Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Skenario Awal Semesta


__ADS_3

"Keterlaluan Pak Brama itu, Nggi. Dia fitnah kita. Dia lebih mentingin nama baik daripada dengerin penjelasan kita."


Dada bidang cowok itu masih naik turun sedari interogasi di ruangan penuh sesak tadi. Sementara, Anggi hanya bisa memandangnya dengan tatapan takut. Cowok itu sudah berada di puncak amarah. Suaminya tak henti melontarkan sumpah serapahnya untuk kepala sekolah mereka.


"Nggi, gimana?" Jesi bersama Dion segera menghampiri keduanya. Ia meminta keterangan dari mereka dengan penuh kekhawatiran.


Anggi menggeleng lemah. Sementara, Prana sudah malas menanggapi hal tersebut dan memilih pulang terlebih dahulu. Anggi tak mencegah. Ia membiarkan suaminya menenangkan dirinya.


"Keputusan akhirnya gimana?" Dion ikut-ikutan mendesak.


"Gue sama Prana di-DO dari sekolah." Anggi menitihkan air matanya. Rasa sesak kembali menyeruak dalam dadanya.


Jesi yang melihat sahabatnya seperti itu jadi ikut berkaca-kaca. Ia dengan cepat memeluk Anggi. Anggi pun membalas pelukannya lebih erat. Cewek itu benar-benar rapuh kini.


"Anggi." Bima baru saja datang dengan wajah yang penuh lebam karena perkelahian tadi.


"Kamu di-DO?" tanyanya prihatin. Tatapannya begitu sendu saat memandang wajah Anggi.


Anggi lantas mengangguk samar. Ia perlahan mengusap air matanya. "Maafin Prana ya, Bim. Dia tadi kebawa emosi," ucapnya dengan nada penuh rasa bersalah.


"Nggak papa, Nggi. Aku ngerti," balas Bima santai. Cowok itu tak mau memperbesar masalah tadi.


"Lo kenapa sih bisa digebukin Prana gitu?" Dion menyahut sambil meringis menatap luka lebam di sekitar rahang dan pelipis Bima.


"Dia ngira gue yang nyebarin info sama foto-foto pernikahannya." Bima menjelaskan. Ia masih tak habis pikir Prana bisa menghajarnya seperti tadi.


"Sebenernya siapa sih yang nyebarin itu? Sini orangnya, biar gue hajar abis-abisan." Jesi jadi geregetan sendiri. Cewek itu sangat kasihan pada Anggi dan juga Prana.

__ADS_1


"Udah-udah. Gak perlu digede-gedein. Gue sama Prana bakal baik-baik aja kok." Anggi segera menengahi. Cewek itu tak mau ada perang dingin di sekolahnya.


***


Anggi menghentikan langkahnya tepat di depan kamar suaminya. Cewek itu sebenarnya ragu untuk masuk, namun hatinya terus tergerak untuk menemui Prana.


"Astaghfirullah, Mas! Kamu apa-apaan sih?"


Anggi segera berlari menuju Prana yang tangannya sudah berlumuran darah. Cowok itu terus memukulkan kepalan tangannya pada kaca berukuran jumbo di samping ranjangnya. Serpihan kaca sudah berserakan di sekitar cowok itu. Belum sampai istrinya mendekatinya, Prana sudah ambruk duluan ke lantai. Bulir mata juga sudah mengalir deras dari pelupuk matanya.


Anggi cepat-cepat mengambil kotak P3K di atas nakas dan segera membersihkan luka di tangan suaminya. Cewek itu meringis tiap kali kain kasa di tangannya menyentuh kulit tangan suaminya yang terluka. Sebaliknya, Prana justru sama sekali tak mengeluhkan tentang lukanya. Namun, cowok itu masih setia mengeluarkan air matanya.


“Sekolah gue ancur. Masa depan gue, perusahaan yang selalu gue angan-anganin, semuanya. Hidup aku ancur sekarang, Nggi.”


Anggi yang melihatnya seperti itu tak kuasa lagi untuk tidak menahan air matanya. Ia ikut terduduk di sebelah suaminya dan hanya bisa menatap nanar wajah Prana.


“Semua harapan aku lenyap dalam satu waktu. Aku sama sekali nggak berdaya sekarang.” Prana menyandarkan kepalanya di dada Anggi. Anggi pun memeluk leher suaminya dan ikut menangis. Cowok itu terisak di dalam sana.


“Udah, Mas. Mas jangan nyalahin diri Mas terus. Tuhan punya skenarionya sendiri. Aku yakin kita bisa lewatin semuanya." Anggi terus menenangkan sambil mengusap lembut rambut suaminya. Hatinya tersayat-sayat saat mendengar semua kata yang terlontar dari mulut Prana saat ini.


Kedua insan itu sama-sama tenggelam dalam perasaan yang berkecamuk. Bulir air mata terus saja mengalir dari pasang pelupuk mata mereka. Hati Prana dan Anggi sama-sama meronta karena rasa sesak dan pengap dalam dada masing-masing. Mereka tak berdaya.


Prana lantas mendongak dan menatap Anggi lalu perlahan mengusap air matanya. “Kalau kamu nggak sanggup hidup sama aku. Kamu boleh minta cerai. Kamu boleh cari suami yang lebih baik daripada aku di luar sana, Nggi,” ujarnya dengan penuh putus asa. Kalimat itu merupakan kalimat terlarang baginya, namun ia harus bisa tegar menerima kenyataan ini.


Anggi tentu tersentak saat mendengar kalimat tersebut. Ia segera melepas pelukannya dan bangkit dari duduknya. “Maksud kamu apa sih, Mas?” tanyanya dengan nada yang terdengar tidak suka.


Prana pun turut berdiri lalu mengambil kedua tangan istrinya. “Anggi, dengerin aku. Kalau kamu hidup sama aku, kamu nggak akan bahagia. Hidup kamu akan lebih terjamin kalau kamu mau cari pengganti yang lebih baik di luar sana. InsyaAllah aku pasti siap, Nggi,” katanya dengan kelapangan hatinya. Cowok itu hanya bisa memikirkan satu hal saat ini, yaitu cara agar Anggi bisa bahagia meski tanpanya.

__ADS_1


Anggi menatap suaminya tidak percaya. “Kamu apa-apaan sih, Mas. Aku bisa hidup sama kamu, apa pun keadaannya nanti. Aku akan terus nemenin kamu. Aku nggak akan pergi, Mas. Aku nggak mau cari pengganti karena cuma kamu yang bisa buat aku bahagia,” balasnya tegas. Cewek itu sama sekali tak habis pikir dengan ide gila suaminya.


Prana tak boleh goyah. Cowok itu terus saja memaksa. “Tolong, Anggi. Aku takut kamu menderita. Kamu cinta sama aku, kan? Kalau kamu bener-bener cinta sama aku, tolong penuhi permintaan aku." Prana kembali meyakinkan. Meski berat, ia yakin inilah yang terbaik untuk keduanya.


Anggi menggeleng cepat dan menepis kedua tangan Prana yang sedari tadi menggenggamnya. “Aku sama sekali nggak bisa, Mas. Aku emang cinta kamu, tapi aku gak bisa penuhi permintaan kamu yang satu ini," tolaknya lagi-lagi.


Prana menatap manik mata istrinya dengan intens. Dua pasang mata itu sudah berkaca-kaca. “Dunia ini keras, Anggi. Semua butuh uang. Kamu nggak bisa terus-terusan menderita sama aku nanti.” Entah apa yang dipikirkan Prana, cowok itu sudah hilang akal sekarang.


Anggi menggeleng lemah menatap wajah suaminya. “Aku sama sekali gak ngerti jalan pikir kamu, Mas.” Cewek itu sangat kesal pada Prana. Ia lantas segera melenggang menuju kamarnya.


***


“Mas mau ke mana malam-malam gini?”


Cewek itu baru saja turun dari tangga dan sudah mendapati Prana mengenakan pakaian bagus. Perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak.


Prana menoleh lalu mendekati istrinya. “Jaga diri kamu baik-baik, Anggi. Aku mau pergi untuk beberapa waktu," ujarnya dengan suara seraknya. Cowok itu sedang banyak pikiran sekarang.


Anggi melirik koper di tangan Prana dan seketika rasa cemas menyelimutinya. “Mas mau ke mana sih? Kenapa sampai bawa koper segala?” tanyanya mendesak.


Kilatan di kedua mata istrinya itu membuat hati Prana teriris. “Anggi. Aku mau kamu pertimbangin permintaan aku yang tadi secara matang. Aku bakal pergi dari sini sampai kamu bisa ambil keputusan kamu dan aku harap keputusan kamu adalah mau memenuhi permintaan aku," jelasnya terang-terangan.


Cowok itu lantas mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut sebelum pergi sambil membawa kopernya. Kedua mata Anggi segera berkaca-kaca. Ia berlari kecil mengikuti langkah suaminya.


“Tolong, Mas. Jangan pergi," pintanya dengan air mata yang bercucuran sana-sini. Anggi juga memegang pergelangan tangan suaminya dengan kuat, menyiratkan ketidaksetujuannya bila Prana pergi darinya.


Sambil meneteskan air mata, Prana tersenyum pada Anggi lalu menangkup dan mengusap pipi kanan istrinya itu. Detik berikutnya, Prana melepas tangan istrinya secara perlahan dan segera pergi membawa mobilnya yang meninggalkan asap beserta perasaan sedih Anggi.

__ADS_1


“Mas Prana!”


Percuma Anggi berteriak dan menangis sekencang apa pun, suaminya sudah menghilang dari hadapannya.


__ADS_2