Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Mencari tahu


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan mommy dan papinya, Aeron pergi ke rumah sakit tempat dirinya dilahirkan. Sesuai seperti yang di arahkan oleh dokter cantik pendamping nya.


Sesampainya di rumah sakit, Aeron langsung mencari ruangan Sila. Dia penasaran dengan dokter yang selama ini sangat mencurigakan baginya.


Meskipun masih 12 tahun, Aeron memiliki pemikiran yang sangat cerdas dan teliti. Cita citanya saja ingin menjadi seorang pengacara, atau menjadi seorang intelijen.


"Kamu tunggu di sini, aku akan menemui teman ku dulu!"


Aeron menoleh ke samping, pembicaraan itu menarik perhatiannya ketika berjalan.


Saat dia menoleh, betapa terkejutnya dia melihat seseorang yang sangat mirip dengannya.


"Kenapa aku ada dua??"


Dengan penasaran, Aeron mendekati anak kecil itu secara diam diam. Dia ingin melihat lebih dekat.


"Benar, dia sangat mirip dengan ku" gumam Aeron dalam hati. Dia semakin bingung, mommy nya tidak pernah mengatakan bahwa dirinya memiliki saudara kembar. Lagi pula, apa alasan mommy tidak memberitahunya dan memisahkan mereka.


"Apa sebenarnya yang terjadi?" pikir Aeron masih memantau Sean yang berdiri di depan pintu ruangan seseorang. Dia heran, mengapa Sean tidak masuk ke dalam.


Ceklek.


Mata Aeron masih memantau, dia melihat Sila dokter yang menangi mommy nya keluar bersama seorang wanita yang tidak dia kenal. Kemudian, mereka pergi bersama dengan anak kecil yang sangat mirip dengannya itu.


Tanpa Aeron tahu, Sean sudah memergoki dirinya. Namun, Sean memilih untuk diam dan membiarkan Aeron mengikuti mereka.


Mereka sama sama menyimpan rasa penasaran, mengapa mereka sangat mirip.


"Siapa dia, kenapa dia sangat mirip dengan ku?", batin Sean. Dia berlalu pergi bersama mama nya.


Dengan terpaksa Sean masuk ke dalam mobil. Dia masih melihat Sean yang bersembunyi di balik tiang lorong rumah sakit.


"Kamu melihat apa?" tanya Jessy. Sean langsung mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Tidak ada" jawab Sean dingin.


Setelah melihat kepergian Sean dan Jessy meninggalkan rumah sakit. Barulah Aeron pergi dari rumah sakit dan menceritakan semuanya pada Sinta.


"Aku tidak menyangka aunty, dia sangat mirip dengan ku. Aku juga merasakan ikatan darah dengannya" jelas Aeron.


Hatinya terasa gelisah semenjak melihat anak yang mirip dengannya tadi. Aeron yakin perasaan ini tidak berasal dari hatinya. Melainkan dari Sean.


Sinta terdiam, dia mencoba untuk menelaah semua yang terjadi dan yang Aeron ceritakan. Dia tidak menyangka Aeron seberani ini. Dia tidak takut mencari tahu semuanya sendiri tanpa memberitahu orang tua nya.


Ini sangat bahaya, namun kasus ini juga tidak bisa di beritahu kepada Vans dan Nisa. Akan lebih bahaya jika banyak yang tahu.


"Jika dia saudara kembar mu, dan mommy mu tidak tahu. Maka, kemungkinan motif pemberian mommy mu dupa itu adalah agar mommy mu melupakan bahwa dia itu melahirkan anak kembar" jelas Sinta mencoba menghubungkan semuanya.


Aeron mendengarkan, perlahan dia mulai mengerti. Mommy nya pernah berkata jika dirinya melupakan dia.


Dia sering pusing dan mendadak pingsan tiba-tiba. Setelah itu mommy nya akan lupa apa yang menyebabkan dia pingsan.


"Tapi aunty, kenapa mereka ingin mengambil saudara ku? kenapa mereka ingin memisahkan kami?" tanya Aeron.


"Aunty Reina tahu segalanya dia adalah sahabat mommy sejak masa sekolah" jawab Aeron.


"Tidak bisa dia, seperti yang kamu Ceritakan. Jika dia di ajak bekerjasama, maka semuanya akan di ketahui oleh musuh" terang Sinta. Dokter cantik itu terlihat imut ketika dia berpikir keras. Tangannya bergerak gerak sendiri mengetuk ngetuk batang hidungnya.


"Aku lah orang yang tepat!"


Aeron dan Sinta menoleh, mereka terkejut melihat seorang pria dengan gagah berdiri menghadap pada mereka.


"Uncle Abay?"


Aeron terkejut melihat salah satu sahabat papi nya datang ke rumah sakit ini. Entah dari mana pria sebaya dengan papi nya itu tahu kalau dirinya ada di sini.


"Maaf Aeron, paman mengikuti mu. Tanpa sengaja paman mendengar percakapan mu dengan seseorang dan membuat aku mencurigai mu." Abay melirik wanita yang ada di sebelah Aeron.

__ADS_1


Sinta membalas tatapan Abay, meneliti wajah pria yang ia rasa tidak asing di matanya.


"Karena itulah aku mengikuti mu ke sini"


"Uncle, sudah tahu semuanya?" tanya Aeron.


Abay pun mengangguk, dia mengambil posisi duduk di depan Aeron dan Sinta yang duduk di taman rumah sakit dengan meja bulat dan atap kecil seukuran meja.


"Aku mengetahui segalanya Aeron, kamu bisa mengandalkan paman mu ini!" ucap Abay dengan bangga. Dia melirik Sinta lagi, entah mengapa jantung nya berdegup kencang ketika melihat wajah manis Sinta.


'Apa ini jodoh ku yang selama ini engkau simpan tuhan', batin Abay bergelora.


Sinta sedikit risih di perhatikan terus oleh Abay. Dia memulai pembicaraan untuk mengalihkan perhatian Abay.


"Jadi, apa yang anda ketahui tuan. Langsung ke intinya saja" ujar Sinta datar.


Inilah yang Abay suka, wanita tanpa basa basi dan tegas seperti Sinta.


"Aku juga tidak ingin bertele tele nona manis, aku juga akan ke intinya" balas Abay tersenyum. Sinta memutar matanya malas.


"Uncle, sejak tadi uncle tidak mengatakan apapun selain mengulur waktu" dengus Aeron.


Abay tercengir, kemudian dia pun memulai semuanya. Mulai menceritakan soal masa lalu Nisa dan Vans. Mereka yang nikah di jodohkan, lalu menceritakan soal Bella dan juga soal Jesica.


Abay menduga bahwa wanita yang bersama anak yang mirip dengan Aeron itu adalah Jesica. Meskipun Abay tahu wanita itu adalah Jessi, namun dia tahu dan yakin bahwa dia adalah Jesika. Apalagi Jessica menghilang bak di telan bumi.


"Seperti nya dia sedang merencanakan sesuatu. " ujar Sinta.


"Benar, aku setuju dengan mu. Aku yakin, dia ingin menggunakan saudara kembar Aeron untuk balas dendam" sahut Abay.


Mereka mendiskusikan segala kemungkinan yang terjadi. Kemudian menyusun rencana untuk menyelidiki semua nya dan menangkap Jessica yang telah menjadi buronan selama 12 tahun.


"Baik lah nona manis, aku dan Aeron pulang dulu. Besok,aku dan Aeron akan mencari tahu dan memberimu informasi selanjutnya" kata Abay pamit.

__ADS_1


"Nama ku Sinta, bukan nona manis!" ralat Sinta kesal Sejak tadi Abay terus memanggilnya seperti itu.


"Tapi, aku lebih suka memanggil mu dengan panggilan seperti itu" Abay tersenyum malu, dia menatap Sinta penuh cinta.


__ADS_2