
"Sayang. Kamu pakai pelet apa sih? Kok aku bisa cinta sama kamu sedalam ini?"
Prana terus memeluk erat tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Anggi sudah pulih dan beraktivitas seperti sedia kala. Mereka tengah menghabiskan momen bersama di balkon kamar Prana.
"Rambut kamu wangi banget. Mata kamu makin indah ya." Prana tak henti-hentinya memuji istrinya, membuat Anggi semakin menatapnya aneh. Tak biasanya Prana seperti itu.
"Apaan sih, Mas. Biasa aja kali," cibirnya. Cewek itu masih setia memandangi layar ponselnya di dalam dekapan tubuh kekar Prana.
Cowok itu lantas melepas dekapannya. "Ih, kamu lihatin apa sih? Lagi chat sama siapa? Sampai suaminya sendiri dikacangin," protes Prana kesal melihat istrinya lebih menyukai ponselnya daripada dirinya.
"Ini loh. Semenjak kita di-DO, followers Instagram aku malah makin nambah. Mungkin, gara-gara kabar nikahan kita, ya? Kan, kamu fans-nya banyak. Makanya, palingan orang-orang jadi kepo trus follow Instagram aku deh," jelas Anggi pada Prana, membuat cowok itu memicingkan kedua matanya.
"Itu doang? Gak ada yang lain?" Pasang mata Prana menyelidik dan menerobos bola mata istrinya, membuat Anggi langsung mengernyit.
"Kenapa sih, Mas emangnya?" tanyanya polos.
Prana pun dengan cepat dan tanpa persetujuan merebut ponsel di tangan istrinya, membuat cewek itu segera cemberut dibuatnya. "Siniin hape kamu," katanya dengan nada dingin, persis seperti yang dulu-dulu.
"Loh-loh, Mas. DM aku kok dihapusin semua gitu?" Anggi melirik tangan Prana yang terus membaca dan menghapus satu persatu DM Instagram-nya.
"Kok diblokir semua sih, Mas?" rengeknya kesal melihat Prana semakin bertingkah aneh.
Cewek itu pun merebut paksa lagi ponselnya. "Ih, kamu kok gitu sih? Tadi kalau ada DM yang penting gimana coba?" protesnya kesal sambil mengecek akunnya. Dan benar saja, Prana menghapus habis semua DM-DM dari sana tanpa sisa sedikit pun.
"Gak ada yang lebih penting dari aku, kan?" kata Prana sambil menaikkan alisnya sebelah. Api cemburu yang menyala di kedua mata Prana terlalu kentara, sampai membuat Anggi bingung sendiri melihat tingkahnya.
"Ih, tapi kan-"
"Oh! Kamu cemburu nih ceritanya?" tebak Anggi sekenanya. Cewek itu mencubit hidung mancung suaminya.
"Tau ah," balas Prana singkat lalu segera membuang mukanya, kesal karena istrinya tidak peka.
"Kamu tuh kalau lagi cemburu kelihatan banget, tau gak sih? Gak jago nyembunyiin sih, kamu. Dasar cowok ketus, bisa juga secemburu gini ya kamu, Mas," ejek Anggi puas melihat kecemburuan suaminya. Cowok itu ternyata bisa bucin juga.
"Nyebelin kamu," ujar Prana lalu mencubit kedua pipi chubby istrinya dengan gemas.
"Kamu nggak ngantor, Mas? Nanti Ayah nyariin kamu lagi," tanya Anggi mengalihkan topik pembicaraan. Pasalnya, ini merupakan hari Senin dan di jam kerja. Barangkali Prana memang lupa.
"Astaghfirullah, aku lupa, Sayang. Jam berapa ini?" Prana mendadak kelabakan mendengar kalimat Anggi itu. Bagaimana bisa ia melupakan tanggung jawabnya yang sekarang mulai ia emban?
"Tuh, kan. Kamu tuh suka lupa sih. Sana mandi, biar aku yang nyiapin keperluan kamu," suruh Anggi yang langsung disambut anggukan kepala oleh suaminya.
Cowok itu gopah-gapah berlarian ke kamar mandi, sementara Anggi hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
__ADS_1
***
"Sini, aku benerin dasi kamu. Liat tuh, masa pimpinan perusahaan dasinya berantakan gitu," ujar Anggi sambil terkekeh kecil.
Dengan cekatan cewek itu membenarkan dasi yang melingkar di kerah kemeja suaminya. Cowok itu lucu sekali kalau sedang gendadapan seperti itu.
*gendadapan: kelabakan
"Sayang, makasih ya. Kamu peduli banget sama aku. Maaf sering banget ngerepotin kamu. Sering banget bikin kamu ikut gupuh," kata Prana sambil menatap wajah istrinya tidak tega. Pasalnya, Anggi jadi ikut repot bersamanya.
