
[Aku sarankan kalian baca detail bab ini supaya paham alur dan teka-tekinya, oke?]
"Tentu, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu di ruangan ini, semua tahu. Putra saya, Mahaprana Virgo merupakan putra kebanggaan keluarga kami, keluarga Bakri. Ya, meski kalian juga tahu kalau dia baru saja dikeluarkan dari sekolah, tapi kalian juga pasti tahu kalau Prana ini sudah saya beri asupan pengetahuan-pengetahuan dan keterampilan mengenai bisnis, terutama perusahaan kami ini sejak dari lama. Tak perlu diragukan lagi kecerdasan dan kemampuannya."
Seluruh tamu undangan dalam ruangan itu terlihat bisik-bisik sana-sini. Siapa yang tidak meragukan kemampuan Prana? Terlebih, cowok itu dikenal sebagai murid yang di-drop out dari sekolahnya. Namun, mereka semua tidak tahu yang sebenarnya.
Bakri diam-diam sudah melolohi anak kebanggaannya itu dengan berbagai macam pengetahuan mengenai perusahaan mereka. Prana yang waktu itu masih berusia 14 tahun dipaksa belajar seni-seni berbisnis dan sebagainya. Setiap hari sepulang sekolah, Prana dituntut untuk datang ke meeting-meeting perusahaan dan memecahkan masalah yang ada.
Cowok itu tahu betul seluk-beluk perusahaan ayahnya. Prana sudah ditargetkan oleh Bakri untuk mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan di usia remaja dan mungkin inilah saatnya Bakri merealisasikan target tersebut.
"Kalian juga pasti tahu keponakan kesayangan saya, Bima Aditya. Putra kebanggaan kami pula. Kalian sudah tahu bagaimana keuletan dan kepandaiannya. Dan hari ini, hari yang amat saya dan keluarga serta perusahaan tunggu-tunggu. Hari di mana kita semua menyaksikan putra-putra kebangaan kami menduduki posisi yang sudah ditentukan masing-masing dengan berbagai pertimbangan yang matang," sambung Bakri. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah pria itu.
"Kamu pasti dapetin posisi itu, Bim. Aku yakin," bisik Nita, cewek yang kini berdiri di samping Bima.
Bima yang mendengar kalimat dari Nita itu pun tersenyum. Ia melirik ke arah Prana sesaat lalu menatap ke depan lagi.
"Dan saya akan putuskan, siapa yang pantas untuk memimpin perusahaan ini. Setelah mendiskusikannya matang-matang, saya selaku pemilik perusahaan menyerahkan sepenuhnya perusahaan ini ke tangan anak kandung saya, Mahaprana Virgo."
Prana tidak terkejut. Ia sudah tahu kalau akhirnya akan seperti ini karena memang inilah tujuan ayahnya dari awal. Semua ambisinya sekarang membuahkan hasil. Anak kebanggaannya itulah yang benar-benar layak mendapatkan posisi tersebut.
Sementara di sisi lain, Bima jadi pucat. Cowok itu kecewa setengah mati. Bagaimana bisa Bakri memilih Prana daripada Bima yang lebih mampu? Ya, itulah kira-kira kalimat yang bersarang di kepalanya kini.
"Tuh kan, apa gue bilang. Lo pasti dapetin jabatan itu, Bro!" cetus Dion sambil tersenyum sumringah lalu meninju dada bidang Prana.
"Hus! Diem lo, jangan malu-maluin," tegur Prana sambil menyenggol lengan Dion yang berdiri di sebelahnya.
"Dan untuk keponakan kesayangan saya, Bima. Kamu berhak mendapatkan posisi sebagai ketua manajer di perusahaan ini." Begitulah Bakri berpidato dan setelahnya kembali membaur pada para tamu undangan.
Seisi ruangan pun kompak bertepuk tangan ria menyambut kabar tersebut. Banyak yang turut bahagia mendengarnya. Namun, banyak juga di antaranya yang meragukan Prana menjadi pimpinan perusahaan.
"Selamat," ucap Bima sembari menjabat tangan Prana dengan ulasan senyum yang dipaksakan.
"Selamat, Pra." Nita yang terus memeluk lengan Bima itu juga ikut-ikutan mengucapkan selamat.
"Oh ini, tante cabe-cabean. Gue hilang kata sama lo, Bim. Apa sih yang lo cari dari cewek gatel kaya dia?" Dion tiba-tiba tersulut. Cowok itu tahu kalau Nita menunjukkan senyum palsunya.
__ADS_1
"Yon, udah. Jangan mulai," lerai Prana dan Jesi hampir bersamaan. Keduanya mulai panik melihat raut wajah Bima di depan mereka.
Bima maju satu langkah. "Gue gak keberatan. Lagian, buat lo, Pra. Gue emang udah tahu sih, kalau pasti juga lo yang dapet posisi itu. Ya, namanya juga anak kandungnya yah. Gue mah apa di mata bokap lo?" Cowok itu jadi ikut terpancing. Nadanya terdengar menantang.
