
Anggi masih setia berada di samping suaminya. Cewek itu tak bisa tidur semalaman. Ada sesuatu yang mengganggunya. Padahal, ia sudah beberapa kali mencoba memejamkan mata. Namun, di detik itu juga Anggi kembali membuka matanya.
Cewek itu terus mengusap rambut suaminya dengan amat lembut. Ia juga membawa kepala Prana ke pangkuannya. Sudah seperti ibu dan anak laki-lakinya.
“Kok bisa salah minum sih, Mas?” Anggi terus bergumam sambil menghapus peluh yang keluar dari ujung dahi suaminya.
Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 dan Anggi belum juga bisa tidur. Matanya sampai sayu dan kantung matanya mulai menghitam. Beberapa kali ia menguap, tetapi tak kunjung terlelap. Ia bahkan rela tak berkutik dari tempatnya supaya tidur Prana tidak terganggu. Cewek itu dalam posisi duduk dengan bersandar pada bantal yang ia letakkan di belakang punggungnya selama berjam-jam.
Alarm di atas nakas di samping ranjang jumbo milik Prana itu berbunyi nyaring, membuatnya menggeliat dan perlahan mengerjapkan kedua matanya. Sementara, Anggi masih terus membelai rambut cowok di pangkuannya.
“Mas? Udah bangun?”
Sambil berusaha mengumpulkan nyawa, cowok itu membuka matanya dan menguap sekali. “Loh, Sayang? Kok kamu di sini?” tanyanya masih dengan muka bantalnya. Namun, ketampanannya tidak pernah pudar.
“Bangun dulu, Mas. Minum air putih dulu,” suruh Anggi sembari menyodorkan gelas berisi air mineral yang penuh pada suaminya.
Perlahan Prana bangkit dan menerima gelas itu lalu meneguknya. Anggi menatapnya prihatin. Hatinya tersayat mengingat kejadian semalam.
***
“*Pokoknya aku mau bikin anak sekarang. Titik!”
“Ssttt, Mas! Kecilin suara kamu.” Anggi terus menepuk kedua pipi suaminya, berharap supaya dia segera sadar.
“Woy! Kalian dengerin gua. Gua mau nunjukin sesuatu ke kalian. Nih, lo semua liat. Gua punya istri cantik banget. Gak ada yang secantik dia asal kalian semua tahu.” Prana terus berteriak tidak jelas sambil berjalan dengan tubuh yang sempoyongan.
Orang-orang sudah tentu melihatnya dengan tatapan aneh sekaligus ngeri. Banyak pula yang menertawakan tingkahnya itu. Sementara, Anggi yang ikut berjalan di sebelahnya tak berhenti merasa was-was. Untung saja Dion bisa datang, kalau tidak cewek itu bisa panik sendirian.
“Eh, cewek di sebelahnya! Lo istrinya, kan? Makanya, punya suami itu dijaga.” Salah satu dari mereka memancing.
“Bener tuh. Masa bisa ngebiarin suaminya mabuk berat gitu sih? Gak malu lo?” Satu yang lain pun jadi ikut-ikutan.
“Heh! Diem ya lo pada. Gak tau apa-apa juga.” Dion yang sudah geregetan dengan komentar orang-orang akhirnya membalas. Dadanya sampai naik turun menanggapi mereka.
“Lah, itu buktinya. Lagian, lo siapa sih? Simpenannya tuh cewek? Pantesan, suaminya jadi gila gitu. Orang istrinya aja kerjaannya ngel*nte gitu.” Mereka terus melepas tawanya, seolah hal tersebut pantas dijadikan bahan bercandaan.
“Anj*ng! Bisa jaga mulut lo gak?” Hampir saja Dion kelepasan, namun Anggi dengan sigapnya segera mencegah cowok itu untuk tidak melakukan hal-hal yang justru menyulitkannya sendiri.
“Udah, Yon. Nggak usah diladenin yang begituan,” peringatnya membuat Dion segera meredam emosi.
Sementara, Prana terus saja berjalan jauh di depan mereka sambil masih melontarkan kata-kata tidak jelas dan bisa dibilang gila sekaligus memalukan itu. Namun, Anggi dan Dion sama-sama bersepakat untuk tidak meninggalkan Prana sendirian di kondisinya yang seperti itu.
“Cantik sih ya, istri gue. Tapi, sayang diajak bikin anak gak mau.”
__ADS_1
Boom! Tawa pun kembali pecah di tengah-tengah pengunjung pantai. Mereka pada menjadikan Prana dan Anggi sebagai bahan hiburan dan bercandaan. Bahkan, sampai ada yang merekamnya sehingga di beberapa kesempatan, Anggi dan Dion sama-sama menegur orang-orang yang sengaja mem-video Prana. Bisakah kalian membayangkan betapa malunya Anggi saat itu? Dion pun tak kalah prihatin melihat Prana semabuk itu. Pasalnya, akibatnya juga berdampak pada istrinya sendiri.
Dion yang sudah tidak tega lagi melihat temannya seperti itu segera mengejarnya. “Pra! Sadar lo. Ini tempat umum. Sadar,” ujar Dion sambil mengguncang tubuh Prana.
