
Semalam Anggi ketiduran di pangkuan suaminya sewaktu mereka menghabiskan momen-momen romantis bersama di balkon kamar Prana. Cowok itu memang sengaja menidurkan istrinya di pangkuannya supaya ia bisa menamatkan wajah cantik itu lamat-lamat dalam tempo lama. Sehingga mau tidak mau, Prana harus membopong tubuh Anggi untuk tidur di ranjang kamarnya, sementara ia tidur di sofa.
Jam menunjukkan pukul empat pagi dan Prana sudah membuka matanya lebar-lebar. Prana lantas melirik ke arah ranjang dan ternyata istrinya tercinta itu belum bangun dari tidurnya. Perlahan cowok itu menghampirinya lalu mengambil posisi dengan duduk di karpet bawah. Prana terus memandangi wajah Anggi lekat-lekat sambil bertopang dagu pada tangannya sendiri. Sesekali ia juga menyilakkan helai rambut yang menutupi wajah cantik itu.
“Kamu kalau lagi tidur cantik, ya,” gumamnya sembari terus tersenyum sendiri.
Tak mau kehilangan momen seperti ini, ia segera mengambil ponsel dari atas nakas dan memotret wajah istrinya menggunakan benda mahal itu. Namun, sialnya ia lupa kalau ternyata flash kameranya menyala. Ia jadi gendadapan menyembunyikan ponselnya kembali di saku celana.
*gendadapan (bahasa Jawa) \= kelabakan
Anggi pun yang merasakan sesuatu menyala dan mengganggu matanya buru-buru membuka kedua matanya. “Mas kamu ngapain?” tanyanya dengan menunjukkan raut wajah bingungnya.
“A- Aku nggak ngapa-ngapain.” Prana jadi salah tingkah dan ekspresinya aneh di mata Anggi.
“Terus kenapa duduk di situ?” tanya Anggi lagi, masih heran dengan tingkah suaminya itu.
Prana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Oh, ini. Anu, tadi lagi bersihin karpet,” jawabnya sambil cengar-cengir tidak jelas.
“Hah? Kamu kenapa sih, Mas?” Anggi mendadak cengo karenanya. Cewek itu merasa ada sesuatu yang aneh pada suaminya. Mengapa Prana jadi aneh seperti itu?
Prana lantas segera bangkit untuk mengecup pucuk kepala istrinya dan setelahnya menuju lemari pakaiannya. “Udah, buruan mandi. Aku juga mau mandi nih. Habis ini kita salat terus kamu siap-siap, ya. Kita punya acara padat seharian ini,” suruhnya sambil fokus memilih baju yang akan ia kenakan hari ini.
Istri Prana itu langsung bengong di tempat. “Acara apa, Mas? Kok mendadak? Kok Mas gak bilang dari kemarin?” Anggi terus mencerocos sebagai respon atas keterkejutannya karena kabar mendadak tersebut.
Prana menghampiri istrinya dan cepat-cepat menarik kedua tangan istrinya supaya lekas bangkit dari ranjang. “Mandi nggak? Aku hitung sampai 3, kalau kamu nggak buruan mandi, aku mandiin loh nanti,” ancamnya sambil cengengesan.
Anggi seketika mendelik pada suaminya itu. “Ih, Mas Prana! Dasar mesum,” gerutunya sebal karena cowok itu selalu saja menggodanya.
“Sama istri bebas.” Prana lalu terkekeh sembari mengedipkan sebelah matanya, jahil.
Istri Prana itu mendadak mengingat sesuatu. “Kamu semalem nggak itu, kan?” tanyanya sambil memelototi cowok di depannya.
__ADS_1
“Satu, dua-“
“Mas Prana, ih!” Anggi pun bergedik geli dan segera keluar dari kamar suaminya yang mengesalkan itu.
***
Prana sudah bersiap di ruang tamu. Ia sedang memakai sepatu ketsnya. Cowok itu kini mengenakan jaket jeans kesukaannya dengan kaos putih sebagai dalamannya serta celana jeans dengan warna senada dengan atasannya.
Sementara di sisi lain, Anggi sedang bingung sendiri memilih warna lipstik apa yang cocok ia kenakan. Ada merah, pink, nude pink, warm orange, dan masih banyak warna lainnya. Prana memang sengaja membelikan istrinya banyak sekali lipstik supaya Anggi tidak bingung memilih warna. Namun, tetap saja Anggi bimbang terhadap hal sekecil itu karena cewek itu memang bisa dibilang sangat labil. Dan ujung-ujungnya pilihan terakhirnya selalu jatuh pada lipbalm berwarna red rose yang warnanya pas di bibirnya dan tidak terlalu mencolok.
Cewek itu mengenakan pakaian feminim kali ini, yakni dress selutut berwarna merah yang begitu anggun melekat di tubuh mungilnya. Membuatnya sangat imut dan lucu. Rambut ikal gantungnya ia biarkan tergerai ke belakang menambah kesan menawan pada dirinya.
“Sayang! Udah siap belum?” teriak Prana dari bawah.
Anggi yang mendengarnya langsung gopah-gapah lalu cepat-cepat memakai sepatu kets putihnya sambil menjawab dengan sedikit berteriak, “Iya, Mas. Udah selesai nih.” Cewek itu tak mau kalau suaminya sampai menunggunya lama.
Sesudahnya, ia pun segera keluar kamar dan mulai menuruni anak tangga satu demi satu. Prana yang menyadari kedatangan istrinya dari atas pun spontan menoleh cepat. Cowok itu bahkan sampai tak berkedip melihat paras indah yang terpancar dari Anggi dan seolah-olah istrinya itu sedang bergerak dengan efek slow motion.
Anggi langsung bersemu karena pujian dari suaminya itu. “Boong, ya? Awas aja kalau boong hidung kamu jadi pesek lo!” Bukannya berterima kasih atau apa, cewek itu justru menuduh cowok di hadapannya yang tidak-tidak.
Prana pun tertawa lepas mendengar respon istrinya. “Kok suudzon gitu sih. Kamu emang kelewat cantik, Nggi. Lagi-lagi aku harus bersyukur karena punya istri kamu,” ujar cowok itu sejujur-jujurnya lalu mengecup kening istrinya dengan penuh rasa kasih sayang.
“Ya udah, yuk!” Prana menarik pergelangan tangan Anggi dan menggandengnya keluar. Namun, Anggi justru menahannya.
Anggi melirik ke bawah dan pandangannya langsung menangkap kaki suaminya. “Loh, Mas. Sepatu kamu yang satunya nggak dipakai?” tanyanya bingung.
Prana yang diberitahu itu segera melihat ke bawah. Benar saja, ia ternyata baru memakai satu sepatunya, sementara sepatu yang lain masih tertinggal di tempatnya. Kenapa lagi kalau bukan karena terbius paras wajah Anggi yang selalu cantik di matanya. Cowok itu bisa-bisa sampai lupa segalanya. Ia lantas menyengir kuda pada Anggi lalu cepat-cepat memakai sepatunya yang lain.
“Ada-ada aja kamu, Mas.” Anggi yang menyaksikan tingkah lucu suaminya itu hanya bisa geleng-geleng kepala dan terkekeh kecil di tempatnya.
***
__ADS_1
“Kita mau ke mana sih, Mas sebenernya?”
Pasangan muda-mudi itu sedang berada di dalam mobil mewah milik Prana. Benda bernilai milyaran rupiah itu kini membelah hiruk pikuk kota. Prana mengontrol laju mobilnya dengan kecepatan yang stabil, tidak mau kalau istrinya sampai ketakutan. Padahal, biasanya cowok itu selalu mengebut kalau sedang berkemudi sendirian.
“Istriku cerewet banget sih,” katanya sembari mencubit pipi istrinya dengan gemas.
Anggi yang mendapat perlakuan seperti itu langsung menggembungkan kedua pipinya. “Ih, Mas Prana! Kenapa sih musti cubit-cubit pipi aku? Kan, sakit tau,” protesnya kesal. Tidak, ia berbohong. Sebenarnya cubitan suaminya tidak sesakit yang ia bilang, bahkan hampir tidak terasa.
“Masa sih? Kan, aku nyubitnya biasa. Gak pakai tenaga, Sayang.” Prana membantah sembari mengerutkan keningnya.
“Tau ah!”
Cowok itu menoleh pada Anggi. Ya Allah, menggemaskan sekali istriku kalau sedang ngambek seperti itu, batinnya. “Ngambek terus. Sekali-kali kek manjain suaminya,” sindirnya sambil menahan tawanya supaya tidak lepas.
“Dih, apa hubungannya coba? Dasar modus,” cetus Anggi dengan ketus dan segera membuang pandangannya ke arah jalanan.
“Anggi, modusin suami sendiri itu nggak dosa loh. Malah kamu dapet pahala karena bikin hati suamimu ini bahagia,” kata Prana dengan embel-embel modusnya.
“Bodo amat!”
“Udahan dong ngambeknya. Aku punya kejutan buat kamu habis ini.”
“Kejutan?”
***
Hai! Semoga kalian yang baca ini sehat selalu, ya.
Makasih udah setia sama Prana dan Anggi.
Mari dukung author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, COMMENT, VOTE, dan tambahkan cerita ini ke FAVORIT supaya auhtor semakin semangat menulis kelanjutannya, oke?
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK.