Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Sesuatu yang Lain


__ADS_3

Maaf yaa author jadi jarang update soalnya lagi banyak banget urusan.


Sebelum baca, LIKE sama COMMENT dulu, boleh?


Sekaligus ajak semua kenalan kalian untuk baca cerita ini, ya?


Hehehe terima kasih banyak


***


"Pra! Gimana?"


Prana berjalan dengan langkah gontainya ke arah meja kantor. Di ruangannya ada beberapa rekan yang sedang berkumpul. Termasuk Renata yang bisa dibilang merupakan biang keladi masalah ini. Mereka merupakan sahabat baik dari suami Anggi tersebut.


"Dia minta talak," jawab Prana dengan lesu. Kedua matanya bahkan sayu dan bibirnya pucat. Semalaman ia memang tak bisa tidur karena terus memikirkan perkataan Anggi semalam.


"Pra? Sorry, gue yang salah di sini," ujar Rena dengan tatapan penuh bersalahnya.


"Gak papa, Ren," balas Prana legowo.


Seisi ruangan mendadak tegang. Pasang mata mereka menatap Prana dengan tatapan sendu. Merasa kasihan sekaligus prihatin. Suami sesempurna Prana dan istri sebaik Anggi tak harusnya berpisah secepat ini. Mereka harusnya berhak terus bahagia.


"Pra. Kami gak tau mau kasih saran apa, lagipula yang menjalani kehidupan rumah tangga lo ya lo sendiri. Kami cuma mau bilang, lo harus kuat dan harus bisa jadi gentleman. Jangan lihat kanan-kiri. Pokoknya selagi lo nganggep hal itu baik, maka lanjutin aja. Semoga lo sama Anggi bisa balikan lagi," ucap salah satu sahabatnya.


Prana mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Cowok itu sangat bimbang sekarang ini. Di satu sisi, Renata memang masih menaruh harapan padanya. Apalagi kondisinya sedang sangat tidak baik-baik saja. Ia pasti butuh seseorang yang bisa merawat dan menjaganya. Dan Prana tahu betul kalau cewek itu hanya menginginkan dirinya, bukan cowok lain.


Namun, di sisi lain ada istri yang sangat ia cintai. Anggi terlalu sempurna, sementara Prana merasa dirinya merupakan suami yang jauh dari kata baik. Anggi berhak bahagia bersamanya. Namun, melihat respon istrinya semalam, Prana jadi sedih sekaligus marah. Mengapa istrinya bisa membuat keputusan gila semacam itu?


***

__ADS_1


Sudah terhitung lima kali Anggi merasa mual pagi ini. Ia sampai harus bolak-balik kamar mandi karenanya. Cewek itu benar-benar pergi dari rumah dan lebih memilih tinggal di rumah peninggalan ayahnya dulu.


"Nggi? Lo gak papa?" tanya Jesi yang amat khawatir terhadap keadaan sahabatnya itu.


Anggi menggeleng lemah. Perutnya terasa seperti diaduk-aduk, namun saat mencoba dikeluarkan tak bisa. Ia perlahan berjalan menuju ranjang dan duduk di ujung. Sementara, Jesi juga ikut berpindah dari sofa menuju sebelah Anggi.


"Lo gak mau coba testpack? Gue curiga deh, Nggi. Kayanya lo itu lagi mengandung anaknya Prana," ujar Jesi menyarankan.


Anggi menatap kedua mata sahabatnya itu dengan pandangan kosong. Mungkinkah ia hamil? Kalau saja iya, alhamdulillah. Namun, yang jadi masalahnya di sini adalah mengapa harus di saat keadaan rumah tangganya sedang tidak baik-baik saja? Ujian apa lagi ini, Tuhan?


Jesi sudah tahu semuanya. Anggi sudah bercerita pada sahabatnya itu. Karena memang, Jesi merupakan satu-satunya orang yang bisa mengerti dan memahami dirinya. Dan Jesi bukanlah orang yang suka mengumbar rahasia, apalagi rahasia sahabatnya sendiri.


"Lo bisa beliin gue, Jes?"


Jesi mengangguk cepat. "Bisa-bisa. Lo mau gue beliin? Kalau iya, gue berangkat sekarang. Sekalian beli makanan buat lo," katanya.


"Iya, Jes. Makasih, ya. Sorry suka ngerepotin lo," ucap Anggi dengan nada sangat pelan. Dapat dipastikan bahwa cewek itu sedang lemas sekarang.


