Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Usai


__ADS_3

Prana berjalan menuju ruang kepala sekolah dengan perasaan berkecamuk. Pemandangan murid-murid yang melempar tatapan sinis padanya membuat cowok itu semakin resah. Prana tidak pernah menduga bahwa rahasia yang ia simpan rapat-rapat bersama dengan Anggi akan terbongkar dengan cara seperti ini.


Di sisi lain, istrinya masih ke toilet sebentar bersama Jesi dan Dion yang menunggu di luar tadi. Cewek itu pun tak kalah gelisah. Anggi bahkan sempat berkaca-kaca tadi.


Sayangnya, di perjalanan menuju ruang kepala sekolah, Prana justru bertemu dengan Bima. Air mukanya berubah seketika. Urat-urat lehernya kain menegang dan rahangnya mengeras. Tanpa aba-aba Prana langsung melayangkan kepalan tangannya dan tepat mengenai rahang sebelah kanan Bima. Cowok itu sampai sempoyongan dan hampir jatuh ke lantai. Namun, beruntungnya Bima masih kuat untuk menahan tubuhnya.


"Lo kenapa, Pra?" tanya Bima kebingungan sambil memegang rahangnya yang terasa nyeri.


Belum puas dengan pukulan tadi, Prana kembali memberi bogem tepat di rahang Bima yang satunya. Cowok itu terlihat sangat memburu dan penuh dengan emosi yang berhasil menguasai dirinya. Murid-murid yang mendengar keributan itu pun segera berhamburan dan meninggalkan aktivitas masing-masing. Seolah perkelahian hebat di antara Prana dan Bima lebih penting dari segalanya.


"Bangs*t lo!" Prana terus meninju wajah Bima.


Dan Bima yang awalnya menahan diri untuk tidak melawan menjadi berani memberi bogem balik pada Prana. Keduanya sama-sama saling tonjok, tetapi Pranalah yang lebih berkuasa di sini. Sayangnya, tidak ada yang mau menghentikan mereka. Murid-murid yang lain hanya diam dan justru asyik menonton pertarungan hebat di antara kedua cowok tersebut.


"Lo gak bisa jaga mulut lo itu, hah?" teriak Prana geram melihat wajah cowok di hadapannya.


Bima menahan kerah seragam Prana. “Lo kenapa, Pra? Gue salah apa?” tanyanya di sela-sela napasnya yang tersengal.


“Gak usah pura-pura gak tau lo, B*bi!” Prana menonjok rahang Bima sekali lagi, berhasil membuatnya jatuh tersungkur ke lantai karena pukulannya jauh lebih kuat kali ini.


Tak sampai di sana, Prana masih setia memukuli wajah Bima habis-habisan. Bima yang posisinya seperti itu sudah tak bisa melawan. Ia hanya bisa menerima pukulan-pukulan maut dari Prana.


Setelah sekian lama, Anggi baru datang bersama Jesi dan Dion di belakangnya. Cewek itu segera membelah kerumunan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Astaghfirullah!" pekik Anggi lantang. Raut kepanikan kini mulai menghiasi wajahnya.


Tak tinggal diam, cewek itu segera mendekati keduanya. “Kalian apa-apaan, sih?” ujarnya sambil menarik lengan Bima dan juga Prana supaya keduanya saling berjauhan.

__ADS_1


Prana masih berapi-api dan hampir menonjok cowok di hadapannya lagi. Namun, Anggi segera mencegah dengan menahan dada bidang suaminya itu. “Cukup, Pra!” gertaknya dengan kedua bola mata yang membulat menatap wajah suaminya.


Prana lantas menatap Bima dengan tajam lalu kepada Anggi. “Lo bilangin mantan lo yang br*ngsek itu!” ujarnya sambil menunjuk tepat di wajah Bima dengan dadanya yang naik turun.


"Ada apa ini?"


Suara bariton itu berhasil memecah kerumunan murid-murid yang sedari tadi asyik menonton 'pertunjukan' tersebut. Guru BK, yakni Pak Farel datang dengan muka merah padamnya saat mendapati kedua muridnya baru bertengkar hebat.


"Prana! Bima! Berhenti kalian!" bentak Pak Farel lantang membuat semuanya tersentak. Pasalnya, Pak Farel belum pernah semarah itu sebelumnya.


Guru itu lantas segera menghampiri kedua muridnya dengan mata berapi-api. "Prana! Ikut saya ke kantor sekarang. Kamu juga, Anggi," perintahnya yang langsung dibalas anggukan pelan oleh pasangan suami-istri muda itu.