"Kan, udah tugas aku sebagai istri kamu, Mas. Berhenti bilang gitu lagi, ya? Aku sama sekali nggak keberatan," terang Anggi, mengoreksi pernyataan Prana. Cewek itu memang sama sekali tak merasa direpotkan dan justru senang bila dapat melayani suaminya dengan baik.
"Tapi, kan-"
"Udah, sana berangkat," suruh Anggi sambil membenarkan rambut Prana.
Cewek itu lantas berlari kecil menuju meja makan lalu segera kembali pada Prana sembari membawa kotak bekal di tangannya.
"Ini, Mas. Aku bawain bekal buat kamu di kantor. Jangan lupa dimakan, apa pun situasinya harus sempat-sempatin makan. Kesehatan Mas lebih penting," ujar Anggi seraya menyodorkan kotak bekal itu pada Prana.
Namun, cowok di hadapannya itu justru terdiam dan bengong melihat kotak bekal yang kini sudah pindah di tangannya. Detik berikutnya, ia menatap wajah istrinya.
Anggi mendadak menciut. "Kenapa, Mas? Ka-kamu malu, ya aku bawain bekal kaya gini?" tanyanya ragu. Cewek itu takut kalau ternyata kepeduliaannya justru membuat Prana tidak nyaman.
Cewek itu pun meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangan itu. "Kamu jaga hati kamu buat aku aja, itu udah cukup banget buat aku, Mas," katanya sambil menatap kedua mata suaminya dengan intens, membuat Prana tersenyum hangat.
"Nanti kamu ke mal, kan. Nanti aku susul kamu ke sana, oke?" ujar Prana dan dibalas anggukan kepala oleh Anggi.
Kemudian, suami Anggi itu melenggang dari hadapan istrinya untuk berangkat melaksanakan kewajibannya.
"Hati-hati ya, Mas."
***
"Halo, Mas?"
Anggi celingukan di dalam bar sebuah mal di kota besar itu. Perasaannya mendadak cemas karena batang hidung suaminya tak kunjung muncul di hadapannya.
"Meeting dadakan? Oh, ya udah."
"Kamu gak papa sendiri dulu? Nanti aku jemput pas baliknya."
"Udah. Mas fokus aja ke meeting. Aku bisa naik ojek online kok nanti."
__ADS_1
"Gak boleh. Malem-malem gini, siapa yang mau jaga kamu? Abang ojek? Nggak menjamin, Sayang. Pokoknya aku yang jemput kamu nanti."
"Mas-"
"Pokoknya nanti aku jemput. Titik, gak boleh nolak."
Anggi menghela napasnya. "Iya udah," katanya.
"Love you, Sayang. Sampai ketemu nanti. Jaga diri kamu baik-baik. Dan inget, jangan terlalu deket sama cowok, apalagi kalau gak kenal. Nanti kalau kamu gitu, aku bakal marah."
"Iya."
Hubungan telepon itu lalu terputus. Anggi geleng-geleng kepala sambil menatap layar ponselnya. Mengapa Prana jadi se-overprotective seperti itu?
"Halo. Sendiri aja nih. Boleh duduk sini gak?"
Seorang cowok tiba-tiba datang dan menyapa Anggi, membuat cewek itu sedikit tersentak, namun segera tersenyum setelahnya.
"Silakan," balas Anggi sambil mengulas senyum khasnya, pasti membuat siapa saja yang melihatnya langsung terhipnotis seketika.
"Kamu gak ada cowok emang?" kata cowok itu, berusaha mengajak mengobrol. Ia sepertinya mulai tertarik dengan Anggi.
"Aku-"
"Pasti belum, ya? Sayang banget, padahal cantik begini. Oh iya, kenalin. Aku Deva." Cowok itu memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan kanannya. Ternyata Deva namanya. Parasnya memang tampan, tak bisa dielak lagi. Dan sikapnya begitu ramah, pasti langsung bisa membuat siapa saja yang baru mengenalnya akan langsung merasa nyaman.
Anggi mengangguk dan tersenyum lagi. Cewek itu pun membalas jabatan tangan Deva. "Anggi," katanya.
"Udah pesen?" tanya Deva setelahnya.
"Oh, udah. Ini aku udah pesen tadi, malah udah tinggal separuh," jawab Anggi seramah mungkin. Cewek itu memang sangat humble. Wajar saja jika Anggi memiliki daya tariknya tersendiri.
"Kamu cantik."
***
Hai! Gimana?
Ada bau-bau bakal terjadi apa nih? Hehe.
Yuk! Jangan lupa untuk terus dukung author dengan cara rate BINTANG 5, VOTE, LIKE, COMMENT, SHARE cerita ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat lagi buat nulis kelanjutannya.
COMMENT "lanjut" yang banyak, boleh. Biar gak sider, hehehe.
__ADS_1
TERIMA KASIH BANYAK!