Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Siapa Aeron?


__ADS_3

Sean melewati ruang tengah menuju ke ruangan kerja Jessy yang berada di lantai atas. Dengan langkah cepat Sean menaiki anak tangga.


Ceklek.


Tanpa mengetuk pintu Sean langsung masuk ke dalam ruangan itu. Dia tahu Jessy ada di dalam, tadi Edo mengatakan kalau wanita yang dia panggil sebagai mama itu menunggunya di sini.


"Ada apa?" tanya Sean basa basi.


Kursi kerja itu pun berputar, Jessi menatap Sean sinis.


"Apa sopan santun mu sudah hilang? apa pengajaran ku kurang?"


Jessi bangkit berjalan mengitari meja kerja yang menjadi pembatas diantara mereka.


Tatapan sinis Jessy terasa menusuk ke jantung. Sean merasa sedikit ngilu melihatnya. Namun, karena sudah terbiasa dengan situasi ini dia sudah tidak canggung lagi.


"Katakan saja, apa yang ingin mama katakan!" balas Sean dingin.


Jessi semakin marah, dia yang sudah emosi karena mendengar Sean mendaftar pada sekolah yang tidak dia sukai di tambah lagi dengan sikap Sean yang kini mulai melawan padanya.


Sejak kecil Sean tidak pernah berani melawan, dia selalu mematuhi apapun yang Jessi katakan. Sean mendewakan Jessi, meskipun dia selalu menyiksa anak remaja itu.


Jessi menatap wajah Sean dari dekat, menepuk nepuk wajah mungil yang pas seukuran telapak tangannya.


"Apa kau sudah merasa dewasa sekarang? apa kau sudah tidak membutuhkan aku?"


Plak!


Sean terhuyung ke samping, wajah mungilnya tidak sanggup menahan tamparan keras penuh tenaga dari Jessi.


Dia memegangi pipinya yang kini terasa panas seperti terbakar. Setetes air mata jatuh ke lantai.


"Apa kau tidak butuh aku lagi!!"


"Jawab aku anak bodoh." Maki Jessi. Dia semakin emosi, menarik kerah baju Sean hingga boca itu sedikit berjinjit.


"Aku sudah katakan, jangan sekolah di tempat itu. Aku tidak suka. Tapi, kenapa kau tetap mendaftar di sana?"


"Kenapa??"


Plak.


Satu tamparan kembali mendarat di wajah Sean. Namun, Jessi masih belum melepaskan dirinya. Jessi tidak suka di bantah. Dia selalu memberikan Sean hukuman apabila Sean tidak mematuhinya.


"Aku hanya ingin belajar dengan baik, aku ingin menjadi profesor!" lirih Sea di sela sela rasa sakitnya.

__ADS_1


"Profesor?"


Jessi kembali menarik kerah baju Sean, menatap mata Sean lekat. Ketika melihat wajah Sean, ras benci dan dendam Jessi semakin memuncak. Wajahnya sangat mirip dengan Vans. Cinta dan dendam Jessi.


"Apa salah ku ma, kenapa mama selalu berkata kasar dan menghukum ku. Kenapa aku selalu salah di mata mama. Bahkan aku selalu mengikuti apa yang mama inginkan" Sean akhirnya menangis.


"Apa aku bukan darah daging mama, sehingga Mama begitu jahat padaku?" satu pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Sean.


Pertanyaan ini selalu menghantuinya setiap kali dia mendapatkan perlakuan tidak pantas dari Jessi.


Bug.


Tubuh Sean luruh di lantai saat Jessi melepaskan cengkraman tangannya dari kerah bajunya.


Tanpa menjawab apa apa Jessi pergi begitu saja. Dia tidak ingin melihat Sean. Meskipun dia benci pada Vans da Nisa. Namun, adakalanya disaat Jessi melihat Sean yang seperti itu dia merasa sedikit kasian.


Sean tidak bersalah, namun rasa dendam Jessi pada kedua orang tuanya. Membuat rasa kasian itu menguap di udara.


Sean meringkuk di lantai, dia merasa sangat hancur. Sejak kecil dia selalu mendapat perlakuan kasar, dia kekurangan kasih sayang.


