Pernikahan Wasiat

Pernikahan Wasiat
Aeron di culik


__ADS_3

Vans berjalan cepat ketika mendengar Nisa dan Abay membicarakan putranya.


"Di mana Aeron?"


Nisa dan abay menoleh, mereka terkejut melihat Vans sudah ada di hadapan mereka.


Nisa segera bangkit, mendekati suaminya lalu membawanya duduk di sofa.


"Vans, sejujurnya kami tidak ingin memberitahu mu. Tapi karena kamu sudah tahu,kami akan memberitahu mu!"


"Apa!" sela Vans cepat, dia terlihat marah dan tidak sabaran. Vans menatap Abay lekat, entah apa yang saat ini pria ini sembunyikan darinya.


"Sebenarnya, Nisa melahirkan anak kembar. Satu di bawa oleh Jesica dan satu yaitu Aeron"


Vans syok, dia tidak bisa mempercayainya. Dokter tidak berkata apapun, dan Nisa juga tidak bilang apapun padanya.


"Tidak mungkin, kamu jangan asal bicara abay. Nisa tidak mengatakan apapun!" Vans menatap istrinya.


Nisa hanya tertunduk dan menangis, dia menahan rasa sakit yang kembali muncul di bagian kepalanya.


"Aku tidak tahu Vans, aku seakan hidup di alam mimpi. Ketika aku terbangun mimpi itu hilang. Aku bermimpi memiliki anak selain Aeron. Dia datang lalu pergi. Saat aku bangun, aku tidak bisa mengingatnya. Aku hanya mengingat rasa rindu ku" lirih Nisa terisak.


Melihat istrinya yang begitu sedih, Vans langsung memeluknya. Dia masih belum bis mencerna semua ini. Dia berpikir semuanya sudah berakhir indah. Ternyata tahap kedua sudah di mulai. Bahkan sejak lama tanpa dia sadari.


"Aku sudah merasa aneh ketika kamu tidak di perbolehkan menemani Nisa di dalam ruangan persalinan. Aku pikir Nisa operasi. Ternyata tidak. Aku menyelidiki semuanya, namun bak air mengalir, warna yang aku tabur menghilang mengikuti arus waktu yang sungai alirkan" Kias Abay.


"Aeron menyelidiki semuanya kak, dia sangat pintar. Aku memendam semua ini, tapi dia menyadari keanehan ini. Karena itulah dia selalu membuang dupa dan mencari tahu soal sila"


"Aeron melihat sendiri saudara kembar yang aku lihat di rumah sakit waktu itu"


Lagi lagi Vans terkejut mendengar cerita istri nya. Dia merasa orang paling bodoh. Dia jeli dalam berbisnis, bahkan di takuti oleh perusahaan perusahaan besar yang menjadi pesaing nya. Namun, di saat melihat kehancuran keluarga nya dia terlalu bodoh.


"Maafkan aku Nisa, lagi lagi aku gagal melindungi keluarga kita" Vans menunduk di hadapan Nisa, dia merasa tidak becus menjadi kepala keluarga.


Nisa menggeleng, dia tidak menyalahkan suaminya atas apa yang terjadi. Dia menganggap semua ini sudah takdir yang maha kuasa. Mereka cukup sabar menjalani semua ini.


"Sekarang itu tidak penting kak, kita harus menyelamatkan putra pertama kita kak. Dia pasti menderita, aku dapat merasakan kesedihannya" ratap Nisa.


"Benar, kita harus memikirkan cara untuk menjebak Jessi keluar" sahut Abay.


Abay menghubungi Reno, dia meminta Reno datang dan ikut dalam misi ini. Mereka adalah satu, jadi apapun yang mereka rencanakan harus secara bersama sama.


...----------------...


Seperti yang sudah di rencanakan, Nisa akan berpura pura sakit. Kemudian Vans memanggil Sila untuk menjebaknya.


Semua sudah di siapkan, Nisa sudah berbaring di dalam kamar.


"Bagaimana kondisi nyonya tuan?" tanya Sila. Dia baru sampai di rumah Vans dan mendapati pria itu tengah menunggu nya di luar.


Vans berakting panik seperti biasanya. Dia mengajak Sila masuk ke dalam kamar Nisa.


Melihat Nisa terbaring di atas ranjang, sila langsung mendekatinya. Melakukan pemeriksaan seperti biasanya kemudian dia hendak menghidupkan dupa itu lagi.

__ADS_1


Blam!


Sila terkejut, tiba-tiba pintu terhempas kuat. Vans mendekat padanya, merebut dupa itu dan membuangnya ke tong sampah.


Sila terkejut, dia mundur beberapa langkah menjauh dari Vans. Dari kamar mandi dan belakang lemari muncul Reno Reina dan abay.


