Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Momongan 2


__ADS_3

"Doain aja ya, Mbak." Anggi tersenyum pada pelayan kasir. Kalimat tadi berhasil membuat pikirannya kacau.


"Pasti. Mbak namanya siapa?" tanya pelayan kasir dengan ramah. Sungguh, auranya mirip seperti Anggi yang sama-sama humble.


"Saya Anggi. Kalau Mbaknya?" tanya Anggi balik.


"Saya Aura. Salam kenal ya, Mbak." Pelayan kasir terus memasukkan barang-barang belanjaan Anggi ke dalam kantong belanja sambil mengobrol santai dengan Anggi. Beruntung, antrian sedang sepi dan bahkan tidak ada orang yang mengantri sama sekali di belakang Anggi.


"Wah, huruf depan kita sama pakai 'A'. Ngomong-ngomong Mbak Aura manggil saya Anggi aja, soalnya usia Mbak di atas saya, kan?" Anggi juga menanggapinya dengan senang hati. Ia lantas menyiapkan sejumlah uang untuk membayar nanti.


"Iya, Nggi. Ini totalnya 500 ribu pas," ujar pelayan kasir lalu menyodorkan kantong kresek yang sudah berisi barang-barang belanjaan milik Anggi.


Anggi pun menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah pada Aura. Perempuan itu pun langsung menghitungnya.


"Loh, Anggi. Ini kelebihan 500 ribu," katanya, membuat Anggi mengerutkan kening.


Cewek itu segera tersenyum lebar. "Buat Mbak Aura aja 500 ribunya. Buat beli susu sama keperluan anak Mbak yang lain," jelasnya, membuat Aura segera membelalakkan mata.


"MasyaAllah. Ini beneran, Nggi? Tapi, aku nggak enak sama kamu apalagi kita baru kenal, loh." Aura masih mencerna apa yang dilakukan Anggi. Perempuan itu tertegun dan gemetar menerima 5 lembar uang berwarna merah itu.


"Iya, Mbak. Terima aja. Saya ikhlas kok," balas Anggi sejujur-jujurnya sambil mengulas senyum tulusnya. Ia amat senang bila bisa berbagi seperti ini dengan orang lain.


Kedua mata Aura langsung berkaca-kaca mendengarnya. "Aku terima ya ini. Makasih banyak, Nggi. Semoga masih banyak orang-orang baik seperti kamu di bumi ini," ucap Aura sambil menggenggam salah satu tangan Anggi dengan erat. Ia amat terharu dengan sikap cewek semacam Anggi.


"Terima kasih kembali, Mbak. Semoga kita bisa ketemu lagi ya. Aku duluan," ujarnya sambil memunguti kantong kresek di depannya.


"Hati-hati, Anggi."


***


Anggi tengah menikmati pemandangan yang memanjakan mata di salah satu kafe mini di kota tempat ia tinggal itu. Ia jadi banyak melamun sejak percakapan dengan Aura tadi. Banyak pertanyaan yang melintas di benaknya kini.


Apa iya Anggi bisa punya momongan dalam waktu yang dekat? Apa ia bisa menjadi ibu semuda ini? Apa Anggi mampu mengurus bayinya dengan baik nanti? Lalu, bagaimana dengan Prana? Apa cowok itu akan setuju bila Anggi hamil di umurnya yang masih belasan? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang bersarang di kepalanya.

__ADS_1


Cewek itu melirik meja di sebelahnya. Pasang matanya langsung menangkap sosok pria dengan wanita yang duduk di sebelahnya. Mungkin, istrinya. Dan wanita itu juga menggendong bayi yang jika dilihat-lihat sepertinya baru berumur tiga-lima bulan. Mereka beberapa kali tertawa bersama saat melihat ekspresi lucu dari sang bayi. Anggi pun jadi ikut tersenyum melihatnya.


"Wah, dedek bayi lagi lihatin Mbaknya, toh?" ujar wanita tersebut lalu pandangannya terarah pada Anggi yang asyik menonton momen tersebut.


"Halo, dedek bayi!" sapa Anggi ramah. Senyum lebarnya tak bisa ia sembunyikan lagi. Cewek itu ikut bahagia melihat bayi tersebut ternyata tersenyum padanya.


"Mbaknya mau gendong?" tawar wanita itu.


Anggi jadi kikuk setelahnya. Cewek itu juga melirik ke arah suami dari wanita tersebut. Bisakah dia menggendong bayi?


"Nggak papa, Mbak. Kalau mau gendong, silakan," kata pria di sebelah wanita itu, seolah dapat membaca pikiran Anggi.


Anggi lantas dengan cepat menggeleng. "Nggak usah, Mbak, Mas. Saya takut gendong bayi," ujarnya canggung. Ia mendadak deg-degan bila sudah ditawari seperti itu. Pasalnya, ia belum pernah menggendong bayi sebelumnya.


