
...Makasih udah stay yaa...
Jangan bosan nungguin kisah mereka ya, hehe
Jangan lupa LIKE dulu (VOTE juga boleh banget) untuk mendukung author
***
"Udah, Mas. Aku nggak papa."
"Beneran?"
"Iya, Mas."
"Mau pulang?"
"Eum-" Anggi menggantung kalimatnya. Ia sengaja melirik pada cewek yang sedari tadi membelanya.
"Aku di sini sama dia aja deh," katanya sambil menunjuk cewek yang sedang menuju arah mereka berdiri.
"Halo, Kak! Apa kabar?" sapanya riang. Terlihat jelas dari sorot matanya kalau cewek itu amat menyayangi sosok cowok yang dari tadi menjadi pusat perhatian.
"Hei, Ta. Baik, kamu sendiri gimana? Apa kabar?" sapa Prana balik. Tak jauh berbeda dari cewek itu, Prana juga terlihat antusias menyambutnya. Sementara Anggi jadi kikuk sendiri di tempat.
"Kalian saling kenal?" ceplos Anggi tiba-tiba tidak sadar mengucapkan kalimat itu, refleks.
"Oh iya, Nggi. Ini adik sepupu aku, namanya Tata. Dia masih kelas 10 SMA." Prana memperkenalkan cewek yang tak lain saudara sepupunya itu.
Pantas saja dari tadi dia memanggil Prana dengan sebutan 'Kak'. Lebih-lebih, ia sepertinya sangat memihak pada Prana dan Anggi. Mungkin, mereka sudah sangat akrab sejak kecil. Terlihat dari gaya dan nada mengobrol mereka yang seperti sudah lengket.
"Oh, hai! Aku Anggi," sapanya seraya menggoyangkan telapak tangannya pada Tata.
"Iya, kita tadi, kan udah kenalan." Tata mencetak senyum imutnya. Cewek itu terlihat polos dan penuh kasih sayang.
"Kalian udah lengket banget ya dari kecil?" tebak Anggi asal-asalan. Pasalnya, cewek itu sepertinya tertarik mendengar kisah persepupuan mereka.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Kita emang udah deket dari kecil dan Kak Prana itu kakak paling nyebelin sedunia," ceplos Tata seraya menunjukkan raut wajah sok kesalnya. Namun, akhirnya terkekeh setelahnya.
"Apaan, lo aja kali yang ngeselin. Huh, dasar!" celetuk Prana lantas mencubit dan menarik telinga Tata hingga membuat cewek tak berdosa itu mengaduh kesakitan.
Dan Anggi pun tertawa lepas melihat tingkah lucu dari dua manusia itu. Hatinya kembali berdesir, bahagia kala melihat suaminya itu dapat bebas, tertawa haha-hihi. Kehangatan tiba-tiba menyelimuti dadanya saat melihat keakraban di antara dua saudara itu.
"Kak Prana beruntung banget ya bisa dapetin bidadari kaya gini. Aku salut sama kalian, sama-sama punya paras menawan, sama-sama punya hati yang baik juga. Pasangan plus-plus pokoknya," komentarnya sambil mengacungkan kedua jempolnya ke atas. Matanya tak dapat berbohong kalau cewek itu benar-benar merasa kagum saat berhadapan dengan pasangan muda, yakni Anggi dan Prana itu.
Prana menatap Anggi sembari mengulas senyum khasnya lantas merangkul pinggul istrinya itu. "Tumbenan lo muji-muji. Biasanya cuma bisa nyinyir doang, huh!" katanya seenak jidat, mengejek cewek polos di depan mereka.
"Hus! Apaan sih kamu, Mas kayak anak kecil," bela Anggi untuk Tata yang kini jadi mengembangkan senyumnya lalu menjulurkan lidahnya pada Prana.
"Untung istri gue yang belain, kalau enggak bakal gue keluarin segala jurus andalan gue selama ini sampai lo mencep."
"Dih, dasar suami takut istri!"
Kedua sepupu itu tetap saling ejek. Tak peduli dengan Anggi yang sudah melerai mereka susah payah dan pada akhirnya ia hanya bisa pasrah sampai Prana dan Tata sama-sama menghentikan adu mulut masing-masing.
"Nggak capek ya kalian berantem mulu kaya gitu?" tukas Anggi dengan kekehan di akhir kalimatnya.
"Pak Prana."
Suara berat itu berhasil mengalihkan perhatian ketiganya. Mereka kompak menoleh.
"Oh, baik, Pak saya segera menyusul," balas Prana seolah tahu apa yang akan disampaikan oleh bapak paruh baya dengan setelan kemeja rapi yang didominasi warna biru dongker itu.
