apa itu bener, Mas?" Anggi masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya. Mengapa ayahnya tega menjodohkan putrinya dengan orang yang sama sekali tidak mencintai dirinya?


Prana mengangguk sembari menarik salah satu ujung bibirnya.


Cowok itu menghela napas gusar lalu menatap Anggi secara intens, menyelidik setiap manik mata itu. "Kalau lo emang terpaksa sama pernikahan ini, kita bisa cerai. Kita bisa kembali sama orang yang kita cintai masing-masing. Lo bisa bebas kalau lo udah nggak menyandang status sebagai istri gue lagi," ujarnya lalu melenggang begitu saja.


Ya, Prana benar-benar mengatakan itu, sangat jelas dan seolah seperti mendengung di kedua telinga Anggi. Sepeninggal Prana, cewek itu hanya bisa mematung di tempatnya berdiri dan segera ambruk ke lantai. Pertahanannya runtuh, kedua kakinya sudah tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Air mata perlahan terjun dari kedua pelupuk matanya. Anggi lalu terisak dalam bungkamnya.

__ADS_1


Inikah pernikahan yang diimpikan Anggi sejak dulu? Akankah mereka berpisah secepat ini?


__ADS_2