
"M-maksudnya, Nek?" tanya Anggi sontak kebingungan hingga mengerutkan keningnya.
Nenek itu tersenyum. Bukan senyum bahagia, melainkan seperti senyum penuh arti dan menandakan suatu ejekan. "Kamu hanya perlu menunggunya, Nak Anggi. Jangan risau, suatu saat pasti ada saja yang ingin memporak-porandakan bahtera rumah tangga suatu keluarga. Kamu pun tak perlu khawatir. Selagi kamu dan suami bisa bersikap dewasa, maka kapal kalian akan terus berlayar di lautan meski seringkali ada ombak datang membutnya terombang-ambing," jelasnya dengan nada lembut nan penuh makna.
Seketika Anggi terdiam, mematung di tempat. Merinding rasanya saat mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut nenek-nenek di depannya. Perkataan tersebut berhasil menutup rapat mulutnya. Tak mampu berkata-kata. Bahkan, mencerna pun belum sepenuhnya bisa.
Nenek mengusap lembut ubun-ubun Anggi dengan penuh kasih sayang, seolah tahu hal besar yang akan terjadi di kehidupan cewek malang itu. "Tak apa, jangan gusar. Tetap tanamkan kesabaran, ikhlas, pasrahkan semua sama Yang di Atas. Percaya kalau semua hal yang buruk pasti ada sesuatu besar di baliknya. Cukup percaya satu sama lain. Satu hal itulah yang akan membuat hubunganmu dan suami langgeng. Jangan lupa untuk lancarkan komunikasi, Nak," tutur Nenek, mencoba memberi petuah untuk cewek yang kini dianggapnya sebagai cucu sendiri itu.
Anggi tak bisa berpikir jernih lagi. Isi kepalanya melayang ke mana-mana. Desiran tak mengenakkan itu segera menyelimuti dadanya, meninggalkan kesesakan di dalamnya.
"Nek, Nenek kok bisa tahu soal apa yang akan terjadi sama saya, Nek? Nenek peramal?" tanya Anggi dengan kepolosannya. Otaknya benar-benar belum bisa sinkron dengan hatinya.
Nenek kembali tersenyum hangat. "Bukan. Nenek sama sekali bukan peramal, Sayang. Nenek hanya mengikuti naluri Nenek saja," jawabnya menjelaskan kebingungan Anggi.
"Nak Anggi sudah mengandung?" tanya Nenek lagi.
Deg! Entah mengapa rasanya mencelos sekali mendengar pertanyaan itu. Bukannya apa, bahkan Anggi sendiri belum sempat memikirkan itu sebelumnya. Toh, usianya dengan suaminya masih sama-sama sangat muda. Belum genap 18 tahun. Mereka pun masih ingin menikmati masa-masa pacaran mereka.
"Jangan lagi pikirkan kalau kalian masih muda, ini-itu. Pikirkan hal lain yang lebih penting. Begini, Nak, bukannya Nenek ingin mencampuri urusa rumah tangga kalian. Kalian berhak menentukan keputusan yang ingin kalian ambil sendiri. Namun, coba dengarkan Nenek tua bangka ini menjelaskan. Nak, Anggi, tak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya, bukan?" Seolah dapat membaca pikiran Anggi, Nenek itu berusaha menamparnya dengan kata-kata.
Anggi mengangguk lantas raut wajahnya berubah menjadi serius. Ingin mendengarkan penjelasan dari sang Nenek lebih lanjut dengan saksama.
"Tak perlu risau bila nantinya tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak kalian kelak. Seiring berjalannya waktu, kalian pasti bisa menyesuaikan. Apalagi Nak Anggi ini dari yang Nenek lihat, orangnya perhatian sekali. Nenek yakin kamu bisa menjadi ibu yang baik dekat-dekat ini. Jangan menunda, Nak. Nenek serius dengan ucapan ini, tak ada yang tahu ke depannya. Setidaknya Nak Anggi dan suami berusaha dulu, hasilnya pasrahkan pada Tuhan. Dan satu hal besar yang akan datang tadi insyaAllah bisa dihalangi bahkan diruntuhkan melalui lahirnya buah hati kalian nanti," jelas Nenek panjang lebar.
Anggi masih berusaha mencernanya dengan benar. Apa maksud Nenek ini... akan datang orang ketiga di rumah tangga mereka? Dan jalan satu-satunya, yakni dengan Anggi mengandung anak dari Prana? Benarkah begitu? Lantas mengapa orang ketiga itu datang?
"Maaf, Nek. Apa maksud Nenek, akan hadir orang ketiga di tengah-tengah kami, Nek? Apa itu benar?" tanya Anggi mendadak gelisah, cemas, takut, semua menjadi satu dalam satu waktu secara bersamaan.
Nenek mengangguk samar dan detik itu juga satu anak panah seakan berhasil melesat dan tepat mengenai jantung hati Anggi, membuatnya nyeri dan sesak. Kepalanya jadi makin pusing, perutnya rasanya ingin mual saja. Hal-hal seperti itu tak pernah terbayangkan sebelumnya. Jangan sampai, Ya Tuhan.