Di luar ruangan Edo melihat Jessi keluar dari ruangannya dengan wajah merah padam. Edo tahu Jessi baru saja selesai menghukum Sean. Dengan cepat dia masuk ke dalam ruangan kerja Jessi.


Benar saja, dia menemukan Sean tengah meringkuk di lantai dengan kedua pipi merah seperti habis di pukul.


"Apalagi masalahnya?" tanya Edo ketika mereka sudah berada di kamar. Dengan hati hati Edo mengompres wajah Sean.


"Aws.. " ringis Sean merasa ngilu ketika di kompres.


"Dasar manja!"


Edo terus mengompres pipi Sean dengan hati hati. Setelah itu, dia membawakan makan malam untuk Sean. Dia tahu, seja siang Sean belum makan apapun.


"Makan lah" suruh Edo, Sean tidak menyentuh sedikitpun makanan itu. Dia menggeleng ketika Edo mencoba menyuapinya sedikit makanan.


"Aku tidak selera, bawa saja makanan itu!" tolak Sean


"CK." Edo berdecak kesal, dia meletakkan makanan itu di atas nakas samping tempat tidur Sean.


"Jika kamu makan, aku akan membantu mu berbicara dengan Jessi soal pendidikan mu di sekolah itu" ujar Edo.


Sen mendongak, raut wajahnya langsung sumringah.


"Apa kau janji Edo?" seru Sean penuh harap. Semangatnya seakan kembali.


Edo sangat menginginkan sekolah di sekolah Bima. Sekolah elit yang paling terkenal dengan pendidikan modern, sehingga siswa siswi nya lebih muda memahami materi.

__ADS_1


Edo mengangguk, dia berjanji akan berbicara pada Jessi dan memastikan Sean akan sekolah di sekolah itu.


"Baiklah, aku akan makan" dengan penuh semangat Sean mengambil makanannya dan melahap sampai habis.


Setelah makan malam, untuk menghibur hati Sean yang sedang galau. Edo mengajak Sean pergi ke mall untuk membeli semua peralatan yang Sean butuhkan di SMP nanti.


Sean merasa senang, setidaknya dia masih punya seseorang yang membuatnya nyaman tinggal bersama mama nya. Jika tidak ada Edo, mungkin Sean sudah memutuskan untuk kabur. Atau lebih buruknya dia memutuskan untuk bunuh diri.


"Sayang, kamu mau beli apa untuk Aeron. Dia kan punya banyak uang. Mommy nya pasti akan membelikan semua yang dia butuhkan!" omel Reina pada putrinya Geisha. Dia sudah lelah mengikuti putrinya mengelilingi mall ini.


Sudah hampir 2 jam mereka berjalan keluar masuk tokoh mencari apa yang putrinya inginkan. Namun, sampai saat ini masih belum ada yang dia temukan.


"Ke sana, aku mau ke-"


Bug.


Geisha terjatuh, dia menabrak seseorang ketika hendak berlari kearah tokoh sepatu yang tidak jauh dari eskalator. Saat dia hendak berlari, tiba-tiba seseorang melintas dari eskalator.


"Geisha!!"


Reina berlari, dia membantu putrinya berdiri.


"Makanya jalan itu hati hati" omel Reina membantu Geisha membersihkan baju nya.


"Maaf saya tidak sengaja, apa kamu tidak apa apa?"


Reina dan Geisha secara serempak menoleh ke sumber suara. Seketika senyum Geisha mengembang.


"Oh astaga, suami ku. Kamu di sini?"


"Eh kok gak sapa aunty, Aeron gak sopan deh" Rajuk Reina mencubit pipi Sean.


Reina dan Geisha malah heran, Aeron tidak merespon candaan mereka. biasanya Aeron merespon dengan merajuk atau menjewer telinga Geisha.


Sekarang malah dia diam saja menatap mereka bingung.


"Aeron, apa yang terjadi?" tanya Geisha. Reina juga menatap bingung pada putra sahabat nya ini.


"Maaf, aku bukan Aeron!"


Setelah mengatakan hal itu, Sean berlalu pergi. Dia menganggap orang itu aneh.


Sean teringat pada wanita yang berteriak padanya. dia juga meneriaki nama yang sama.


"Siapa Aeron?"

__ADS_1


__ADS_2