
"Mas?"
"Hm?"
Dua sejoli itu kini tengah berjalan berdampingan menyusuri koridor kelas XII. Kecanggungan pun kembali hadir seperti yang sudah-sudah. Dan lagi, Anggilah yang akhirnya memulai pembicaraan.
"Besok-besok bawa motor aja nggak apa, Mas. Kalau pakai mobil takutnya macet kaya tadi," kata Anggi ragu, takut kalau saja Prana akan marah atau tersinggung karena kata-katanya.
Prana memasukkan kedua tangannya ke saku abu-abunya sembari berdeham. "Jangan ngatur!" peringatnya membuat Anggi tercekat. Benar, kan apa yang ditakutkan Anggi tadi kalau suaminya itu akan tersinggung?
Cewek itu pun akhirnya memilih diam. Kalau saja ia terus mengoceh, maka Prana pasti tidak akan tinggal diam lagi.
"Bersikap kaya biasanya aja. Jangan nunjukin perilaku yang bikin orang lain curiga. Dan ingat, jangan panggil 'Mas'!" lanjut cowok itu yang langsung dibalas anggukan patuh oleh Anggi.
"Bro! Apa kabar?" seru salah satu teman Prana yang tiba-tiba datang dan merangkul cowok itu.
"Tambah ganteng aja lo. Pangling gue," celetuk temannya yang lain.
"Alah-alah, lo berdua itu pasti ada maunya kaya gitu ke gue," semprot Prana membuat kedua temannya mengangguk sambil cengengesan tidak jelas.
Sementara, Anggi masih setia berjalan di samping suaminya dan teman-teman suaminya tanpa berucap sepatah kata apa pun. Jadi, posisi mereka, yakni Anggi di ujung kanan, Prana di tengah, dan kedua temannya di ujung kiri.
"Jadi, gimana? Udah jadian nih sama Neng Anggi?"
"Buruan jadian. Kalau nggak langsung nikah aja. Udah kaya suami-istri kalian tuh. Cocok banget."
Kedua teman Prana sepertinya amat kompak menggoda dua sejoli itu. Prana dan Anggi sama-sama bergeming di tempat masing-masing. Terlebih Prana yang sama sekali terlihat cuek. Sempat Anggi melirik suaminya, tapi hanya sekilas. Ia hanya ingin melihat bagaimana ekspresi Prana saat teman-temannya menggodanya seperti itu.
"Kalau lo gak gercep, nanti gue yang embat loh," goda salah satu temannya lagi membuat Anggi semakin tidak nyaman berada di tengah-tengah mereka.
Prana akhirnya mau melirik istrinya dan tak lama setelahnya segera menoleh ke teman-temannya. "Lo mau? Ambil aja. Dia bukan selera gue. Kita cuma sahabatan biasa," jelasnya penuh dengan sindiran kasar.
"Asik, boleh nih." Kedua temannya sama-sama bersenang ria. Bagaimana tidak? Siapa yang tidak mau menjadi pasangan seorang Anggia Soraya? Cantik dan penuh lemah lembut. Semua orang yang tahu cewek itu pasti sudah mengidam-idamkan menjadi pacarnya.
Apa-apaan Prana? Ia benar-benar ingin menyerahkan istrinya untuk orang lain? Anggi yakin, ia tidak sedang bercanda. Terdengar jelas bahwa Prana memang serius dengan ucapannya. Entah mengapa hatinya seakan teriris, perih. Cewek itu sakit hati. Apakah Anggi benar-benar telah mencintai suaminya?
__ADS_1
Cukup. Anggi sudah tidak tahan lagi. Cewek itu akhirnya mempercepat langkahnya menuju XII IPS 1, yakni kelasnya.
Jesiana Tiara atau biasa dipanggil Jesi, yakni sahabat Anggi terlihat berbinar saat mendapati Anggi sudah datang.
"Anggi!" seru Jesi menyambut kedatangan Anggi.
Anggi yang melihat sahabatnya itu lantas berhambur memeluknya. "Jes, gue kangen sama lo," bisiknya sembari mengeratkan pelukannya.
Jesi yang melihat respon sahabatnya itu mengerutkan kening. Ada apa dengan Anggi? Jesi paham betul, kalau Anggi sudah seperti ini pasti ada apa-apa.
"Lo kenapa, Nggi? Lagi ada masalah?" tanya Jesi lembut.
Bukannya menjawab, Anggi justru menangis. Bahkan, tangisnya bertambah kencang saat Jesi mengelus punggungnya. Jesi mengerti, Anggi saat ini pasti benar-benar bersedih hati.
"Nanti ke kafe biasanya, ya? Please, gue mau curhat ke lo," ujar Anggi sambil sesenggukan.
Jesi semakin mengelus punggung sahabatnya untuk menenangkannya. Rasanya ia tidak tega melihat Anggi seperti itu. "Iya, Nggi. Udah, lo jangan nangis lagi ya," balas Jesi membuat Anggi melepaskan pelukannya dan mulai menenangkan diri.
***
Jesi menatap sendu sahabatnya. "Jadi, lo belum tahu kenapa om sama tante lo tiba-tiba nikahin lo sama Prana?" tanyanya hati-hati.