"Kalian menjebak ku??" teriak Sila panik.


"Menjebak?" Vans tersenyum mengejek.


"Bagaimana kami bisa menjebak kamu dokter Sila. Bukan kah kamu tidak salah apa apa?"


Mata sila melebar, apa yang Vans katakan memang benar. Dia terlalu bodoh dan bertindak gegabah. Seharusnya dia berpura pura terkejut bukan panik.


"Dasar sila bodoh!" makanya pada diri sendiri.


Dari tempat tidur, Nisa membuka matanya. Sekali tarikan dan hempasan. Sila terbaring di atas tempat tidur dengan kedua tangan Nisa mencengkram lehernya.


Nisa tidak memberi cela untuk Sila melawan. Dia terus menekan sila.


"Di mana putra ku?" teriak Nisa.


"Aku tidak tahu nyonya, bukan kah putra anda.." Sila masih tidak mau mengaku, dia berpura pura bodoh lagi.


"Bukan Aeron, tapi putra pertama ku yang kau ambil!" Nisa semakin mengetatkan cengkraman tangannya di leher sila.


"Aku tidak tahu nyonya, aku-"


Nisa semakin mencengkram leher sila, membuat wanita itu sedikit menjulurkan lidahnya menahan sakit di lehernya. Bahkan sila kesulitan bernafas.


"Ba-baik lah, aku akan mengatakan yang sebenarnya!"


"Cepat!" desak Nisa.


"Le-lepas dulu. Aku sulit berbicara!" mohon sila lagi.


Uhukk uhukk...


Sila terbatuk batuk, Nisa melonggarkan cengkraman di lehernya.


"Cepat katakan!" desak Nisa.


Vans Reno abay dan Reina hanya memperhatikan apa yang Nisa lakukan. Mereka membiarkan Nisa yang mengurus semua ini. Bahkan mereka juga terkejut melihat betapa kuatnya Nisa saat ini.


"Benar, Nisa melahirkan 2, orang anak kembar. Sean dan Aeron. "


"Sean?"


Plak!


Plak!


"Kenapa kau melakukan ini sila! kenapa kamu memisahkan aku dengan anak ku!!!", teriak Nisa histeris. dia menampar sila bertubi tubi.

__ADS_1


Vans sampai menahan Nisa agar tidak membuat sila pingsan dan mereka gagal mendapatkan informasi.


"CK..."


Mereka mengerutkan dahi, sila malah tertawa sendiri.


"Kalian menghajar ku, tapi kalian lupa bahwa saat ini kedua anak kalian dalam bahaya"


"Apa?"


Nisa melepaskan pegangan tangan suaminya. Dia kembali mendekati sila yang terbaring di atas ranjangnya.


"Apa maksud kamu sila!!!"


"Jessi sudah membuat rencana, dia menculik kedua anak kalian dan akan menghabisi mereka dalam waktu sekejap!"


Deg.


Dengan cepat Vans menghubungi Aeron. Dia takut putranya kenapa kenapa.


Namun, ponsel Aeron tidak dapat di hubungi.


"Percuma kau menghubungi nya tuan. Aeron sudah di cukit ketika aku datang ke sini. Tanpa sepengetahuan kalian,Aeron pergi menemui Sean. Anak yang sudah menjadi seorang monster!"


"Tidak!!!!!"


Plak.


Reina menampar Sila, dia sudah geram sejak tadi pada wanita itu.


"Katakan pada kami, di mana Aeron dan Sean berada!"


"Cepat!" desak Reina menggantikan Nisa mencengkram leher Sila.


"Meskipun aku terbunuh, kalian juga tidak akan mampu menemukan mereka" jawab Sila menyeringai.


Abay menarik Reina, memberikannya pada Reno.


"Sila, aku tahu kau selama ini mengagumi ku. Kita bisa membicarakan ini nanti. Apa kau mau bekerja sama?" Abay mendekat dan mengelus pipi Sila penuh kelembutan.


"Benarkah?" Sila mulai terpecah. Dia memang sudah sangat lama menyukai abay. Namun, pria itu tidak pernah melirik padanya.


"Tentu saja, aku tidak akan berbohong padamu sayang"


Jantung Sila langsung berdebar, dia sudah merasa melayang mendengar abay mengucapkan kata sayang


"Aku akan mengantar kalian ke tempat mereka" jawab Sila tersenyum pada abay


"Bagus."


Abay memberi kode pada Vans, agar membawa Nisa, dan Reno membawa Reina.


"Kita menjadi tiga pasang" ujar Abay semakin meyakinkan Sila. Gadis itu merasa ini nyata, dia tidak tahu rencana di balik senyum palsu abay.

__ADS_1


__ADS_2