
Malam ini hawanya begitu dingin. Semilir angin diam-diam masuk melalui celah jendela kamar Anggi yang sedikit terbuka, membuat kain kelambu mahal itu terkobat-kabit karenanya.
Anggi asyik berkutat dengan roman kesukaannya di kamarnya yang terlampau luas itu. Selama ini hanya bukulah, terutama novel yang mampu membantunya sedikit melupakan hal-hal kecil yang menyakitkan dalam hidupnya. Cewek itu sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun kali ini, termasuk oleh suaminya sendiri.
Ia masih sangat kesal pada cowok itu. Semua kata-kata yang selalu menusuknya berulang kali. Semua sifat buruk dari Prana membuatnya sesak. Lalu, bagaimana sikap seperti itu bisa dikatakan berubah? Anggi sampai hilang kata mengetahui Prana seperti itu.
Sejauh manakah nanti cewek itu mampu hidup berdampingan dengan cowok sepertinya?
Sering rasanya ia ingin pergi saja dari kehidupan Prana saat mentalnya berada di titik terendahnya. Namun, mengingat perjodohan ini karena wasiat ayahnya, mau tidak mau Anggi harus bisa mempertahankannya. Juga janjinya pada mertua dan tantenya. Cewek itu secara tidak langsung sudah terikat di dalam pernikahannya bersama dengan Prana.
Suara gemuruh dari arah kaca jendela kamarnya membuat cewek itu tersentak dan segera menoleh ke sumber suara. Suaranya terdengar seperti ada seseorang yang melempari kaca jendela tersebut dengan kerikil-kerikil kecil.
Anggi tak berkutik dari tempatnya. Ia menunggu hingga suara tersebut hilang dari sana karena dikiranya itu merupakan anak kecil yang sedang iseng.
Akan tetapi, cewek itu tetap harus waspada. Ia terus mengamati kaca jendela kamarnya dari ranjang.
Namun, bukannya suara itu mereda apalagi menghilang, seseorang di bawah sana justru semakin gencar melempari kerikil ke arah kaca jendela kamar Anggi. Anggi semakin geram dibuatnya. Pelan tapi pasti, ia cepat-cepat bangkit dengan malas lalu melangkahkan kakinya menuju arah kaca jendela dan menilik siapa biang keladi pembuat bising malam-malam begini.
Ia mulai membuka kain kelambu berwarna rosegold itu dengan perlahan. Detik selanjutnya, cewek itu seketika terperanjat saat pasang matanya menangkap sosok yang tak asing baginya selama ini. “Mas! Kamu ngapain di situ malem-malem?” teriaknya masih dengan raut wajah yang menunjukkan keterkejutannya.
Mengapa Prana berdiri di bawah sana malam-malam begini? Apalagi udara malam ini sedang tidak bersahabat.
Sementara, di bawah sana Prana cepat mengulas senyum lebarnya yang menunjukkan deretan gigi-giginya. Bahkan, dari kejauhan saja ketampanannya tetap terlihat dengan jelas. Mungkin, banyak cowok yang iri dengan ketampanan yang terpancar dari muka seorang Mahaprana Virgo selama ini. Kadar tampannya memang benar-benar berlebihan.
“Mau ngerjain kamu, Sayang!” teriaknya lantang, tak peduli dengan tetangga-tetangga yang sudah pada tidur.
“Apaan sih pake sayang-sayangan segala. Nggak mempan!” balas Anggi dengan nada ketusnya. Ingat, kan kalau dia tak selera melihat wajah suaminya itu?
Cowok itu justru terkekeh di bawah sana. Prana lalu dengan cepat mengambil gitarnya yang entah dari mana sudah ada di bawahnya. “Dengerin ini, ya. Jangan ke mana-mana. Kalau nggak aku bakal ke kamar kamu dan ngapa-ngapain kamu,” peringatnya sambil menjajal nada-nada chord pada gitar di tangannya.
“Apaan sih Mas Prana,” balasnya seraya menunjukkan wajah judesnya.
Jurus kalimat suaminya tadi ternyata sama sekali tidak mempan padanya.
