Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Anggi Kenapa? (BONUS)


__ADS_3

Terima kasih banyak buat semua pembaca setia "Pernikahan Wasiat". Kalian memang HEBAT dan berhasil membuat author bertahan menulis sejauh ini.


***


"Hampir aja bulan madu sama istri. Kenapa masih belum diizinin sama Allah juga sih?"


Prana membanting tubuhnya ke kasur empuk berukuran jumbo itu. Penat rasanya saat harus memikirkan pekerjaan di kantor sekaligus istrinya yang sedang merajuk. Pikiran dan suasana hatinya sedang kacau saat ini. Ekspetasinya seketika hancur saat Anggi bilang kalau ingin berjarak dengan suaminya untuk sementara waktu.


Yang jadi masalahnya adalah sementara waktunya itu kapan? Padahal, Prana ingin cepat-cepat bisa menikmati quality time dengan istrinya. Apalagi selama ini cowok itu belum pernah benar-benar menikmati waktu berduaan bersama dengan Anggi.


Cowok itu segera mengelus dada bidangnya. "Astaghfirullah, gak boleh ngeluh, Prana. Ini belum waktunya aja. Lo harus lebih sabar lagi." Prana bermonolog. Entah apa yang sudah merasukinya, suami Anggi itu tiba-tiba bisa sadar diri.


Ia lantas berdiri untuk melepas pakaian kantornya dan mengganti dengan pakaian santai. Seperti biasa, cowok itu lebih suka mengenakan kaos oblong berwarna hitam polos dan training yang senada dengan kaosnya.


"Apa gue coba samperin Anggi aja kali, ya? Katanya gak ada salahnya mencoba, kan?" Prana bermonolog lagi. Hatinya tiba-tiba tergerak untuk mengunjungi kamar istrinya.


Sesampainya di depan kamar Anggi, bukannya langsung mengetuk pintu, cowok itu justru mematung di tempat. "Masuk gak ya?" ujarnya mendadak bimbang sendiri.


Baru saja kepalan tangannya sampai pada pintu kamar Anggi itu, tiba-tiba Prana menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara aneh dari dalam sana. Ia mencoba mendekatkan telinga kanannya pada pintu di depannya. Dan cowok itu semakin mengerutkan kening saat telinganya menangkap suara itu semakin jelas.


Jantungnya mendadak berdegup kencang saat membayangkan hal-hal negatif tentang istrinya.


"Anggi lagi ngapain sih? Suaranya kok kaya orang... Astaghfirullah! Istriku!" Suami Anggi itu refleks berteriak saat pikiran negatif itu semakin tertancap di kepalanya.


"Woy! Lo ngapain, Pra?"


Sial! Suara bariton itu langsung membuat Prana melompat karena kaget bukan main. Siapa lagi kalau bukan Si Pengacau, Dion? Cowok itu memang selalu begitu. Main masuk ke rumah orang tanpa salam tanpa apa. Tapi, memang Prana selalu mengizinkannya begitu dan ia sama sekali tidak masalah.


"Anj*r! Lo bikin gue kaget, Monyet!" Prana spontan mengumpat. Tentu ia kesal dengan Dion yang tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya dan langsung membuatnya terkejut.


Bukannya merasa bersalah, Dion justru cengengesan tidak tahu malu. Manusia usil itu lalu menghampiri Prana yang masih berdiri dengan wajah tertekuk di depan pintu kamar.


"Ngapain sih, lo? Kaya orang kurang kerjaan aja? Eh, tunggu. Ini kamar siapa emang? Oh! Jangan-jangan lo mau ngintipin ART lo si Ijah itu, ya? Wah-wah, nggak bener ini. Gue laporin Anggi lo." Dion terus mencerocos tak tau arah. Memang dasarnya manusia unik, begitulah sifatnya.


Prana yang mendengar kalimat fitnahan yang ditujukan Dion untuknya itu langsung menempeleng kepala cowok di depannya tanpa ampun sambil memasang wajah geram. "Enak aja lo, main tuduh aja. Gila kali gue ngintipin ART gue sendiri," balasnya kesal.

__ADS_1


Dion segera cekikikan lagi. Cowok itu memang jagonya membuat orang geregetan. "Sakit juga ya tempeleng dari lo," katanya sambil mengusap kepalanya.


"Ya terus ngapain, Abang Gogo?" tanyanya lagi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kok Gogo?"


"Kan, Mahaprana Virgo. Virgo. Gogo," ujar Dion berturut-turut dengan raut wajah seriusnya.


Lagi, Prana menempeleng kepala manusia menyebalkan itu. "Gogo mbahmu!" umpatnya geregetan dan kembali membuat Dion cengengesan di tempatnya.