"Lo emang sahabat terbaik yang pernah gue miliki, Jes. Makasih banyak. Makasih, makasih, makasih pokoknya."


"Siap, Bu Bos!"


***


"Oh My Gosh, Jesi! Gue hamil!"


Suara Anggi menggelegar ke tiap sudut ruangan. Cewek itu bahagia bukan main. Pasalnya, memiliki buah hati memang cita-citanya sejak setahun yang lalu. Usahanya selama ini tidak sia-sia. Rasanya ia terbang tinggi ke udara dan tak akan pernah jatuh lagi.


"Sumpah lo, Nggi? Aaa, selamat beb," ucap Jesi lantas berhamburan memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat.

__ADS_1


"Pelan-pelan meluknya, ada dede bayi," kata Anggi berbisik pada Jesi.


Mereka tertawa renyah setelahnya. Sungguh, Jesi seolah bisa merasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan sahabatnya kini. Ia sangat lega bila Anggi ternyata benar-benar hamil. Setidaknya, berarti hal itu bisa dijadikan topangan bagi Anggi supaya lebih kuat dan barangkali dengan hadirnya buah hati, maka hubungannya dengan suaminya bisa kembali seperti dulu lagi.


Namun, beberapa saat setelahnya Anggi segera merenggut senyum. Ternyata ia bisa jatuh juga. Mengingat rumah tangganya saat ini yang jauh dari kata baik-baik saja. Andai saja, kejadian hari itu tak terjadi. Atau paling tidak, Anggi tak perlu melihatnya, maka mungkin ia sudah bisa merayakan langsung kabar gembira ini bersama suaminya.


"Jadi, gimana, Nggi?"


Anggi menaikkan kedua alisnya. "Hm? Gimana apanya?" tanyanya balik, tak paham dengan apa yang dilontarkan Jesi.


"Soal kehamilan lo. Lo masa gak mau kasih tau suami lo?" tanya Jesi dengan penuh rasa iba dan prihatin. Sahabatnya tak seharusnya merasakan kesedihan seperti itu. Sudah terlalu banyak luka yang ia kecap selama ini.


Anggi menggeleng lemah. Cewek itu sudah berkomitmen pada dirinya sendiri untuk tidak memberitahukan kabar bahagia ini pada Prana. Sekali lagi ia tegaskan, Renata lebih membutuhkan Prana daripada dirinya.


"Nggi! Kenapa? Lo masih mikirin ratu ular itu? Buka mata dan hati lo, Anggia. Prana itu suami lo, nggak seharusnya lo bisa bagi-bagi ke orang lain," tegur Jesi geregetan.


"Jes, bukan gitu maksud gue. Masalahnya, Renata lebih butuh Mas Prana daripada gue. Lo tahu, kan pneumothorax itu bukan penyakit main-main? Gue takut dia kenapa-kenapa, Jes. Gue gak boleh egois," jelas Anggi. Kukuh pada pendiriannya.


Jesi menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap Anggi tidak percaya. "Lo kesambet apa sih, Nggi? Lo dipelet ya, sama Rena? Anggi, dengerin gue. Gue tahu dia punya penyakit pneumothorax. Gue tahu kalau dia emang butuh seseorang yang bisa jaga dan merawat dia. Tapi, bukan berarti orang itu harus suami lo, Anggi. Lagipula, lo gak mikirin perasaannya Prana apa? Dia pasti sedih banget denger permintaan lo yang gila itu." Jesi meluapkan semua unek-uneknya. Mendadak ia jadi gemas sendiri dengan sikap Anggi yang justru menurutnya egois karena tidak memikirkan perasaan Prana.


"Gue sebenernya percaya kalau Mas Prana udah gak punya rasa lagi ke Rena. Tapi, Jes, ini buat kebaikan kami semua. Gue juga yakin, kok kalau Mas Prana pasti bisa jadi suami yang baik buat dia," terang Anggi, lagi-lagi tak dapat terpengaruh dengan semua perkataan sahabatnya itu.


"Astaga, Anggi! Prana itu cintanya cuma buat lo. Prana juga berhak tahu soal bayinya yang lo kandung itu, Anggia Soraya. Lo juga gak boleh egois gitu," ujar Jesi dengan tegas.


"Gue juga sebenernya bimbang, Jes. Tapi, gue sekarang udah yakin kalau lebih baik Mas Prana jangan tahu dulu sampai dia mau membuka hati untuk Rena dan menikahinya."


***


[Baca sampai akhir, ya]

__ADS_1


Satu kalimat buat bab ini?


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?


__ADS_2