Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Orang Ketiga


__ADS_3

Anggi menguap di kasurnya. Cewek itu mengerjap malas. Mengingat suaminya yang menyebalkan itu membuatnya geram saja sehingga ia bertekad untuk melupakan.


Bagaimana tidak? Masalah tempo hari membuat istri Prana itu jadi merasa curigaan pada suaminya sendiri. Hotel dan seorang cewek? Tidak bisa dimaklumi memang.


"Apa gue jalan sama Jesi aja, ya? Suntuk banget di rumah gak ada kerjaan." Anggi bermonolog. Cewek itu memang super gabut hari ini. Pekerjaan rumah sudah ia rampungkan semua sejak semalam. Jadi, sepertinya tak ada yang perlu dilakukan lagi di rumah.


Prana? Ah! Cowok itu pasti sudah berangkat ke kantor sepagi ini. Dia biasa sarapan di kantin kantor selama Anggi ingin berjarak dengannya akhir-akhir ini. Marah? Sama sekali tidak. Prana bukan tipe cowok baperan. Ia sangat bisa memahami perasaan istrinya saat ini.


Cewek itu mulai menjatuhkan kedua kakinya ke lantai. Ia menggeliat sejenak lalu meraih benda persegi panjang di atas nakas.


Bicara soal benda persegi panjang yang tak lain adalah sebuah ponsel itu, milik Anggi memang tak semahal milik Prana. Bahkan, harganya memiliki selisih yang banyak. Bukannya Prana pelit atau apa, namun Anggi sendirilah yang kukuh ingin tetap memakai ponsel lamanya. Kalau masih bisa dipakai, mengapa harus beli lagi? Ia tak ingin menghamburkan uang jika tidak benar-benar membutuhkannya.


"Halo, Jes? Iya. Gue suwong, bosen di rumah. Lo sekarang bisa keluar nggak?" Anggi menggigit bibir bawahnya sambil berjalan pelan menuju lemari jumbo di samping ranjang.


"Ke tempat biasa aja. Inget! Gak usah beli apa-apa. Kita jalan-jalan aja." Anggi tertawa saat mendengar Jesi mendengus kesal di seberang sana. Pasalnya, Jesi seringkali kalap bila sudah melihat barang-barang diskon di mal.


"Bisa? Yes! Tambah sayang deh gue sama lo, Jes." Anggi cekikikan di telepon. Cewek itu lantas melempar ponselnya ke kasur dan mulai memilih pakaian apa yang ingin ia kenakan hari ini.


"Ini aja, deh."


Setelahnya, Anggi segera berlari kecil ke arah kamar mandi. Ia segera membersihkan diri dan memakai pakaian yang ia ambil tadi dari lemari. Tak butuh waktu lama bagi seorang Anggi untuk mandi. Bukannya mandinya kurang bersih, cewek itu memang tidak suka berlama-lama di kamar mandi. Toh, kamar mandi tempatnya setan, kan?

__ADS_1


"Waduh-waduh, Mbak Anggi ini memanv cantik puol!" Ijah berseru dari ambang pintu kamar Anggi. Asisten rumah tangga itu perlahan masuk dengan senampan berisi segelas susu dan dua lembar roti tawar beserta selainya.


"Mbak Ijah ini. Pintar sekali memuji. Aamiin, Mbak. Makasih, Mbak Ijah juga cantik," balas Anggi dengan ramah tamah.


Cewek itu menghentikan aktivitas berdandannya. Ia memandang nampan yang baru saja diletakkan oleh Ijah di atas meja kecil dekat ranjang. "Loh, Mbak? Kok aku dibawain sarapan ke sini?" tanyanya bingung.


Ijah segera tersenyum lebar. "Iya, Mbak. Habisnya Mbak Anggi nggak ke bawah-bawah dari tadi. Saya jadi khawatir. Ya sudah, saya bawakan sarapan ke sini saja," jelasnya sambil duduk di lantai.


Namun, Anggi dengan cekatan segera menahan bahu perempuan itu supaya tidak melanjutkan aktivitasnya. "Jangan toh, Mbak. Masa duduk di lantai? Dingin, nanti masuk angin," katanya dengan raut wajah cemasnya sambil menuntun Ijah untuk duduk di atas sofa.


Ijah mendadak menatap sendu wajah majikannya itu. "Mbak Anggi ini. Kenapa seperti ini sih?" katanya dengan nada kesal, sampai lupa kalau ia hanya asisten rumah tangga di sini.


"Maaf, Mbak kalau nada saya tadi kurang enak didengar. Habisnya, Mbak Anggi ini selalu saja peduli sama orang lain. Bahkan, hal-hal kecil semacam ini juga diperhatiin. Tapi, Mbak Anggi sering nggak peduli sama dirinya sendiri. Aku ini yang ngelihatnya juga jadi kesel sendiri loh, Mbak. Kasihan hati Mbak. Dia juga butuh perhatian dan pengertian dari Mbak." Ijah mengungkapkan kekesalannya panjang lebar. Bukannya apa, perempuan itu hanya merasa iba dan prihatin dengan apa yang dialami Anggi selama ini.