"La-lalu, bagaimana seharusnya saya bersikap, Nek?"
__ADS_1
"Nenek sudah bilang, tidak perlu takut. Allah selalu bersama orang-orang yang sabar dan berhati bersih sepertimu, Nak Anggi. Nenek yakin kalian bisa melewatinya."
***
"Mas?"
Suara Anggi terdengar serak di telinga suaminya. Mereka kini tengah berada di dalam satu kamar yang sama. Anggi duduk dengan bersandar pada sandaran ranjang, sementara sang suami meletakkan kepalanya pada kedua paha istrinya yang sedang diluruskan.
"Iya, Sayang?" balas Prana sambil mendongakkan sedikit kepalanya. Supaya dapat melihat wajah istrinya yang semakin cantik itu.
"Eum, aku pengin bicara satu hal penting sama kamu, Mas," terangnya, membuat Prana sontak bangkit lalu duduk mengahadap istrinya.
"Iya, hal apa, Sayang? Tumben, kayanya serius banget nih." Prana mengernyit, merasa ada sesuatu yang berbeda pada istrinya. Kilatan di kedua bola mata Anggi seolah menyiratkan suatu kegelisahan yang tidak dapat diungkapkannya. Itulah kira-kira yang ditangkap indra penglihatan seorang Mahaprana Virgo.
"Soal momongan?" ujar Anggi to the point, meski sempat ragu sebelumnya, namun cewek itu tak dapat menyembunyikan kehawatirannya sejak perbincangan bersama Nenek dua hari yang lalu. Kata-kata sang nenek senantiasa bersarang di kepalanya, membuat cewek malang itu tak bisa tidur nyenyak setiap malam.
"Momongan?"
Detik selanjutnya, Prana meraih tangan istrinya, lantas mengecup punggung tangannya dengam tempo yang cukup lama. "Selagi itu buat kamu bahagia, aku akan dengan senang hati mau menuruti, Sayang. Tapi, kamu yakin? Maksudku usia kamu belum genap 18 tahun, pastinya tubuh kamu juga masih rentan, Sayang." Responnya membuat Anggi langsung mengembuskan napas lega.
Setidaknya suaminya mau mendukungnya. Meski memang ada beberapa hal yang membuatnya was-was. Usia yang sangat muda pasti menimbulkan banyak risiko, baik dari segi fisik maupun mental. Dan Anggi mau tidak mau harus bisa melawannya dengan daya upaya yang ia miliki.
Cewek itu menghela napas berat. Menatap intens manik mata suaminya, membuat desiran ombak kian menyergap relung hatinya. "Aku yakin, Mas. Setidaknya kita berusaha, apa pun hasilnya nanti, aku yakin kalau Allah Maha Baik," jawabnya mantap.
"Memangnya kenapa kamu pengin punya momongan cepat-cepat?"
Boom! Pertanyaan itu harusnya dihindari oleh Anggi. Rasanya ingin kabur saja dari sana. Pasalnya, alasan utama ia ingin segera menjadi ibu tak lain ialah karena semua ucapan Nenek bak peramal tempo hari. Dan hal itu tak bisa disangkalnya.
"Nggak papa sih, Mas. Lucu aja, suka liat bayi kecil, gemes. Pengin gendong, peluk apalagi kalau anak sendiri," ujar Anggi jujur, meski hal itu bukan alasan utamanya.
Prana segera menggelakkan tawanya. "Lucu banget sih, kamu." Ia mencubit kedua pipi gembul istrinya dengan gemas.
__ADS_1
"Semoga anak kita nanti lucu kaya kamu ya," ucap Prana sedikit malu-malu. Kata-kata 'anak kita' itu berhasil membuatnya kikuk sendiri.
"Kira-kira cowok apa cewek ya, Sayang?" tanya Prana masih dengan semburat merah di kedua pipinya.
Anggi hanya bisa terkekeh geli. "Sedikasihnya sama Allah aja, Mas," balasnya masih dengan kekehan di akhir kalimat.
"Pokok kalau cewek harus secantik kamu," sahut Prana tiba-tiba antusias membayangkan anaknya kelak.
"Kalau cowok lebih ganteng dari kamu kalau gitu." Anggi ikut-ikutan bersemangat.
***
"Man? Lo di mana? Bisa jemput gue di bandara minggu depan?"
Seorang cewek tengah sibuk mengemasi barang-barangnya. Mendengar kesanggupan Maman untuk menjemputnya di bandara sepekan mendatang menghadirkan rasa lega yang amat dalam di hatinya.
"Iya, gue pasti bakal nemuin Prana, Man."
Sesekali ia mengaduh saat punggung tangan, tempat bekas di mana jarum infusnya tertancap, bersentuhan dengan barang-barang yang ingin ia masukkan ke dalam koper.
"Oke, makasih. Gue juga minta alamat rumah Prana."
***
[Baca sampai akhir, ya]
Halo, readers setia nan baik hatinya!
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK.