
Aeron tersadar, dia terkejut berada di sebuah ruangan yang pencahayaannya remang remang. Namun, Aeron masih bisa melihat siapa orang yang tengah berdiri di hadapannya.
"Siapa kau?" Tanya Aeron berusaha untuk berdiri. Perlahan orang yang berdiri di hadapannya berbalik.
"Kau?" tunjuk Aeron terkejut. Ternyata dia adalah kembarannya.
"Yah ini aku, kenapa kau terkejut? apa kau takut?" tanya Sean menyeringai, dia berpikir Aeron akan takut. Karena di sini hanya ada mereka berdua.
Namun, bukan nya takut. Aeron malah tersenyum senang. Dia akhirnya bisa bertemu dengan saudara kembarnya.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mu secepat ini. Bahkan sangat mudah. Hanya bermodalkan pingsan" kekeh Aeron.
"Kau tidak takut?" tanya Sean terdengar ambigu di telinga Aeron.
Sean menodongkan senjatanya ketika melihat Aeron mendekatinya. Dia merasa was was, berpikir jika Aeron datang ke tempat ini untuk melenyapkannya.
Sean masih ingat, bagaimana ucapan Jessy kepadanya kemarin. Saat Sean bersikeras ingin kembali pada keluarganya. Dia tidak percaya bahwa keluarganya tidak mau merawat nya.
"Apa kau ingin kembali pada mereka? apa kau yakin mereka mau menerima mu?" tanya Jessy tersenyum miring.
Sean terdiam, matanya menatap Jessy tajam. Di dalam hatinya dia bertanya tanya.
"Aku yakin mereka akan menerima Ku!"
"Hahahaha.... Percaya diri sekali. Jika mereka melakukan itu, lalu bagaimana mungkin kau ada di sini? mengapa mereka tidak mencari mu? bahkan mereka tidak tahu keberadaan mu dan lihat. Mereka tenang tenang saja" ucap Jessy tertawa terbahak bahak. Menertawakan kebodohan putra angkat yang dia jadikan sebagai mal praktek nya.
Tangan Sean semakin kuat mencengkram senjatanya. Hatinya semakin sakit setiap kali melihat wajah Aeron. Apalagi membayangkan betapa menderitanya dia selama ini di asuh oleh orang lain.
Sedangkan Aeron, dia malah di sayang dan di cintai.
"Apa kesalahan nya??" itulah pertanyaan yang ada di benak Sean.
"Apa kau ingin membunuh ku?" tanya Aeron menyadarkan Sean dari pikirannya.
"Tentu saja, apa alasan ku membiarkan kau hidup!" balas Sean.
Aeron berdeci, tawanya seketika menggelegar di ruangan tertutup itu.
"Berhenti tertawa, atau aku akan menembak mu!" ancam Sean.
Aeron tersenyum, melihat dari getaran tangan kakaknya. Dia tahu, bahwa Sean tidak akan tega menembaknya.
"Kak.."
__ADS_1
Deg.
raut wajahnya seketika berubah. Jantung Sean berdegup kencang, ada perasaan aneh menjalar di relung hatinya ketika mendengar panggilan dari Aeron.
Brak!
Sean terkejut mendengar suara pintu di dobrak. Dalam gerakan cepat dia menarik Aeron dan memposisikan ke hadapannya dengan ujung pistol ke leher Aeron.
Reno, Abay, Vans dan Sinta masuk ke dalam. Seketika Sinta berteriak melihat apa yang Sean lakukan pada Aeron.
"Aeron!"
"Berhenti bergerak!!" ancam Sean semakin menodongkan pistol ke leher Aeron. Dia menarik Aeron agar lebih menjauh dari mereka semua.
Abay menarik Sinta mundur ke belakang. Mereka tidak boleh gegabah, nyawa Aeron akan menjadi taruhannya.
"Nak, jangan sakiti asik mu" bujuk Vans perlahan melangkah maju. Tatapan matanya terus mengawasi Sean dan pistolnya.
"Berhenti! jangan mendekat!" Teriak Sean.
Vans tidak perduli, dia terus melangkah maju sambil mengeluarkan ponselnya.
"Jangan mendekat, atau aku akan--"
Sean tertegun, dia terkejut mendengar suara yang entah mengapa membuat hatinya tersentuh.
"Sean, nak.. Ini Mommy nak, jangan sakiti adik mu, dia datang untuk menyelamatkan mu. bukan menyakiti mu nak" Nisa berbicara dengan sangat lembut. Isak tangisnya terdengar memilukan di hati Sean.
"Aku tidak peduli, kalian hanya mementingkan dia. Tapi kalian tidak pernah memikirkan aku!"
"Selama ini aku menderita. Apa kalian mengetahuinya, apa kalian ingin tahu huh?"
"Tidak nak, bukan seperti itu. Mommy sangat merindukan mu, kau akan mengerti setelah mendengar semua cerita nya" bujuk Nisa lagi. Dia memeluk tubuhnya sendiri seakan sedang memeluk putranya yang selama ini terpisah darinya.
Tanpa Sean tahu, Abay dan Reno mengendap endap ke belakang nya dan merebut pistol itu dari tangan Sean.
Sean terkejut, namun perhatian matanya tidak lepas dari layar ponsel Vans. Hatinya terasa sakit melihat wanita yang sekarang dia ketahui sebagai ibu kandung nya menangis.
"Nak, semuanya salah paham. Jessy sengaja melakukan semua ini. Mengerti lah, Jessy itu jahat" Ucap Vans.
Sean terdiam, ekspresi nya sulit di artikan. Matanya tetap fokus dengar layar ponsel yang kini sudah berada di tangannya. Sedangkan Aeron, dia sudah berdiri di samping kakaknya.
"Kak, ayo kita pulang. Mommy menunggu kita di rumah!" Tangan Aeron mengusap bahu Sean.
__ADS_1
Sean tidak bergeming, hati nya bingung. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Bukan karena dia mempertimbangkan Jessy. Namun, dia mempertimbangkan apakah keluarganya benar benar jujur kepadanya. Atau hanya ingin hal lain kepadanya.
"Nak," panggilan Nisa terdengar merdu di telinga Sean. Hatinya yang keras seketika terasa meleleh mendengar suara lembut mommy nya.
Sementara di luar sana, di markas Jessy tengah bertarung membela diri dari pasukan Vans yang tanpa sepengetahuan nya datang menyerang.
Jessy kesalahan, dia sampai tidak bertenaga melawan banyak orang. Meskipun dia hebat bela diri. Jika lawannya tidak sebanding, dia tidak akan bisa menang.
"Sialan, mereka terlalu banyak!" geram Jessy mencari cara agar bisa terlepas dari mereka semua.
Hyatt...
Bug.
Jessy sempoyongan, pandangannya berkunang kunang setelah mendapatkan pukulan kuat seperti itu di bagian belakang kepalanya.
Bug.
Pukulan sekali lagi menghantam tengkuknya, hingga tubuh mungil gemulai itu ambruk tak sadarkan diri.
Terlihat anak buah Jessy juga sudah jatuh, ada yang meninggal ada juga yang luka luka.
Ini adalah kelas kegelapan, di mana nyawa tidak terlalu berarti bagi mereka. Terpenting tugas yang boss mereka berikan selesai.
Siapa kuat, dia menang!
"Ayo, bawa dia!" seru seorang pria memberikan perintah pada temannya agar segera membawa Jessy ikut bersama mereka.
Yuli melihat itu semua, dia ingin menyelamatkan Jessy. Namun, sebuah peluru lebih dulu melesat ke ulu hatinya. Dalam sekejap Yuli terkapar, kemudian meregang nyawa dalam beberapa detik saja.
...----------------...
Sean setuju ikut pulang, setelah mendengar suara Nisa hatinya terasa begitu lunak.
Seperti yang Vans pikirkan, kedua anaknya hanya tunduk kepada sang istri. Tidak hanya anak anaknya. Bahkan dia juga mengalami hal itu.
Kelembutan hati Nisa, membuat mereka yang dia sayangi tidak berkutik.
"Putra ku!"
Nisa berlari mengejar Sean dan Aeron saat mereka baru saja tiba di rumah. Sudah 8 jam dia berdiri menunggu kedua anaknya pulang di depan halaman.
Reina sudah menyuruh Nisa menunggu di dalam. Namun, Nisa tetap kekeuh ingin menunggu di luar. Geisha juga ikut menunggu Aeron pulang. Dia khawatir dengan keselamatan calon suaminya. Setidaknya itulah yang saat ini yang ada di pikirannya.
__ADS_1