__ADS_1
Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi, cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia, tulus padamu
Begitulah kiranya Prana meng-cover lagu dari Andmesh Kemaleng yang sangat populer itu. Suara cowok itu amat merdu dan menenangkan hati siapa saja yang mendengarnya. Inilah kali pertama Anggi mendengar suaminya menyanyi secara langsung. Cewek itu langsung merinding di sekujur tubuhnya. Seolah aliran darahnya mengalir dengan ritme yang pas dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Anggi menghela napas kesal. “Dengerin Tuan Puteri ya, Pangeran. Aku akui kalau suara kamu emang bagus. Tapi, aku gak bakal terbius sama semua melodi kamu itu,” ujarnya dengan sedikit berteriak sambil menjulurkan lidah lalu segera menutup jendelanya.
“Yah, kok pergi sih, Tuan Puteri? Pangeran, kan belum selesai nyanyi.”
***
Prana jadi uring-uringan setelah Anggi menghilang dari balik jendela kamarnya. Anggi ternyata benar-benar sedang kesal padanya. Sudah sekian jam cowok itu duduk termenung sambil menatap lurus ke depan. Namun, pandangannya kosong. Dinginnya angin seolah tak mempan menusuk kulitnya. Suami Anggi itu sedang dilanda gundah gelisah.
“Yon! Gue butuh bantuan lo.” Prana berbicara dengan Dion di telepon. Dionlah satu-satunya harapannya kini.
“Gak mau. Gue ngantuk, mau tidur.”
“Jahat banget lo sama gue. Awas aja, gue gak mau traktir lo di McD lagi,” ancamnya sambil terkekeh tanpa suara.
“Eh, jangan-jangan! Kalo lo gak mau traktir gue, gue makan apa nanti? Gue kan gak bisa hidup tanpa ayam.”
“Yeu, gak modal banget lo,” cibir Prana lalu terkekeh setelahnya.
“Kalau ada yang gratisan kenapa enggak. Udahlah, buruan ngomong sebelum gue berubah pikiran lagi nih.”
“Gitu amat sih lo sama sahabat sendiri. Gue mau tanya.”
__ADS_1
“Iya, tanya apa Abang Prana?”
“Eum, cewek kalo lagi ngambek enaknya diapain?” tanyanya sambil mondar-mandir tidak jelas.
“Hah? Diapain gimana maksud lo? Ambigu banget kalimat lo.”
“Astaghfirullah,Yon. Maksudnya, gue harus ngelakuin apa buat Anggi? Istri gue lagi mutung tuh. Jadi jutek banget,” curhatnya sambil mencebik. Cowok itu juga sempat melirik ke arah jendela kamar istrinya.
“Yaelah, Nyet. Lo yakin tanya ke gue yang ditakdirkan jones kaya gini? Kaya lo gak pernah berpengalaman aja, cewek lo kan banyak.”
“Enak aja lo kalo ngomong. Gue goodboy ya, gak kaya lo suka mainin hati anak orang. Udah-udah fokus, jadi gimana Yon?” desaknya. Perasaannya semakin tak keruan mengingat wajah ketus istrinya tadi.
“Ini setahu gue ya, biasanya sih cewek kalo lagi ngambek itu dibelanjain apa maunya dia langsung balik. Tapi, kalau sejenis Anggi sih lo kasih hati lo aja udah girang dia.”
Prana mendengus kesal mendengarnya. “Serius, Yon. Tapi, lo bener sih Anggi nggak suka begituan,” responnya membenarkan opini temannya itu.
“Bener kan, gue? Coba lo beliin makanan kesukaannya dia aja. Pasti bakal seneng banget tuh cewek, yakin.”
Prana segera melebarkan senyum sumringahnya, seolah baru diterima cintanya oleh pujaan hati yang baru ditembaknya. “Bener juga lo. Tumben otak lo encer,” ujarnya lalu cekikikan, menertawakan sahabatnya.
“Dih, kalau otak gue gak encer ya lo gak bakal tanya ke gue kali, Pra.”
“Ya udah, thanks Dion Sayang. Love you, Assalamu’alaikum.” Prana menutup teleponnya dengan perasaan yang terlampau girang, seolah ia baru saja menemukan harta karun.
“Anj*r, jijik gue. Wa’alaikumussalam.”
***
Halo, teman-teman?
Masih setiakah kalian sama kisah mereka?
Yuk! Dukung auhtor dengan cara beri rate BINTANG 5, VOTE, COMMENT, LIKE, dan tambahkan ke FAVORIT kalian supaya author semakin semangat untuk nulis kelanjutannya, oke?
__ADS_1
Terima kasih banyak, ya