
"Mas? Kamu ngelihatin apa, sih?"
Anggi mulai menangkap gelagat aneh suaminya. Dua bola mata itu tiba-tiba saja membeku. Jari-jemarinya gemetar. Sudah seperti orang yang sedang menatap musuhnya, atau bahkan sedang menatap setan? Benarkah?
"Mas!" Anggi sedikit menaikkan nada bicaranya.
Barulah kali ini cowok itu menyahut. "Hah, gimana, Nggi?" responnya sambil melongo menatap istrinya itu.
"Tuh, kan kumat deh. Ngelihatin apa, Mas? Kok, kayanya tegang gitu," ujar Anggi dengan raut wajah penasaran sekaligus terheran-herannya.
"Ah, enggak kok. Udah abis burger sama kentang gorengnya? Kalau udah, pulang yuk!" tawar Prana segera. Sungguh, suhu badannya jadi panas dingin saat ini. Benarkah tadi itu nyata? Benarkah mantannya bernama Renata itu sedang di sana? Bukankah ia sedang di luar kota? Kira-kira seperti itulah isi kepala Prana kini.
"Loh, nggak jadi belanja?" tanya Anggi bingung. Pasalnya, suaminya tadi sempat mengajak untuk berbelanja di mal dekat McD. Dan tiba-tiba begini mengajak pulang? Ada yang aneh, batinnya.
"Eum, besok aja gimana? Besok Mas kayanya bisa libur. Kita juga bisa sekalian jalan-jalan sama abisin waktu bareng. Sepuas yang kamu mau deh, janji," katanya kembali membuat penawaran.
Anggi menatap suaminya aneh. Ya, meski begitu ia tetap mengiyakan saja dengan anggukan kepala sebagai isyarat. Serampungnya Anggi makan, mereka segera beranjak dari sana dan sepertinya sosok yang sedang dihindari Prana itu sudah pergi.
Semoga Anggi nggak tahu soal Rena, harapnya dalam hati.
***
"Nit, Nit. Sini deh. Gaunnya bagus nggak?" Rena menunjukkan mini dress yang ada di tangannya pada sahabatnya.
Nita lantas mendekat, melihat detail gaun di tangan Rena itu. "Bagus kok, cocok sama bidadari kaya kamu," katanya, memuji.
Rena bersemu. Ia jadi teringat pada kata-kata Prana beberapa tahun silam. Saat itu mereka baru duduk di bangku kelas X SMA dan baru saja jadian. Dan ingin tahu seperti apa atau bagaimana Prana menyatakan perasaannya? Waktu itu Prana menyuruh teman yang berada di barisan tepat di belakang Rena untuk menempelkan sebuah kertas di punggungnya.
Kira-kira tulisannya begini: Pak Ibra (salah satu guru yang menampu kelas X) jelek, judes pula.
Alhasil, Rena segera dihampiri oleh salah satu guru BK beserta Pak Ibra sendiri. Dan saat itu juga ia diantar oleh dua guru tersebut menuju barisan khusus, kalau di sekolah mereka, sih biasa disebut sebagai barisan cinta saking istimewanya. Rena pun hanya bisa menurut. Kalau kalian mau tahu, Rena itu sebenarnya cewek yang sedikit pendiam, namun suka menebar kebahagiaan bagi orang di sekitarnya. Tak ayal bila banyak orang menyukainya apalagi Prana yang sampai dibuat klepek-klepek oleh sihir mautnya itu.
Tak disangka, ternyata Prana sudah sampai di barisan itu lebih dulu daripadanya. Namun, wajahnya sama sekali tak terlihat panik, cemas, ataupun kesal sama sekali. Ia justru senyum-senyum tidak jelas. Setidaknya itulah yang ditangkap oleh mata Rena waktu itu. Cewek itu segera mengambil posisi di sebelah Prana. Sepertinya hari itu merupakan hari apes bagi keduanya. Barisan cinta itu hanya diisi oleh Prana dan Rena, tak ada siswa lain selain mereka.
__ADS_1
"Ngapain ke sini? Dihukum, ya?" tanya Prana, sedikit menggoda.
Rena memandangnya ngeri. Tidak kenal, kok sudah berani menggoda saja. Cewek itu tentu berusaha cuek, namun hal itulah ternyata yang membuat Prana tertarik padanya sejak lama.
"Aduh, cuek amat sih, Neng. Wajahnya judes pisan, senyum dikit coba, pasti cantik." Lagi, Prana masih berusaha menggodanya. Dasar Prana! Orang lagi kesel malah digodain.
"Lo bisa diem gak sih? Lo mau dihukum lagi sama guru BK?" Rena mulai buka suara, namun sayangnya langsung dengan intonasi tinggi.
Prana sedikit tersentak. Meski begitu, ia tidak akan menyerah. Tingkat kesusahan untuk mendapatkan hati seorang cewek itu justru menjadi poin plus bagi beberapa cowok, termasuk dirinya yang saat itu sedang dilanda kasmaran.
"Jangan galak gitu, dong. Nanti cantiknya ilang. Bidadari kaya kamu layak senyum. Makasih ya, udah buat aku jatuh cinta sama senyummu."
Rena membulatkan kedua bola matanya, refleks. M-maksudnya, dia nembak gue? tanyanya dalam hati.