Anggi yang medengarnya jadi kagum sendiri. Ia lantas mengulas senyumnya. "Saya salut sama perhatian Mbak Ijah untuk saya. Mbak Ijah nggak perlu khawatir, ya. Saya bahagia-bahagia saja kok seperti ini. Saya nggak masalah. Lagipula selama Mas Prana masih di sisi saya, saya sudah senang dan tenang. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan, Mbak." Anggi merespon dengan lapang dada. Siapa yang tahu isi hatinya? Mungkin saja, Anggi pintar menyembunyikan luka.


Ijah mengusap bahu majikannya. "Maaf, Mbak. Bukannya saya ikut campur dalam urusan rumah tangga Mbak Anggi. Tapi, saya sering merasa takut kalau ada orang ketiga di antara kalian. Wong Tuan Muda juga tampan, mampan, semuanya ada di Tuan Muda. Siapa yang nggak mau sama cowok seperti Tuan Muda? Di luaran sana banyak setan yang suka menghasut para pelakor untuk merebut para suami orang loh, Mbak. Lagi-lagi saya harus menyampaikan, saya nggak bermaksud mencampuri rumah tangga majikan saya, Mbak. Saya cuma mau pesan satu hal sama Mbak. Jangan pernah lengah dan tetap hati-hati, ya Mbak Anggi," ujar Ijah panjang lebar. Rasanya cukup lega bila sudah melontarkan apa yang ia ingin sampaikan selama ini.


"Saya tahu betul rasanya bagaimana diduakan. Saya pernah mengalami. Saya juga termasuk nikah muda waktu itu, saya menikah di usia 20 tahun dan suami saya pergi dengan wanita lain. Penyebabnya tak lain karena pelakor itu pintar sekali cari muka dan tentunya pintar dandan, tidak seperti saya. Suami saya minta izin untuk menikah lagi, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Wong saya juga memang beda jauh dengan si pekakor, saya cukup sadar diri. Tentu saya terpukul waktu itu dan saya akhirnya mengizinkan, namun dengan syarat saya minta cerai. Karena dimadu itu sama sekali tidak enak. Wanita mana yang ingin dimadu? Dan sesama perempuan, saya hanya bisa memperingati. Kita saling jaga, saling mengingatkan ya, Mbak Anggi. Bukannya saya tadi mendoakan, tapi saya hanya ingin Mbak waspada saja karena pelakor ada di mana-mana," sambungnya.


Anggi terdiam untuk sejenak sambil meresapi setiap kata dari ucapan Ijah satu per satu. Hatinya seketika berdenyut saat medengar kata 'pelakor'. Semua kalimat itu langsung bersarang di dalam kepalanya. Dan pesan dari Ijah dirasanya ada benarnya juga. Tidak ada salahnya berhati-hati memang, tetapi Anggi yakin Prana mampu menjaga hati dan matanya.

__ADS_1


"Saya turut bersedih atas apa yang menimpa Mbak Ijah, ya. Saya mengerti kecemasan Mbak terhadap saya. Sekali lagi, terima kasih banyak Mbak Ijah atas pesan-pesannya. Saya paham betul dan insyaAllah saya bisa menyikapinya," balas Anggi tak lupa mengulas senyum hangatnya.


"Ya sudah, Mbak. Saya ke bawah dulu, mau beres-beres dapur," kata Ijah undur diri.


"Silakan, Mbak. Makasih, ya sarapannya. Jangan capek-capek kerjanya, kesehatan lebih penting. Kalau capek ya istirahat, jangan dipaksa," pesan Anggi pada asisten rumah tangganya itu.


Ijah lantas tersenyum lalu menghilang dari balik pintu kamar, meninggalkan Anggi bersama renungannya kini. Kata-kata Ijah tadi berhasil mengusik pikirannya. Rasanya pusing sekali apabila memikirkan tentang orang-orang yang biasa disebut dengan 'pelakor' itu. Ia tak bisa berbuat, tetapi Anggi hanya bisa berdoa supaya rumah tangganya senantiasa dilindungi dari orang-orang jahat yang berusaha mengusik ketenangan mereka.


***


[Baca sampai akhir, ya]


Hai! Semoga hari kalian menyenangkan, ya.


Coba comment di bawah apa pesan atau mungkin saran dan pendapat kalian tentang bab ini.


Yuk! Dukung terus author dengan cara rate BINTANG 5, LIKE, VOTE, COMMENT, SHARE karya ini ke teman-teman kalian, dan tambahkan ke FAVORIT supaya author makin semangat buat nulis kelanjutannya. Setuju?


COMMENT pendapat dan saran kalian serta ketik "LANJUT" di bab ini. Biar gak sider aja hehehe.


TERIMA KASIH BANYAK.

__ADS_1


__ADS_2