"Bentar ya istriku, aku mau ke depan dulu. Habis ini acara sambutan," pamit Prana pada istrinya lalu mengecup pucuk kepala Anggi singkat sebelum pergi.
"Dih, sok-sokan kecup kening. Dasar si judes bucin!" Tata tetap ngotot mengejek cowok itu. Sementara Prana sendiri hanya melet padanya dan akhirnya meninggalkan keduanya sendiri.
"Emang kaya gitu tuh Kak Prana, ngeselin. Tapi, dia pasti sok-sokan romantis, kan sama Mbak Anggi? Huh, dasar si cuek, dingin, ketus, judes!" pungkas Tata masih kesal dengan sepupunya itu.
Anggi yang mendengarnya hanya bisa tertawa. Lucu sekali si Tata ini. Tipe-tipe cewek yang easy going dan humoris. "Kalian sering berantem gitu, ya emang?" tebak Anggi sekenanya.
"Gitu, deh. Ah, udahlah gak usah ngomongin si cowok kaku itu. Gimana, Mbak? Bahagia, kan menikah sama kakak sepupu aku?" goda Tata memulai pembicaraan ke arah rumah tangga pasangan muda itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Dik," jawab Anggi sembari mengulas senyumnya.
"Panggil Tata aja deh, Mbak. Kalau 'Dik" kayak muda banget gitu," katanya asal ceplos dan lagi-lagi Anggi hanya bisa terkekeh.
"Berarti lebih suka kalau dipanggil 'Tua' nih?" goda Anggi balik, masih dengan kekehannya yang manis.
Tata pun tertawa renyah. "Nggak juga sih, Mbak. Btw, kata-kata Yunita sama cewek-cewek tadi nggak usah dimasukin ke hati ya, Mbak. Mereka emang suka gitu. Udah merasa sok paling cantik dan pinter aja. Apalagi si Yunita itu, paling nyebelin emang. Kayak harimau, serem. Bawaannya pengin nampol terus nyakarin mukanya," oloknya terdengar sangat jengkel pada Yunita. Memang benar adanya ucapan Tata, Yunita memang cewek seperti itu. Mungkin, terlebih juga ia masih menyimpan rasa pada Prana yang usianya terpaut cukup jauh di bawahnya.
"Nggak papa, Ta. Kamu juga jangan terlalu benci sama orang kaya gitu, ya? Nggak baik. Biarin aja yang kaya begituan. Cukup diam aja, soalnya buang waktu juga kalau ngeladenin cewek kayak Yunita itu," tutur Anggi yang membuat Tata semakin takjub dibuatnya. Anggi memang bidadari luar dalam, katanya dalam hati.
"Bener juga sih ya, Mbak. Tapi, ada saat di mana kita juga nggak bisa diam aja kalau udah menyangkut harga diri, Mbak. Kita harus tegas sama manusia macam itu," tambah Tata yang langsung membuat Anggi manggut-manggut.
"Bener kata Om Bakri sama Tante Vina ya. Mbak Anggi ini emang cantik luar dalam. Nggak salah Kak Prana berjodoh sama Mbak. Kalian cocok. Semoga langgeng sampai surga ya, Mbak," kata Tata tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya lagi. Ia hanya, ah, rasanya ingin sekali menjadi seperti seorang Anggia Soraya. Lembut dan penuh kasih sayang. Semua cewek tentu akan iri padanya.
"Udahan dong mujinya. Kamu nggak capek apa? Lagipula, masih cantik luar dalam kamu daripada Mbak. Kelihatan banget dari aura wajah kamu, Ta," Anggi balas memuji. Tak berbohong, Anggi memang jujur dan tulus saat mengungkapkannya. Tata merupakan sosok cewek tangguh dan berani di matanya, bahkan sejak kali pertama bertemu.
"Waduh, Mbak Anggi ini ternyata jago muji orang juga ya." Tata terbahak setelahnya. Begitupun dengan Anggi.
"Ngomong-ngomong, kalau boleh tahu Mbak Anggi sama Mas Prana kapan mau punya momongan? Nggak sabar gendong dedek bayi ponakan," katanya sambil memeragakan kedua tangannya seperti sedang menggendong bayi. Memang ada-ada saja tingkah bocah itu.
Anggi lantas tersenyum malu-malu. Kedua pipinya mulai memanas dan semburat merah mulai terlihat. "Doain ya, Ta," balasnya.
"Pasti, dong. Ponakan aku pasti cakep deh, yakin. Orang papa muda sama mama mudanya aja cakep luar biasah," ujarnya dengan menekankan nada di kata-kata 'luar biasah'.
"Oiya, Mbak Anggi tau gak sih mantannya Kak Prana itu..."
***
[Baca sampai akhir, ya]
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.
TERIMA KASIH BANYAK.
__ADS_1