Ya, dan sejak itulah Prana mulai gencar mendekati Rena, tentu untuk mengambil hatinya. Meski Rena sering bersikap cuek, namun perlakuan Prana yang konyol sekaligus romantis itu selalu berhasil membuatnya tersenyum, bahkan tertawa. Dan karena itulah, perlahan Rena mulai menaruh hati pada Prana. Namun, sayang, ada satu hal yang berhasil memisahkan mereka. Dan Rena sama sekali tak berdaya karena itu.
"Woy, ngelamun aja lo. Buruan bungkus, kita masih banyak acara hari ini, cielah," tegur Nita yang menyadari Rena sedang melamun. Entah melamunkan apa dirinya itu. Tapi, Nita yakin kalau yang ada di pikiran Rena saat ini pasti segala hal yang menyangkut Prana.
Nita sudah ikhlas, demi sahabatnya. Nita membuang jauh-jauh perasaannya untuk Prana itu. Ia sudah punya tekad bulat. Kebahagiaan Renalah yang terpenting saat ini. Rena berhak bahagia apalagi di kondisinya yang seperti sekarang, Nita sama sekali tidak tega. Ya, hitung-hitung ini merupakan permintaan maafnya karena sudah meninggalkan sahabatnya semenjak Sekolah Dasar itu.
"Gue tau. Pasti lo mikirin pangeran lo itu, kan? Sabar, Neng. Kurang bentar lagi lo pasti bisa balik sama Prana kok. Gue jamin," katanya. Setidaknya kata-kata itu ia lontarkan supaya Rena merasa lebih tenang. Kondisinya belum sepenuhnya pulih saat ini. Maka dari itu, Rena tak boleh banyak pikiran apalagi kalau sampai stres.
"Aamiin, makasih banyak ya, Ren. Lo emang sahabat terbaik dalam hidup gue."
"Santai aja kali."
***
"Man, serius. Dia beneran di sini? Gue gak salah lihat, kan?"
Prana sedang berbicara dalam telepon. Ia terlihat menjauh dari Anggi yang sedang asyik menonton televisi di ruang keluarga. Sesekali cowok itu melirik ke belakang, takut jika istrinya tiba-tiba menghampirinya.
"Iya, Pra. Gue yang jemput dia di bandara kemarin."
__ADS_1
"Lo kok gak bilang-bilang gue, sih? Emangnya ada perlu apa dia di sini? Bukannya dia bakal menetap di kotanya yang baru, ya?"
"Gue minta maaf sama lo, Pra karena gue gak bilang. Tapi, gue janji kalau dia gak bakal aneh-aneh apalagi jadi orang ketiga di antara lo sama Anggi, deh. Soalnya dia bilang waktu itu, katanya emang pengin balik aja sama mau minta maaf ke lo sebentar. Abis itu dia balik lagi. Ya udah, gue iyain aja. Kasihan juga soalnya. Dia gak bakal ngapa-ngapain kayanya, Pra. Lagian, lo tau kalau dia itu bukan cewek pembrontak."
Prana menggingit bibir bawahnya. Cemas, takut, khawatir, semua campur aduk menjadi satu-kesatuan yang sempurna dalam satu waktu. Bukan masalah ia muak melihat muka cewek itu saja. Akan tetapi, ada hati yang harus dijaga saat ini. Prana sama sekali tak ingin bila kedatangan Rena akan menyakiti hati istrinya, entah disengaja atau tidak nanti.
"Mas? Kamu lagi ngapain di pojok situ?"
Prana terkejut bukan main. Bahkan, ponselnya hampir meleset dari tangannya. Suara lembut itu justru mengagetkannya. Dengan cepat ia tekan tombol off dan memasukkan benda teknologi itu ke dalam saku celananya. Ia lantas berbalik, menatap istrinya sambil menyeimbangkan deru napasnya karena kini jantungnya berpacu berpuluh kali lipat dari biasanya.
"Istriku. Ini, lagi ngobrolin kerjaan," jawab Prana berbohong. Ia kini berusaha mati-matian untuk menutupi kegugupannya. Semoga Anggi tidak mendengar pembicaraannya dengan Maman di telepon tadi.
"Kok malam-malam banget?" Anggi mulai terdengar menginterogasi. Namun, cewek itu sama sekali tak bermaksud demikian. Ia hanya ingin bertanya biasa.
Prana bingung mencari alasan setengah mati. Selang beberapa detik, "Oh, iya tadi soalnya ada meeting dadakan di kantor, urgent banget, banget, banget," terangnya, berusaha meyakinkan istrinya.
"Oh," Anggi mengangguk paham.
"Ya udah, yuk tidur. Udah malem, Mas," ajak Anggi dengan nada lembutnya, seperti biasa.
Prana tersenyum lalu mendekati istrinya dan segera merangkul pinggangnya. "Nanti bikin anak, ya?" guraunya. Namun, jika serius juga ia akan bersenang hati.
Anggi yang mendengarnya segera melotot lantas mencubit keras lengan suaminya itu. "Dasar mesum," cibirnya.
"Kan, ke istri sendiri. Nggak papa dong."
Mereka kemudian tertawa bersama.
***
[Baca sampai akhir, ya]
Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?
__ADS_1
COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini dong. Biar gak sider aja hehehe.
TERIMA KASIH BANYAK.