"Nih, coba lo deketin telinga lo ke sini," suruh Prana sembari menarik paksa kepala Dion untuk mendekat pada pintu di depan mereka.


"Sakit, g*blok! Kapan sih, lo bisa perhatian sama gue sedetik aja? Gue, kan juga manusia, Bang." Kini giliran Dion yang mengumpat karena Prana main tarik kepalanya saja.


"Ssttt. Dengerin baik-baik," suruh Prana lagi, membuat Dion segera menanggapinya dengan serius.


"Apaan sih? Orang gue gak denger apa-apa," aku Dion jujur. Cowok itu memang tidak menangkap suara apa pun di telinganya.


Prana segera berdecak. "Ish! Lo dengerin baik-baik dong, K*nyuk!" ujarnya sambil terus menempelkan kepala Dion pada pintu. Bodohnya, teman Prana itu menurut saja.


Prana menoyor kepala itu lagi. "Gundulmu! Mulut lo bisa diem kaga sih?" Prana semakin kesal saat Dion justru tidak bisa mengontrol suara yang keluar dari mulutnya.


Mendengarnya, Dion seketika meringis karena tidak menyadari tindakan bodohnya. Untung saja tidak ada orang di sana. Bisa-bisa ia habis oleh manusia yang memiliki perut kotak-kotak di hadapannya.


Detik selanjutnya, Prana langsung mengubah mimiknya menjadi sok sedih. "Istri gue ngapain, ya di dalem? Masa dia kaya gitu sih? Setahu gue Anggi itu orangnya polos banget, Yon," eluhnya masih dengan ekspresi sedih yang dibuat-buatnya.


"Jangan-jangan sama tetangga sebelah mainnya?" tebak Dion sekenanya. Bagaimana bisa ia berpikir sejuh itu?


Tanpe menunggu aba-aba lagi, Prana langsung menampol bibir Dion itu. "Lambemu! Nggak mungkin, Nyet. Gue gak lihat cowok lain masuk ke sini sama sekali dari tadi," balasnya dengan yakin.


"Ya terus ngapain? Nonton itu? Masa iya? Anj*ng, gue geli." Dion refleks mengedikkan bahunya geli. Membayangkan yang tidak-tidak membuatnya ingin mual saja.


"Gak mungkin, Yon. Istri gue gak kaya gitu," aku suami Anggi itu. Entah benar atau hanya pembelaan saja. Tapi, setahu dia istrinya itu memang cewek yang super polos.


"Lo gak bisa nebak-nebak gitu ajalah, Pra. Kenapa gak lo cek langsung aja sih ke dalem?" Dion mendadak geregetan melihat Prana yang diam saja dan hanya bisa mengira-ngira dari sini.

__ADS_1


"Gue takut."


"Anj*r, gue kira apa. Gak gentle banget lo!" ejek Dion seenak jidatnya.


"Ya udah deh. Gue cek aja kali, ya?"


"Dari tadi kek. Bismillah dulu," suruh Dion sambil cekikikan.


"Deg-degan gue, Yon. Semoga istri gue beneran gak ngapa-ngapain, ya?" ujar Prana memasang wajah melas.


Dion yang mendengar itu hanya bisa tertawa renyah. Apa-apaan pasangan muda ini? Lucu sekali, batinnya. "Aamiin dah, Pra," jawabnya kemudian.


Prana mulai memutar knop pintu kamar Anggi dengan sangat hati-hati. Jantungnya kembali berdebar saat membayangkan apa yang akan dilihatnya nanti. Semoga Anggi tetap aman.


"Sayang?"


Pintu mulai terbuka sedikit dan tak ada jawaban sama sekalu. Namun, suara itu tetap ada dan semakin jelas karena kedua cowok itu mulai melangkah masuk dengan perlahan. Prana berada di depan memimpin, sementara Dion menguntit di belakangnya.


"Gimana, Pra? Anj*ng emang lo, nyeret gue ke sini. Mana suaranya makin jelas. Ih, jijay banget." Dion mengedikkan bahunya geli. Cowok itu sampai dibuat merinding mengingat segala macam hal negatif di kepalanya.


"Lo kira gue gak geli? Diem aja dah, lo," perintah Prana yang langsung berhasil membuat Dion mengunci rapat mulutnya.


"Astaghfirullah!"


***


[Baca sampai akhir, ya]


Halo-halo! Semoga hari kalian menyenangkan.


Kira-kira Anggi ngapain, sih? Ngeri amat. Coba tebak dan comment di bawah hehe.


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?


COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini. Biar gak sider aja hehehe.

__ADS_1


TERIMA KASIH BANYAK.


__ADS_2