Tiba-tiba saja wanita itu menghampiri Anggi. Tentu istri dari Prana itu langsung tercekat di tempat. Apa yang akan dilakukan oleh wanita itu bersama bayinya?


"Sini. Mbaknya aku ajarin gendong bayi, ya?" ujar wanita itu dengan ramahnya, membuat Anggi segera terperangah karenanya.


"Tapi, Mbak-"


"Gampang, kan?" katanya.


Wanita itu tidak tahu saja kalau jantung Anggi berdebar hebat saat bayi itu kini sudah berada di tangannya. Cewek itu jadi panas dingin sendiri. Raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kegugupan hebatnya.


Namun, perlahan Anggi mulai bisa beradaptasi. Cewek itu perlahan menimang bayi yang ia gendong itu dengan penuh hati-hati meski masih gugup dan takut.


"Mbak sekolah atau kuliah di mana?" tanya wanita itu sambil terus mengawasi Anggi dalam menggendong bayinya.


"Saya sudah enggak sekolah, Mbak. Dan saya juga sudah menikah," jawab Anggi dengan ulasan senyum di akhir kalimatnya.


Mungkin, ia boleh sedih karena sudah tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Prana juga sedang berusaha mencari sekolah yang mau menerima mereka, khususnya Anggi walau pada akhirnya mereka harus ke luar kota nanti. Akan tetapi, Anggi sendiri juga selalu berusaha menerima keadaan dengan ikhlas. Mungkin, ini memang yang terbaik untuknya dan suaminya.


"Wah-wah. Jadi, Mbak nikah muda?" tanyanya kembali dengan antusias.

__ADS_1


Anggi hanya tersenyum dan mengangguk. Tangannya masih setia menggendong bayi lucu itu. Rasanya bahagia sekali bila memandang wajah imut nan menggemaskan dari seorang bayi.


"Mbak sudah punya momongan?" Lagi, wanita itu terus bertanya sambil berusaha mengajak Anggi mengobrol ringan.


Anggi lantas menggeleng pelan. "Belum, Mbak. Saya sama suami belum ada rencana punya momongan dalam waktu dekat," jawabnya benar adanya.


"Dicoba dulu aja, Mbak. Kalau jadi ya Alhamdulillah. Kalau belum ya bersabar saja, mungkin belum waktunya. Jadi ibu muda itu nggak semengerikan yang mungkin Mbak pikirkan saat ini. Contohnya saya sendiri. Saya ini juga masih 19 tahun loh, Mbak," katanya wanita itu menjelaskan dan langsung membuat Anggi tertegun.


"Mbak masih 19 tahun?"


Wanita itu mengangguk seraya tersenyum. Ia melirik suaminya sebentar lalu menatap Anggi kembali. "Saya menikah di usia 17 tahun, Mbak. Kami dijodohkan waktu itu dan saya beruntung sekali punya suami sebaik dan seromantis dia. Suami saya waktu itu juga masih 19 tahun," katanya.


Anggi jadi antusias untuk mendengar cerita dari wanita di hadapannya. Pasalnya, kisah mereka sepertinya agak mirip meski sifat suaminya berbeda dengan Prana yang dulu kaku dan dingin.


"Lalu?"


"Kami perlahan bisa saling mencintai meski dalam tempo yang agak lama dan pada akhirnya memutuskan untuk mempunyai momongan. Awalnya saya memang ragu karena akan menjadi ibu muda. Saya takut saya akan gagal menjadi ibu yang baik. Akan tetapi, suami dan keluarga terus memberi dorongan dan dukungan. Apalagi suami saya bisa sabar membimbing saya untuk sama-sama belajar menjadi orang tua yang baik dan Alhamdulillah sekarang kami sangat bahagia dengan keluarga kecil kami." Wanita yang duduk di depan Anggi itu terus bercerita panjang lebar dan berhasil membuat Anggi perlahan membuka pikirannya.


"Tapi, itu semua juga tergantung sama kedua pihak. Keduanya harus bisa saling support. Dan semisal kalian memang masih mau menikmati masa-masa pacaran, ya silakan. Apalagi kalau kalian masih tergolong pengantin baru," katanya sambil mengulas senyum lebarnya. Aura wanita itu seketika terpancar, membuat Anggi kagum.


"Makasih atas penjelasan dan pengertiannya ya, Mbak." Anggi tersenyum dan senyumnya makin lebar saat bayi di gendongannya ikut tersenyum memperlihatkan dua gigi mungilnya.


***


[Baca sampai akhir, ya]


Malam dan semoga hari kalian menyenangkan.


Penasaran nggak sama kelanjutannya?


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?


COMMENT pendapat dan saran kalian buat bab ini, dong. Biar gak sider hehehe.

__ADS_1


TERIMA KASIH BANYAK.


__ADS_2