Anggi menggeleng. Ia merasa jauh lebih baik sekarang ini. Segala unek-unek yang ingin ia keluarkan akhirnya tersampaikan juga kepada orang yang tepat pula. Jesi memang orang yang paling bisa dipercaya oleh Anggi selama ini. Sahabatnya itu sangat bisa menjaga rahasia sekaligus memahami dirinya.
"Gue ikut prihatin sama apa yang lo alami, Nggi. Terus Prana gimana?" tanyanya lagi.
"Ya, gitu deh. Kelihatan banget kalau dia juga sangat terpaksa sama pernikahan ini." Anggi menjelaskan membuat Jesi semakin prihatin terhadap sahabatnya itu.
Jesi menepuk pundak sahabatnya. "Lo yang sabar, ya. Gue tahu lo itu kuat. Lo pasti bisa ngelewatin semuanya," ujarnya. Entah mengapa, rasanya Anggi kurang bisa menerima kalimat Jesi. Kuat? Akankah dia nanti?
"Terus-terus. Lo cinta sama dia?" tanya Jesi.
Anggi mengedikkan bahunya. "Gue nggak tahu," jawabnya santai. Ia tidak berbohong. Cewek itu benar-benar tidak tahu dengan perasaannya sekarang ini.
"Gue nggak yakin, Jes sama perasaan gue sekarang ini. Gue nggak yakin perasaan gue ini bisa dibilang cinta apa enggak," terangnya dengan raut wajah yang penuh makna.
__ADS_1
"Gue paham, Nggi. Nggak tahu kenapa gue tiba-tiba merasa kalau kalian suatu saat juga bakal saling jatuh cinta," ujar Jesi jujur. Cewek itu dari dulu memang suka menjodoh-jodohkan Anggi dengan Prana. Katanya mereka itu sangat cocok.
"Nggak tau, ah. Gue juga masih pengin fokus sama sekolah sama cita-cita gue."
***
Pukul 21.00
"Astaghfirullah! Gue lupa ngabarin Prana lagi. Pasti dia marah lagi sama gue nanti," gerutu Anggi pada dirinya sendiri.
Bagaimana ia bisa lupa untuk mengabari Prana? Jelas-jelas cowok itu sudah menjadi suaminya kini. Tapi, Anggi memang tidak bisa disalahkan. Cewek itu benar-benar lupa kali ini. Manusia memang tempat salah dan lupa, bukan?
Dengan tergesa-gesa Anggi menaiki tangga yang menghubungkan pekarangan rumah dengan pintu utama itu sambil membawa seluruh perasaan campur aduknya. Cewek itu gemetaran saat mulai memencet bel. Ia mengembuskan napas panjang dan mempersiapkan mentalnya.
Tak sampai lima detik, Prana dengan sigap membukakan pintu itu sendiri. Ia yakin kalau itu memang istrinya.
Anggi mematung di tempat saat pasang matanya menangkap sosok suaminya yang sedang berdiri di hadapannya dengan sorot mata yang seolah-olah akan memakannya. Lagi-lagi ia menjadi deg-degan saat melihat ekspresi suaminya yang seperti itu.
"Assalamu'alaikum, Mas," ucapnya sambil meraih tangan kanan suaminya dan mengecup punggung tangan cowok itu.
Prana masih setia menatapnya dengan tatapan setajam elangnya. "Masuk!" perintahnya dingin.
Anggi pun masuk dengan mengikuti suaminya di belakangnya. Jantung cewek itu masih juga berdegup kencang. Ia sampai menggigit bibir bawahnya karena takut.
Prana tiba-tiba berhenti tepat di depan tangga membuat Anggi juga ikut menghentikan langkahnya mendadak. Cowok itu lantas memutar tubuhnya untuk menatap kedua mata istrinya. Sedangkan, Anggi justru tidak berani menatap wajah suaminya dan memilih untuk memandangi kaos putih yang Prana kenakan.
"Mas mau aku buatin teh hangat? Atau kopi mungkin? Atau apa? Bilang aja, biar aku buatin secepatnya," tawar Anggi sambil gemetaran di tempatnya. Cewek itu masih belum berani menatap suaminya.
"Lo itu istri gue sekarang. Lo wajib kasih tau gue kalau mau pergi. Jangan keluyuran nggak jelas kaya gitu lagi!" peringatnya dengan nada sarkas membuat Anggi tersentak.
"Kalau suami lagi ngomong itu ditatap! Jangan liat yang lain-lain. Lagian, nggak usah ketakutan gitu. Kaya gue mau makan lo aja." Prana memperingati lagi. Bukannya tenang, Anggi justru tambah gemetaran di tempat.
Karena tak juga berani menatapnya, Prana lantas mencubit dagu istrinya pelan dan mengangkatnya ke atas membuat Anggi mau tidak mau harus menatap kedua mata suaminya.
"I-iya Mas," balas Anggi terbata karena perlakuan suaminya itu.
__ADS_1
"Ya udah, sana mandi. Gak usah bikin apa-apa, gue mau langsung tidur aja," suruh Prana yang dibalas anggukan patuh oleh istrinya.