Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Kabar Masa Lalu


__ADS_3

Anggi melirik ke kanan dan ke kiri. Cewek itu mencoba memutar memori ke waktu semalam. Ia lantas memaksakan tubuhnya untuk perlahan bangkit dari ranjang.


Anggi tak mau meninggalkan tugasnya sebagai seorang istri. Ia hendak beranjak ke dapur untuk membuatkan sarapan suaminya. Namun, baru saja ia turun dari kasur, Prana datang dan menatapnya sambil menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.


"Eits, Tuan Puteri mau ke mana?" Prana menuju nakas dan meletakkan nampan dengan semangkuk bubur dan segelas susu kunyit di atasnya.


"Mau masak, Mas."


"Udah, nggak usah."


Cowok itu lalu menghampiri istrinya dan menuntun tubuh mungil itu untuk kembali berbaring di ranjangnya.


"Kok aku disuruh tidur lagi, sih?" protes Anggi, merasa kesal dengan perlakuan Prana.


Suaminya itu segera mengulas senyum. "Siapa yang nyuruh kamu tidur? Sini, aku bantu," katanya sembari mendudukkan Anggi di ujung kasur.


Ia lantas mengambil nampan tadi dan meletakkan di pangkuannya. "Nih, aku suapin, ya?" tawarnya sambil mengaduk pelan semangkuk bubur di tangannya.


"Kok bubur terus sih, Mas. Aku pengin seblak," rengek Anggi sambil mencebik. Pasalnya, ia sudah muak melihat benda lengket itu.


"Kok malah seblak sih? Masa sarapan udah pake pedes-pedesan gitu. Bisa sakit perut kamu nanti. Lagian, kamu juga masih sakit, kan." Prana tak menghiraukan protes istrinya, ia tahu mana yang terbaik bagi Anggi saat ini. Istrinya itu memang sudah seperti anak kecil.


"Ih, aku tuh liat bubur terus jadi munek-munek juga, Mas. Kamu sih nggak ngerasain jadi aku." Anggi terus mengomeli suaminya yang tidak bersalah itu.


"Udah, jangan bawel. Nih, aaa." Prana membuka mulut lebar-lebar, isyarat supaya Anggi juga melakukan hal yang sama.


Anggi pun akhirnya dengan rasa malasnya, membuka mulut untuk menyambut bubur itu. "Sebel sama Mas." Cewek itu merajuk dan memalingkan pandang. Prana sudah membuatnya kesal pagi ini.


"Marah mulu kamu. Entar cepet tua loh," goda Prana dengan kekehan di akhir kalimatnya.


"Biarin." Anggi menjulurkan lidahnya kesal.


"Nggak papa deng. Kalau kamu cepet tua, berarti nggak bakal ada yang naksir kamu. Jadinya, aku gak perlu capek-capek cemburu terus gara-gara kamu banyak yang naksir," godanya lagi sambil mengulas senyumnya dengan amat lebar, terlihat amat menggemaskan sekali dan Anggi mulai goyah melihat senyum itu.


"Siapa bilang?"


"Aku."

__ADS_1


"Ih, Mas Prana!" Cewek itu meluapkan rasa kesalnya dengan memukuli lengan suaminya, membuat cowok yang duduk di hadapannya itu meronta kesakitan. Pasti Anggi menggunakan tenaga dalamnya.


"Sakit, Sayang." Prana hanya bisa menyambut dan menerima pukulan istrinya. Cowok itu justru gemas melihat Anggi yang seperti itu.


"Udah dong mukulinnya. Kamu belum selesai sarapan loh," lerainya.


Dan setelah Anggi meluapkan seluruh kekesalannya sampai habis tak bersisa, cewek itu segera merampungkan acara sarapannya. Beberapa kali ia menutup mulut, menolak suapan dari suaminya. Namun, Prana tak ingin menyerah. Cowok itu terus memaksa supaya istrinya mau makan sampai habis.


"Nah, gini kan enak liatnya. Nanti ayamnya bisa mati kalau kamu makan nggak habis," ejek Prana lalu terkekeh kecil setelahnya.


"Dih, tau apa kamu?" Anggi memasang wajah cemberutnya.


"Tau cara mencintai kamu." Prana mencolek dagu istrinya, namun cewek itu segera menepis tangan suaminya.


"Mas udah sarapan?"


"Udah kok." Tidak. Prana berbohong. Cowok itu belum juga sarapan karena terlalu sibuk membuat bubur untuk istrinya tadi pagi, sampai ia lupa kalau ia sendiri belum makan.


"Mas?"


"Iya, Sayang?"


"Ih, kamu kok nanyanya gitu. Kamu nggak nyaman ya aku panggil 'sayang'?" Prana mendadak cemas. Bodohnya dia kalau Anggi ternyata memang risih karena ia memanggilnya 'sayang' tanpa izin dari istrinya itu.


"Enggak kok. Aku malah suka kalau diperlakuin kaya gitu. Eh." Anggi segera menutup mulutnya. Bagaimana bisa ia keceplosan seperti itu?


Prana pun yang mendengarnya langsung lega dan tersenyum pada istrinya. Cowok itu mengecup kening Anggi. "Cepet sembuh ya, Sayang. Jangan capek-capek, ya. Nggak usah mikirin yang lain-lain dulu. Cukup jaga kesehatan kamu aja," tuturnya membuat Anggi manggut-manggut paham.


"Eh? Mas?"


"Ya?"


"Kok kamu pakai pakaian rapi banget gitu, mau ke mana emang?" tanyanya hati-hati. Ia mendadak bingung karena Prana mengganti pakaiannya dengan setelan jas rapi.


Selesai berganti pakaian, cowok itu menghampiri istrinya lagi. Ia lantas mengusap lembut rambut Anggi yang sedikit kusut karena sudah 2 hari tidak mandi. "Aku udah mikirin ini mateng-mateng, Nggi. Dan sebenernya aku juga butuh izin dari kamu," ujarnya dengan nada lembut.


"Izin apa, Mas?"

__ADS_1


***


"Pra. Aku rindu. Rindu banget sama kamu."


Cewek itu bermonolog dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia terus memandangi potret dirinya bersama dengan seorang cowok yang berdiri di sebelahnya sambil merangkul pundaknya.


"Kamu di sana baik-baik aja, kan?" Air mata pun mulai terjun dari pelupuk matanya.


Hatinya amat tersayat kala mengingat momen-momen indah bersama cowok di foto itu. Terlebih saat ia memutuskan untuk meninggalkannya, rasanya ia ingin sekali mengulang momen itu dan mengubah keputusannya. Ia sangat teramat menyesal.


Ia tak pernah tahu kalau ternyata ia bisa sesakit ini karena cinta. Cowok itu sudah membuatnya jatuh terlalu dalam. Ia mendadak merasa menjadi cewek paling bodoh di muka bumi ini.


Seharusnya ia bisa memperjuangkan cintanya. Seharusnya ia tidak menyerah waktu itu. Seharusnya, seharusnya, dan seharusnya. Namun, semua sudah terlambat. Takdir benar-benar sedang tidak merestui mereka.


"Nggak. Kali ini aku gak akan menyerah lagi, Pra. Aku gak mau menyesal kedua kalinya. Kamu satu-satunya cowok yang buat aku jadi gila gini." Jari-jemarinya terus mengusap potret cowok yang amat dicintainya itu.


"Aku ngaku, aku dulu emang bodoh dan ceroboh. Nggak seharusnya aku ngelepasin kamu gitu aja. Ini nggak adil, kan? Aku mau kita kaya dulu lagi. Aku mau cinta kita terus bertahan. Kamu pasti di sana juga masih cinta sama aku, kan?" Bulir air mata itu tak kunjung berhenti mengalir dan justru semakin membasahi kedua pipinya.


Wajah cewek itu sayu. Lingkaran matanya menghitam. Salah satu tangannya ditusuk oleh jarum infus yang dipasang para dokter yang ahli di bidangnya. Bibirnya pucat pasi. Mata indah itu kini tertutup oleh rasa gelisah dan kesedihan mendalam.


Ia pun mulai terisak dalam tangisnya. "Kita ukir kisah kita lagi ya, Sayang? Kamu mau nunggu aku, kan? Kamu siap nerima aku yang kaya gini, kan? Aku yakin kamu orang yang setia. Aku yakin cinta kamu masih sama seperti saat kita pertama bertemu dulu. Tunggu aku di sana, ya. Aku nggak pernah pergi, Pra. Dan kamu pasti selalu nunggu aku." Cewek itu lantas memeluk erat bingkai foto di tangannya.


Rasa sakit yang ia rasakan di sekujur tubuhya seolah sama sekali tak ada artinya dibandingkan dengan rasa penyesalannya selama ini. Ia selalu merutuki dirinya sendiri bahwa ialah yang salah karena terlalu lemah dan tak mau memperjuangkan apa yang ia miliki. Prana cinta sejatinya. Selama ini tak ada cowok yang mampu mengisi hatinya selain seorang Mahaprana Virgo.


"Aku akan kembali, Pra. Aku pasti kembali. Semoga kali ini Tuhan dan semesta sudah mau merestui kita."


***


[Baca sampai akhir, ya]


Hai! Sehat-sehat, ya.


Udah ada pancingan belum, nih? Hehehe.


Yuk! Dukung author dengan cara rate BINTANG 5, VOTE, LIKE, COMMENT, tambahkan ke FAVORIT, dan SHARE cerita ini ke teman-teman kalian supaya author juga makin semangat nulis kelanjutannya. Oke?


Comment yang banyak boleh banget, biar nggak sider hehehe.

__ADS_1


Terima kasih banyak, kakak-kakak semua.


__ADS_2