
Haloww!!! Masih setia dong ya, sama Prana dan Anggi? Hehe.
Terima kasih sudah sampai sini dan selamat membaca kelanjutan kisah mereka xixixi.
***
"Pokoknya nggak boleh. Titik." Nadanya mendadak tegas. Jelas terlihat dari kedua manik mata itu kalau Prana benar-benar serius dengan ucapannya.
Anggi yang mendengar respon suaminya segera merenggut senyum. Kekecewaan seketika terpancar di wajahnya yang mulai muram. Ia pikir, Prana akan setuju-setuju saja. Toh, memang ini bukan pekerjaan yang berat.
Ternyata ia salah besar, saking khawatirnya, Prana melarang istrinya untuk bekerja walau hanya duduk manis di depan laptop di rumah. Bahkan, selama Anggi mengambil program hamil, suaminya sudah melarangnya untuk beres-beres dan mengerjakan pekerjaan rumah.
"Tapi, Mas. Ini, kan-"
"Sekali nggak boleh, tetep nggak boleh, Anggia. Setidaknya ini demi calon anak kita, ya?" Prana mulai membujuk.
"Aku khawatir banget sama kesehatan kamu nanti. Pekerjaan apa pun itu dan apa pun alasannya pokoknya jangan diambil. Bukannya aku mau ngehambat usaha kamu buat ngembangin bakat dan skill, Istriku. Aku cuma pengin kasih yang terbaik buat kamu. Seenggaknya untuk sementara ini sampai kamu hamil dan melahirkan, ya?" sambungnya sambil menatap dua bola mata istrinya secara bergantian. Tangan satunya juga menangkup pipi kanan Anggi yang mulai tembam.
Namun, sepertinya kata-kata itu belum juga menggoyahkan niat Anggi semula. Kesempatan itu sudah ditunggunya selama bertahun-tahun dan mungkin ia akan mendapatkannya sekali dalam seumur hidup.
"Iya udah, Mas," jawab Anggi dengan berat hati.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamu'alaikum."
Suara itu membuat keduanya saling mengalihkan pandang ke arah pintu utama. Siapa yang malam-malam bertamu?
"Biar aku aja yang buka," kata Prana spontan lantas segera berlari kecil ke arah pintu utama hendak membukakan pintu untuk tamu yang datang.
Anggi tidak diam, ia mengikuti langkah suaminya dari belakang dengan pelan-pelan.
"Bima? Sama siapa lo ke sini?" sapa Prana dengan nada kagetnya. Cowok itu segera menoleh ke belakang dan langsung mendapati istrinya sedang berdiri di belakangnya dengan jarak cukup jauh.
"Gue sama Nita," balas Bima datar. Kemudian, cewek yang namanya disebut tadi menampakkan diri.
__ADS_1
Wajahnya terlihat kucel. Meski agak sebal, ia terpaksa harus menuruti kemauan Bima untuk berkunjung ke rumah Prana dan Anggi dengan tujuan ingin meminta maaf atas perbuatannya.
"Ya udah, masuk-masuk," sambut Prana mempersilakan keduanya untuk masuk ke dalam.
Anggi yang berdiri di sana hanya bisa mengernyit. Ada perlu apa mereka datang semalam ini? Dan kenapa harus Bima dan Nita? Juga suaminya yang terlihat biasa saja saat berhadapan dengan Bima. Mengingat bagaimana mereka seperti kucing dan tikus dahulu, Anggi jadi bingung mengapa Prana bisa sesantai itu saat melihat wajah Bima dan bahkan kini mempersilakannya masuk.
Bima memberi kode pada Nita untuk ikut masuk bersamanya. Dan Nita sendiri mengangguk sebagai jawaban. Sebenarnya mantra apa yang Bima gunakan itu sampai-sampai cewek semacam Nita bisa takluk padanya? Mereka berdua akhirnya masuk dan duduk di sofa mewah bernuansa goldy itu.
Bima melirik Anggi dengan tatapan tajamnya. Pun dengan Nita yang ikut mengikuti ekor mata cowok itu. Yang Nita tangkap dari tatapan Bima ialah bahwa cowok itu benar-benar mencintai Anggi. Dua matanya tak dapat berbohong, Nita tahu itu. Sayangnya, takdir tak berpihak padanya. Mengikhlaskan ternyata jauh lebih indah daripada memaksakan untuk bersama.
"Ka-kalian, bukannya Mas sama Bima masih musuhan?" ucap Anggi tak sengaja. Entah mengapa cewek itu sungguh bodoh dalam hal ini. Selalu mengucapkan kata-kata yang sebaiknya ia simpan dengan tanpa disadari olehnya sendiri.
Bima yang medengar itu segera merespon dengan lengkungan senyum indahnya. Memang, soal paras, Bima dan Prana sama-sama tampan luar biasa. Sulit sekali bila harus memilih salah satu. Namun, keduanya justru tak pernah membanggakan paras yang mereka miliki dan cenderung menunjukkan sifat cuek pada cewek-cewek apalagi yang tidak mereka kenal.
"Gue ke sini sama Nita punya tujuan yang gak kalah penting dari pertanyaan itu, Nggi," Bima menoleh pada Nita lantas beralih pada Prana di ujung meja, "ada hal yang mau Nita sampaiin ke kalian," katanya menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan mereka malam ini.
Prana segera mengerutkan dahi, namun detik berikutnya, seolah ia sudah tahu apa yang akan disampaikan oleh Nita, ia tersenyum tipis. "Iya, sampaiin aja, Nit," katanya mempersilakan Nita memulai.
Anggi yang penasaran dan sedari tadi ikut mengerutkan kening perlahan menghampiri mereka lalu duduk di samping suaminya.
Nita sedikit menunduk sambil melirik pada Bima yang duduk di sebelahnya, lantas beralih menatap Prana dan Anggi secara bergantian. "Ja-jadi, gini, Pra, Nggi. Eum, gue minta maaf, ya?" katanya dengan sedikit terbata.
"Minta maaf soal apa, Nit? Lo ngelakuin apa sampai harus minta maaf ke gue sama Mas Prana?" desak Anggi tak sabaran.
Prana langsung merespon kecemasan Anggi dengan mengusap lembut punggung tangan wanita yang paling dicintainya setelah ibunya itu. Cowok itu tersenyum sekilas pada Anggi. "Lanjutin, Nit," katanya mempersilakan Nita untuk melanjutkan pernyataannya.
"Gue, gue minta maaf soal foto-foto nikahan kalian tempo hari. Maaf banget, Pra, Nggi, gue bener-bener khilaf waktu itu. Gue nurutin ego dalam diri gue untuk ngehancurin pernikahan kalian waktu itu. Gue kira, dengan di-DO, kalian bakal renggang karena gue tahu betul ambisi Prana buat bangun perusahaan itu kaya gimana. Ternyata gue salah, kalian justru tambah lengket dan mau mengerti satu sama lain. Gue nyesel, Pra, Nggi, nyesel banget. Mungkin, maaf kalian nggak akan pernah cukup ngehapus dosa besar gue karena kesalahan itu," terangnya dengan pelan-pelan. Entah kalimat itu tulus diucapkannya dari lubuk hatinya yang paling dalam atau hanya gimmick saja supaya terlihat sebagai cewek yang mau mengakui kesalahannya saja.
Prana berdeham. Sudah tepat tebakannya tadi. Bima dan Nita pasti datang karena tujuan permintaan maaf itu. Bagaimana bisa? Bersama dengan Dion juga, mereka memang bersekongkol untuk mengungkap pelakunya dan dugaan mereka selama ini tak salah. Nitalah dalang dari semua ini.
"Ni-Nita? Jadi lo pelakunya? Ya Allah." Anggi menanggapi dengan segala perasaan keterkejutannya.
"Iya, Nggi. Pra, maafin gue ya?" katanya mulai gelisah karena Prana hanya berdeham saja tadi.
"Gue serahin semua di istri gue. Apa pun keputusan yang akan Anggi ambil buat akhir dari masalah ini, gue bergantung sama dia," jawab Prana dengan bijaksana.
__ADS_1
Mengapa begitu? Karena Prana tahu betul kalau istrinya itu punya hati yang bersih dan lembut. Ia yakin Anggi pasti bersikap dewasa untuk permasalahan ini. Prana yakin kalau Anggi pasti akan langsung memaafkan Nita atas kesalahan yang ia perbuat dan sembunyikan selama ini.
Anggi menatap bingung ke arah suaminya. Maksudnya, ia yang akan memutuskan, begitu?
Cewek itu menatap sendu pada Nita, seolah tahu apa yang dulu ia rasakan. "Lo gak perlu minta maaf kaya gitu, Nit. Gue tahu kok, kalau lo itu orang baik. Ya, namanya cinta memang gak bisa kita kendalikan dengan mudah. Cinta memang sering membuat manusia buta dan gue sangat memaklumi hal seperti itu. Lo nggak perlu takut kalau kami gak bisa maafin lo. Gue sama Mas Prana pasti maafin lo, Nit. Makasih karena lo sudah mau mengakui kesalahan lo dan itu udah luar biasa bagi gue. Karena banyak orang di luar sana yang masih malu buat mengakui kesalahan mereka," ucap Anggi panjang lebar. Benar, kan apa kata Prana tadi? Istrinya bukan tipe orang pendendam. Ia pasti mau memaafkan kesalahan orang lain dengan segala keikhlasan dan kesabarannya.
"Makasih, Nggi, Pra karena udah mau maafin gue," ujar Nita dengan perasaan lega.
"Wait-wait, terus soal Bima sama Mas Prana?" ujar Anggi seraya menggerakkan ekor matanya bergantian dan berulang kali ke arah Bima dan suaminya.
Bima segera terkekeh. "Maaf, Nggi karena udah buat lo ikut khawatir selama ini gara-gara kerusuhan kita," jeda gelak tawa, "itu semua cuma sandiwara kita, Nggi. Kita pura-pura berantem supaya bisa mengelabuhi semua orang, terutama Nita yang jadi tersangka kita waktu itu," katanya.
"Gue sama Nita juga sebenernya nggak saling cinta. Gue pura-pura suka sama dia buat ngungkap pelakunya. Jadi, bisa dibilang kalau pacaran kami ini palsu," jelasnya terang-terangan, sementara Nita hanya bisa bungkam saat mendengarnya.
"Tapi, kan Nita, lo nggak papa emang?" tanya Anggi mendadak khawatir dengan perasaan teman ceweknya itu. Sesama perempuan tentu bisa saling memahami perasaan satu sama lain, bukan?
Cewek itu tersenyum tipis. "Nggak papa kok, karena sejujurnya gue juga deketin Bima buat bisa ketemu sama Prana waktu itu. Tapi, tenang, gue udah nggak punya perasaan apa-apa ke suami lo kok. Gue kapok," ujarnya sambil meringis di akhir kalimat.
"Astaghfirullah, jadi di sini yang paling bodoh gue, ya? Gue berasa gak tahu apa-apa sama sekali. Ih, Mas, kamu nyebelin banget sih," gerutu Anggi sambil mencubit pinggang suaminya hingga membuat cowok itu mengaduh kesakitan.
"Sakit, Istriku. Udah dong nyubitnya, yang penting, kan semua udah kelar dan Nita mau mengakui kesalahannya. Lagian, sekali-kali ngerjain kamu," balas Prana sembari mencubit hidung mungil istrinya.
"Pacaran aja terus, biarin kita-kita ini dibikin iri sama keuwuan kalian," celetuk Bima karena geli melihat tingkah mereka. Ya, meski memang agak sesak, namun Bima selalu berusaha untuk menyingkirkan perasaannya. Memikirkan cewek yang sudah menjadi istri orang juga tidak baik, bukan?
Sementara Nita mencetak senyum palsunya. Mereka belum tahu saja peristiwa besar apa yang akan terjadi dalam waktu dekat ini.
***
[Baca sampai akhir, ya]
Kira-kira bakal ada peristiwa besar apa, sih? Siapa mau nebak? Hehe.
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK.