
Aeron datang ke sebuah gudang terbengkalai di pinggiran kota. Dia pergi ke sana menggunakan taksi.
Setelah mendapatkan pesan aneh dari nomor yang tidak dia kenal, Aeron langsung bergegas pergi dari rumah.
"Apa ini tempatnya?" gumam Aeron celingak celinguk. Dia tidak melihat siapapun di sekitar gudang ini. Di sini benar benar sepi, dan terletak jauh dari pemukiman masyarakat.
Namun, demi menyelamatkan Sean. Saudara kembarnya yang terpisah jauh darinya dan juga keluarga Aeron rela datang mempertaruhkan nyawanya.
Sebelum masuk ke dalam gedung tua yang terdapat beberapa lantai itu, Aeron menekan sebuah tombol di salah satu mainan kunci yang dia gantung di saku celananya.
Gantungan kunci yang berbentuk seperti sepatu kecil itu merupakan GPS, Aeron sengaja membawanya agar nanti kedua orang tuanya dapat menemukan lokasinya.
Dengan berani, Aeron masuk ke dalam gedung yang dulunya di jadikan gudang.
'Mommy, doakan aku. Aku akan membawa kakak kembali ke pangkuan mu'
Ruangan demi ruangan Aeron lewati dengan flash ponselnya yang dia jadikan sebagai penerang. Di sini benar benar gelap, tidak ada cahaya sedikitpun kecuali ponsel Aeron.
Blam!
seketika pintu tertutup, Aeron berbalik dan mengarahkan cahaya ponselnya ke segala arah.
"Siapa di sana!" teriak Aeron. Namun, tidak ada sahutan. Dia terus menembakkan cahaya ponselnya mencari siapa yang telah membuat keributan. Aeron yakin ada seseorang yang tengah mengikutinya. Namun, cahaya ponselnya terlalu minim. Sehingga dia tidak bisa melihat terlalu bebas.
Bug.
Sebuah pukulan mendarat di tengkuk Aeron dan merenggut kesadaran anak remaja yang baru berusia 12 tahun. Setelah itu, Aeron tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Sementara itu, di rumah besar nan mewah terdapat keributan. Nisa Masi mencekik Sila untuk menanyakan kemana mereka membawa Aeron.
Atas kecerobohan mereka, Aeron hilang bak di telan bumi. Padahal sebelumnya Aeron pergi ke kamar dan istirahat. Namun ternyata dia tidak ada di mana pun.
"Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu pada Aeron" gumam Nisa khawatir. Vans yang duduk di samping nya terus memeluk istrinya agar tetap tenang.
Sedangkan Reno dan abay sibuk menghubungi orang orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Aeron.
Drrttt...
Abay merasakan ponselnya bergetar lagi setelah baru saja dia menyimpan ke dalam saku jas nya.
__ADS_1
"Sinta?" gumam Abay sedikit keras, mereka semua langsung menoleh padanya.
"Siapa Sinta?" tanya Reno. Dia baru tahu sahabatnya Abay memiliki teman wanita bernama Sinta.
"Akan aku jelaskan setelah menerima telfon" ucap Abay seraya menekan tombol hijau. Akan sangat panjang jika di jawab sekarang.
"Hallo, ada apa?"
"Aku menemukan lokasi Aeron, dia dalam bahaya. Aku sudah mengirim alamatnya kada mu"
"Baik lah! "
Klik!
Panggilan pun terputus, Abay menyimpan kembali ponselnya dengan tergesa gesa.
"Ada apa?" tanya Vans penasaran melihat Abay begitu terburu buru.
"Aku sudah menemukan lokasi Aeron, dia dalam bahaya. Ayo kita ke sana" jelas Abay.
"Aku ikut!" seru Nisa, dia segera berdiri dan memegang tangan Abay.
Namun, Vans melarang istri nya. Ini terlalu bahaya jika istrinya juga ikut pergi ke sana. Kemungkinan ini adalah rencana Jessy, dia pasti akan menyiapkan rencana untuk mencelakakan mereka.
Vans membujuk Nisa, agar dia mau tinggal dan menunggu di rumah.
"Sayang, ini sangat bahaya. Kamu di rumah saja yah"
"Tidak, aku tidak mau. Aku ingin ikut" Nisa bersikeras, dia juga berlutut di hadapan suaminya.
Vans di buat berada di posisi dilema. Ini sangat bahaya namun, dia juga tidak tega melihat istrinya seperti ini. Dia sudah sangat tersiksa dengan semua masalah masalah ini.
"Nisa!! Nisa!!"
Sena berlari masuk ke dalam rumah, dia terlihat panik dan histeris.
"Bibi"
Sena berhambur memeluk tubuh Nisa. Dia baru saja dapat kabar kalau cucunya menghilang. Karena itu Sena segera pulang dari Singapore.
__ADS_1
Begitu juga dengan kakek yang sedang menjalani perawatan di US, dia juga memutuskan untuk segera pulang.
Reina ikut merasakan kesedihan sahabatnya, sejak dulu dia seakan tidak pernah di beri kebahagian. Apalagi setelah melahirkan, Nisa seakan hidup di dalam rasa ketakutan.
"Kita tidak punya waktu" seru Abay, membuat perhatian semua orang kembali pada Aeron.
"Benar, kita tidak boleh terlambat" sahut Reno yang sudah bersiap.
Nisa segera bangkit, dia kembali mendekati suaminya dan memohon agar dia bisa ikut menyelamatkan Aeron.
Namun, lagi lagi Vans melarangnya. Jika Nisa pergi, fokusnya akan terbagi dua. Vans tidak bisa membiarkan Nisa ikut bersama mereka.
"Sayang, jika kamu pergi aku tidak bisa fokus menyelamatkan putra kita. Kamu tunggu di rumah yah, aku janji akan segera pulang membawa putra kita pulang" bujuk Vans meyakinkan istri nya.
Reina dan Sena ikut mengangguk pada Nisa. Mereka juga membujuk Nisa agar tetap tinggal.
"Benar nak, fokus Vans akan terbagi nanti" sahut Sena.
Nisa menggeleng, dia tetap ingin ikut. Namun, dia juga memikirkan keselamatan suaminya.
Sedikit kejernihan pemikiran Nisa, membuat dia menerima bujukan semua orang agar dia tetap tinggal.
Akhirnya Vans bisa pergi dengan tenang, dia bersama kedua sahabatnya pamit.
"Sayang, doakan aku" Vans memeluk istrinya erat. Kemudian mengecup puncak kepala Nisa penuh perasaan. Di dalam hati Vans berjanji akan menyelamatkan putranya. Bahkan dia akan membawa putra pertamanya.
"Ayo"
Nisa menangis dalam diam, dadanya begitu sesak. Dia tidak bisa membayangkan bila sesuatu yang tidak baik terjadi pada putra dan suaminya.
Sebelum berangkat, Vans meminta 300 orang mengawal rumahnya untuk mengatasi kemungkinan rencana kelicikan Jessy.
Tidak hanya di rumah saja, Vans juga menyebar anak buahnya bercampur anak buah kakeknya di sekitar komplek tempat mereka tinggal.
Di sisi lain, Sinta bersama anak buah yang abay utus berangkat menuju ke lokasi Aeron yang dia deteksi melalui GPS.
Sinta berdecak kagum, bocah 12 tahun itu benar benar berani dan pintar. Entah bagaimana otaknya bisa berpikir membawa GPS. Bahkan Sinta tahu, GPS ini tidak sembarangan bisa terdeteksi. Ada kode khusus untuk mendeteksinya.
"Aku akan menyelamatkan mu Aeron, aku tidak akan membiarkan wanita itu menyakiti mu lagi, atau menyakiti siapapun!" tekat Sinta di dalam hati. Dia menatap ke luar jendela, jalanan mulai terlihat sepi. Mereka mulai memasuki daerah pedesaan di mana banyak pohon pohon dan gedung terbengkalai. Sepertinya daerah ini di jadikan tempat pembangunan gudang.
__ADS_1