Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Terima Kasih atas Lukanya


__ADS_3

Sebelumnya, author mau mengucapkan terima kasih banyak buat para pembaca setia "Pernikahan Wasiat". Kalian LUAR BIASA!!!


***


"Lo apain istri gue, hah?" Tanpa aba-aba Prana langsung menarik kerah kemeja yang dikenakan oleh Bima.


Cowok di hadapannya itu segera terkejut mendapatkan serangan tiba-tiba. Tangan Bima menarik pelan kedua tangan Prana yang sudah menunjukkan urat-uratnya menonjol.


"Slow down, Pra. Gue-"


Belum sempat Bima melanjutkan ucapannya, Nita segera memotong, "Gue yang bikin dia kaya gitu. Kenapa? Dia udah seharusnya tahu soal kita dulu, kan?"


Prana mundur selangkah untuk bisa berhadapan dengan cewek menyebalkan itu. "Soal kita? Soal kita apaan? Gak usah ngarang cerita lo, Nit!" Prana meninggikan intonasinya dan berhasil membuat pasang mata seisi kafe tertuju pada mereka.


"Lo bilang apa sama dia?" tanya Prana dengan emosi yang sudah berada di puncaknya.


"Gue gak bilang apa-apa kok. Gue cuma kasih penjelasan sama dia. Lagipula, bukannya lo gak cinta sama dia?" kata Nita seenak jidatnya.


Prana yang mendengar itu langsung mengembuskan napas kesal. "Itu dulu, Nit. Gue bener-bener sayang sama dia sekarang," balas Prana dengan tegas, membuat Bima menatapnya heran.


"Oh. Ya udah, syukur kalau gitu." Nita hanya melontarkan kalimat itu. Seolah benar-benar tak mau peduli dengan apa yang sudah terjadi karena ulahnya.


"Syukur apanya?" Prana menatap Nita dengang tatapan menantangnya.


Detik berikutnya, ia melirik Bima dan kini sudah benar-benar menatap kedua matanya dengan tatapan setajam elangnya.


"Apa yang udah terjadi? Jelasin ke gue, brengs*k!" Lagi, Prana menarik paksa kerah kemeja Bima, membuat tubuh cowok itu maju dan mau tidak mau harus menatap kilatan amarah di kedua bola mata Prana.


"Lo apa-apain sih, Pra?" Nita langsung memprotes. Cewek itu tak mau tinggal diam melihat pacarnya seperti itu. Dengan cepat ia menarik paksa tangan Prana untuk menjauh dari tubuh Bima.


"Tanya aja sama istri lo yang cengeng itu. Kasihan ya, kisah kalian. Perasaan yang gue lihat gak ada secuil bahagia-bahagianya. Dan satu kalimat yang cocok buat lo kali ini, cupu banget gak berani ngejar istri tercintanya," sindir Nita puas dengan menekankan kata terakhir di kalimatnya.


Prana mengepalkan kedua tangannya di samping pahanya. Air mukanya sudah merah padam sejak tadi. Cowok itu menyemprot keduanya dengan tatapan tajamnya.


"Emang manusia stres kalian," umpat Prana sebelum akhirnya melenggang dari hadapan mereka.

__ADS_1


Berhadapan dengan dua manusia tadi, terutama Nita memang membuat kesabarannya habis. Seolah-olah Nita merupakan iblis yang bersembunyi di balik wajah cantiknya. Sudah tak bisa disebut manusia lagi memang.


***


"Sayang! Kamu di mana?"


Prana kelabakan mencari istrinya di seluruh penjuru istana besar itu. Suaranya sampai menggema ke setiap sudut ruangan. Namun, tampaknya Anggi tidak ada di sana. Atau belum selera menjawab saja cewek itu.


Ijah yang mendengar majikannya teriak-teriak seperti orang tidak waras itu segera keluar dari kamarnya. Perempuan itu langsung menghampiri Prana yang masih sibuk membuka seluruh pintu ruangan di rumahnya.


"Tuan Muda. Maaf, ada apa teriak-teriak seperti itu?" tanya Ijah cemas sekaligus khawatir.


"Istri saya di mana, Jah?" tanya Prana balik dengan raut wajah yang sudah tidak bisa didefinisikan.


"Anu, Tuan Muda. Saya tadi lihat Nona Muda pulang dan langsung masuk ke kamarnya. Sampai sekarang Nona Muda belum keluar dari kamarnya, sepertinya sedang mengurung diri. Saya juga ikut khawatir, Tuan Muda," terangnya dengan ekspresi wajah yang sama cemasnya dengan majikannya.


"Istri saya mengunci diri?"


Ijah mengangguk. "Memangnya ada apa toh Tuan Muda? Nggak seperti biasanya Nona Muda seperti itu," tanyanya.