“Gua ganteng. Istri gua cantik. Nanti anak kita pasti perfect. Iya kan, Sayang?” Prana mencolek dagu istrinya yang baru saja menyusul itu.
“Mas! Udah, stop! Yon, tolong bantu gue bawa Mas Prana ke mobil, ya.”
“LOVE YOU, ANGGIA! Aku cinta kamu selamanya. Nanti bikin anak, ya, ya, ya*.”
***
“Kamu kok tumben di sini?” tanya Prana bingung.
“Iya, Mas. Pengin jagain kamu,” jawab Anggi dengan suara seraknya. Cewek itu benar-benar terlihat letih.
Prana menyadari sesuatu pada wajah istrinya. “Mata kamu sayu banget. Kamu tidur cukup, kan semalam?” Cowok itu jadi khawatir sendiri melihat raut wajah Anggi yang pucat.
Anggi hanya mengangguk. Namun, Prana tahu betul kalau istrinya sedang berbohong. Ia selalu bisa membaca ekspresi Anggi.
“Kamu bohong. Apa yang terjadi sama aku, Sayang? Kenapa kamu mau jaga aku sampe segitunya?”
“Semalam kamu mabuk, Mas. Kamu salah minum waktu di bar.”
“Kok bisa sih? Terus, aku ngapain lagi? Aku nggak ngelakuin hal-hal gila, kan?” lanjutnya. Cowok itu jadi panik sendiri. Bagaimana bisa ia ceroboh sekali?
“Kamu nggak ngapa-ngapain kok, Mas. Udah, buruan mandi. Kita salat,” suruh Anggi yang langsung disambut anggukan kepala oleh Prana.
***
Seusai salat Subuh, istri Prana itu langsung terlelap di ranjang suaminya. Ia benar-benar lelah karena sibuk mengkhawatirkan suaminya. Prana yang melihatnya seperti itu langsung kasihan padanya. Cowok itu sama sekali tidak tega membangunkannya.
Ponsel Prana bergetar di atas nakas, menandakan bahwa ada notifikasi masuk ke dalam benda mahalnya itu. Ia lantas segera meraihnya dan membaca pesan yang masuk.
Dion: Pra. Lo ke kafe sekarang. Ada yang mau gue obrolin sama lo. Bima juga di sini.
“Kenapa harus ada Bima segala?” Prana bermonolog sambil mengetik balasan untuk temannya itu.
Prana: Bima ngapain di situ?
Dion: Udah, gak usah bawel. Lo lupain dulu masalah lo sama si Bima. Ini urgent banget.
__ADS_1
Prana: Ck. Ya udah, gue otw.
Perut kotak-kotak Prana berbunyi. Ia belum sarapan pagi ini, tapi ia juga tidak tega untuk membangunkan istrinya. Jadilah cowok itu makan seadanya. Tak lupa, Prana juga pamit dan mengecup pucuk kepala istrinya sebelum pergi.
“Aku pergi dulu ya, Sayang. Maaf sering ngerepotin kamu selama ini. Semoga habis ini kamu nggak capek lagi,” pamitnya sambil mengulas senyum saat memandang wajah Anggi.
***
“Langsung ke poinnya aja. Gue gak suka basa-basi.”
“Ngeri amat, Bang. Santai dulu. Kali ini yang bayarin kopinya Bima deh.”
Prana semakin jengah. Cowok itu berdecak kesal. “Gak usah. Gue bayar sendiri,” ujarnya dingin, membuat Dion cengengesan.
Bima yang melihat Prana sudah semakin risih itu pun segera memulai, tak ingin membuang waktu lama-lama. “Jadi, gini. Soal foto-foto pernikahan lo, gue kayanya tahu siapa pelakunya,” katanya dengan nada penuh keseriusan.
“Alah, udahlah, Bim. Lo gak usah cari kambing hitam gitu. Kalau salah, ya ngaku aja,” tukas Prana menuduh Bima di hadapannya.
“Tunggu dulu, Bro. Lo bener-bener harus dengerin Bima. Dia gak cari kambing hitam atau semacamnya. Lo gak bisa terus-terusan fitnah dia kaya gitu, Pra,” tegur Dion geregetan.
“Kok lo jadi belain dia sih, Yon? Lo gak inget apa kalau dia itu mantannya istri gue? Dia ngelakuin semua itu soalnya dia cemburu sama gue dan pengin merebut Anggi lagi. Iya kan, Bim?” Prana menekankan setiap kalimatnya, memojokkan Bima di posisi seperti itu.
“Sumpah demi apa pun, Pra. Gue gak pernah ngelakuin hal sebejat itu,” bela Bima untuk dirinya sendiri.
“Kita bisa buktiin bareng-bareng soal kasus ini.”
***
[Baca sampai akhir, ya]
Hai, semua pembaca "PERNIKAHAN WASIAT"!
Apa kabar?
Kira-kira mereka bakal berhasil, nggak?
Yuk! Dukung auhtor dengan cara rate BINTANG 5, VOTE, LIKE, COMMENT, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat nulisnya.
COMMENT yang banyak ya, biar gak sider hihihi
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK!