
Anggi telah rampung dalam ritual mandinya. Dengan masih mengenakan handuk yang melilit tubuhnya, cewek itu segera keluar kamar mandi untuk mengambil baju gantinya. Baru selangkah ia keluar kamar mandi, kakinya terhenti saat pasang matanya menangkap sosok cowok sedang melepas kaos putihnya duduk di ranjangnya.
"Astaghfirullah, Mas Prana!" pekiknya spontan. Cewek itu lantas refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Prana kini sudah telanjang dada dengan training yang masih tersisa menutup tubuhnya dari pusar hingga ujung kakinya. Badannya yang atletis, namun masih sewajarnya benar-benar membuat Anggi tak berkedip. Cewek itu amat terpesona saat melihat suaminya seperti itu. Keringat dinginnya perlahan mengalir membasahi ujung dahinya.
Anggi menelan ludahnya, "Astaghfirullah!" pekiknya pelan sambil refleks menutup kedua matanya dengan tangan.
Dengan mata tertutup seperti itu, Anggi cepat-cepat masuk kembali ke dalam kamar mandi. Sementara, Prana justru memandang istrinya sambil mengerutkan kening. Ada apa dengan Anggi? Mengapa dia seperti itu?
Dengan sedikit berlari, Prana menghampiri istrinya. Tangannya pun segera mencekal pergelangan tangan Anggi membuat gadis itu terperanjat dan menoleh cepat.
"Nggak usah malu kaya gitu. Kita udah sah jadi suami-istri. Ya udah, buruan ganti baju sana," suruhnya yang langsung disambut anggukan kepala oleh istrinya.
Anggi pun segera masuk dan mengunci kamar mandinya rapat-rapat. Ia berusaha menormalkan degup jantungnya yang abnormal itu. "Apa yang barusan terjadi? Suamiku melihatku seperti ini? Dan bagaimana kalau Mas Prana tahu kalau aku mengamatinya seperti tadi?" gumamnya sendiri. Ia pun merutuki dirinya karena perbuatannya tadi.
***
Lima menit setelahnya, Anggi kembali keluar kamar mandi. Kali ini cewek itu berusaha sekuat tenaga untuk terlihat tenang dan biasa saja. Dengan langkah yang ragu, Anggi perlahan menghampiri suaminya yang masih setia duduk di tepi ranjang.
"Mas? Mas ngapain ke sini?" tanyanya sehalus mungkin.
Prana menoleh dan menatap wajah istrinya. Cowok itu lalu berdiri dengan tegap. "Emangnya gue gak boleh ke kamar istri gue sendiri?"
Anggi tercekat mendengar kalimat tamparan suaminya itu. "Bukan itu maksudku, Mas," katanya gugup.
"Gue mau numpang mandi soalnya keran di kamar mandi gue lagi macet," jelasnya dengan nada dingin khasnya.
"Jadi Mas juga belum man-" Belum sempat Anggi menyelesaikan kalimatnya, cowok itu melenggang begitu saja menuju kamar mandi meninggalkan istrinya yang masih terpaku di tempat.
Anggi manggut-manggut sendiri meski tahu kalau suaminya sudah masuk ke dalam kamar mandi tanpa meninggalkan jawaban sepatah kata apa pun. Setelahnya, ia segera berlari kecil menuju kamar Prana untuk mengambil setelan piyama di lemari. Kemudian, Anggi kembali ke kamarnya dan meletakkan setelan piyama tadi di atas ranjang.
__ADS_1
Seusai urusannya dengan piyama selesai, cewek itu bergegas ke dapur, membuatkan teh hangat untuk suaminya. Setelahnya, ia kembali ke kamar dan meletakkan segelas teh hangat buatannya di atas nakas.
Anggi masih ingin menunggu suaminya selesai mandi, namun matanya sepertinya tidak bisa diajak berkompromi. Cewek itu sudah terlihat beberapa kali menguap karena mengantuk.
"Mas Prana masih lama nggak ya? Apa gue tulis di kertas aja kali, ya biar Mas Prana tahu kalau gue buatin teh?" Anggi bermonolog. Dengan sigap cewek itu mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu di atasnya.
Anggi kembali menguap dan akhirnya memilih untuk berbaring di ranjangnya. Ia pun benar-benar terlelap dalam mimpi indahnya tak lama setelahnya.
Sementara, Prana juga tak lama keluar dari kamar mandi. Cowok itu mengusap rambutnya dengan handuk miliknya sambil berjalan menuju ranjang. Ditatapnya setelan piyama miliknya tersusun rapi di atas sana. Lalu, matanya beralih memandang istrinya yang sedang tidur nyenyak. Prana sempat tersenyum sekilas saat pasang matanya asik memerhatikan posisi istrinya saat tidur itu. Prana tersenyum? Iya, dia benar-benar tersenyum kali ini. Lucu, batinnya.
Cowok itu lantas mengalihkan pandangnya ke arah nakas. Kakinya kembali melangkah mendekati nakas yang terletak di samping ranjang istrinya. Tangannya tergerak untuk meraih secarik kertas yang terletak di atas nakas bersamaan dengan segelas teh di sampingnya.
"Diminum ya, Mas. Semoga masih hangat. Nanti tidurnya di kamar aja, jangan di sofa. Aku takut kalau Mas sampai sakit nanti."
Prana kembali tersenyum singkat. "Lo emang istri yang perhatian, Nggi. Tapi, sayangnya gue nggak bisa cinta sama lo," gumamnya sambil menatap istrinya.
***
Alarm ponsel milik Anggi berdering di atas nakas. Jam di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul 04.30. Ia jadi terpikir untuk membangunkan suaminya. Namun, tiba-tiba niatnya menciut saat mengingat kejadian kapan hari. Bagaimana kalau suaminya akan marah lagi? Cewek itu akhirnya meyakinkan dirinya sendiri dan menuju kamar Prana.
"Syukurlah kalau Mas Prana semalam tidur di kamar," monolognya lalu cepat-cepat menuju kamarnya untuk mempersiapkan diri berangkat ke sekolah.
Setelah selesai dengan urusannya, cewek itu kembali berlari menuju dapur, berniat untuk menyiapkan sarapan. Anggi berjalan ke sana kemari untuk mencari Prana, namun sepertinya tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya itu. Di dapur, cewek itu justru mendapati Ijah seorang diri sedang sibuk dengan bumbu dapur di depannya.
"Mbak Ijah?" sapanya sambil menghampiri asisten rumah tangganya itu.
Ijah menoleh pada Anggi. "Iya, Mbak," jawabnya.
"Mbak Ijah lihat suami saya nggak? Kok saya cari nggak ada," tanyanya kembali membuat Ijah mengernyit.
Setelah sadar, ia pun mengangguk paham. "Oh, tadi Tuan Muda sepertinya sudah berangkat duluan, Mbak. Mbak Anggi mau sarapan? Saya buatin nasi goreng ya," ujarnya.
__ADS_1
"Nggak usah, Mbak. Sini biar aku aja yang masak. Nasinya masih?" tanyanya lalu mengambil alih bahan masak dari tangan Ijah.
Mendengar pertanyaan itu, Ijah langsung menepuk jidatnya seolah-olah ia telah lupa melakukan sesuatu. "Aduh, Mbak! Saya lupa belom masak nasi tadi pagi. Maaf, Mbak Anggi. Maaf banget," akunya jujur. Ijah memang benar-benar lupa untuk memasak nasi karena mengurus pekerjaan rumah lainnya.
Anggi justru tersenyum membalas pernyataan Ijah. "Nggak apa, Mbak. Roti tawarnya masih, kan? Biar seadanya aja yang aku bikin. Mbak Ijah urus yang lain aja," tuturnya yang dibalas anggukan oleh Ijah. Perempuan itu pun keluar dapur untuk mengerjakan yang lain.
Anggi bergerak untuk mengambil roti tawa beserta selai cokelat di dalam kulkas. Benar saja seperti dugaannya, roti tawarnya hanya tersisa 2 lembar di dalam sana.
"Aduh, sisa dikit banget. Mas Prana udah sarapan belum, ya tadi? Aku bawain bekal aja deh."
Cewek itu lantas cepat-cepat mengoleskan selai cokelat ke setiap lembar roti tawar kesukaan Prana. Tak lupa disiapkannya sekotak bekal berisi roti selai tersebut untuk suaminya di sekolah. Istri Prana itu memang sangat memerhatikan suaminya, sampai-sampai ia kurang memerhatikan dirinya sendiri. Bahkan, pagi ini Anggi rela tidak sarapan untuk suaminya nanti. Ia lalu segera berangkat dengan memesan ojek online menuju sekolah.
***
Entah mengapa, Anggi terlihat begitu bersemangat pagi ini. Rasanya ia tidak sabar memberikan kotak bekal di tangannya pada suaminya di kelas nanti. Matanya berbinar saat mendapati Prana duduk di bangkunya. Cewek itu pun segera menghampirinya.
"Pra, aku bawain bekal nih. Dimakan ya," ujarnya sembari menyerahkan kotak bekal di tangannya kepada Prana.
Namun, suaminya itu justru sama sekali tidak berniat untuk menoleh atau setidaknya melirik Anggi. Prana memilih untuk mengambil ponselnya dan memainkannya.
"Wih, ada yang dibawain bekal nih pagi-pagi. Buat gue aja lah, Nggi," goda Dion, salah satu sahabat Prana di kelas. Mereka duduk satu bangku.
"Lo mau, Yon? Ya udah buat lo aja," balas Prana membuat Anggi seketika terpaku di tempat.
Bukannya membela Anggi, Dion dengan wajah tidak berdosanya justru mengambil kotak bekal itu. Anggi masih bergeming di tempatnya, berharap kalau Prana membatalkan keputusannya dan mau memakan bekalnya. Namun, harapan itu pupus karena suaminya ternyata benar-benar tidak ada niatan untuk menghargai jerih payah Anggi dalam membuatkan bekal untuknya.
Cewek itu amat sakit hati melihat perlakuan suaminya seperti itu. Ia akhirnya berbalik badan dan berjalan dengan perasaan kecewa menuju bangkunya.
"Lo yang sabar, Nggi. Gue yakin suatu saat Prana bakalan membuka matanya buat melihat lo," kata Jesi menenangkan sahabatnya itu. Ia memang sudah menyaksikan kejadian tadi dengan diam-diam.
***
__ADS_1
"Pra, Anggi pingsan!" pekik Dion dan Jesi bersamaan dengan napas yang masih terengah-engah.
Prana yang awalnya sibuk membaca buku itu pun mendadak menutup bukunya dan segera bangkit dari kursi. "Di mana dia?"