Dengan cepat Pak Farel membubarkan gerombolan murid tadi dan memimpin Prana dan Anggi di depan menuju ruang kepala sekolah. Prana dan Anggi sama-sama bungkam kali ini. Keduanya tengah sibuk menyelami pikiran masing-masing.


Pintu ruangan kepala sekolah mulai terbuka. Prana dan Anggi saling tatap sejenak. "Nggak usah khawatir. Berdoa aja, Nggi," pesan cowok itu sebelum masuk terlebih dahulu sebelum Anggi.


Pak Brima menyambut mereka dengan datar. Pria itu segera mempersilakan kedua muridnya untuk duduk di hadapannya.


“Apa benar itu, Prana? Kamu sudah menikah dengan perempuan di sebelah kamu?” mulai Pak Brima. Pria itu memang tidak suka basa-basi.


Prana menoleh pada Anggi sebentar. "Tapi, Pak-"


“Saya cuma mau kamu menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’." Pak Brima segera memotong. Ia nampak kurang suka dengan respon Prana yang seperti itu.


Prana mengusap kedua telapak tangannya yang mulai berkeringat. Peluh pun mulai keluar dari ujung dahinya. Anggi yang menyadari kegelisahan suaminya segera menggenggam jari-jemarinya dengan erat. Meski cewek itu sama tegangnya dengan Prana, namun ia tetap berusaha menyalurkan energi positifnya untuk suaminya.


Detik berikutnya, cowok itu hanya bisa mengangguk pasrah. Ia kehabisan akal untuk mencari alasan. Lagipula, semua sudah tahu dan hal tersebut sudah diperkuat dengan bukti foto yang dipajang di mading sekolah.

__ADS_1


Pak Brima terlihat semakin gusar. Pria itu menghela napas berat. “Kita langsung ke point-nya aja. Anggi, saya ingin bertanya pada kamu. Apa kamu terpaksa dengan pernikahan ini?” tanyanya, memulai interogasi ini.


“Maaf, Pak. Maksudnya gimana?”


“Maksud saya, apa sebelumnya Prana berbuat sesuatu pada kamu sehingga mau tidak mau kamu harus dinikahkan dengannya?”


“Maksudnya apa, Pak? Pak Brama nuduh saya?” Prana meninggikan suaranya. Cowok itu mulai gusar mendengar kata-kata kepala sekolahnya.


Pak Brima tersenyum sinis. “Saya hanya bertanya. Sekali lagi, apa benar pernyataan saya tadi, Nak Anggi?” tanyanya lagi pada Anggi.


Anggi hanya bisa menatap Prana yang dari raut wajahnya menyiratkan desakannya supaya Anggi segera membantah.


“Saya-“


“Jadi, benar. Atas dasar apa kamu melakukan itu pada Anggi? Atau jangan-jangan kalian saling mau dan saling suka pada waktu itu?” interupsinya. Pak Brima benar-benar tak mau mendengar keterangan dari kedua muridnya. Ia seolah memfitnah mereka yang tidak-tidak.


Prana jadi emosi dan ia segera bangkit dari kursinya. “Bapak gak bisa seenaknya menyimpulkan yang enggak-enggak tentang kami. Ini pencemaran nama baik," bantahnya tegas.


“Tahan dulu emosi kamu. Anak zaman sekarang memang begitu. Saya paham. Tapi, kalian tau sendiri kan kalau sekolah kita ini merupakan sekolah favorit di kota ini? Apa kalian gak memikirkan dampak dari perbuatan kalian?” Pak Brima kembali mencela dan tak memberi celah untuk Prana dan Anggi bersuara.


Prana spontan menggebrak meja. Amarahnya sudah tidak bisa ia tahan kini. “Tapi, saya dan Anggi tidak pernah melakukan semua itu, Pak. Dan kalian semua, guru-guru yang menyaksikan ini. Murid kalian difitnah oleh kepala sekolahnya sendiri. Kenapa diam saja?” ujarnya dengan nada penuh penekanan. Cowok itu sudah tidak peduli lagi soal sopan santunnya. Ia hanya ingin mempertahankan harga dirinya di sini.


Anggi mulai cemas dan panik. Ia lantas menahan lengan Prana dan menariknya supaya duduk kembali, takut bila Prana melakukan sesuatu di luar kendali.


“Maaf, Anggi, Prana. Kami sudah membuat keputusan bulat. Demi menjaga nama baik sekolah ini, kami putuskan kalian di-DO dari sini," tambah Pak Farel membuat seisi ruangan kepala sekolah itu tersentak.


Atmosfer tegang dan panas seketika menyelimuti ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2