"Emang dasar pengkhianat, pengecut lo, Bim!" Dion meninggikan suaranya, membuat pasang mata seisi ruangan langsung menoleh ke arah mereka.
"Kalau iya, kenapa? Mau nantang gue lo?" Bima menarik kerah kemeja Dion, membuat kedua bola mata cowok itu merah dan membulat.
"Anj*ng!"
Dion tak mau kehilangan kesempatan lagi. Cowok itu segera melayangkan bogemnya tepat mengenai rahang kanan Bima. Bahkan, sampai membuat cowok itu tersungkur ke lantai. Suasana menjadi panas dan tegang. Orang-orang pada menonton pertunjukan itu.
Tak lama, Bima segera bangkit dan melayangkan pukulannya pada wajah Dion. Bukan, kepalan tangan itu ternyata justru mengenai muka Prana.
"Brengs*ek lo!"
Prana hampir terjatuh ke lantai apabila Dion dan Jesi tak sigap menangkap tubuhnya. Cowok itu segera menghapus darah segar yang keluar dari hidungnya. Pukulan tangan Bima sangat kuat dan ekstra kali ini. Namun, Prana tak ingin membalas. Cowok itu tahu tempat dan situasinya sedang tidak cocok sekarang ini.
"Apa-apaan ini?" Bakri segera menghampiri mereka dan mengakhiri kericuhan.
Bima dan Prana saling tatap dengan tajam. Keduanya sama-sama memegangi bekas pukulan yang mengenai bagian wajah mereka masing-masing.
"Saya undur diri, Om. Terima kasih," ucap Bima kemudian dan segera melenggang bersama Nita dari sana.
"Kamu selalu saja malu-maluin Ayah," pungkas Bakri tepat di depan wajah anaknya.
Seisi ruangan itu mendadak hening. Para tamu undangan jadi ketakutan sendiri. Pasang mata mereka tak juga lepas dari tempat Prana berdiri.
"Gue bener-bener hilang kata sama Bima. Kok bisa berubah drastis gitu, ya?" Jesi bermonolog sambil melihat punggung Bima yang semakin menjauh dari sana.
"Ada waktunya orang emang bisa berubah," timpal Prana yang juga disambut anggukan kepala oleh Dion dan Jesi secara serentak.
***
"Mas! Subhanallah! Kamu kenapa?"
__ADS_1
Sedari tadi Anggi tak juga tidur dan istirahat. Cewek itu terus mondar-mandir di ambang pintu kala mendengar kabar acara perusahaan mendadak ricuh karena pertengkaran antara suaminya dan juga Bima.
"Gak papa, Sayang. Gak usah khawatir," katanya menenangkan istrinya. Ia tak mau Anggi banyak pikiran lagi, mengingat kondisi kesehatannya belum stabil.
"Kenapa lagi sih, Mas sama Bima?" tanya Anggi khawatir sembari mengusap lembut lengan suaminya dan menuntunnya masuk. Mereka pun duduk di sofa ruang tamu.
"Kok kamu tahu?"
"Jesi yang kasih tau aku, Mas. Pasti sakit, ya?" ujar Anggi sambil memegang pelan hidung mancung suaminya yang kini jadi lebam.
Prana segera meringis. "Gak papa, Anggi. Ini luka kecil," katanya bohong. Padahal, rasa-rasanya hidungnya sudah mau remuk saja.
"Aku ambilin obat dulu, ya." Anggi segera berlari ke belakang untuk mengambil kotak P3K dan setelahnya kembali pada Prana.
Tangannya terulur membersihkan sisa darah segar yang keluar dari hidung suaminya itu dengan telaten dan penuh hati-hati. Sesekali ia ikut meringis saat Prana juga meringis kesakitan.
"Ceritain, Mas. Kenapa dengan sepupu kamu itu lagi?" desaknya kembali.
Ya, Prana sudah menceritakan semua tentang Bima pada istrinya itu. Selama ini mantan istrinya sendiri ternyata adalah sepupu Prana. Tidak banyak yang tahu memang. Mereka tak pernah menunjukkan secuil pun bahwa mereka sebenarnya masih punya hubungan saudara. Terkejut? Tentu saja Anggi terkejut bukan main. Pasalnya, cewek itu merasa tidak tahu apa-apa selama ini.
"Cemburu. Ayah milih aku yang mimpin perusahaan dan menggantikannya. Dan Bima gak suka sama keputusan Ayah," terang Prana membuat Anggi mengangguk paham. Cewek itu turut prihatin mengetahui hubungan buruk keduanya.
***
[Baca sampai akhir, ya]
Halo! Apa kabar? Stay healthy, ya!
Gimana? Udah dapat clue-nya belum? Coba tebak, maksud dari bab ini apa?
Yuk! Dukung author dengan cara rate BINTANG 5, VOTE, LIKE, COMMENT, SHARE cerita ini ke teman-teman kalian, dan tentunya tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat lagi!
COMMENT pendapat kalian boleh buat bab ini.
TERIMA KASIH!
__ADS_1