"Ya sudah. Saya mau cek dia dulu di kamarnya," ujar Prana yang disambut anggukan kepala oleh Ijah.


Tak mau pikir panjang lagi, cowok itu cepat-cepat menaiki setiap anak tangga dan berbelok ke arah kamar istrinya. Cemas, panik, khawatir, sedih semua jadi satu. Bayang-bayang bulir mata yang jatuh dari pelupuk mata istrinya di kafe tadi berhasil membuat hatinya tersayat-sayat.


"Sayang? Apa kamu di dalam?" tanya Prana sedikit berteriak sambil mengetuk pintu kamar itu dengan pelan.


Tak ada jawaban. Dan diamnya Anggi semakin membuat perasaan Prana campur aduk tidak keruan.


Di sisi lain Anggi sedang bersimpuh di depan ranjang. Beberapa kali cewek itu membenturkan kepalanya sendiri ke kedua lututnya yang kini ia tekuk di depan badannya. Ia menenggelamkan kepalanya di dalam kedua lututnya sambil terisak. Dan isakan itu kembali menjadi saat mendengar suara dari Mahaprana Virgo.


"Bodoh, Anggi! Bodoh! Harusnya lo gak sepolos itu." Anggi terus merutuki dirinya sendiri. Detik selanjutnya, ia melepas paksa cincin perkawinan yang selama ini melingkar di jari manisnya dan segera membuangnya.


Saat sampai di puncak emosinya, cewek itu selalu mendongakkan kepalanya dan menjerit sejadi-jadinya.


Mendengar jeritan itu, Prana mendadak panik setengah mati. Ia semakin mengetuk pintu berwarna putih itu dengan kerasnya. "Sayang! Bukain pintunya, aku mohon." Begitulah Prana yang terus memohon supaya istrinya mau membuka pintu.

__ADS_1


Namun, tampaknya Anggi masih menikmati kesedihannya sendiri di dalam ruangan mewah itu. Di dalam sana istri Prana itu terus memukul dirinya sendiri, bahkan sampai menjambak rambutnya sendiri.


"Istriku? Kalau kamu nggak mau buka pintunya, aku dobrak," ancam Prana.


Ancaman itu lantas berhasil membuat Anggi menghentikan tangisnya. Ia segera menghapus seluruh air matanya. "Kalau kamu dobrak, aku bakal nyakitin diri aku sendiri." Anggi balik mengancam suaminya.


Prana langsung menghentikan aktivitasnya yang belum sempat ia mulai, yakni mendobrak pintu kamar istrinya. "Jangan! Oke, aku bakal diam. Tapi, tolong kamu jangan ngelakuin hal yang nggak masuk akal di dalam sana, Sayang." Prana hanya bisa pasrah. Cowok itu mengacak rambutnya gusar. Apa yang harus dilakukannya kini?


"Kamu gak perlu pura-pura peduli sama aku, Mas. Selama ini aku udah salah kaprah dalam menilai kamu. Makasih atas lukanya," jerit Anggi dengan isakannya yang kencang dan menggema sampai terdengar ke luar kamar.


Ijah di bawah sana diam-diam menguping. Perempuan itu jadi ikut menitihkan air mata kala mendengar jeritan Anggi dari atas sana.


Lagi dan lagi, hati Prana mencelos dan sudah seperti dirobek-robek oleh mesin yang mampu menghancurkan semuanya. Cowok itu sampai mati rasa mendengar jeritan beserta isakan dari dalam kamar istrinya.


Anggi kembali menangis kencang. Di dengar dari suara isakan itu, tangisannya benar-benar berasal dari jeritan hatinya yang kini hancur. Cewek itu tak bisa berhenti mengumpat untuk dirinya sendiri. Ia langsung merasa seperti istri paling bodoh di muka bumi ini yang terlalu percaya dengan sifat manis palsu suaminya.


"Anggi! Kamu kenapa sih? Tolong, jelasin ke aku supaya aku bisa tahu apa kesalahanku," teriak Prana yang kini mulai ikut menitihkan air mata.


Anggi tertawa terbahak di sela-sela tangisannya. Ia juga bertepuk tangan dengan kerasnya. "Aku akui kamu hebat dalam hal berpura-pura, Mas. Oke, sekarang cukup ya pura-puranya. Aku udah tau semua," ujarnya dengan sesenggukan.


Jeda tawa mirisnya, "Dan kamu lagi-lagi hebat karena berhasil buat aku menyesal karena menjadi istri kamu."


***


[Baca sampai akhir, ya]


Hai! Semoga hari kalian menyenangkan.


Kalau kalian di posisi Anggi, apa yang bakal kalian lakukan?


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?


COMMENT pendapat dan saran kalian buat bab ini. Biar gak sider aja hehehe.


TERIMA KASIH BANYAK.

__ADS_1


__ADS_2